
CHAPTER 39*
“Makhluk Hujan”
‘’ dengan siapa?’’
‘’ sendiri’’
‘’ oo begitu
‘’ kapan kamu pulang??’ Tanya Okta mencoba mencairkan suasana nya dengan Kevin yang dingin.
‘’ besok’’
‘’ begitu, aku jemput di-
‘’ tidak usah, nanti aku menemuimu’’ katanya lalu telepon terputus. Okta diam menahan telepon itu di telinga nya.
‘’ kenapa berbohong?’’
Suara Briaz mengagetkannya.
‘’ tidak apa apa, dia sangat posessif ‘’
‘’ hmm begitu, kamu tidak nyaman dengan nya??’’
Okta ingin mengangguk tapi ia kembali menggeleng.
‘’ kamu punya pacar Briaz??’’
‘’ panggil saja Bri’’ sela Briaz entah kenapa setiap tatapan nya membuat Okta terseret.
‘’ Bri???’’
‘’ ah tadi kau Tanya pacar? Aku tak punya?? Apa kamu mau jadi pacar ku?’’ ucap nya membuat Okta terbahak, ia merasa Briaz sedang menggodanya.
‘’ masa kau menembak seorang wanita yang akan menikah’’
‘’ kan siapa tau, wanita itu bisa berubah pikiran dan lari dengan pria ini’ jawab Briaz lagi denga guyon walau ia sebenarnya serius, dan terpaksa. Masa ia merebut istrinya sendiri.
Okta tertawa kecil’’ baiklah akan ku pertimbangkan’’ sahut nya dengan guyonan juga, walau ia berharap itu bukan candaan, tapi ia pikir mana mungkin pria yang baru di kenal nya ini beneran menembak dan membawanya lari dari pernikahannya.
Kemudian mereka sampai di parkiran apartemen.
‘’ Bri.. terimakasih ya,, malam ini benar benar berkesan’’ ucap Okta melempar senyum yang tulus.
‘’ benarkah… kesan yang kamu maksud seperti apa??’
Okta gelagapan ia lantas langsung keluar dari sana.
Dan Briaz mengiringi ia berjalan mundur dengan tangan di saku celananya dan terus melihat Okta sampai Okta salah tingkah dan berakhir mengejar anak itu yang berlari setelah ingin dipukul, sekali lagi ia tertawa lepas dan sangat senang mala mini.
‘’ bye… permaisuri… pangeran mu akan menjemput mu di hari pernikahan mu nanti’’ kata Briaz sebelum masuk ke dalam apartement nya. Okta hanya tergelak mendengar candaan Briaz itu. Tapi entah kenapa ia berharap seperti itu, di culik dari pernikahan nya.
‘’ bodoh apa yang kamu pikirkan Okta, kamu mau berkhianat’’ umpat nya memukul kepala nya sendiri.
‘ siapa yang berkhianat?’’ tiba tiba Susan muncul mengaget kan nya.
‘’ aah apaaa. Aku lagi hapalin skenario’’ sela Okta segera ngacir, bisa bahaya kalau Susan mengadu ke Kevin.
‘’ Taraaaaaaa’’ Viola memperlihatkan gambar olahannya yang kemaren kali ini lengkap dengan warna nya. melihat itu Okta tersentak kaget, tumbuh di kepala nya sosok itu seperti hidup. Ia langsung merebut karya Viola itu dan melihatnya dengan dalam, seperti ia mengingat sesuatu ya ia ingat ia pernah melihat makhluk makhluk yang ada saat hujan. kepala nya tiba tiba pusing.
‘ kakak …..’’ seru Viola menahan tubuh Okta yang nyaris ambruk.
Setelah ia sadar, ia kaget ada dokter dan juga Briaz.
‘ ka okta…’’ serbu Viola cemas.
‘’ kakak baik baik saja kan??’’
‘’ ya Vi.. emang aku tadi kenapa??’’
‘’ kakak pingsan, tapi kakak di sebelah kita ini yang membantu menelpon dokter, soal nya kita bingung hubungin kemana’’ cecar Viola polos.
