
“Molie.., Molie..., kau dimana?”
Seorang gadis cantik jelita berusia 7 tahun, berjalan menelusuri taman bunga yang ada di sisi barat Kerajaan.
Gadis kecil itu mengangkat gaun pinknya sembari memanggil sesuatu yang dia cari dengan suara yang imut, matanya berwarna sebiru lautan, rambut hitam yang tergerai setengah keriting terhias rangkaian bunga dan pita berwana hijau.
Dia mengkerutkan bibir mungilnya membuat pipi cubynya menggembul dengan imut, sejak tadi gadis kecil ini terus mencari hewan perliharaannya, namun masih belum bisa dia temukan dimana pun. Dia menghela nafas kecewa, lalu duduk di kursi taman dengan sedih.
“Akhirnya Aku menemukanmu, Lucy.”
Gadis yang bernama Lucy itu mengangkat kepalanya menatap seoarang anak laki-laki berusia 15 tahun, sedang berdiri sembari melipat kedua tangannya didepan dadanya.
“Kali ini apa yang sedang kau cari, Lucy?”
“Kakak, Molie hilang lagi.., Lucy takut jika Paman Alberd tahu dia akan kecewa, karena Lucy tidak bisa menjaga bayi rubah pemberiannya.”
“Kau sungguh menyukai hewan rubah itu?”
“Kakak, kumohon bantu Aku mencarinya, Lucy janji akan membagi permen manisan pemberian Kakak Ariel dan Auriel untukmu..”
"Hah..., tidak perlu Aku tidak suka dengan manisan, sebenarnya Aku tahu dimana Molie.”
“Sungguh, dimana dia?”
“Molie sedang bersama dengan, Ibunda.”
“Apa, jadi Molie bersama dengan Mama, em..Kakak bisa kau ambilkan Molie untukku?”
Ucap Lucy sembari memasang pupy eyes terimutnya.
“Tidak mau, jika Ibunda tahu kau keluar tanpa di dampingi pelayan atau penjaga, Ibunda pasti akan mencemarahiku, apa lagi kau saat ini sedang dihukumkan?”
“Lucy janji, jika sudah mendapakan Molie, Lucy akan kembali ke kamar. Kumohon, Kak Welliam....”
“Haa..h, baiklah.”
Welliam menuntun Lucy menuju taman bunga, tempa dimana sang Ibunda selalu mengurus taman bunga tersayangnya, sesampainya disana Welliam menyuruh Lucy menunggu dibalik pilar lorong Castle, lalu berjalan ketempat sang Ibu.
Lucy bagaikan pencuri kecil yang mengintip dibalik pilar, dua hari yang lalu Molie hilang, Lucy pernah mencarinya seorang diri tanpa penjaga maupun pelayan, dia nekad menaiki pohon seorang diri, hanya untuk mengambil Molie yang ada di atas pohon.
Tapi hasilnya dia terjatuh dari atas pohon, karena ranting yang dia pijaki tidak cukup kuat.
Untungnya waktu itu Welliam datang tepat waktu, hingga Lucy tidak terluka tapi yang terjadi adalah, mereka berdua di ceramahi habis-habisan oleh Ibunya, dan dia diberi hukuman untuk belajar kesopanan selama satu minggu di kamar.
Tapi saa proses bimbingan, Molie melompat keluar dari jendela kamarnya, dan dia pun nekad melanggar janji Ibunya unuk mencari Molie sendirian.
“Apa yang kau lakukan disini, Pricess Lucy Daiana Lorddark’s?!”
Tanpa sadar sejak tadi ada sesosok yang memperhaikan tingkahnya, dengan cepat gadis kecil itu terkejut dan berbalik arah, dia membuka mulutnya setengah persis seperti anak kecil yang ketawan mencuri permen.
“Papa..”
Sosok iu adalah Ayahnya yang baru saja kembali dari rapat panjangnya, dan datang kesini untuk bertemu dengan sang Istri.
Fedrick menurunkan postur tubuhnya agar sejajar dengan Putri kecilnya, dengan lembut Fedrcik mengelus pipi cuby buah hatinya bersama Lezzy, lalu melirik Putranya sedang bersama Istrinya.
“Kau melanggar hukuman Ibumu, Lucy?”
