
CHAPTER 28*
“ Pembunuh Bayaran”
Tiba tiba Hp ku jatuh dari saku nya, aku langsung memungut nya sebelum di ambil Briaz.
Kebetulan saat itu berbunyi.
‘’ Kevin’’
Aku segera mengangkat nya.
‘’ hallo Vin… ‘’
Terdengar suara krasak krusuk tidak jelas hingga suara berat Kevin terdengar lemas.
‘’ Vin,, kamu ga sakit kan..
‘’ Please Okta percaya aku, semua yang diberitakan semua nya tidak seperti yang dilihat’’
Aku menelaan kata kata nya.’’ Berita??’’
‘’ dia teman ku dan itu aku lagi mabuk berat’’
Tubuh ku rasanya menegang dan mendesir hebat. Kevin terus bicara menjelaskan kronologis dan siapa perempuan yang di sana yang bernama Laura, nama yang ku ingat saat menelpon nya kemaren pagi.
‘’apa yang terjadi?scandal apa?? Kenapa aku tak tahu sama sekali, apa Briaz sengaja membawa ku ke sini untuk menghindari pemberitaan Kevin itu”
aku mencari sosok Briaz di belakang ku yang menatap ku datar dan prihatin, lalu telepon Kevin yang masih terhubung langsung aku matikan sepihak, aku membuka internet dan melihat semua pemberitaan 1 hari yang lalu itu. Kepala ku rasa nya berdeyut.
‘’ Okta… kamu baik baik saja??’’ tanya Briaz memiringkan kepalanya. Dan meletakkan tangan nya yang terbungkus sarung tangan kulit itu ke jidat ku membolak balik punggung dan telapak tangan nya berkali kali.
‘’ sudah lah, jangan dipikirkan… semua akan baik baik saja’’ ucap nya mencoba menenangkan pikiran ku yang berkecamuk, aku kaget dengan pemberitaan itu dan syok tentu, mengetahui bagaimana video itu memuat Kevin seperti apa, terluka?? Entah lah aku hanya merasakan marah saja dengan Kevin, bisa bisa nya dia memepermainkan aku.
‘’ hey… Okta’’ panggil Briaz lagi, ia lalu menarik tubuh ku ke tubuh nya yang hangat dan wnagi.
‘’ sudaaah jangan di pendam, menangis saja.. kan kita liburan.. have fun saja’’ kata nya di sana. Aku langsung mendorong nya.
Aku melihat nya dengan kesal, dan dengan cepat segera pergi dari sana.
Sesampai nya di kamar tenggorokan ku terasa kering,aku membuka kulkas dan dengan asal mengambil minuman kaleng disana.
‘’ KEVIN K*RANG AJAR, BISA BISA NYA DIA SEPERTI ITU, HA DAN BRIAZ KENAPA DIA MENUTUPINYA, MENGAJAK KU KESINI UNTUK APA’’ dongkol ku sambil minum air itu yang tanpa aku ketahui adalah alkohol.
**
Tok tok tok
Briaz melamun dan kaget mendengar pintu kamar nya di ketok kasar, ai segera membuka dIa kaget melihat Okta yang dalam keadaan mabuk sedang teler disana.
‘’ Eh Kau, hahahaaa orang jahat si mesum suka mempermainkan wanita’’
‘’ Okta apa apaaan ‘’ Briaz langsung menyambut tubuh Okta yang beringsut ke bawah dan ia lupa mengenakan sarung tangan nya, dan skinship kembali terjadi lagi.
‘’ aah shit’’ geram nya. Lalu menggopong Okta yang bicara tak karuan disana.
‘’ kamu mabuk??’’
Okta hanya tersenyum lebar dan kembali bersalto.
__ADS_1
‘’ kamu sakit hati sampai mabuk seperti ini Okta??’’ Briaz tertawa geli dan ia merasa perasaan nya ngilu berpikir kalau Okta mabuk karena Kevin.