Okta melihat kearah Briaz.’’ Kata dokter kamu kelelahan’’
Okta bangun perlahan dan minum air putih yang ada di nakas.
‘’ sekarang udah baikan kan?’’ Tanya Susan juga ikut nimbrung sesaat ia menoleh kearah pria ganteng di sana dengan senyum sumringah dan senyum genit.
‘’ ya, hmmm’’ Okta jijik melihat Susan sebegitu centil nya menatap Briaz, ia merasa tak suka dengan cara pandang nya itu.
‘’ kamu tetangga baru ya, kenalin.. Susan’’ katanya dengan suara lembut.
‘’ Briaz’’ jawab Briaz acuh. Melihat itu Okta mau terkikik dan senang.
‘’ kenapa sampai pingsan sih Ok? Apa aku membu’’
Sontak Okta sigar bugar dan menutup mulut Briaz dan melototinya, dan Susan melihat gerakan kedua nya ini dengan penu selidik.
‘’ kalian …..
‘’ aah iya kemaren kan passcode kita rusak, jadi aku numang di sebelah sebentar’’ perjelas Okta jujur dan Briaz mengiyakan.
‘’ benarkah?? Kamu sampai ke apartemen nya??’’ Tanya Susan mencoba meyakinkan.
__ADS_1
Okta tersadar dengan kebodohan nya tapi apa mau dikata ia sudah terlanjur mengatakannya, pasrah aja kalu anak itu ngadu ke Kevin.
‘ begitu ya.. berarti kalau aku juga boleh dong ya mampir ke sebelah’’ kata Susan genit.
‘’ aah iyaa’’ jawab Briaz.
Rasanya dada Okta bergemuruh, ia benar benar tak suka Susan main kesebelah.
‘’ kalian kalau mau ngorbol diluar, husss aku mau bobo’’ katanya dengan kesal.
‘’ hah dasar wanita galak’’ umpat Susan.
‘’ ya sudah Okta, aku permisi pulang ya’’ pamit Briaz sebenar nya sangat ingin berlama lama di sana. Apalagi tadi ia snagat cemas karena Okta pingsan beruntung ia pas ingin membuang sampah melihat Viola yang kalang kabut diluar.
Okta mengangguk malas. Dan membiarkan pria itu keluar dari kamar nya dengan di ekori Susan, sebelumnya ia mendengar penjelasan Viola kalau Okta pingsan setelah melihat karya nya yang menjiplak karya Okta.
**
‘’ hey gadis cantik’’ goda Briaz saat Okta keluar dari Apartement nya pagi pagi buta.
‘’ Bri az..’’ Okta pangling karena pagi pagi anak itu sudah nongkrong di depan Apartement nya.
‘’ mau aku antar, kamu ada jadwal pagi kan..’’
‘’ di antar….aaah, hmm gimana ya..
‘’ sebelum pacar mu datang menggangu’’
Okta tergelak dan sedikit setuju dengan pendapat Briaz.’’ Baiklah’’
‘’ kamu memang niatan nunggu disana sepagi ini?’’ cecar Okta masih tidak percaya.
‘’ tidak juga, aku hanya kebetulan mau ke daerah sana juga, kenapa?? Apa kau sebenar nya juga berharap aku menunggu mu tadi?’’
Okta tersipu dan langsung memalingkan wajahnya, ia memang berharap sebenarnya, apalgi dalam keadaan Kevin tak ada seperti ingin terus bersama cowok ini.
‘’ kamu ini paling jago menggoda wanita ya, pasti pacar mu sangat banyak’’
Briaz hanya tertawa dan meraup wajahnya’’ dulu ada yang menyebut nya pria mesum, dan kemaren kamu juga menyebut ku mesum, kamu mengingat kan ku denga gadis itu’’
‘’ gadis, hmm jadi dia special buat mu??’’ cecar Okta lagi.
Briaz menatap lurus jalan raya dan tersenyum singkat.
‘’ apa Kevin juga special untuk mu??’’ Tanya nya balik lalu tertawa kecil
‘’ hey,,, kenapa malah membawa Kevin’’ kesal Okta.
‘ kenapa?? Apa kah kamu tidak suka aku menyebut nama kekasih mu saat kamu bersama pria lain??’’
