
CHAPTER 25*
“Scandal Kevin Er”
’Ku gotong tubuh Okta yang terlelap tidur saat menuju pulang dan ku letakkan di kasur, gadis ini menggeliat dan kembali tidur, ia nampak sangat lelap, kelelahan tapi wajahnya tertidur seperti wajah bayi, wajah cantiknya selalu membius ku untuk terus menatapnya dan bagian ini yang paling aku suka, aku suka melihat nya tidur, gadis judes dan pemarah itu seolah menjelma jadi sosok yang tenang dan rapuh, seolah mengeyahkan semua kemarahan ku tentang yang baru saja terjadi.
Rambutnya yang panjang menutupi sebagian matanya, kutepikan dan telaah bagian mata yang tertutup itu, hidung nya yang macung ku selasari dengan jemari, hingga berhenti di bibir merah, menggodaku untuk menciumnya benar saja aku menarik bagian bibir bawahnya dan menciumnya seorang diri, rasanya menyenangkan, aku menciumnya berkali kali sampai lari ke kening, mata, hidung, pipi dan hampir semua wajahnya ku telusuri, ia tetap tertidur lelap dan sesekali menggeliat.
“ aku ingin kamu selalu disisiku seperti ini Okta.. aku sangat mencintai mu’’
Ku pandangi lagi gadis oriental Okta,
‘’ apa yang kamu sembunyikan lagi Okta.. apa aku belum begitu meyakin kan mu’’ kata ku pelan menelisir poni tipis yang menjadi sangat rapi di dahinya. Lalu aku berbaring disebelahnya, memeluk gadis ini erat dan bersembunyi dibalik tubuhnya yang menghadap kesebelah sana.
Saat aku bangun yang kupeluk hanya lah gumpalan selimut putih, aku sontak bangun mencari Okta, seisi kamar kosong, di kamar mandi juga sama. Dengan cepat aku cari Hand Phone ku.
Terdengar nada sambung berkali kali dan kemudian terputus.
Hal yang sangat aku benci Okta kalau menghilang pasti sangat susah di hubungi. Hampir lebih 5 kali aku menelponnya tapi tak di angkat, sms ku pun kembali menggantung seperti kemaren.
‘’ Maya.. Okta dimana??’’ Tanya ku saat telepon di angkat Maya.
‘’ Okta.. ngga ada, dia belum pulang ya dari semalam??’’
Aku langsung memutuskan telepon, rasanya dada ku bergemuruh kesal.
Aaaargh
‘’ kemana sih kamu.. Okta.. kenapa selalu membuat orang susah’’ teriak ku kesal mengingat sekarang anak itu hilang lagi.
Lalu pintu dibuka, aku kaget melihat Okta tau tau muncul dari sana, ia masih mengenakan baju kaos
semalam dengan rambut di kuncir kuda.
‘’ kamu dari mana saja….’’ Cecar ku ingin penjelasan, tapi seperti biasa mimic nya nampak tidak peduli, padahal aku menelpon nya berulang kali.
‘ OKtaa..
‘’ kenapa malah membawa aku kesini sih??’’ Okta malah menatap ku dingin.
‘’ kenapa?? Aku tidak melakukan apa apa dengan mu juga kan’’ jawab ku
‘’ aku meninggalkan anting ku’’ katanya lalu masuk kamar mandi dan keluar lagi ingin kembali keluar tapi aku berhasil mencegah nya.
‘’ aku menelpon kenapa tidak diangkat’’ kataku marah.
‘’ jangan kemana mana lagi’’
Tapi ia berontak, kadang kekuatannya bisa sangat kuat seperti sekarang.
‘’ pesawat ku berangkat nanti siang, temenin aku dulu, aku akan sangat merindukan mu nanti’’
‘’ aku ada urusan, aku mau pergi’’ katanya melototiku dengan kesal, tapi aku tidak akan melepas tangan ku walau ia meringis sakit sekarang, aku jadi kesal lagi setiap ia menyebut urusan, bukan urusan ku dan hal lainnya yang seolah aku tidak boleh mengetahuinya.
‘’ bisa tidak kita jangan bertengkar’’ pinta ku melembutkan intonasi suara ku, Okta masih tidak bergeming, ia sangat keras kepala.
‘’ aku ada urusan penting, lepaskan KEVIN!!’
Aku melepaskan tangan nya tapi aku lari kepintu menguncinya. Okta melihat ku dengan marah.
‘’ mau mu apa sih’’ berang nya .
Aku semakin menyembunyikan kunci itu dan mendekati Okta tapi ia malah mundur.
