Queen Of Rulers From Another World

Queen Of Rulers From Another World
•Heart Blindness•


__ADS_3

“Selamat pagi, Yang mulia.”


“Pagi, Yang Mulia.”


“Kami memberi salam kepada, Yang Mulia Queen Alicia.”


“Yang Mulia, apa ada yang ingin kami bantu hari ini?”


Lezzy tersenyum kaku merespon sapaan beberapa pelayan yang ia temui pagi ini.


Baru saja keluar kamar sudah ada deretan pelayan yang tersenyum ramah kepadanya, Fedrick yang melakukannya.


Dia menugaskan sejumlah pelayan khusus untuk melayani sang Istri, padahal hanya Ariel dan Auriel saja itu sudah cukup untuknya.


Sebenarnya Lezzy sedikit kesal, bukannya melihat sang Suami dipagi hari malah melihat sekumpulan pelayan yang menyapa.


Tapi ia senang karena Fedrick memenuhi janjinya, karena Lezzy tidak melewati yang namanya ‘First Night’.


“Salam Yang Mulia Queen, Lord memanggil anda untuk ke singgasana.”


Ucap Elinna.


“Elinna, kau masih disini? Aku kira kau sudah kembali ke Elfywind.”


“Mulai hari ini, saya akan menggantikan tugas Tuan Styvn untuk menjadi pengawal pribadi anda.”


“Tuan?”


“Emm..., sebenarnya saya bukan adik kandung Tuan Styvn. Dulu karena keluarga Kerajaan Lawier tidak memiliki seorang Putri, saya diangkat sebagai Putri mereka lagian Tuan Styvn adalah Pangeran di Wilayah Elfywind, jadi walau pun sudah lama bersama rasanya masih terlalu canggung untuk bisa saling akrab.”


“Styvn seorang Pangeran bangsa Elf?!”


“Yang Mulia tidak mengetahuinya?”


Lezzy menggeleng dengan cepat sebagai jawaban.


“Tuan Styvn adalah Pangeran pertama dan seorang Putra Mahkota, tapi ia melepas pangkatnya dan memilih untuk mengikat janji kepada Lord sebagai orang kepercayaannya.”


“Lalu bagaimana dengan Briant dan Alberd, apa mereka juga orang penting seperti Styvn?”


“Emm, setahu saya Tuan Briant adalah leluhur bangsa Vampire yang paling berpengaruh dikaumnya, dan Tuan Alberd dulunya adalah sosok panglima perang terkuat diantara panglima perang yang ada diberbagai ras, bahkan ia pernah dinobatkan sebagai Alpha di Moonlight Pack. Tapi beliau menolak dan tetap menjadi tangan kanan Lord.”


Lezzy diam, bahkan orang-orang terhebat seperti mereka hanya menjadi bawahan Fedrick saja, Fedrick benar-benar beruntung.


“Maaf Yang Mulia, saat ini Lord tengah menunggu anda.”


“Ah! Kau benar sebaiknya kita cepat, sebelum Iblis itu merajuk...”


Lezzy berjalan di ikuti Ariel dan Auriel, sedangkan Elinna hanya diam sembari mencerna kata-kata Lezzy yang hanya memanggil Lord, dengan sebutan Iblis tanpa ada rasa takut membuat Elinna terkejut.


'Sungguh sosok Ratu yang tidak terduga.'


Elinna tersenyum lalu mengikuti langkah Lezzy.


-o0o-


Mereka sampai di depan pintu masuk singgasana, padahal baru semalam istana ini didekor sedemikian rupa indahnya, tapi dalam sekejap susana Istana kembali seperti semula seolah hari pernikahanya hanyalah peristiwa yang singkat.


Itu karena sifat Fedrick yang tidak terlalu suka keramaian dan lebih memilih Istananya hening dan tenang.


Saat para penjaga ingin memberi hormat, dengan cepat Lezzy memberi isyarat untuk diam. Sudah berapa kali ia melihat mereka terus menyapa bahkan sejak perjalanan kesini, Lezzy selalu tersenyum untuk menanggapi sapaan pelayan dan penjaga.


Lezzy berjalan mendekat, tangannya menyentuh pintu yang sudah terbuka sedikit. Lezzy mengintip dari celah pintu berniat untuk membuat kejutan.


“Yang Mulia, saat ini banyak kaum yang mulai bergabung dengan Carlitos untuk memberontak, jika ini terus dibiarkan saya takut Darkness World tidak akan aman.”


Ucap Tetua Jems.


Sama seperti biasanya Fedrick hanya menatap dingin, ia duduk di singgasananya dengan begitu arrogant, tangan kiri menjadi penyanggah dagunya lalu tangan kanan asik memainkan belati emas sepanjang 25 cm.

