
*CHAPTER 1*
“ Makhluk Hujan”
September, Oktober, November dan Desember.
Aku membolak balik kalender meja dari bahan kertas yang tebal dan gambar fasilitas - fasilitas ruangan nan indah di Hotel aku bekerja secara berulang ulang, Besok sudah masuk bulan September bulan bulan yang selalu dihiasi hujan, sekarang saja di luar sudah mulai turun hujan deras, perasaan yang berkecamuk susah dijelaskan dengan kata kata. Mata ku yang setengah mengantuk tidak jelas melihat kalender meja yang udah aku jadikan mainan buat membolak balik kertas itu, walau sekarang aku berada didalam gedung berlapis semen kokoh nan indah yang dimana suara hujan pun tak terdengar hanya saja aku sedikit was was kalau kalau beberapa saat pulang nanti aku akan bertemu mereka, mereka yang tidak kuketahui asal usul nya, jenis apa dan kenapa hanya aku yang bisa melihat mereka, “Makhluk Hujan”, aku menyebut mereka makhluk hujan, makhluk makhluk yang berbagai jenis bentuk nya, dalam selama penglihatan ku, aku membagi mereka 3 jenis, 1 jenis makhluk hujan yang cantik, 2 jenis makhluk yang lebih pendek dan sedikit menyeramkan ke-3, benar benar mkhluk hujan yang menyeramkan. Mereka biasa muncul , berlalu lalang dan berinteraksi sesama nya tanpa mengetahui keberaaan ku yan bisa melihat mereka, kadang aku merasa terhibur kalau yang ku temui adalah makhluk berparas menawan, dengan pakaian nya yang juga nampak sangat indah bergelimang kristal dan emas bahkan seperti peri, bagian yang paling khas dari makhluk hujan adalah aliran darah mereka yang tembus pandang di kulit mereka yang putih bersih seputih salju dan sulur berupa urat urat itu bergerak menyerupai tato tipis yang merekat, warna nya beragam dan menari nari di dalam nya, kadang sulur itu keluar dari kulitnya
Tiba-tiba kalender itu ditarik paksa, alis cewek sebaya dengan ku yang berparas ayu memasang kerutan didahinya.’’ O’Ok…Kalau kurang kerjaan mending urutin pinggang ku..’’ ucapnya geleng geleng kepala, lalu menonjolkan sebagian pinggang nya yang terbalut kain sasirangan, baju seragam yang juga aku kenakan. Anak itu seenaknya menyebut ku dengan sebutan o’ok, seperti seekor ayam saja.
‘’ mikirin cowok apa mikirin utang siiih, dari selesai makan siang tadi yang dimainin kelender doang, mending mainin yang begituan… tentu dapat uang..’’ celetuk Maya, rekan kerja ku tersenyum jahil, bibirnya tersungging menunjuk beberapa om – om yang duduk di kursi lobby yang sesekali menengok kearah kami yang berada di ruang recptionis.
Aku meringis jijik, menggaruk garuk lutut lalu mengetok ngetok ke meja berulang ulang sambil bilang amit amit jabang bayi mending mati kelaperan ketimbang main sama om om…, emang aku pengerut harta, ya walau tidak menampik juga kalau paras ku sering mereka bilang cantik, dengan tubuh semampai dan kulit bersih, hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah.
Maya tertawa ngakak, lalu menunduk pelan karena tawanya semakin memancing beberapa orang di sana,’’ lebay amat sih, kan aku cuman bercanda, lagian kalo kamu mau juga aku bakal selametan 7 hari tujuh turuan’’ Maya tau persis kalau Okta sangat anti yang begituan walau lingkuan pekerjaan tidak bisa menampik godaan itu.