‘’ dasar kamu!!! Suka main perempuan dan kamu saja dengan nya, hahahahaaa laki laki semua nya tidak waraaaas’’ ucap Okta lalu menghambur ke arah Briaz menarik dagu Briaz dan ia memonyong monyongkan bibir nya. Yang langsung ia dorong dengan tangan nya, bau alkohol yang kental menyeruak di bibir Okta.
‘’ hentikan… Oktaa’’ bentak Briaz, tapi nama nya orang mabuk mana sadar Okta malah berguling guling di lantai mirip tringgiling ia menangis dan bicara ngawur lagi.
Briaz segera menghentikan ulah Okta seperti itu, di angkat nya Okta dan meletak kan nya di kasur nya.
‘’ beruntung yang kamu ketuk kamar ini bukan kamar yang lain’’ kata nya sambil merapikan selimut untuk Okta.
‘ aaah mau kemanaa, panaaaaas’’ jerit Okta yang mungkin sudah terpengaruh Vlous Fyrd Briaz. Okta malah dengan enteng melepas baju nya tapi ia kesulihan karena ia masih mengenakan gaun panjang.
‘’ eeiiit mau ngapain, aah anak ini’’ gemes Briaz menghentikan tingkah nya.
‘’panas panaaaas, aaaah apaaa siiih ini’’ kata nya nagwur dan mengacak acak rambutnya hingga menyerupai bibi orgil.
‘’ hentikan Okta.. ‘’ Briaz sampai harus memegang kedua tangan nya dan membuat tubuhnya terhimpir dekat. Nafas nya naik turun melihat Okta dengan dekat.
Okta lalu ambruk di bahu nya.
‘’ aku mencintai mu’’ ucapnya sebelum tertidur.
Rasa sakit kembali menyanyat hatinya, Briaz masih berpikir penyebab Okta mabuk karena Kevin semua yang dipikirkan Okta saat mabuk pasti karena Kevin termasuk kata kata barusan.
‘’ tidur lah disini’’ kata nya sambil kembali merebahkan Okta di sana dan menyelimutinya.
Perlahan ia keluar dari sana lalu menghubungi pihak hotel meminta satu orang perempuan untuk menjaga Okta khawatir Okta kembali sadar dalam keadaan mabuk dan menghilang dari sana, ia sendiri masuk ke kamar Okta mengganti posisi Okta di sana.
Tubuh nya kembali mendapat serangan dan membuat nya merikuk didalam selimut, bau aroma Okta seolah tertinggal disana membuat nya sedikit lebih nyaman dan memejam kan mata. Tapi suara lain membuat telinga nya menangap tajam, ya ada seseorang di sana selain ia, perlahan ia merasakan langkah kaki seseorang dan semakin lama semakin dekat hingga ia merasa selimut nya di tarik. Briaz dan orang bermasker itu sama sama kaget, pria bermasker itu langsung kabur dengan Briaz yag langsung sigap ingin menangkap nya tapi lepas, gerakan pria itu sangat cepat, tapi kali ini Briaz mengandalkan Fyrd, dengan sulur itu ia berhasil menangkap kaki si penyusup yang nyaris keluar melalui jendela. Hingga satu buah benda yang tak lain adalah pisau jatuh. Ia melotot kaget apa yang ingin penyusup itu lakukan dengan pisau di sana.
‘ siapa kamu’’ berang Briaz lalu mendekati pria ini yang sudah terbelit Fyrd. Ia yampak tak bisa bergerak di sana, padahal kalau yang bisa melihat fyrd, sulur itu membekap habis tubuhnya seperti seekor ular anaconda besar. Briaz menarik masker pria ini dan melihat wajah nya yang beraksen itali.
Jantung nya berdegub kencang mengalami kejadian barusan apalagi mengetahui Okta dalam bahaya. Ia langsung mengambil Hp nya dan menghubungi Venus.
‘’ baru saja penyusup masuk ingin mencelakain Okta, selidiki sekarang juga apakah ia terlibat dengan orang orang yang mengikutinya waktu itu’’ katanya dengan suara menggelegar hebat dan segera kembali masuk ke dalam kamar nya memastikan Okta masih disana. Nafas nya dapat kembali membaik setelah melihat Okta tertidur pulas.
