Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
38-Godaan


__ADS_3

CHAPTER 38*


“Godaan”


Esok nya kondisi ku sedikit fit. Hari ini hanya ada jadwal malam jadi dari pagi yang ia lakukan olahraga, aias jogging kebetulan hari minggu dan banyak anak muda sliweran di bundaran HI.


‘’ tumben mba o’ok ngajak Nana’’ kata Nana dengan polos nya. entah kenapa ia malah ikut ikutan memanggil ku o’ok.


‘’ biar badan mu ga bundar’’ jawab ku langsung di sambut tatapan membunuh nya.


‘’ udah yuuk lari’ ajak ku lalu membetulkan topi, aku sedikit was was juga kalau di tempat ramai, karena itu aku mengenakan masker juga untuk melindungi wajah ku.


Kami jogging berkeliling karena aku masih tidak terlalu kenal kota Jakarta aku mengajak Nana yang asli orang sana dan Nana orang yang tepat di ajak jogging.


Baru 1 putaran anak itu sudah kewalahan, keringat nya membanjiri baju kaos nya yang kebesaran.


‘’ ampuun mba o’ok… kita istirahat yuuuk, nah tu ada yang jual es’’ seru anak itu menunjuk penjual Es yang tampak menggiurkan.


‘’ alamak,,, udah di minumin es pagi-pagi.. sakit perut ntar Na..’


‘’ yaa tumben mba o’ok peduli kesehatan…’’


‘’ yee ni anak nyela mulu, udah deh beli sana, aku titip ya.. mo keliling lagi niii, biar keringetan’’ cecar ku.


Nana kali ini nurut tanpa banyak omong lagi, dan aku kembali berlari ringan denga headset di telinga ku, entah kebetulan atau tidak aku melihat siluet sosok yang aku kenak kemaren. Ya itu tetangga baru ku, ia juga lagi jogging dan sosok nya langsung mengundang decak kagum dari beberapa kaum hawa. Entah kenapa aku merasa tidak suka lalu iseng aku mengekorinya di belakang. Tapi rupanya ia sadar dan berhenti.


‘’ kamu benar seorang penguntit??’’ goda Briaz.


‘’ aah tidak, kan aku juga jogging emang tmpat ini milik mu’’ balas Okta memalingkan muka.


Briaz tertawa kecil.


‘kita bareng??’’


Dan Okta setuju setuju saja, disetiap kesempatan Okta selalu melirik pria ini,


Hingga mereka benar benar kelelahan dan beristirahat di salah satu bahu jalan dan mentari mulai naik ke atas.


‘’ bang air mineral 2’’ Briaz memanggil tukang asongan yang lewat,


‘’ Cuma ada 1 bang’’ kata si mas ma situ.


‘’ ya udah 1 aja’’


Ia lalu memberikannya pada Okta.


‘ ga .. kan Cuma 1, buat kamu aja’’ tolak Okta tidak enak.


‘’ga papa… minum lah kamu dulu’’ paksa nya dan Okta menurut.


‘’ ganti aku yang minum ga papa kan??’


Okta mengangguk singkat, dan merasa pipinya bersemu merah, bekas bibirnya di mulut botol itu di sapu bibir Briaz, lalu matanya beralih ke jakun yang bergerak seirama dengan air yang Briaz minum entak kenapa ia ikut meneguk liur bukan karena haus tapi terpesona.


‘’ya ampun Okta kenapa kamu pecicilan seperti ini, kamu mau nikah Ok.. mau nikaaah’’


Ia lalu kembali mendapat serangan jantung dadakan karena pria ini kembali menyentuh jidat nya dengan cara serupa, cara yang sering ia lakukan kepada Kevin, Viola atau orang terdekat nya.


‘’ sudah sehat rupanya…’’


Okta tertawa hambar dan merasa semakin berkeringat karena hawa debaran jantung nya yang bermasalah.


Ia sendiri heran bisa sebegitu terpesona dengan Briaz, padahal di studio ia sering bertemu model model tampan berpostur bagus tapi tidak pernah mendapat debaran seperti sekarang.