Godaan selalu datang apalagi bekerja ditempat yang terlalu menonjol seperti sekarang ini, Aku sering mendapat pesan pesan singkat dari beberapa cowok yang ga tau orang nya yang mana, bahkan mereka tak jarang selalu menelpon dan mencoba mencari perhatian dan bujukan seperti mengajak ke mall buat belanja, membelikan ini itu dan sebagainya, tapi semua hanya dibalas secara professional, padahal kalau saja bukan karena kerjaan mungkin tu orang aku laporin ke istri istri atau pasangan nya biar kapok, kalau perlu ku maki maki sampai puas,mengingat kata teman tema akuorang nya jutek dan pemarah, namun sejak 5 tahun belakangan ini bekerja sebagai Receptionis orang orang Hotel mulai tau sifat dan ketidaksukaan ku, sehingga mereka lebih mengerti apa dan cenderung mengurung niat aneh aneh.
‘’ ssst.. ada tamu…’’ Maya menarik ku berdiri, sesambil merapikan baju dan tataan rambut kami yang serupa, di cepol ala ala pramugari. Aku dan Maya nyaris sama tingginya, hanya saja Maya lebih berisi, tapi cewek asal Samarinda itu sedikit bertubuh gelap, tapi wajahnya tetap manis dan menarik.Ya kalau tidak menarik mungkin aku juga tidak akan diterima di sana.
Sepasang muda mudi yang sepertinya suami istri menyahut sapaan kami yang lemah lembut. Kedua tamu itu memilih kamar yang mereka gunakan, setelah nya berlalu pergi, yang kemudian digantikan 2 pria asing, ‘’ bule..o’ Ok.. kamu ajaaaaa…. Kayaknya orang nya beribet’’ bisik Maya melihat 2 orang asing itu yang nampak sibuk mencari cari brosur di meja. Aku menyikutnya.. Maya hanya terkekeh.. lalu ia kabur dengan mengangkat telepon yang kebetulan berdering.
Benar saja 2 tamu asing ini benar benar ribet. Pilih pilih dan mikir abis kamar yang mereka pilih, sesekali berdebat dengan rekan nya dengan bahasa diluar bahasa inggris, lalu mereka malah menanyakan fasilitas fasilitas disana sampai biaya biaya nya. Mulutku sampai tepelintir dengan bahasa inggris yang terlalu menekan lidah itu. Belum juga selesai final memilih kamar, kedua nya malah mau ke café dulu baru nentuin kamar.
Aku mendengus kesal, sudah capek capek memutar otak menyahut setiap pertanyaan kedua nya dengan mimik seramah dan senyaman mungkin tapi rasanya hanya air liur pahit yang perlu diberi sedikit kopi biar tenggorokan agak lembab.
Maya terkekeh melihat ku yang merengut. ‘’ sepertinya mereka hanya main main aja Ok… tu bule kayaknya ngincer kamu..’’ledek nya lagi.
Aku melihat Maya dengan kesal, Maya selalu meledekiku walau hanya sekedar gurauan.
‘’ aku masih cinta produk Indonesia kali.’’ Sahut ku sambil melirik kearah ka Adi yang nongol dari belakang sambil membaca segelas kopi latte. Bau nya langsung menusuk hidung, sesaat isi kepala ku kembali rileks.
‘’ waaaa kebetulan..’’ seru ku ngiler kearah tu cangkir, lalu melihat kearah Ka Adi dengan acting memelas. Laki laki yang umurnya terpaut 3 tahun dari aku itu mengerucutkan bibirnya.’ Dasar malas, nih…’’ gerutunya menyerahkan secangkir kopi yang mungkin baru ia buat. Aku berseru riang mengambil nya dan meniup penuh antusias sebelum meminumnya, Ka Adi memang rekan yang sangat baik.
Rasanya benar benar nikmat air kopi itu menyentuh tenggorokanku, seperti ada energy lagi yang muncul.
‘’ nih.. pisang goreng… biar klop’’ Ka Adi meletakkan potongan pisang goreng yang ia belah jadi dua.
‘’ aku aku ka??’’ pinta Maya tak mau kalah tidak kebagian, mulut ny menganga duluan.
‘’ ambil aja di belakang, tu aku bawain banyak.. tapi udah di serbu anak anak’’ katanya langsung memakan bagian nya dengan mulut penuh. Maya mendengus jengkel..’’ kalau udah di tangan mereka yang ketinggalan cuman karak nya doang.