*
Okta bangun dengan kepala yang terasa sangat berat, harusnya ia mendapati aquarium besar di depan mata tapi ini hanya lah beton dinding . masih belum ngeh ia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi dan berakhir bingung karena letaknya tak sama. Hingga benar benar menemukan kamar mandi yang di carinya. Selesai membersihkan muka dan gosok gigi, hingga mulut itu menganga baru ia ingat kalau semalam ia mengetuk kamar seseorang saat keasadaran nya tidak stabil.
‘’ ini kamar siapa?” tanya nya langsung menghambur keluar dan menyadari perbedaan kamar nya dengan kamar itu.
Ia pun melihat baju nya yang masih sama, ia lega tapi ia masih was was dengan kamar itu.
Hingga siluet tubuh seseorang sambil melangkah membuat jantung nya bepacu cepat dan 5 detik kemudian terlihat Briaz di sana.
Okta bernafas lega, ia lega kalau itu Briaz bukan orang lain.
‘’ kamu syukur lah’’ katanya mengelus dada nya yang nyaris meluap dan sengan pasta gigi masih di bibir nya. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar mandi sambil mengingat ingat apa yang terjadi saat ia mabuk.
‘’ apa jangan jangan Briaz melakukan sesuatu?? What!!’’ Okta langsung panik dan mencoba mengingat ingat lagi tapi tak berhasil tak satu pun yang ia ingat.
Saat keluar wajahnya langsung di lempar dengan handuk kecil.
‘’ kamu mau ikut berenang?? Sekalian sarapan disana..’’
Okta menangguk, ‘’ tunggu…
‘’ ya?”’
__ADS_1
Okta menggigit bibir bawah nya dengan keras’’ apa yang terjadi tadi malam saat aku mabuk, kau tidak me….
Briaz memutar bola matanya dengan malas.
‘’ apa selangkang mu sakit??’’
‘’apa??’’
‘’ kalau sakit itu artinya aku berbuat sesuau’’ sahut nya lalu kembali mengembalikan badan.
Okta diam mencoba mencari rasa tapi tidak ada, wajah nya langsung sumringah.
‘’ aaa jangan mesum’’ celetuk Briaz sukses membuat wajah Okta menyerupai kepiting rebus.
‘’ yaaa, siapa yang mesum…-
Kalimat Okta terputus karena suara ketukan pintu.
‘’ buka itu, pilih baju renang mu, dan jangan lama aku tunggu di kolam’’ kata Briaz lagi.
‘’ renang, aaa’’ dengan gesit Okta mempersihlahkan pelayan hotel yang membawakan berbagai jenis baju renang.
Ia memekik heboh melihat berbagai jenis baju renang di sana, dan mata nya seolah melebar dengan pikiran berimajinasi tak karuan disana. Sesekali boleh lah ya mengenakan baju renang yang seksi, lagi pula ini di Luar Negeri tak akan ada yang mengenalinya, dan ia memilih bikini yang seksi.
Saat sampai di kolam renang, mata nya makin melebar udik melihat bagaimana uar nya kolam itu menyerupai sebuah laut lepas dan itu berada di atas gedung Hotel yang tinggi, pengunjung nya pun terlihat antusias berjemur di sepanjang sana.
‘’ ya ampuun… keren banged’’ pekik nya sampai menggigit jari manis nya, ia lalu menghambur kearah Briaz yang di sana sedang santai dengan jubah baju seperti Okta, dan sedang mengenakan kacamata hitam bersandar di kursi pantai sesekali matanya ke kanan dan kekiri dengan pada was was walau ia sudah memerintah beberapa orang untuk ikut mengawasi di sekitar Okta, kejadian tadi malam membuat nya sangat waspada apalagi di tengah ramai begini. Lalu di lihat nya siluet Okta yang datang dengan sejuta senyum, rambunya di gulung ke atas dan hanya menyisakan helaian rambut anak. Okta terlihat sangat manis dengan itu.
