
“Ingin kurubah waktu, agar aku mencintaimu terlebih dahulu. Melawan takdir yang begitu kejam untuk mencegah mereka yang kusayangi terluka, lebih baik aku mati dalam senyum kebahagiaan, dibanding hidup dalam penyesalan menjadi diriku sendiri.”
**-Pricilia Lezzy Crownsiamoer. **
\~*o0o*\~
Ini begitu melelahkani. Segala hal rumit yang terjadi dalam kehidupanku seakan tidak pernah berhenti, perlahan kegelapan ini menelanku seakan takdir ingin menuntut sesuatu kepadaku, apa kesalahanku?
hingga aku harus berada disituasi yang membuat semua orang disekitarku dalam bahaya. Sungguh, aku tidak pernah ingin menjadi seorang Vasilissa yang begitu sempurna dimata mereka.
Rintihan hati Lezzy di isak tangisannya, melihat mereka bertarung tanpa memperdulikan bahwa dia ada disana. Begitu tarasa menyesakkan, menekan rongga dada sehingga memburu nafas yang begitu sesak. Semua menjadi berat bagi Lezzy, takdir hidupnya sebagai Vasilissa membunuhnya dengan perlahan, memuakkan untuk terus dijalani.
Mereka saling membunuh hanya karena gelar Vasilissa yang bahkan Lezzy sendiri pun tidak tahu apapun mengenai gelar itu. Apa yang mereka perebutkan? Dirinya, cintanya, kehidupannya, gelarnya, kekuatannya, kebahagiaannya, atau sosok yang mereka junjung tinggi sebagai Vasilissa !
Lezzy tidak pernah mau berada dalam keadaan seperti ini, melihat mereka saling membunuh hanya untuknya, tidak. Siapa saja adakah seseorang yang bisa menghentikan ini semua?!
** “Apa kau menyesal menjadi Vasilissa\, Lezzy?”**
Suara itu hadir di dalam pikiran Lezzy membuatnya teralihkan dari pertarungan disekitarnya, suara yang begitu asing untuk Lezzy dengar.
** “Apa kau terbebani dengan takdirmu?”**
“Siapa kau?”
“Aku adalah dirimu, sosok yang masih belum bisa kau terima dalam hidupmu. Beban hidupmu
adalah sebuah penanggungan dosa dari mereka, beban hidupmu adalah perubahan untuk mereka, dan beban hidupmu adalah sebuah fakta yang tidak bisa kau hindari sebagai Vasilissa.”
“Haruskah aku yang menjadi Vasilissa nya?"
"Ya, itu sudah menjadi takdirmu sebagai keturunan rembulan. Kita dilahirkan tanpa diberi pilihan untuk menjadi siapa pada kehidupan ini, kita hanya diberi kekuasaan lebih untuk memerintah alam. Namun, mau tidak mau kita hanya dapat melihat dari kursi penguasa, diatas pengorbanan dari sejuta darah pertumbalan mahlluk kegelapan!"
"Tidak! Aku tidak mau, aku tidak mau menjadi seorang pembunuh hanya karena sebuah kekuasaan!"
BRAK!!
Lezzy kembali melihat pertarungan disekitarnya, ia mencengkram kuat gaun nya melihat keadaan Fedrick yang benar-benar dalam kondisi bahaya. Tidak Lezzy tidak mau jangan lagi, jangan ambil miliknya yang ia sayangi pergi dari kehidupannya.
“Hentikan...hentikan ,siapa saja kumohon hentikan mereka, hiks aku--aku sungguh menyesal terlahir
menjadi seorang Vasilissa. Kumohon hentikan !!!"
Angin berhembus kencang ditengah malam penuh dengan kekacauan, membuat semua pohon dihutan bergerak terombang-ambing, nafas Lezzy benar-benar begitu menyesakkan. Kepalanya terasa berat dan sakit, lalu semua menjadi gelap dan sunyi.
Sedangkan di posisi Fedrick. Ia kembali menggila, mencakar habis seluruh tubuh Carlitos dengan sadis. Katastrofi menggerakkan pedang hitamnya, membuat beberapa anak buahnya ikut tertebas saat Fedrick dan Kristof berhasil menghindar. Dan dalam gerekan cepat Katastrofi mendekati Fedrick membiarkan pedangnya menebas kepalanya, sedikit lagi hanya sedikit lagi ia akan berhasil membunuh penguasa Darkness World.
“AKU BILANG HENTIKAN!!”