‘’ nih biar adil… ‘’ aku mencomot sedikit bagian kue yang nyaris aku makan ludes.
‘’ ogah.. udah kena iler kali Okta..’’ tolak Maya mentah mentah, aku hanya tertawa pelan melihat penolakan nya.’’ Siapa tau kamu tertular jadi artis’’ ucapku ngakak PD luar biasa. Ka Adi hanya senyam senyum tidak karuan, cowok bertubuh tegap dan bertampang ala ala cowok browokan yang keren itu memutar tubuhnya untuk mengangkat telepon yang berdering dering seperti kepalaran. Kedatangan ka Adi itu artinya bagian shif kerja aku berakhir. ada waktu 1 jam lagi untuk aku melanjutkan kuliah ekstensi di salah satu Universitas unggulan di Kota ku Banjarmasin, beruntung Boss memperbolehkan aku untuk mendaftar kuliah, pendidikan itu juga penting selain mencari sesuap nasi dan mengumpulkan uang untuk hanya membayarkan hutang almarhum ibu angkat ku yang meninggal 1 tahun yang lalu.
Di tempat ganti, lemari persegi yang ukuran nya 30 cm x 30 cm tertulis nama ku’’OKTA’’ di bagian anak kunci yang kecil tergantung bingkisan dari tas kertas kecil.
‘’ dari tamu…’’ suara Mba Adel melintas, wanita yang juga kerja di bagian adminitrasi itu melintas seperti iklan yang hanya khusus menyampaikan hal tersebut, suara nya sedikit dingin, memang Mba Adel yang belum belum juga menikah di usia nya hampir 40 an itu terkenal paling anti dengan gadis gadis muda yang menurut nya cantik, ya walau aku akui aku juga cantik ck!
Aku hanya bergumam sambil mengambil itu bingkisan, itu bukan untuk pertama kalinya hampir berkali kali aku dapat hadiah seperti itu, katanya sebagai ucapan terimakasih sampai modus untuk bisa minta dekat, tapi semua nya aku terima tanpa ingin lebih lanjut mengorek atau menanggapi mereka, entahlah aku hanya menghormati mereka tanpa ada embel embel lainnya, jika pun ingin meledane Mba Adel pasti sangat senang hati menyebarkan gossip seentero Hotel kalau gadis perawan yang jual mahal itu akhirnya luluh juga dengan yang nama nya uang, dan aku sangat menghindari itu, mengingat dulu sering melihat tetangga tetangga mencemooh Mama Olla, Ibu anggkat ku dengan kata kata seperti itu, walau dulu tidak mengerti tapi ikut merasakan sakit hati mengingat bagaimana cara para tetanggan mengatakannya dengan tatapan jijik seolah Mama Olla adalah virus yang harus di lenyap kan di muka bumi.
__ADS_1
1 botol handbody yang berwarna cokelat, di lebel nya juga tertera aroma rasa cokleat, siapa pun itu aku mengucapkan terimakasih karena cokelat memang kesukaan ku.
‘’ akhir akhir ini makin popular aja kamu..’’ celetuk Mba Adel yang ku pikir sudah pergi dari sana, suara nya masih sumbang dan dari geliat nya yang seolah mengotak atik isi lemari nya seperti ingin tahu banyak apa isi dan siapa pengirim nya. Dalam hati rasa nya ingin sekali aku menjambak rambut tu perempuan, selalu cari gara gara, tapi beruntung umurnya sudah makin uzur, lagian bukan dia seorang yang sering jadi bahan kekesalan hati, Maya, ka Adi bahkan office gril yang memang menarik tidak lepas dari hawa rasa irinya itu.
‘’ oh yaaa…..’’ aku pura-pura tersedak, tersenyum manis didepan nya seolah tersanjung. Lalu menutup kedua pipi ku yang merah karena marah dengan tangan seolah olah malu.’’ Mungkin karena akhir akhir ini saya rajin kesalon mbaaa’’ cicit ku di buat buat. Mata Mba Adel tergelak lalu menekuk ujung cadel nya, melihat wajah ku dengan memastikan apa yang kukatakan itu benar atau bohong, tapi aku hanya senyam senyum… sambil memamerkan aroma enak dari Hand Body tersebut., hidup si Emba yang udah mancung kedalam itu ikut mengendus.