__ADS_1


‘’ mba o’ooook’’ terdengar suara Nana dari kejauhan dan anak itu mendekat membawakan minuman.


‘’ ya ampun mba o’ok di cariin ternyata dua duaan sama mas Kev..’’ suara Nana terpenggal karena sadar pria yang bersama Okta bukan tunangan Okta.


‘’ haaa’’busyet ganteng amiiir


‘’ kenalin teman n sekaligus make up professional sejagat jalan raya’ kata Okta langsung di cubit Nana yang tampak jaga image di depan Briaz.


‘’ hallo.. aku Nana..


‘’ Briaz’’


‘’ kalau begitu.. sampai ketemu nanti, Okta!!’’ Briaz lalu pamit dan mengedipkan mata kearah Okta.


‘’ waaaaah itu pangeran dari mana mba o’ok??’’


‘’ ga tau juga, ganteng kan?? Ops. Woy tadi kamu manggil aku o’ok d depan Briaz??”’


Okta langsung melotot ngeri pada Nana yang langsung membentuk jarinya V


*


Dia tetangga mba?? Waah jadi pengen sering ke apartemen mba deeeh.., kata Nana dengan muka pengen nya.


‘’ boleh,ntar sekalian cuciin baju aku yaaa’’ canda Okta langsung tertawa.


‘’ apa apaan sih, emang babu.. tapi beneran tetangga mba o’ok ya??’’


‘’ iya bawel, kamu suka??’’


‘’suka siih mba, tapi ga suka suka amiiir, soal nya dia kegantengan, ga kuat ngerawat nya hi hi hi’’ jawab Nana terkikik. Okta hanya meringis mendengar nya.


‘ tap Mas Kevin juga tak kalah ganteng mba.. awas ya jangan selingkuh..’’


Nana melihat Okta dengan teliti’’ ah masa tapi tadi ngeliat nya gimana gimana gitu’’


‘’ gimana gimana gitu apanya’’ Okta menirukan gaya bibir Nana dengan gemes.


‘’ ya gitu, kayak tatapan suka tatapan orang jatuh cinta’’


Okta langsung ngakak mendengar nya.’’ udah yuuuuk. Balik… tapi kita harus bawa jajan an dulu okey.


‘’ yam baa o’Ok makan lagi’’


*


Sus… antarin ke studio doong, pinta Okta yang sudah siap dengan jadwal kerja nya.


Susan yang terlihat malas malasan menguap lebar’’ duuuh cape Ok… , naik taksi aja’’ katanya enteng dan kembali bergumpal dalam selimutnya.


Okta yang kesal dengan sengaja menginjak kaki Susan hingga anak itu meringis dan mau mengamuk, sebelum itu Okta sudah kabur duluan keluar.


Ia tertawa lepas mendengar suara cacian Susan. Tapi tawa nya berhenti karena si ganteng Briaz baru juga keluar dari sana.


‘’ mau kemana??’’ Tanya nya dengan senyum khas nya.


Okta tergagap sesaat’’ kerja’’


‘’ oh.. ‘’


‘’ kamu rapi banged, mau kemana?kencan yaa??’’


‘’ ga, mau ke acara temend di daerah Darmawangsa’’

__ADS_1


‘daerah darmawangsa, dekat ama studio ku.. boleh numpang??’’


Dan jadilah Okta duduk di sebelah Briaz. Ia juga heran kenapa berani banged ngomong numpang, padahal dengan teman atau orang lain ia akan berpikir puluhan kali.


Lalu telepon nya berbunyi dari manager nya.


‘ ya ka, lagi di jalan.. hah apa.. batal, terus?? Besok pagi.. yaa ya udah deh,,see u’’


‘’ ada apa??’’ Tanya Briaz.


‘’ batal kerja, di tunda…besok’’


‘’ begitu?? Jadi aku antar kemana nih??’’


Okta berpikir sesaat kemana ia pergi dengan dandanan sudah siap dan cantik seperti itu dan ingat mumpung free, apa ia akan jalan jalan sama Nana lagi.


‘’ ikut aku saja’’ kata Briaz menawarkan sekaligus member ide.


‘’ kemana??’’