Semua berhenti bagaikan sebuah perintah mutlak, tidak ada yang bisa bergerak dari posisi mereka. Bahkan pedang Katastrofi hanya berjarak 10 cm dari leher Fedrick. Fedrick menatap Istrinya namun ada yang berbeda dengan Lezzy.
Rambut Lezzy yang berwarna hitam berubah menjadi putih keperakan, lambang bulan sabit dikeningnya
__ADS_1
berubah menjadi hitam. Iris matanya tidak lagi sebiru laut melainkan menjadi merah bahkan lebih merah dibanding mata kaum Vampire. Tatapannya begitu tajam dan dingin, sebuah tato membentuk ukiran mawar liar berwarna hitam dan merah disebagian pipih wajahnya.
“Lezzy?”
“Aku bukan Lezzy...” Nada bicaranya yang begitu dingin dan penuh arrogant membuat semua diam.
“Lalu siapa kau?” tanya Fedrcik.
** “Coba kau tebak\, siapa aku Tuan Lorddark’s? Ternyatai kaum Demon masih memimpin dunia ini.”**
Bukan! itu jelas bukan Lezzy, nada bicaranya begiu sombong lagi pula Lezzy tidak aka nmemanggil namanya dengan marga keluarganya.
Wanita itu tersenyum sinis seolah merendahkan Fedrcik, Briant dan Styvn saling berpandangan mereka sedikit menatap ketakuan, penampilannya begitu menyeramkan namun masih terlihat berwibawa tinggi dengan wajah jelitanya.
“Kau seorang Aliki Vasilissa, Dewi yang mampu menguasai alam semesta.” Ucap Katastrofi
dengan nada terkejut. Kristof melirik dari atas sampai bawah wujudnya yang berbeda dengan Lezzy.
‘Aliki Vasilissa, Jadi dia adalah sosok yang disebut Olyfia, lalu bagaimana dengan Lezzy?’
** “Aku dan Lezzy adalah satu tapi kami adalah sosok yang berbeda\, atau bisa kalian kenal sebagai Thea Vasílissa ton igemónon. Saat diriku masih belum bisa menerima kenyataan maka aku akan hadir untuk menyatakannya. Ada lagi yang ingin bertanya\, bagaimana menurutmu De..mon?"**
Ada rasa kesal di dalam diri Fedrick saat mendengar nada bicaranya yang begit menjengkelkan, seolah Fedrcik tengah direndahkan. "Tidak ada, segera pergilah dari tubuh Istriku!"
"Sayangnya itu tidak bisa, aku adalah dia yang telah lama tertidur di dalam jiwanya. Jadi Katastrofi, bukankah sosok ku yang kau cari selama ini?"
Katastrofi sedikit ketakuan saat mata merah itu menatap kearahnya, sosoknya begitu persis seperti aura Dewi Selini Thea yang menyuruhnya untuk menunduk hormat kepada sang penguasa.
hampir mengerti bahwa dia adalah Vasilissa, gelar Ratu yang dikatakan Katastrofi.
“Tentu saja untuk menghenitkan kalian yang begitu bodoh."
“Kenapa? Bukan kah yang menang adalah Raja nya?” Ucap Kristof dengan sombong.
** "Betapa sombongnya kalian ingin bersanding denganku."**
Vasilissa itu menatap tidak suka, mata merahnya berkilat kebencian. Ia melangkah maju lalu genangan darah dibawah telapak kakinya, perlahan meng-crystal dan berubah menjadi padang bungan Lycoris merah.
Udara disana menjadi semakin tipis, cahaya bulan To Fos Tou Fengariou berubah menjadi merah memenuhi bulan purnama sempurna dengan warna yang sepadan dengan darah.
“Betapa Menjijikannya sikap angkuh kalian. Kalian semua tidak lebih dari kaum rendahanyang hina untuk ku! Siapa kalian hingga begitu percaya dirinya untuk bisa menjadi pasangan Mate seorang Vasilissa.”
“Lezzy kembalilah!"
"Dia tidak akan kembali, Lezzy mu sudah tidak ada. Saat ini kau sedang berhadapan dengan Vasilissa, jadi berlututlah! Tunjukan rasa hormat kalian di hadapanku, sang Maha Dewi !!"
Nada bicara yang Vasilissa keluarkan begitu angkuh seolah dia bangga dengan sosoknya sebagai Ratu, dan beranggapan bahwa semua dihadapannya hanyalah makhluk yang tidak lebih tinggi darinya. Suaranya yang berteriak dengan intonasi yang mutlak, menghantarkan gelombang tak kasat mata hingga memaksa mereka semua untuk berlutut.