Aku lalu ngacir sambil bersenandung ria mengambil semua baju ganti yang sudah aku siapkan di dalam loker itu, dan berlalu menuju ruang ganti.
‘’ makan tu..’’ umpat ku puas, kerasa sekali Mba Adel pasti kesal. Aku memang rajin meladeni si Emba yang doyan sekali cari gara gara dengan cara halus seperti itu, walau tidak lama lagi dia bakal bergosip ria ke depan, kebagian pantry dan di mana ia suka, sangat heran masih ada ternyata makhluk seperti itu di dunia, padahal di Tv sudah sering sinetron hidayah.
Dengan kemeja kotak kotak merah hitam dan jins serta ransel kecil menggantung, aku menuju area parkir yang masih saja di guyur hujan beberapa makhluk semampai lalu lalang dengan urat urat seperti dawai akar pohon didalam kulit mereka, mereka bersinar dan nampak menawan. Aku mengambil jaket hodie yang melingkar di bahu ku, mengenakannya lalu berlari ketengah area parkir itu menembus membelah belah mereka si makhluk hujan yang menawan, beruntung bukan wajah wajah tak enak yang kutemui.
Suasana kelas yang adem ayem, mungkin karena hujan mengguyur diluar sana, anak anak yang sekelas dengan ku hanya sedikit dan memang matakuliah Akuntansi ini mahasiswa nya tidak terlalu banyak, makin sedikit karena banyak yang tidak masuk.
Hp ku bergetar ria diatas meja sehingga suara nya agak bikin gaduh, beberapa anak menoleh ku dan kembali kearah papan putih yang sedang di coret coret Pak Dosen dengan suara nya yang menggelegar.
Tifanny menyikut ku dengan ujung bibir menunjuk Hp ku menyuruh ku meladeni tu Hp, bukan nya aku tidak mau mengubris hanya saja si penelpon adalah adik angkat ku Susan dan aku tau apa maksud Susan menghubunginya, aku mengambil Hp yang sudah berhenti bergetar, kemudian digantikan nama penelpon lain.
Rentenir b*ngsat
TIfanny mendongak ingin tahu tapi aku langsung menyembunyikan nya ke bawah meja, sambil menekan power dan menyembunyikan nya dalam tas.
‘’ KAPAN MAU BAYAR!!!!’’ Suara cempreng dengan nyaris nyaris memecahkan speker Hp q, ku tutup speker dan sedikit menjauh dari bebeapa anak yang duduk di depan kelas.
Aku berdecak kesal melihat tu Hp. Belum juga jatuh tempo tapi sudah ditelepon telepon, padahal ia selalu rutin mencicil hutang almarhum ibu angkat nya ke rentenir itu tapi tetap saja di kejar kejar. Masih beruntung ia masih mau menanggung semua hutang piutang peninggalan Mama Olla sampai sampai harus extra hemat membagi semua keperluan nya, rumah, kedua anak Mama Olla dan hutang sialan itu. Beban berat yang sebenarnya sudah sangat jenuh Okta jalani, tapi mau bagaimana lagi, wanita yang dengan mungkin senang hati mau membesarkannya itu meninggal dunia 1 tahun yang lalu karena kecelakaan dan ia meninggalkan hutang sebesar 128 juta belum termasuk bunga nya, Mama Olla meminjam pinjaman ke Rentennir karena penyakit jantung Viola, adik angkat nya yang sekarang sudah kelas 5 SD, serta memenuhi kebutuhan rumah dan membiayai sekolahnya hingga SMU. Dan sekarang semua beban itu diwariskan ke Okta untuk menanggung semua nya, bahkan sekolah kedua adik angkatnya, selain pekerjaan di hotel uang dari endorse lumayan membantu, beberapa produk sering menawarinya untuk jadi model produk mereka, dan kadang ia juga jadi model fashion di beberapa butik, uang nya sangat sangat membantu mengurangi beban nya itu.