“Maaf Papa, Molie tiba-iba saja kabur, Lucy hanya mau bermain dengannya saja, tapi ternyaa Molie sedang bersama Mama jadi Lucy minta tolong Kakak untuk mengambilnya..”
“Hem, Lucy seharusnya tidak bersembunyi, jika memang mau Molie kembali, Lucy harus memintanya sendiri dengan Mama...”
“Ada apa Yang Mulia Lord?”
Lucy berlari dan bersembunyi dibalik punggung Fedrcik, Lezzy melihat Fedrcik yang sama juga melihatnya, sebenarnya dia sudah tahu kalau Lucy pasi akan keluar jika Molie tidak bersamanya.
“Lucy...”
Panggil Lezzy degan lembut, sejak awal Lezzy tidak bermaksud mengurung Lucy, tapi dia hanya ingin Lucy belajar dari kesalahannya.
Lezzy menghela nafas ini juga salahnya, karena waktu itu tidak ikut mendampingi Putri tersayangnya.
“Maaf Mama, Lucy salah harusnya wakty itu Lucy menunggu Kakak tapi malah menjadi gadis nakal, dan membahayakan diri..”
“Kau sudah paham dengan kesalahanmu?”
“Hem..”
Lucy mengangguk dengan wajah polos, melihat tingkah menggemaskan Putrinya membuat Lezzy tidak bisa menahan tawanya.
Lezzy ikut menurnkan tubuhnya lalu memberikan Molie kepada Lucy, wajah sendu penuh rasa bersalah berubah menjadi riang, saat Lucy melihat Molie dan memeluknya dengan erat.
“Lain kali, coba unuk mencari bantuan dengan orang disekitarmu Lucy, jangan membahayakan dirimu lagi, dan satu lagi Mama tidak mau kau bermain di taman seorang diri tanpa ada pelayan atau penjaga, mengerti?”
__ADS_1
“Baik, Lucy janji tidak akan buat Mama, Papa, dan Kakak khawair..”
“Bagus, itu baru Putri Ayah.”
Hup!
Fedrick menggendong Purti tercinanya, lalu mengajaknya bermain di taman, sedangkan Lezzy kembali menatap anak sulugnya.
“Kau harus menjaga Adikmu baik-baik, dia masih kecil sesuatu hal yang baru masih menjadi hal yang menarik untuknya, tanpa tahu itu membahayakannya..’
“Ibunda jangan khawair, Welliam akan menjaga Lucy.”
“Hem, kau persis seperti Ayahmu perhatian dan sangat tegas.”
Welliam memang lebih identik dengan Fedrcik, dia juga Pangeran pertama Lucifer Kingdom, Prince Welliam Cornelis Lorddark’s.
Yang akan menjadi penerus Lord selanjutnya setelah Fedrick, Lezzy benar-benar bahagia saat dia dikaruniai dua orang anak yang sangat cantik dan tampan, untuk menjadi pelengkap kehidupan keluarganya bersama Fedrcik.
“Kakak, Mama ayo kita main bersama.”
Teriak Lucy, sembari melambaikan tangan kearah Lezzy dan Welliam. Mereka berdua tersenyum lalu menghampiri Lucy, untuk menghabiskan satu hari ini dengan canda dan tawa.
“Akhirnya, Aku bisa tenang melihat Lord tertawa bahagia bersama keluarganya.”
Ucap Alberd berdiri mengawasi mereka dari tempat yang tidak terlalu jauh.
“Ya, Aku juga mengira bahwa Lord tidak akan bisa merasakan kehangaan dari sebuah keluarga.”
Lanjut Briant.
“Lord sudah meikah dan memiliki anak, tapi kita masih sendiri dan sibuk mengurusi pekerjaan Kerajaan.” Ucap Styvn.
Alberd, Briant, dan Styvn saling bertatapan kemudian terawa kecil.
Sebenarnya mereka tidak masalah dengan itu, setiap makhluk memiliki pasangan Matenya sendiri walau tidak tahu kapan mereka akan menemukannya.
Tapi mereka beruntung dan bahagia bisa mengabdikan hidupnya dengan keluarga yang penuh kasih sayang, dan saling mengajari arti sebuah keberadaan dan menghargai seseorang.