“Kau juga berlutut!” Vasilissa itu menunjuk Fedrick, saat dilihatnya Fedrick masih berdiri menatap sejajar dengannya.
Fedrick semakin kesal dengan nada bicaranya yang mencoba memerintahnya, sepertinya Vasilissa ini perlu hukuman untuk menghormati sosok Lord di Darkness World ini. Bahkan sekarang Istrinya tidak menganggapnya sebagai Mate pasangan hidupnya, sudah cukup! Fedrcik mulai geram.
__ADS_1
Apa yang menjadi miliknya maka harus tetap jadi miliknya, dia adalah Lezzy. Ratunya, Istrinya,
belahan jiwanya. Jika pun Vasilissa itu meolak maka dia akan membuatnya menerimanya karena dia dan Lezzy adalah satu.
"Kau tidak berhak memerintahku!”
“Aku adalah penguasanya, kau hanyalah Iblis yang tak layak untuk Lezzy. Tidak untuk kami berdua!!”
“Diam, kau terlalu egois di duniaku. Tidak ada yang boleh memerintah kecuali aku di Darkness World ini. Jadi kembalilah Lezzy.” Ucap Fedrick seraya menarik tubuh Vasilissa yang tidak lain adalah Istrinya kedalam pelukannya.
Sebelah tangan Fedrick menyingkirkan helaian rambut putih bagaikan rembulan. Menampilkan jenjang
leher porselin Lezzy yang begitu menggoda terpampang jelas, dan sebelum Vasilissa itu menyadarinya dengan cepat kedua taring Fedrcik menancap disana, ditempat yang sama----dimana dia membuat lambang kepemilikan dileher Lezzy.
Semua yang disana diam menatap terkejut dengan aksi nekad Fedrick, yang seolah menghantarkan
nyawa kepada Vasilissa yang liar. Tapi tidak untuk Fedrick ia ingin menyatakan kepada semua makhluk di Darkness World bahwa Lezzy hanya miliknya.
Perlahan angin yang bertiup kencang mulai menjinak, bulan purnama berwarna merah kembali kesedia
kala. Fedrick menarik taringnya kembali, sembari membersihkan darah Lezzy yang masih tersisa disudut
bibirnya, lalu mengarah ke daun telinga Lezzy.
“Kau dan dia tidak berbeda kalian adalah satu bukan sebagai Aliki Vasilissa, melainkan sebagai Queen ku, Mate ku, dan juga Istriku. Aku adalah sosok Lord yang harus kau turuti dan kau hormati, ingatlah ini baik-baik di dalam dirimu Pricilia Lezzy Crownsiamoer!!”
"Sepertinya kaulah Vasilias yang Lezzy cari, dengarkan ini baik-baik Yang Mulia. Dunia ini terlalu kejam bagi kami yang menjadi keturunan rembulan, Tak perduli kau adalah Vasiliasnya tetapi semua penderitaan ini akan terbagi secara seimbang keapada keturunan kalian selanjutnya."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada alam ini, hingga para Dewa sangat mengkhawatirkannya. Tetapi, tidak perduli sebesar apapun masalahnya. Aku akan melindunginya hingga akhir masaku. Jadi, kembalikan tidur dengan tenang Vasilissa ku!!"
Fedrick kembali menatap Vasilissa itu seolah menantangnya. Mendengar ucapan Fedrick membuatnya tersenyum puas lalu kedua mata merah itu tertutup.
“Yes, My Lord!”
Fedrick tersenyum sinis, puas dengan jawaban Istrinya bahwa dia masih seorang Raja, bukan hanya
Raja di dunia ini melainkan Raja yang dapat berkuasa dihatinya.
“Vasilias Tou Igemona. ini merepotkan, kenapa Iblis itu yang harus menjadi Rajanya. Sial!” Katastrofi melirik benci kepada kedua pasangan penguasa itu.
Kedua mata Lezzy perlahan terbuka memancarkan iris klorofil yang begitu damai dan sebiru laut,
lambang bunga mawar yang terukir di wajah dan sebagian leher, kembali menyulur ke
tempatnya dengan nama Fedrick masih terukir jelas disana.
“Fedrick...”
“Kau sudah kembali, Ratuku sayang."
--_o0o_--
__ADS_1