‘’ kamu kenapa sih, aku salah apa??’’ Tanya ku merasa gadis ini seperti tidak ingin melihat ku, dari semalam sikapnya sudah sedikit berubah,’’ apa masih marah dengan tadi malam??
__ADS_1
‘’ tidak!!’’
Ku genggeam tangannya lagi mencoba melunak kanya, wajah nya ku hadapkan ke arah ku.
‘’ aku aka balik ke jakarta Okta, tapi kamu mau meninggalkan ku, sebentar saja’’ bujuk ku sangat berharap karena akan sangat merindukan nya di sana.
Okta lalu menyunggin senyum yang terpaksa tapi aku lega ia akhirnya bisa luluh juga., kutarik ia ke depan Tv mencari chanel music, aku bersandar di bahu nya dengan manja, wangi tubuh nya sangat ingin membuat ku terus bersandar disana.
‘’ Vin.. mmmm ‘’
‘’ kalau ingin bertengkar lagi aku tidak mau dengar’’ kata ku langsung menutup telinga. Okta menurut, dan aku semakin bergedayut di bahu nya sambil terpejam mendengarkan instrumen music yang menentram kan perasaan ku.
‘’ jangan pernah tinggal kan aku Okta, aku ingin kamu hanya milik ku’’ kata ku lalu kembali larut dalam instrument itu.
‘’ bagaimana kalau waktu itu aku menolak mu vin’’ Tanya nya tanpa membuat posisi ku berubah.
‘’ aku tidak yakin’’ sahutku
‘’ bagaimana kalau aku benar benar melakukannya..’’
Aku hanya mendehem tanpa menjawab nya, entah kenapa wanita ku ini senang sekali berandai andai yang tidak tidak.
‘’ jika nanti ada laki laki yang merebut ku bagaimana??’’
‘’ tidak akan ada’’ jawab ku lalu turun ke atas pangkuan nya.
‘’jika nanti ada wanita yang lebih baik bagaimana??”’
‘’ tidak akan ada juga’’
‘’ berhenti bicara Okta.. aku benci kamu bicara aneh aneh dan jangan mengajak bertengkar’’ pinta ku membuka mata melihat nya dengan kesal.
Okta menurut, ia kembali bersandar di sofa dengan nyaman menampung berat beban tubuhku yang merikuk manja.
‘’ berat!! Kamu mau pikir bahu ku sandaran kursi apa’’ ujarnya sambil tertawa singkat. Aku menariknya lagi dan menahannya di dalam bekapku.
‘’ aku sudah bilang jangan men-
Kemudian Hp nya bergetar yang terletak di atas meja.
’ Laura…’’ Baca Okta menoleh ku dengan suatu pandangan yang kosong, bibir nya tersungging sebelah.
Ku raup Hp itu da mereject nya.
‘’ aku mau kembali kerja Vin, banyak kerjaan ku yang harus aku urusi, tolong mengerti lah’’ kata nya dengan nada memohon.
‘’ baik lah, nanti kamu harus mengantar ku ke bandara’’ titah ku lalu menyerahkan kunci kamar dan mengecup kening nya singkat.
Okta segera beranjak dari sana dan keluar.
Hp ku kembali berbunyi dengan nomor yang tak ku kenal.
‘’ ya hal..
‘’ eh bocah, kau sengaja memblokir nomor ku’ terdengar suara Dany manajer ku, suara nya sangat nyaring sampai Hp ku jauhkan beberapa centi dari telinga ku.
‘’ apa yang kamu lakukan….. bocah kupret… scandal lagi!!’’
‘’ scandal??’’ tanya ku heran.
‘’ silahkan cek sendiri’’ ujar Dany lalu mematikan teleponnya.
Aku segera mencek ke berita di Tv yang saat itu sedang menampilkan video scandal yang dany maksud. Video di mana aku sedang berciuman dengan Laura di sebuah club malam, saat itu aku mabuk berat sampai tidak tau apa yang ku perbuat, dan video kedua adalah tayangan tentang foto foto ku dengan perempuan yang sama sedang menggandeng Laura masuk kedalam Apartement nya, saat itu Laura memang mabuk dan aku hanya sekedar mengantar nya pulang.
Remote Tv langsung ku banting kasar, amarah ku seolah mencuat, darah dalam tubuh ku memanas tidak karuan.
__ADS_1
‘’ Oktaaa.. tidak’’
*
15 menit yang lalu
Melly masuk ke dalam ruangan ku untuk membacaka jadwal ku hari ini.
‘’ jam 2 nanti ada meeting di Jakarta dan sore jam 4 anda harus ke Medan untuk bertemu para investor’’ kata Melly dengan sangat jelas.