__ADS_1


“Yang Mulia, seperitnya mereka memberontak karena..., karena penobatan Putri Lezzy se-- sebagai Ratu Darkness World.”


Fedrick berhenti memainkan belati kesayangannya, mata Dark Bloodnya menatap dengan aura membunuh, Tetua Jems menunduk.


“Yang Mulia, saya mohon kemurahan hati anda untuk mempertimbangkan kembali, pikirkan kembali dunia ini Yang mulia...”


Lezzy menarik kembali tangannya, ia tahu cepat atau lambat mereka pasti akan mulai menolak kehadirannya, tidak perduli meski Fedrick sendiri yang melndunginya kejadian ini tetap tidak akan bisa dihindarkan.


“Yang Mulia, anda tidak masuk?”


Ucap Elinna, saat melihat Lezzy berjalan untuk kembali.


“Yang Mulia sedang ada tamu, sebaiknya kita tidak mengganggunya. Emm, bagamana jika kita sarapan pagi dulu?”


Ariel dan Auriel saling menatap sendu, dulu saat pertama kali Lezzy tinggal dsini, tidak sedikit para pelayan bergosip menyindir mengenai dirinya yang begitu beruntung.


Elinna menatap Tetua Jems yang tengah memohon, lalu kembali berjalan mengikuti Lezzy.


Fedrick menatap pintu masuk, sedari tadi ia menyadari kehadiran Lezzy yang berdiri dibalik pintu, saat dirasa Lezzy sudah benar-benar pergi dari lorong utama Fedrick kembali menatap Tetua Jems.


“Sudah selesai bicaranya?”


“Yang Mulia.....”


“Kini giliranku yang berbicara!”


Tetua Jems menatap Fedrick dengan antusias, Iia merasakan firasat buruk tapi ia harus tetap melanjutkannya jika tidak wanita ‘itu’ akan membunuh seluruh keluarganya.


Dengan keberanian yang kecil Tetua Jems sebisa mungkin untuk tetap menatap tegar.


TAP!


“Tidak cukupkah aku memberikan kebaikan kepada kalian?”


TAP!


TAP!


“Melihat dari wajahmu, kau lebih takut kepada mereka dibandingkan denganku! Dengar aku pernah memberi kalian pengampunan tapi kali ini tidak akan lagi.”


TAP!


“Yang Mulia, Saya---”


“Diam! Berbicaralah saat aku hanya menyuruhmu!”


“........”


“Jems, rencana apa lagi yang ingin kau lakukan terhadap keluarga bangsa Demon? Setiap periode Lord semua Ratu hanya bertahan setelah ia memberikan keturunan, setelah itu mereka semua mati tanpa sebab. Tapi kenapa para Lord terdahulu tidak mengungkitnya tidakkah kau berfikir ada orang dalam yang menggerakan mereka?”


Jems mulai khawatir, apa kah mungkin Fedrick sudah tahu semua yang mereka lakukan hanya untuk Katastrofi.


Tapi Fedrick belum pernah membahas mengenai dirinya, sial! Jems mulai merasa terjebak.


TAP!


Fedrick berdiri dihadapan Jems, sudah waktunya ia mulai bergerak dan menangkap Katastrofi.


Belati emas Fedrick mulai diselimuti api hitam.


“Kau jadikan Ibuku sebagai tumbal Katastrofi, apakah aku perlu membantai kalian seperti aku membunuh semua keluargaku!!”


“Lord, hamba tidak mengerti maksud an---”


Prang!


Prang!!


Semua jendela kaca yang ada disana seketika hancur menjadi kepingan kaca tak beraturan, Fedrick menggertak Jems menuntutnya untuk segera jujur.

__ADS_1


“Mengenai rahasia Darkness World, tentang kembalinya kehidupan dan Kedamaian yang telah hilang dengan cara memeberikan darah Ratu kepada para Dewa alam agar merubah dunia ini menjadi lebih baik, kalian menggunakan kata-kata ini untuk mengklabui semua Lord terdahulu. Tapi INGATLAH!!”


Fedrick melantangkan suara baritonenya, ia berjalan memutari Jems dengan aura membunuh.


“Aku Fedrick William Lorddark’s, tidak akan pernah tertipu dengan semua akal licik kalian! Apa Katastrofi begitu penting untuk kalian? Apa kalian yakin dia akan merubah dunia ini jauh lebih baik?”


Tetua jems penuh keringat cemas, bagaimana mungkin dia mengetahuinya, selama ini hanya para Tetua dan Carlitos saja yang mengetahui sosok Katastrofi, atau jangan-jangan buku 'Rechard' telah ditemukan kembali, tapi tidak mungkin mereka sudah menyingkirkan buku itu beberapa abad lalu.