‘’ BU, SAYA PUNYA KUPING JANGAN TERIAK TERIAK, BESOK SAYA TRANSFER’’ teriak ku dengan kesal.
‘’ DASAR ANAK TIDAK TAU DIUNTUNG, HARUS NYA KAMU TERIMAKASIH AKU MASIH MAU MEMBERI KERINGANAN UNTUK KAMU MENCICIL, TAPI PRILAKU MU SANGAT SANGAT TIDAK SOPAN, KAU PIKIR KARENA SUDAH KULIAH DERAJAT MU MAKIN TINGGI.. KAU SAMA SAJA DENGAN SI ****** ITU, KENAPA TIDAK SEKALIAN SAJA KAU IKUTI JEJAK OLLA, BIAR HUTANG MU CEPAT LUNAS…’’
Darah ku rasanya langsung mendidih, tapi harus aku tahan kuat kuat, tidak sekali dua kali Wanita bersuara mirip drum itu mengatai Mama olla, keluarga nya hingga dirinya tapi rasanya setiap kali mendengar rasanya ia mua membelah dua manusia itu.
Aku meninjak injak tanah hingga tu tanah yang lembek bekas hujan membentuk gubangan, ingin juga rasanya aku kubur tu Hp ke dalam, tapi mengingat tu Hp juga masih belum lunas, rasanya percuma melampiaskan kekesalan nya, entah kenapa hari itu banyak yang membuatnya kesal.
Aku menarik nafas dalam dalam lalu mengaturnya pelan pelan, setengah membaik dan di seberang sana Tifanny melambaikan tangan dengan diiringi langkahnya yang lebar lebar menyusulnya.
‘’ ngapain disini, banyak nyamuk… kamu ga ikut kita Ok… ‘’ Tanya gadis yang baru 1 semester ini sudah wara wiri dengan ku, dan Tifanny salah satu pemilik Butik yang dimana kadang model fashionnya adalah aku. Aku ingat ia dan beberapa anak angkatan lainnya mengajak Karaoke berhubung matakuliah berikutnya dibatalkan.
Tifanny melihat ku penuh selidik, rambut nya yang kini di cat merah bata nampak menggelap dimakan pergantian siang ke malam, ia nampak menelaah mungkin masih ada asap di kepala ku yang masih mendidih.
‘’ Oke aku ikut, mumpung hari ini otak ku rasanya mau meledak’’ kataku mengiyakan. Diiringi suara kesenangan Tifanny yang kegirangan aku mau ikut, ya jarang jarang aku mau ikut ikutan anak anak angkatan kalau mau have fun setelah kuliah, karena lelah yang sering mendera aku memilih pulang untuk istirahat, lagipula ada anak kecil dirumah yang perlu diawasi, apa lagi Susan yang masih labil otaknya.
Tifanny berseru raing saat kami sampai kearah gerombolan anak anak angkatan ku yang dimana aku sendiri tidak terlalu hafal nama nama nya, tapi mereka bergemuruh senang melihat gerakan Tifanny tersebut.sampai segitunya mereka kesenangan melihat aku bisa ikut. Kami menuju tempat Karoke yang tidak jauh dari Kampus, kalau aku hitung jumlah kami lumayan banyak buat 1 room dan semuanya campur cowok cewek, mereka semua menyanyi dan berjoget joget penuh kegilaan, tidak menyangka ternyata watak mereka ternyata seperti itu, sesekali aku tergelak tawa mendengar suara dan candaan anak anak yang kelakukan nya sangad menggelikan, aku juga ikutan menyanyi ya walau sebenarnya aku sangat tidak pede menyanyi dengan suara sumbang ku tapi karena selalu dibujuk akhirnya aku juga masuk katagori setengah tidak waras malam itu, ternyata kalau sedikit membaur dengan teman teman seperti itu bisa mengurangi stress.