Briaz hanya tersenyum manis.


Hingga mereka sampai di sebuah hotel berbintang. Mba penjaga di depan memberikan sepasang topeng kepada mereka.


‘’ teman ku sedang mengadakan pesta topeng’ bisik Briaz menjelaskan kebingungan Okta.


‘’ benarkah’’ dengan antusias Okta mengenakan nya, ia juga sedikit tenang menggunakan topeng karena jati dirinya bisa terancam lebih lebih pergi dengan pria lain, seketika ia menyingkirkan status nya yang sudah ada empunya.


Dan saat Okta masuk suasana gelap dengan lampu disko berada di tengah di pojok kiri terlihat Dj yang sedang menghntakkan music, seketika ia merasa de javu. Seperti saat acara party yang Briaz gelar dulu. Ya benar tempat nya sangat mirip, letak letak kursi sampai Dj nya juga menyerupai hanya saja orang orang disana mengenakan topeng namun tak dapat dipungkiri Okta merasakan kesamaan dengan sesuatu yang pernah ia lalu, dan mata nya melihat ke pojok kanan dalam penglihatan nya itu adalah tempat teman teman nya dulu sedang berjoget dan minum, ia tersenyum melihat bayangan itu. Lalu matanya kembali menoleh kesebelah nya bayangan lain juga terlihat ada sekelompok yang disebut para petinggi Hotel atau highclass di sana, ia ingat dengan Jacob dan satu yang aneh ada satu yang wajah nya tak jelas di sana.


Tepukan bahu menyadarkan nya, kemudian orang orang yang dalam bayangan nya tadi lenyap, yang terlihat hanya beberapa tamu lain di sana.


‘’ ada apa??’’ bisik Briaz ke telinga nya.


‘’ tidak, hanya ingat sesuatu’ jawab Okta di sambut senyum penuh makna Briaz, ia senang Okta mulai mengingatnya walau berjalan lamban.


Okta terus berpegangan dengan Briaz, entah kenapa ia merasa fine fine aja dengan topeng itu dan dengan pria lain toh tak ada yang mengenalinya, ditambah tangan Briaz terasa sangat nyaman dan senyum nya terus terumbar.


Briaz sangat intens menjaga Okta, ia mengajak Okta berkenalan dengan teman teman nya, dan ketika music berganti genre, menjadi romantic, beberapa tamu sedang berdansa, Okta melihat itu kembali merasa dejavu.


‘’ kau mau berdansa’’ ajak Briaz membuyarkan lamunan nya. tanpa menolak atau mengiyakan tubuhnya sudah di bawa ketengah sana, Briaz melingkarkan tangan nya ke pinggang Okta menariknya hingga mereka bersentuham dan itu membuat Okta deg deg an juga posisi yang mirip entah dimana.


‘’ lemes aja, dan ikuti music nya dengan hati’’ bisik nya seperti kata kata yang sama.


Dan dengan alunan music Okta dan Briaz berdansa, Briaz dengan segenap jiwa menjalani saat bersama Okta, dan Okta masih dalam baying baying semu ia dan sesuatu yang aneh.


Semua nya betepuk tangan melihat dansa mereka. Dan Okta sangat senang karena nya, ia benar benar bahagia malam itu bisa mengekresikan dirinya dalam tutupan topeng yang melindungi jati dirinya dan yang terpenting ia merasakan kenyamanan dengan seorang pria yang bukan siapa siapa nya.


Okta terus tertawa lepas meski sudah dalam perjalanan pulang.


Tawa nya terhenti ketika teleponnya berbunyi dan nama Kevin tertera disana.


‘’ ada apa?? Pacar mu??’’


Okta tak menjawab ia hanya meminta Briaz diam.


‘’ ya hallo..


‘’ kamu kenapa baru angkat telepon mu sekarang?’’ suara itu terdengar berat seolah menahan amarah.


‘’aah iya, aku silent Vin, ‘’


‘’ kamu dimana??’’

__ADS_1


‘’ ini lagi di depan supermarket dekat Apartement’’ bohong nya sedikit gugup, ia harus berbohong demi bersama pria di sebelah nya.


__ADS_2