
CHAPTER 9*
“ Kebaikan yang palsu”
*****
Okta segera meninggalkan Maya yang mematung, tapi saat keluar dari sana ia malah di cegat bagian security.
‘’ bapak bapak kenapa menahan saya?? ‘’ Tanya Okta heran.
‘’ maaf Dek Okta.. ini perintah’’ kata Pak Security yang juga tentu mengenal Okta.
‘’ perintah??’’
Kedua Penjaga itu lantas tersigap kebelakang, Okta ikut menoleh kebelakang dimana Bos mereka baru saja keluar dari Lift dan langsung menuju arah sana sambil berlari, Briaz baru mendapat kabar kalau Okta baru saja menyerahkan surat pengunduran diri, ia memang sudah menduga hal itu akan terjadi jadi ia meminta sekretarisnya menghubungi kalau terjadi hal demikian.
‘’ siang Pak…’’ sapa mereka penuh hormat, Briaz hanya terseyum singkat tujuan nya adalah Okta, gadis itu membelakanginya tidak ikut menyapa nya seperti dua penjaga barusan.
Lalu ia menarik tangan Okta’’ ikut aku..’’
Okta yang kaget mencoba menarik tangan nya tapi ia kalah kuat dengan pria didepannya.
Briaz menyeret nya menuju mobil, bisa saja ia menyeretnya masuk, tapi khawatir kalau pengunjung tamu melihat nya menyeret seorang wanita seperti itu.
Ia langsung mengunci mobil saat memasukan Okta kedalam, cara memasukan nya pun seperti sekarung beras bak dilempar begitu saja.
Sebelum gadis ini kembali meronta dan berteriak Briaz segera tancap gas.
‘’ mau anda apa sih?? Aku sudah berhenti bekerja jadi jangan seenak nya memperlakukan ku’’
‘’ berhenti?? Siapa yang menyetujuinya…’’
‘’ aku tidak perlu persetujuan mu, aku akan tetap berhenti’’
‘’ berhenti, kalau begitu siap siap saja kamu akan dituntut melanggar kontrak kerja’’
‘’ apa?? Kontrak’’ Okta tertawa pelan seingat nya dalam kontrak kerja nya dulu tidak ada point aneh yang ia khawatirkan.
Briaz mengambil map dan menyerahkannya kepada Okta.
‘’ itu semua kontrak kerja mu saat melamar pekerjaan, ada point disana, bagian f ‘’
Okta membaca petunjuk Briaz, di bagian sana tertulis jelas kalau ia tidak akan berhenti dari pekerjaan sebelum mendapat persetujuan dari direktur utama, apabila melanggar ia siap mengganti dengan jumlah uang sebesar 1 milyar. Membaca ujung kata itu air liur nya sangat susah diteguk dan terasa pahit, ia lupa kalau ada kalimat seperti itu dulu, seingat nya tidak ada point seperti itu.
‘’ ini palsu’’
‘’ck palsu?? Silahkan cek tanda tangan nya’’
Okta membuka bagian terakhir, memang ada tandatangan nya dan sama persis, kertas itu ia dekatkan lai kearah matanya, Briaz tersenyum geli melihat Okta seperti itu sangat mengemaskan dengan mata nya yang bulat dan bibir mengerucut.
‘’ itu memang tanda tangan mu.. ‘’
‘’ memang, tapi aku yakin point f waktu itu tidak ada’’ sela Okta bersirkeras.
‘’ silahkan berasumsi miss Okta, silahkan melanggar kontrak, tapi harus membayar denda, ingat 1 Milyar’’ tawa Briaz terdengar menakutkan bagi Okta, jantung nya berpacu cepat utang nya yang belum lunas saja sudah sakit kepala bagaimana bisa ia membayar uang sebesar itu.
‘’ bagaimana?? Mau pilih kerja atau…ck, aku rasa kau pun tidak punya uang kan, cicilan mu saja pasti belum lunas’’
Okta kaget mendengar nya, dari mana pria ini tahu ia punya cicilan.
‘’ kau tau aku punya cicilan??’’
__ADS_1
Briaz salah tingkah, ia langsung mengalihkan pandangan lurus ke kemudi’’ zaman serba kredit sekarang, orang orang seperti kalian pasti punya cicilan’’ umbar nya, menepiskan perkiraan Okta.
‘’orang orang seperti kalian, makhluk mesum seperti kamu yang lebih mengerikan’’
‘’kau bilang apa, aku mendengar kata mes…
‘’ bukan apa apa Pak, ‘’ ralat Okta tersenyum jutek’’
‘’ tapi bapak kenapa sampai mencegah saya keluar hotel bahkan menyeret saya ke mobil apa tidak cukup penghinaan bapak kemaren?? Saya bisa menuntut Bapak atas semua yang bapak lakukan kemaren dan barusan’’ cecar gadis ini dengan lantang.
‘’ menuntut’’ Briaz lagi lagi tertawa, ia kemudian berdehem mengingat kata Bianca tadi malam kalau ia harus menjaga sikap dengan Okta yang sebagai kunci untuk dirinya juga.