2 jam berlalu, beberapa sudah kecapeaan setelah berjoget lagu dangdut yang malam itu menjadi primadona, memang menggelikan kalau sedang keasikan joget joget dangdut seolah melupakan rasa malu, tapi kegilaan anak anak tadi rupanya benar benar menguras tenaga mereka, rokok, minuman soda, soft drink dan snack2 seolah mulai menjadi jajahan berikutnya. Tiara mengambil alih mix menyanyi lagu band yang cukup menenangkan rasa lelah. Beberapa diantara nya sibuk mengecek Hp dan beberapa pergi keluar masuk untuk menelpon mungkin menghubungi orang rumah atau pacar tentang keberadaan mereka di malam yang semakin larut itu.
Tifanny menyodorkan minuman kearah ku, sekaleng bir.’’ Sekali sekali, ku lihat kamu hari ini stress berat’’ ujarya setengah berteriak. Aku mendorong kembali minuman itu, bagaimana pun aku tidak mau minum alcohol, takut berakhir seperti Mama Olla yang memang sering minum kalau hatinya sering bermasalah. Gadis berambut sebahu itu mengendikkan bahu lalu membuka untuk dirinya sendiri, aku bersandar memperhatikan Tiara yang larut dalam lagu patah hati itu, kemudian layar berganti next, cewek itu kaget dan terlihat kesal kearah pemegang remote yang tak tau menahu dengan kekesalan Tiara padahal sangad jelas cewek itu sangat menikmati lagunya sampai mau ikut menangis mendengar nya. Aku tertawa kecil melihatnya
‘’ lagu nya jangan jadul dong.. cari yang hIts terbaru’’ celetuk cowok yang ku juga lupa namanya, ia duduk di sebelah Tifanny.
‘’ Kevin.. Kevin… cari itu aja. Lagunya keren tu,,, orang nya juga super duper cakep’’ kata Tifanny setengeh berteriak padahal suasana tidak ada yang sedang menyanyi.
__ADS_1
Aku ikut menatap layar datar yang besar dengan setengah hati, nama itu tidak familiar untuk ku, untuk sesuatu yang mendalam tentunya.
‘ itu sih bukan penyanyi…
‘’ video nya si anu itu nohhhh’’ Tifanny menjelaskan.
‘’ ya elaaa…
‘’ ya itu… itu’’ Tifanny dengan semangat empat lima memberi komando, benar saja nama yang ia elukan tadi memang nama dan rupa dia. Mood ku rasanya memburuk, bukan hanya di sosmed, Tv dan bahkan sekarang saat sudah senang senang kenapa malah melihat rupa cowok itu lagi ya walau sudah lama tapi ada saja hal yang seolah mengganjal untuk dilupakan.
‘’ Aku suka doi chymistery nya dapat banged, klimakssss..’’ kata salah satu anak anak lain membahas si artis video klip yang memang lagi Hits di dunia music Indonesia ini. entah kapan dia sudah tenar seperti itu, aku memang jarang nonton tv, hanya saja wajah nya sering viral di sosmed beberapa akhr pekan ini, rasa malas menjulur ditubuhku, aku beranjak dari sana sedikit mencari udara luar ya walau didalam gedung itu tidak ada udara segar tapi lumayan lah daripada melihat wajah laki laki itu di sana. Dia pria yang aku sukai dulu mungkin juga sampai sekarang.
Nafas ku menjadi tambah berat saat keluar tau tau hujan kembali turun, apalagi mata ku langsung membelalak kaget melihat sesosok makhluk hujan yang bertubuh tinggi dengan paruh menyurupai burung, ia menembus tubuh ku, kalau loss control mungkin aku berteriak karena kaget.
‘’ woy, melamun mulu, buruan.. mumpung hujan nya ga lebat lebat amat’’ Tifanny menepuk bahu ku, gadis itu masih terlihat sangad ceria dengan suara agak berat, entah berapa lagu yang ia habis kan di dalam tadi, tapi mulutnya agak bau alcohol.
‘’ mulut ku bau ga?? Ntar bisa di gunduli aq d rumah…’’ gumamnya
anak itu mencium cium sendiri nafas nya memastikan ia tidak bau alcohol.