Aku yang hanya mengangguk sambil mata terus ke laptop dengan tangan memaku di dagu. Kemudian venus masuk begitu saja ia terlihat cemas dengan sesuatu.
‘’ tu aah Pak. ada kabar tentang.. buka internet Pak’’ mata Venus melirik kearah Melly, ia tak ingin Melly mengetahui nya, tapi aku langsung mencek ke Internet dan video pertama yang aku buka.
Aku kaget melihat vieo scandal Kevin dengan perempuan lain, yang dipikiran ku adalah Okta, bagaimana kalau ia melihat video itu, rasanya aku tak ingin melihat nya terluka.
‘’ Melly, cepat cari penerbangan ke luar sekarang juga untuk dua orang’ titah ku sambil mengambil Hp ku dan dengan panik mencari nama kontak Okta.
‘’ se.. sekarang Pak..’’ panik Melly.
‘’ biar aku saja yang melakukan’’ kata Venus menepis rasa keterkejutan Melly disana.
Telepon Okta tak di angkat, aku segera keluar sambil terus mencoba menghubungi nya.
‘’ di mana ia, Oktaaaa’’
‘’aaah’’ terpikir untuk ku menggunakan kekuatan Fyrd lagi, ia terhubung dengan Okta da aku bisa melepaskan nya untuk mencari keberadaan Okta.
Aku memejamkan mata seperti berada di dalam air laut yang jauh dari permukaan dan tak berdasar. Aku berada di sana, di bawah sana terlihat cairan hitam milik Fyrd yang kental dan menyeramkan, aku beringsut turun ke dalam gelap air itu. Setengah berada di bagian leher aku bisa merasakan Vlous seperti sedang mencari mangsa nya yang belum aku turuti. Bayangan Okta berada di kamar sana dengan Kevin yang bersandar di bahunya Fyrd tanpak marah ia dengan cepat ingin menyerang tapi aku berhasil menguasasinya ku masuk dalam kekuasaan nya aku berenang naik ke atas menyelamatkan diri, setelah sadar tenggorokan ku terasa gatal dan terbatuk berulang kali, aku terpapah sambil keluar mencari arah yang sudah aku lihat barusan.
Okta baru saja membuka pintu, ia nyaris berteriak melihat Briaz yang sudah menunggu di sana dengan mondar mandir seperti setrikaan.
‘’ apa yang –
‘’ ikut aku sekarang..’ Briaz langsung menarik tangan Okta.
Okta yang melihat tangan itu menyentuh tangannya ingin protes tapi entah kenapa kali ini ia membiarkannya.
Sesampainya di lantai dasar ada Tv yang sedang memutar berita tersebut, Briaz langsung melepas dasi nya dan melilitkan ke mata Okta.
‘’ Bri apa apaaan,, aaaah’’
‘’ sudah jangan bawel, ikut saja aku punya kejutan’’ katanya asal lalu dengan cepat mengangkat tubuh Okta naik ke atas pundaknya, Okta meronta ronta tapi pria ini tidak peduli, ia juga tak peduli lagi dengan pandanga para tamu juga staff lain. Maya yang melihat hal tersebut sampai menganga lebar dan tak bias bersuara lagi melihat sahabat nya di culik seperti itu oleh bos nya.
Briaz memasukan Okta ke tempat kursi penumpang, ia tak peduli dengan jarak toh ia juga sudah menyentuh Okta.
‘’ bagaimana??’ Tanya nya sambil memutar menuju pintu kemudi.
Setelah mendapat jawaban dari Venus melalui telepon Briaz segera masuk ke kursi kemudi, dan memasangkan sabuk pengaman okta hingga tubuh mereka teramat sangat dekat, Okta sampai tak bias bernafas karena gejolak nya sedang di uji lagi.
Briaz lalu menjalankan dan meninggalkan area itu yang bahkan ia sudah kerahkan lebih banyak pengawal nya menyerupai manusia dan manusia asli yang juga ikut mengawal agar hotel itu tak bisa di masuki wartawan
Okta sendiri kebingunan melihat di luar sana banyak orang orang yang seperti wartawan dan ada yang sedang beradu mulut dengan salah satu penjaga berbadan besar.
‘’ mereka wartawan kan?? Ada apa??’’ Okta hendak menurun kan kaca jendela tapi Briaz langsung menutupnya lagi.
‘’ apa kamu sudah makan??’’ Tanya Briaz mengalihkan perhatian Okta.
‘’ belum, kenapa??’’
‘’ ikut aku makan, apa kamu suka makanan italia??’’
‘’ yaaa.. bagi ku semua makanan enak’’ jawab Okta jujur.
Briaz tertawa singkat.
__ADS_1
‘’ kalau begitu kita ke Italia’’
‘’ APA’’