‘’ pikir pikir lagi kalau ingin menuntut saya, Miss Okta’’ senyum nya nampak mengerikan yang OKta lihat, tentu ia hanya rakyat jelata yang jelas kalah hukum dengan seorang CEO seperti Briaz, bahkan ia dengar kalau pengusaha muda itu memiliki tambang batubara terbesar di sana, usaha nya juga banyak di luar kota dan luar negeri, ya ia dengar dari seentero hotel yang sibuk mengagumi atasan mereka yang baru itu. Tapi yang aneh kenapa ia lebih menyibukan bekerja di hotel itu yang mungkin hanya seujung upil keuntungannya dibandingkan dengan perusahaan raksasa miliknya di luar sana.
‘’ bapak mau membawa saya kemana..’’ Tanya Okta dimenit kemudian.
Briaz tersenyum puas, kekuasaan memang segala nya untuk mengendalikan seseorang.
Ia membawa Okta ke sebuah Resto.
‘’ untuk apa kita kesini??’’ rentet Okta masih dengan nada dingin dan tidak tertarik untuk turun walau ia tukang makan tapi untuk pria jenis Briaz ia rela gengsi tingkat dewa. Briaz menahan kesal.
‘’ aku belum sarapan, perut ku sudah lapar, ikut saja’’ pintanya lebih mirip perintah. Okta yang sangat kelelahan hanya membuang nafas kesal, ia mengikuti bos nya dari belakang, sulur sulur yang beriak dalam tubuhnya seolah sangat tenang berbeda dari hari sebelumnya.
Tidak ada yang membuka suara lagi sampai sederet makanan menggugah selera berada di depan Okta, semua nya tersenyum manis menunggu sentuhan Okta, tapi ia merasa ada yang janggal dengan semua suguhan ini, apa maksud pria yang duduk di seberang.
‘ kenapa hanya di lihat, makan lah…’’ ujar pria itu mulai mengambil makanan untuknya sendiri, intonasi suara nya dibuat tidak setinggi sebelumnya, ia mencoba untuk tenang dan lembut pada gadis ini.
‘’apa arti semua ini Pak??’’ Tanya Okta yang masih beratmosfer sama, matanya yang nampak bengkak menatap tajam kearah Briaz, masih menyimpan marah.
‘’ kau ini rupanya tidak gampang dibujuk ya.., sudah lah makan saja dulu, selesai makan baru kita bicara’’ kata nya kembali dengan nada perintah.
Okta lapar tapi ia bisa menahan rasa laparnya, ia masih bermode tidak nyaman yang ia makan hanya lauk seadanya dan itupun hanya beberapa suap.
‘’ kata bapak saya makan kan?? Ini saya makan??’’
Briaz melihat kesal dengan sahutan Okta, gadis itu sungguh luar biasa keras kepalanya ia juga sangat sulit untuk di kendalikan walau sudah berusaha ramah. Ramah terpaksa tentunya.
‘’ makan yang banyak, badan mu kurus sekali, jangan diet diet segala, tubuh mu sudah pas’’
Okta tersenyum sinis mendengarnya.
‘’ kenapa tersenyum begitu?? Ada yang salah??’’
‘’ tidak!!! Bapak itu bukan siapa siapa saya, jadi tidak usah menyuruh saya makan banyak’’ sahutnya lagi lagi membuat Briaz kaget, menahan marah juga kesal, kalau saja Bianca tidak menasehatinya untuk bersikap manis pasti gadis itu akan ia buat perhitungan. Sikap nya sangat tidak sopan, tapi mengingat tujuan dan rasa tantangan yang Bianca katakan ia kembali mengalah.’’ Okeee Miss Okta kalau sudah masuk pesona ku, jangan harap aku melupakan setiap kata kata kasar mu’’ runtuk nya sambil mencengkram gelas yang ia pegang nyaris pecah.
‘’ bagaimana dengan luka mu? Apakah sudah sembuh??’’ Tanya nya lagi berusaha membuat situasi sedikit terkendali.
Okta meletakkan sendok dengan suara keras, ‘’ maaf bukan nya bapak bilang kita bicara setelah makan’’
‘’ ck.. sialan gadis ini’’ geram Briaz kalah kata kata dan terpaksa dengan cepat menyudahi makan siang nya.
‘’ oke!!! Sudah selesai, jadi apa maksud bapak semua ini’’ kata Okta lebih dulu, Briaz makin nampak gregetan melihat tingkah Okta seperti itu.
‘’ kamu bisa sopan bicara nya Miss Okta, kamu tau kan aku siapa??’’
‘’ tentu, Bapak CEO saya, dan Bapak Orang terkaya juga terhormat’’ sahut Okta datar
Briaz menunjuk lalu berkata "betul’’ jadi kamu harus jaga bicara mu’’
‘’ untuk apa?? Apa karena saya bawahan bapak??,’’ Okta tersenyum singkat, memajukan dagunya tinggi tinggi’’ apa saya juga akan dituntut karena tidak bicara sopan?? tapi saya ingat bagaiman bapak menanyakan harga saya?? Jadi saya tidak akan bersikap sopan..
__ADS_1
‘’ kau..