Tetua Jems melirik Fedrick, yah mereka akui hanya Fedrick yang paling susah untuk dikendalikan, dirinya yang terpilih sebagai Tuan dari To iliako Fos membuat mereka tidak berani melawan, bisa dikatakan kekuatan Fedrick sebanding dengan Katasrofi, tidak heran jika memang dia berhasil menemukan buku itu kembali.


‘Bre**sek! Harusnya dulu aku memusnakan buku biad*b itu!!’


“Dengar kalian semua hanyalah pion baginya untuk bisa menguasai Darkness World. Kau patuh dengannya untuk menyelamatkan keluargamu, tapi tidak berfikir apa keluargamu bisa aman dariku?!”


GERR!!


Brukh!


Seekor Sreigala besar berwarna Putih abu-abu datang dari sisi kanan Lord sembari melempar dua tubuh Pria kaum Witch tak bernyawa, geramannya menjadi sebuah peringatan buat Tetua Jems.


Jems mengenali dua mayat itu, kemudian ia berlari menghampiri kedua Putranya.


“Yang Mulia bukan kah ini sudah keterlaluan, kenapa kau membunuh mereka? Anak-anakku tidaklah bersalah!”


“Kau marah? Lalu bagaimana dengan Ibuku yang tidak bersalah tapi malah kau jadikan makanan untuk Katastrofi!!”


Mata Demon Fedrick kembali aktif, Jems diam membisu. Ia menerawang selingkungannya lalu kembali menatap Lord, sudah tidak ada lagi cara untuk mencoba kabur.


Briant berdiri didepan pintu Alberd dengan wujud Wolf-nya menjaganya, dan ia berani menjamin bahwa saat ini Styvn tengan berdiri diatas celah atap sedang mengarahkan busur panahnya kearah dirinya.


Dari pada terus mengelak dari tuduhan yang benar, sebaiknya ia melawan karena iya atau tidak, dirinya pastiakan mati ditangan Lord.


“AHAHAHA!! Ya kami melakukan semua ini untuk Yang Mulia Katastrofi sang Dewa Kehancuran. Kau hanya bocah baginya Fedrick! Selama Queen Lezzy memiliki darah Dewi selini Thea, Katastrofi akan tetap mengejarnya lalu kejadian 2000 tahun silam akan terulang lagi, dimana ia akan melakukan revolusi terhadap Dark----”


CRASHH !!


Brakh!


Fedrick tidak tahan dengan kata-katanya, dengan cepat ia mencakar habis tubuh Jems lalu melemparnya hingga keluar ruangan, semua pelayan dan penjaga yang ada dilorong utama menatap terkejut, melihat Tetua Jems yang begitu terhormat mati dengan begitu mengerikan.


“Apa yang kalian lihat, cepat bereskan mayatnya atau kalian akan menyusul seperti dia!!”


“Baik Yang Mulia...”


Fedrick melangkah dengan begitu cepat melewati jasad Jems yang tidak terkondisikan untuh.


“Yang Mulia perintah anda?”


“Aku tidak mau tahu, bawa semua para Tetua bej*t itu keruang bawah tanah! Sudah waktunya mereka untuk tidur panjang, jika mereka melawan kau boleh membawa jasadnya saja Briant, Alberd!”


“Akan kami laksanakan.”


Disisi lain Istana berdiri seseorang dengan tampang meremehkan, Erca yang melihat kejadian barusan semakin menikmati permainan ini.


“Apa kau tidak takut ketawan, jika sering mengintip aksi mereka Erca?” ucap Harlie.


“Kenapa? Aku berdiri dengan dekat pun mereka tidak akan curiga, lagi pula kita bisa memantau mereka lebih dekat.”


“Hm. Sayang Tetua Jems yang paling berjasa untuk Yang Mulia Katastrofi, malah mati.”


“Dia itu bodoh bukan berjasa, walau kita tidak membunuh keluarganya pasti Lord akan membunuhnya terlebih dahulu, peran umpan memang cocok untuknya. Kau sudah liat semua Harlie, jadi sebelum tangan kanan Lord membawa mereka kau harus membunuh para tua bangka itu. akan lebih baik jika semua rahasia Tuan Katastrofi mereka simpan sampai mati!”


“Kuserahkan semua masalah disini kepadamu dan sisanya biar aku. Satu lagi, 'dia' telah bergerak.”


“Hem, aku ingin lihat bagaimana King Vampire itu mati ditangan Lord, baiklah sudah waktunya aku pergi.”


--_o0o_--


__ADS_1


__ADS_2