‘’ yaaaa, Bri.. kau memang paling jago menggoda wanita ya’’
‘’ kamu sudah makan??’’ Tanya nya
‘’ belum, nanti juga di sana dapat makanan kotak’’
‘’ oo..
Kemudian mereka sampai di studio.
‘’ terima kasih tumpangan nya Mr. Mesum’’ kata kota saat turun dari sana, ia lalu kabur dari sana sambil terus tertawa tawa konyol.
**
Kerjaan Okta selesai setelah sore menjelang.
‘’ mba o’ok kok senyum senyum sendiri sih dari tadi??’ Tanya Nana sambil melepaskan mahkota mahkota yang ada dikepala ku.
Aku sampai masih tersenyum dan tersadar dengan pertanyaan Nana, aku juga merasa bibir ku terasa sakit karena kebanyakan tersenyum dan tertawa, sejak mengenal tetangga baru itu.
‘’ masa, bukan nya senyum ku bisa membuat dunia menjadi lebih indah’’
Nana tergelak’’ ya ampun mba o’ok kok alay siiih’’
‘’ alay pala mu, buruan nii cooption, berat amaat di kepala’’ kata ku suda tak sabaran menggulung rambut ku karena kepanasan.
‘’ si ganteng apa kabar nya mba?? Ada nanyain Nana ga??’’
‘’ si ganteng, aa Briaz, hmm ga ada tuuuh’’ sahut ku cepat dan risih dengan pertanyaan Nana.
‘’ yaa, bilangin kalo mau di make up hubungi Nana aja, gratis’’
‘’ emang dia banci di make up segala’’
‘’ ya bukan make up cewek lah mba, kan model cowok di sini juga sering di make up’’
‘’ tau ah.. bilang aja sendiri’’
‘’ ah beneran, emang mba o’ok punya nomer nya??’’
‘’ ga, udah Na.. bawel amat siih’’ kesal ku lama lama. Nana hanya cemberutan di sana.
Aku kembali elihat wajah ku di cermin mengingat kami yang berdansa tadi malam, sangat romantic dan menyentuh, jantung ku kembali berdebar tidak karuan, entah kenapa aku selalu ingin di dekat nya.
‘’ apa aku salah kalau tertarik dengan pria lain sedangkan aku sudah punya milik orang walau belum ada sertifikat nya alias buku nikah nya’’
__ADS_1
Hal itu menjadi tembok besar, namun perkataan Briaz tadi malam mengenai pangeran yang merebut permaisuri di hari pernikahan nya seolah menjadi pertimbangan ku juga, apa aku jatuh cinta dengan pria yang baru ku kenal itu???
Selesai di beres kan aku langsung pulang, kaki ku rasanya ingin sekali cepat cepat pulang, tapi apakah Briaz ada di Apartemen nya..
‘’ eh kak, tumben udah pulang’’ sapa Viola di depan Tv.
‘’ ya Vi, Susan kuliah??’’
‘’ emm ga ka, katanya mau gangguin tetangga sebelah’’
‘’ apa!!’’
Lantas aku kembali keluar dan memencet bell di sana dengan cemas. Agak lama dan aku kembali memencet bell nya. hingga pintu itu terbuka, dan aku langsung mendorong Briaz ke belakang mencari keberadaan Susan, dan benar saja anak itu ada di sana duduk sambil berselfie ria.
‘’ kamu ngapain di tempat orang??’’ Tanya ku pada Susan yang juga kaget dengan nada bicara ku.
‘ lha emang napa… ??’’
Aku baru sadar dan dengan gugup melihat kearah Briaz yang ada di belakang ku.
‘’ jangan ganggu orang San, dosa.. pulang giiih’’ ajak ku setengah melotot kearah Susan.
‘’ ga mau, kan Briaz mau ajarin tugas kuliah, yak an Briaz??’’ katanya sambil mengerjap ngerjap bulu matanya dengan genit.
‘’ iya, Okta gabung aja yuk’’ ajak Briaz jadi baik hati namun menyebalkan, kenapa mau mau nya ia menginjinkan Susan masuk, pasti hanya akal akalan Susan saja minta ajarkan tugas kuliah.