--o0o--
“.....Queen kembali ke dunianya bersama Lord unuk memimpin kerajaan, dengan penuh tanggung jawab mereka mendirikan kembali kerajaan mereka, dan membuat kedamaian unuk rakyat mereka, tamat..”
Lezzy menutup buku penghantar tidur anak-anaknya, lalu menyelimuti tubuh Lucy dengan selimut tebal yang hangat.
“Mama, apa Lucy juga bisa menjadi Ratu, seperti Queen Vasilissa itu?”
“Ya, kau harus tidur Lucy, agar kau bisa menjadi seorang Ratu hanya dalam mimpimu saja, hahahaha.....”
“Kakak tidak tahu betapa hebatnya Vasilissa itu....”
Welliam yang sejak tadi bersandar pada dinding, berjalan ketempat tudur Adik perempuannya, lalu mengacak-ngacak suraian rambut hitam milik Lucy.
“Kau masih kecil untuk bisa menjadi Ratu, lagian Queen Vasilissa itu hanya sebuah dongeng penghantar tidur saja. Sudah kuduga yang namanya anak kecil memang harus memegang permen, atau mau kuambilkan lolipop untukmu, Putri Lucy...”
Ucap Welliam sembari menyentil sedikit jidat Lucy.
“Ah! Mama.......”
“Welliam, jangan ganggu Adikmu....”
“Baiklah, Aku minta maaf Ibu..., cepatlah tidur Lucy kau masih anak kecil unuk tidur terlalu malam, jangan lupa sampaikan salamku untuk Vasilissa dimimpimu, hahaha...”
Welliam berjalan keluar kamar sang Adik, Lezzy menggelengkan kepalanya.
Putranya ini memang bukan lagi anak kecil, saat usianya 4 tahun Welliam telah memasuki batas kedewasaannya. Kegeniusan dan kehebatannya yang dapat menafsirkan pengetahuan luas mengenai seorang pemimpin, sering disebut sebagai cerminan Fedrick sewaktu kecil.
Lezzy melihat Putrinya yang sedang memasang wajah kesal, dia kembali membelai dan memebenarkan rambut Lucy yang sempat berantakan.
“Kau masih kesal Lucy?”
“Hem, Kakak selalu mengejekku.., Mama apa cerita ini sungguh nyata?”
“Hem, jika kau percaya cerita Vasilissa ini, suatu saat kau pasti akan menjadi sosok Ratu sepertinya....”
“Sungguh, baiklah Lucy akan selalu percaya, Aku tahu Kakak pasti tidak tahu kalau ceria ini bukanlah sebuah dongeng, menyebalkan..”
“Dengar sayang, kau masih kecil untuk memahami semuanya. Kehidupan ini, tidak semenyenangkan kisah di cerita Dongen, ada banyak hal diluar sana yang menantimu nanti.”
“Sesuatu yang besar?”
__ADS_1
“Sesuatu yang luar biasa.”
“Benarkah Mama?”
“Ya sayang, saat kau sudah dewasa nanti. Ingatlah Lucy, kehiduan nyata adalah cerita dongeng yang sebenarnya.”
“Jadi, berhentilah berkhayal!”
Ucap Welliam yang kembali memasuki kamar Lucy.
“Kenapa Kakak kembali lagi, apa Kakak ingin mendengar dongeng Mama?”
“Siapa yang mau mendengar dongeng. Aku hanya kembali untuk megambil buku ilmiah milik Paman Briant.”
"Dasar menyebalkan!"
Lezzy terawa kecil, melihat perdebatan anak-anaknya saat dia membacakan dongeng untuk Lucy.
Sejak dulu Welliam memang tidak mudah dibohongi dengan sebuah kisah, setelah Welliam keluar Lezzy kembali menatap Putrinya.
“Oke, sekarang waktunya kau tidur, jika Papamu tahu kau belum tidur....”
“Papa akan mencium dan mengelitikiku, sampai Lucy kelelahan sampai tertidur.., Hahaha...”
“Baiklah-baiklah, semoga mimpimu indah sayang...”
“Hem, Good Night Mama..”
Lezzy mencium pucuk kepala putrinya, lalu mematikan lampu yang menjadi penerang diruang kamar anaknya, Lezzy tersenyum lembut.
Lucy adalah putrinya darah keturunan Selini thea mengalir dengan sangat pekat padanya, suatu hari nanti Lucy pasti akan mendapatkan gelar seorang Vasilissa juga.