‘’ bau Fan, bau mulut, bau ketek bau terasi’’ canda ku sukses membuat muka nya merah padam. Aku tergelak melihat nya.
‘’ baju ku, rambut ku jugaaa aauuu nih..’’
‘’ ga papa kali Ok, sekali kali, tapi sudah have fun kan..’’ Tifanny menyenggol bahu ku menaik kan alis alis nya, aku hanya tersenyum setuju,’’ udah aah balik yuuuuk
‘aku antar Ok.. gimana??’’ seseorang menyelinap diantara kami, salah satu anak seangkatan ku yang ku ingat dia jurusan manajemen. Aku melihatnya dengan setengah melamun, memang setiap lagi berhadapan dengan kondisi hujan otak ku seolah blank. Cowok itu tersenyum manis.
‘’ ya elaa.. Ricky.. modus tuuuu…, udah Ok, ikut dya aja, ntar motor kamu di bawa Agung’’ cecar Tifanny mendelik dagu ke rah Agung di belakang Ricky. Cowok bertubuh gempal itu melongo bengong.
‘’ yoi, Gung lu pake motor Okta… ntar pulang naik ojek online aja…, nih uang nya, sisa nya ambil beli rokok’’ kata Ricky mengambil beberapa uang di dompetnya.
Agung nampak sumringah melihat 2 lembar uang warna pink itu. ‘’ alhamdulilah rejeki..anak soleh
‘ eeeh. Emang siapa setuju’’ cegat ku.
‘’ lha, aku pikir diam tanda setuju, udah ikut aku aja, jalan kita searah ko, dari pada ujan ujanan, ntar malah sakit… ‘’ kata cowok itu lagi mencoba menyakinkan.
‘’ diam tanda emas kan..”
‘’ udah Ok, jangan ditolak, ntar klo kamu sakit, jualan aku bakal ga laku…lagi’’
Aku memicingkan mata pada Tifanny yang cengir kuda, ‘’ Ky.. titip Okta ya.. awas jangan sampai dia kenapa2, model aku nih.. jualan ku paling laku kalau dia yang pake.. Okta itu membawa Hoki’’ cecar nya melebihkan, akhir nya aku setuju ikut Ricky yang baru pertama itu ngobrol lebih banyak dengan ku, dan itu malah jadi bahan ledekan anak anak lain yang masih belum pulang.
‘’ ga ada yang marah kan kalo aku antar pulang??’’ Ricky membuka obrolan setelah sekian detik kami membisu, aku yang menenggelamkan kepala malas melihat kedepan hanya melihat nya sebentar dan menggeleng.
‘’ kecapeean ya?? Pasti cape kalau kerja nyambung kuliah? ‘’
‘’ ya begitu lah’’ sahut ku datar dengan sesekali melihat keluar jendela, melihat bagaimana makhluk makhluk hujan itu seolah menari nari di luar sana, kadang kalau yang dilihat adalah makhluk jenis yang cantik, itu menjadi hiburan tersendiri, namun ketika yang melintas adalah si buruk rupa menyerupai zombie di game game itu aku langsung beringsut memalingkan kepala.
Mobil berhenti saat lampu merah menghentikan nya, pandangan ku menangkap sesuatu makhluk yang berada diujung trotoar, satu makhluk yang nampak bersinar terpampar cahaya sorot lampu jalanan, dengan kain putih yang mirip butiran berlian rambut nya berwarna platinum, tapi ada yang janggal, makhluk itu terlungkup, bergerak dengan tertatih seolah tidak berdaya selama hampir lebih 20 tahun bisa melihat keberadaan mereka baru kali ini melihat salah satu makhluk yang sering menari nari di tengah guyuran hujan itu dalam keadaan lain.
__ADS_1
Spontan aku kaget saat makhluk berambut panjang itu mendongak kepala nya wajah nya rata dan hitam mengerikan, melihat kedalam mobil yang aku tumpangi, matanya hitam pekat dan jelas sangat menohok kearah ku, sampai sampai aku tidak sadar nyaris melompat dan teriak disana.