‘’ aah oke’’ sahut ku dan Susan terperanjat kaget, ia tidak suka aku juga ada disana.
‘’ mana sini buku nya,, aku juga dulu belajar Akuntansi,, dan IQ ku lebih tajam dari pada kamu’’ kata ku menjitok jidat Susan. Susan Nampak kesal aku seperti menjelek jelekan dirinya di depan Briaz.
‘’ alaah, kamu kan juga sering jiplak tugas di internet’’
‘’ tidak, enak saja..’
Susan tertawa’ ciiih ga usah bohong,
Dan kami malah saling buka keburukan masing masing tanpa ingat dengan sosok pria yang sedari tadi hanya menonton ke konyolan kami.
Hmmm, kalian sangat akrab ya ternyata..
Aku dan Susan menatap Briaz berbarengan dan alam sadar kami terbuka.
Kami tertawa berbarengan lagi
‘’ iya kami sangat akrab,aku juga sangat akrab dengan TUNANGAN NYA’’ kata Susan sengaja menekan kan kata tunangan.
Aku menyipitkan mata kearah anak ini ‘’ awas kau Susan bulu idung mu nanti aku gunduli’’ benak ku geram
Kemudian bel berbunyi, Briaz segera membukanya dan terlihat pria semampai dengan wajah juga tak kalah menawan.
‘’ perkenalkan dia Venus, teman ku’’ kata Briaz .
‘ hey ladies’’
‘’ Okta..’’ kata ku bersalaman.
‘’ kamu Susan, anak TI kan..’’ kata Venus seolah mengenal Susan.
‘’ iya kok tau..’’ sambut Susan kaget dan air muka nya tampak senang.
‘ iya, apa kamu mengenal Tyo?? Dia kuliah disana juga’’
‘’ Tiyoooo tiyooo Nugraha??’’
Venus mengangguk.
‘’ tyo yang ganteng itu kan, yang pake mini cooper??’’
‘’ ya betuul’
Dan mereka berdua malah larut dalam obrolan.
Briaz menarik tangan ku ke teras belakang aku sampai kaget melihat tangan itu berada di pergelangan tangan ku.
‘’ adik mu agresif sekali’’ kata nya berbisik.
Aku hanya tertawa membenarkan. Dan merasa senang juga kalau Briaz tidak menyukai nya.
Aku melihat ke pemandangan di depan di mana terlihat redupnya matahari beralih ke malam, dan lampu lampu pengendara di bawah sana terlihat cantik.
Aku menoleh kearah Briaz yang juga sedang melihat kesekeliling, dan perhatian ku tertuju pada tato di leher nya yang serupa dengan di mimpi ku itu.
‘’ kamu mau ikut aku??”’ ajak nya.
‘’ kemana??’’
‘’ ikut saja,’’ katanya lagi. Dan aku menyetujui nya, kami keluar Apartemen, meninggalkan Venus dan Susan yang sedang membahas sesuatu, aku senang kedatangan Venus membantu ku menjauhkan Susan dari Briaz, aku benar benar tidak suka dengan Susan yang seolah mencari perhatian Briaz.
Briaz memakaikan helm ke kepala ku.
‘’ kita naik motor?’’ Tanya ku masih bertanya juga padahal motor gede jelas di depan ku. beruntung Briaz tidak menjawab nya, ia hanya tersenyum singkat.
Dan aku naik ke belakang nya.
‘’pegang yang erat’’ teriak nya dalam helm fullface.
__ADS_1
Aku melingkarkan tangan ku ke pinggang nya dan motor berjalan pelan tapi tiba tiba meleset laju, ingin rasa nya aku cekik leher nya, tapi tidak aku lakukan aku makin kencang memeluk pinggang nya. dan Briaz mengendarai dengan laju di jalan bebas hambatan, rasanya aku merasakan kebebasan yang susah di artikan, kebahagian yang kembali muncul hanya naik motor dan bersama Briaz.
Tuhan.. apakah kamu menghadirkan nya untuk member ku kesempatan merasakan yang nama nya Bahagia…