‘’ berenang yuk’’ ajak nya tapi Briaz hanya mengenadahkan tangan ia hanya sibuk melihat Okta di bilik kacamata hitam nya, sampai Okta melepas jubah baju nya dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, dengan kulit putih mulus. Ia sampai melepas kacamata nya bukan karena mengagumi tapi tidak suka Okta mengenakan bikini seminim itu walau gejolak Fyrd langsung mencoba mempengaruhinya untuk mencicipi tubuh itu, tapi ia tahan, pandangan liar seketika mehujani Okta bukan dari dia tapi beberapa pengunjung sana yang langsung menyunggingkan senyum dengan sejuta arti dari tatapannya yang terlihat lapar, apalagi Okta yang tak tahu menahu sedang merenggangkan tangan nya ke atas dan memutar tubuh nya ke kanan dan kekiri. Mata nya terus tajam mengikuti gerak Okta sampai ia tak tahan lagi dengan tatapan pria bule yang semakin nakal.
Baru saja Okta ingin menceburkan diri, rambut nya di tarik kebelakang.
‘’ aaaaah, aauw..’’
Briaz di belakang nya lalu menutupi bahunya dengan jubah mandi.
‘’ ganti yang sopan, tidak lihat pria pria mesum yang kelaparan melihat mu’’ katanya lalu berlalu.
Okta melihat ke sekeliling dan melihat tidak ada yang ane, semua cewek hampir mengenakan bikini seperti nya dan semua nya tampak cuek. Tapi ia tetap menurut, cemas juga kalau membandel bisa bisa ia jadi tunawisma di sana mengingat uang yang ia bawa hanya 300 ribu dan itu tak akan cukup buat biaya makan nya sehari kalau Briaz menelantarkannya.
Ia kembali di berikan bikini tertutup dengan tangan panjang dan celana selutut, lebih mirip baju selam menurut nya tapi itu sudah baju yang Briaz pilihkan.
‘’ kamu ga ikut renang Bri??’’ tanya Okta lagi sambil duduk di seberang Briaz.
‘’ nanti’’ sahut nya lalu kembali merebahkan kepala nya dan kacamata hitam menutupi mata nya yang entah lagi memejam atau tidak.
Okta meringis, ia yang sudah antusias ingin berenang segera turun dan langsung merentangkan tangan nya mengayuh kesana kemari sambil tertawa dalam hati dengan riang. Langit yang atas berwarna putih berpadu biru muda yang sangat cantik walau matahari mulai naik ke puncak namun cuaca nya terasa sangat bersahabat.
Ia lalu kembali dan melihat Briaz tak lagi sedang berjemur tapi ada gadis bule cantik bak model bicara dengan nya, Briaz terlibat percakapan dengan wanita yang mengenakan bikini seksi itu lengkap dengan sembulan 2 buah kenyal yang besar dan bokong yang aduhai.
Okta segera mengurungkan niat untuk naik, ia merasa kesal akan sesuatu yang tak jelas, dan berenang kembali mengikuti kata hatinya, menyelusuri satu tempat ke tempat baru dan tanpa sadar ada pria nakal yang sudah memperhatikan nya sejak tadi, mengikuti Okta yang masih saja berenang sendiri.
Okta menyebul naik kepermukaan sekedar mencari Oksigen, dan kembali menyelam ke arah yang makin jauh.
Saat nafas nya mulai menjadi lelah ia kembali naik dan bersandar di sana.
‘’ hy baby..’’ tiba tiba saja seorang laki laki muda berwajah asing, sedikit tampan tapi bagi Okta itu seolah ancaman karena mata nya melihat nya dengan tatapan berbeda.
‘’ what your name..’’ umbar nya .
__ADS_1
Okta tidak menjawab ia segera menjauh dan kembali berenang ke tepian lain tapi bule itu malah mengikuti nya dan terus menggoda nya.