Tapi Lucy masih terlalu dini untuk mengetahui jati dirinya, biarkan dia yang menemukan jawabannya setelah batas usia kedewasaannya nanti.
Begitu juga dengan Welliam yang akan menjadi takdir baru penguasa Darkness World, Lezzy harap kehiduan mereka idak serumit takdirnya.
“Anak-anak sudah tidur?”
Lezzy hampir memukul pemilik suara itu dengan buku dongeng anaknya, akiba terkejut.
“Fedrick, kau mengejutkanku!”
Fedrick tertawa, dia terlihat sangat berantakan, sejak kemarin dia selalu sibuk dengan pekerjaanya sebagai Lord.
Untungnya Fedrick masih sering menyempatkan waktu untuk anak-anak di sela kesibukannya.
“Kau jadikan kisah kita sebagai dongeng untuk mereka?”
Fedrick mengambil buku ditngan Lezzy sembari berjalan.
ya Lezzy ingin seperi Ratu Recyla yang membagi kisah hidupnya, unuk memberikan pelajaran baru bagi para penerus penguasa Darkness World.
Buku yang dia tulis sendiri dan selalu membacakannya unuk anak-anaknya, saat malam hari.
“Kenapa, bukankah kisah kita sanga menarik, kau tidak tahu Fedrick mungkin saja mereka yang membaca kisa cinta kita, juga mendapatkan pelajaran arti hidup yang sebebarnya...”
“Baiklah, Aku mendukungmu sebagai penulis ceria di Darkness World..”
“Hahaha, kurasa kau harus membuka toko buku unukku.”
“Oky, kau sudah membuat anak-anak tertidur, sekarang giliranku yang harus membuatmu tertidur.”
“Oh, apa sekarang kau juga akan membacakan dongeng unukku, Fedrcik.”
“Kenapa harus dongeng, Lezzy Aku selalu sibuk degan Kerajaan, Kau juga sibuk dengan anak-anak. Kita sekarang jarang ada waktu luang untuk bersama, kenapa tidak kita tidak menggunakan waktu ini untuk....bermesraan?”
“Oh, ayolah Fedrick kia sudah menjadi orang tua. Apa masih perlu seperi anak muda?”
Lezzy berjalan cepat lalu berhenti di depan pintu kamarnya, bersiap memutar kenop pintu tapi dengan cepat Fedrick meahannya.
“Semenjak ada anak-anak, kau telah menomorduakanku.”
“Lebih tepatnya, menomortigakanmu..”
Ucap Lezzy membenarkan ucapan Fedrick, lalu memasuki kamar membiarkan Fedrick menggeram kesal di depat pinu, ini yang Lezzy suka terkadang sifat cemburu Fedrick sangat lucu persis seperi anak kecil, Fedrick menatap Lezzy yang sudah berbaring diatas tempat tidur, dengan selimut tebal yang membungkus tubuh anghunnya.
“Kau tidak mau tidur, sayang....”
Ucap Lezzy dengan nada yang begitu menggoda, sembari menepuk pelan kasur disebelahya.
Fedrick menyeringai, dia meletakan buku cetita anaknya diatas meja, lalu menghampiri sang istri unuk berbagi rasa kelelahan dengan kenyamanan.
Fedrick memeluk Lezzy dia membelai lembut surai rembut hitamnya.
“Terimakasih untuk semua kebahagian, yang telah kau berikan Queen ku.”
"Aku juga, Yang Mulia Lord."
"Em,, Lezzy apa kau mau tambah satu anak lagi?"
"Diam dan tidurlah, FDRICK!!!"
Lezzy kesal, lalu membalikkan tubuhnya membuat posisinya membelakangi Fedrick, sedangkan Fedrick tertawa senang, kemudian mendekatkan dirinya sembari memeluk tubuh hangat sang Istri.
Angin malam berhembus lembut menerbangkan tiap kelopak bunga persik, mereka menari memasuki kamar Fedrick dan Lezzy dari jendela yang terbuka lebar.
Kemudian kelopak bunga itu jatuh dan mendarat tepat diatas buku yang ditulis Lezzy dengan judul.
~The Queen Of Ruler’s From Another World~
__ADS_1
--_*Find*_--