‘’ aah ya saya kan sudah mengajukan pengunduran diri, tapi karena ada denda yang tentu tidak bisa saya bayar, saya terpaksa kembali kerja, tapi saya tetap tidak akan berlaku sopan dengan orang yang melecehkan saya kemaren’’ serang Okta membuat Briaz makin naik pitam.
‘’ STOP’’
‘’ saya pikir makan saya sudah, saya permisi dulu Mr. Mesum’’ dengan cuek Okta bangkit dari sana, ia puas dengan rentetan serangan nya barusan, ia sudah tidak peduli dengan pekerjaan disana toh ia sudah mengundurkan diri ya walau harus bekerja karena ancaman pria didepannya tentu membuat nya kalah.
Briaz menarik nafas panjang, melihat Okta dengan sangat marah, ia enggan untuk mengatakan kata maaf, itu kata yang sanga jarang ia katakan.
‘’ aku ingin berdamai, dan semua ini sebagai tanda maaf ku kemaren, cukup’’ ucapnya dengan nada tinggi.
Okta melipat tangan didada, ia merasa lega ada kata maaf yang ia dapat, tapi ia merasa masih ada yang kurang.
‘’ bisa katakan sekali lagi Bos?? Saya rasa itu tidak tulus’’
Briaz makin berapi apalagi melihat seringaian senyum Okta, andai saja kalau bukan karena keperluannya ia tidak akan sudi minta maaf seperti itu.
‘’baik, tapi duduk dulu…
Okta menurut ia kembali duduk menunggu kata yang keluar dari laki laki ini lagi.
‘’ aku minta maaf dengan semua penghinaan dan sikap ku kemaren Miss Okta’’ ucapnya dengan suara bernada rendah, mata nya berada ke bawah, dadanya bergemuruh menahan kesal, jelas ia sangat dikalahkan oleh wanita ini.
Aku benar benar merasa puas, bahkan tidak mengira kalau orang itu akan minta maaf seperti permintaan nya, padahal aku juga sedikit cemas melihat wajah Briaz yang sangat merah seperti tomat ditambah beriak akar akar kecil yang tidak bisa membohongi laki laki itu sedang menahan marah.
‘ baik lah… aku terima permintaan maaf anda Pak’ kata ku lagi menatap tajam pria ini, tapi sesaat gejolak aneh kembali terasa walau tidak sehebat beberapa hari belakangan, aku agak ragu ingin membahas nya tapi tetap saja aku nanti nya aku akan marah marah lagi merasakan efek obat sialan itu.
Hmmm, tapi saya merasa sangat dirugikan dengan perbuatan bapak…
Apa lagi?? Aku sudah minta maaf
‘’ obat ini, kenapa efeknya kembali muncul’’ geram ku.
Briaz diam sejenak mencoba mencerna kata kata ku, alisnya kemudian naik sebelah’’ kau selalu membahas obat, obat apa maksud mu..
‘’bapak jangan pura pura lagi, bapak kan yang meminumi saya memberikan obat perangsang malam itu..’’ kesal ku memuncak, kami saling menatap lagi namun setiap mata ku menangkap mata coklat indah pria ini gejolak obat itu kembali naik.
‘’ obat apa?? Perangsang…..’’ setelah lama diam ia malah tertawa dengan keras, sadar akan suara tawa nya yang berlebihan dan tentunya membuat pengunjung lain melihat ke meja kami, ia berdehem dan kembali mengatur posisi nya yang menafsirkan keangkuhan.
‘’aku bukan hidung belang yang memberikan obat rendahan semacam itu!!’’
Aku melihatnya tidak percaya.
Lalu ia memegang tangan ku, aku hendak berontak tapi sulur sulu itu dengan cepat melilit dan mengikat dengan mengalirkan sensasi aneh yang semakin kuat.
Dengan mata tajam dan mempesona nya Briaz tersenyum lembut seolah dia lebih mirip pangeran yang sangat aku rindukan.
‘’ begini,, apakah yang kamu rasakan adalah hasrat yang sangat nikmat….
Dengan polosnya aku mengangguk, mata ku ikut terseret dengan tatapan intens Briaz.
Ia lalu menarik lagi tangan dan sulur itu, sesaat rasa itu menghilang.
‘’ aku tidak bohong kan, ini adalah semua ulah vlous Fyrd ku, vlous iblis ini sangat menginginkanmu, dan aku mencium mu semata mata hanya ingin mengobati rasa sakit akibat perlawanan nya, apa kamu juga memikirkan ku dengan pikiran kotor setelah malam itu??
Aku tidak menjawabnya hanya melihatnya dengan tatapan iya, wajah ku serasa memanas merah karena Briaz mengatakannya dengan santai.
‘’ jadi maksud anda apa??’’
Briaz kembali menukik senyumnya, ‘’ aku akan menjelaskannya nanti malam, di pesta , ohya satu lagi.. jangan terlalu formal dengan ku, panggil saja aku Briaz atau honey..’’
__ADS_1
Aku melihatnya dengan jijik, tapi ia malah tertawa, lalu bangkit dari sana merapikan sebentar jas abu nya.
Ikut saja!