
CHAPTER 32*
“ Penyelamatan”
Okta kembali di perlakukan tidak baik disana, ia terus memberontak sampai tangan Kevin mendarat di lehernya.
‘’ jangan mengundang ku untuk berbuat kasar’’ ancamnya lalu dengan cepat ia menaik kaki Okta ke samping merbek celana dalam nya dan menekan tubuh nya lebih rapat. Okta semakin melihat Kevin penuh kebencian dengan nafas terasa tertahan disana, ia berharap cekikan Kevin membuat nya kehabisan nafas dan mati saja disana dari pada harus menerima kenyataan kehormataan nya di renggut oleh Kevin.
Terdengar suara dobrakan dan tembakan bertubi tubi di luar menghentikan aksi gila Kevin yang nyaris.
Kemudian pintu kamar itu di dobrak terlihat banyak peria bersenjata dengan stelan hitam.
‘’ Oooouh Kevin anak ku,, apa yang ingin kamu lakukan’’ sosok pria bertubuh tinggi masuk, dia Frans.
‘’ ayah..’’
Kevin melepas kan cengkraman tangan nya dari leher Okta, berganti pandangan menusuk Okta pada pria yang disebut Kevin ayah itu.
‘’ percuma Kevin kau dan Ibu mu tidak bisa menggagal kan rencana ku’ kata nya sambil tertawa singkat dan di belakang terlihat Sandra sudah di sekap.
‘’ mamaa
‘’eeeit.. jangan macam macam, atau dia aku tembak’’ancam nya menghujamkan sena[an ke arah Sandra, harus nya aku membunuh mu dari dulu wanita j*lang’’
Sandra terlihat memberontak diam dengan mulutnya yang di tutup dengan kain.
‘’ apa yang ayah lakukan, dia Ibu ku’’ marah Kevin lalu sosok nya kembali berubah.
Frans menarik pelatuknya.’’ Aku bilang jangan macam macam’’
Kevin terdiam menahan kemarahannya.
‘’ menurut saja, dan kamu juga akan mendapat kan gadis ini…’’
Okta kembali terancam. Frans di sana tersenyum licik.
‘’ aku akan membantu mu Kevin, tentu dengan cara kami’’
*
Briaz sampai dengan helikopter namun terlambat, persembunyian itu sudah berantakan dengan sisa darah di mana mana.
‘’ siiiial’’ teriak nya kesal.
‘’ kita terlambat!! Mereka belum jau kita harus menemukannya’’
‘’ tenang kak, aku mohon kakak yang tenang’’ Fredika tampak sangat khawatir mlihat kakak nya seperti itu.
‘ aku akan menggunakan Fyrd lagi’’ kata Briaz lalu memejamkan mata nya. Fredika ingin menyela tapi Venus meminta nya untuk membiarkan Briaz.
Walau gadis ini memucat melihat kakak nya yang nyaris berubah mengerikan dan mau pingsan ketika tubuh Briaz melemah.
‘’ tuan….
‘’ kakaak’’
Seketika kemudian Briaz membuka mata. ‘’ siapkan mobil , mereka membawa Okta ke sebuah mension Lab berada di dalam hutan 1 jam dari sini’’ ucapnya dengan nada berat dan Bianca ada di sana.
‘’ apa!! Apakah manusia dan Bianca bekerja sama??’’ kaget Fredika tercekat, ia kemudian mulai marah.
‘’ aku akan melaporkan nya ke Istana ka, kita harus dapat bantuan besar’’ kata fredika.
Briaz menyetujui nya mengingat Bianca pasti sudah mempersiapkan nya dengan baik.
*
Kevin tak sadarkan diri, tubuh nya mulai di tusuk tusuk dan di beri selang oleh beberapa orang yang mengenakan jas putih disana.
‘’ Fraaans kenapa kau lakukan ini pada Kevin, dia anak mu’’ berang Sandra menangis dan memberontak di dalam jeruji di sana.
‘’ anak’ heh.. dia anak mu bukan anak ku, kau pikir aku bodoh, dia itu anak hasil selingkuhan mu’’ kata Frans membuat Sandra tercekat dan semakin berang berteriak marah disana.
Okta sendiri menatap nanar ke wajah pucat yang terpejam cantik peti kaca di depannya.’’ Mama…
‘’ dia cantik bukan, sama seperti kamu nak..’’ Frans muncul dengan seringai nya. Okta menghujani nya dengan tatapan membunuh, andai tangan nya tak di ikat pasti ia akan mencekik laki laki itu sampai mati.
‘’ sayang dia harus menjadi seperti ini, andai saja dia tidak menikah dengan orang lain mungkin aku tidak akan melakukan nya’’
‘’ apa!!’’
Frans kembali tersenyum licik.
‘’ bersihkan dia, setelah Kevin selesai kita akan membutuhkannya ‘’ suruh Frans. Dan yang membawa Okta menyeret Okta kesuatu tempat, tapi Okta sangat berusaha untuk melepas kan diri, ia lalu menmukul orang yang menjaga nya dengan kepala nya, walau terasa sangat sakit tapi ia berhasil mebuat pertahanan melemah. Okta lalu mencabut pistol di pinggang nya dan mengarahkannya ke arah Frans.
‘’ oooh tenaaaaang lah nak… jangan berbuat gegabah’’ kata Frans tampak terancam.
‘’ayolah jangan macam – macam, disini ada penyihir yang bisa mengembalikan pistol itu ke otak mu’’ kecam nya pada Bianca di sana yang melihat Okta dengan senyum jahat nya.
Okta tak bergeming ia menarik pelatuk lalu mengarahkan senjata itu ke arah kabel yang menghubung ke tabung berisi Iblis Hord itu. Sosok yang ia ingat dulu penah ia lihat saat pulang karaoke.
Dan sukses tembakan nya mengenai kabel yang terpasang. Frans dan Bianca juga orang orang disana tercekat dan panik melihat kepulan asap keluar dari sana. Dan tiba tiba Hord di dalam sana kejang kejang.
‘’ cepat keluarkan makhluk itu’’ teriak Bianca panik.
‘’ dasar gadis kurang ajar’’ frans lalu menyerang Okta tapi Okta langsung menembak nya dan mengenai bahu, ketika ingin melepaskan peluru ketiga ia kehabisan peluru.
Frans yang sempat terhuyung jatuh dan berdarah tersenyum singkat dengan amarah yang memuncak mendapati tubuh nya tertembak.
‘’ apa yang kamu lakukan ini penyihir barbar’’ marah Okta melihat Bianca memandikan nya dengan sesuatu.
‘’ barbar…., ‘ Bianca terlihat sangat tersinggung. Ia lalu menampar pipi Okta dengan keras.
Okta makin berontak tapi tangan nya di borgol dan usaha nya sia sia.
‘’ aku hanya akan membuat acara kalian lebih romantis’’ kata nya tersenyum licik.
‘’ apa maksud mu?? Tidak ada yang berubah kan kalau aku tidak mencintai Kevin, hentikan saja semua nya Bianca’’ cecar Okta.
Bianca hanya tersenyum tipis dan meletak kan kertas kerta hitam di tubuh Okta, ia mulai membaca mantra dan Okta merasa tubuhnya menegang, lalu lemas.
‘’ kamu akan berpikir Kevin adana Briaz, jadi semua nya bisa lancar’’ ucap nya berbisik pada Okta dan tertawa melihat Okta tidak sadarkan diri, ia lalu keluar dan melihat Kevin sudah berada dalam satu tabung dengan Iblis Hord.
‘’ kenapa tidak dari kemaren kemaren kau melakukan rencana B ini, kita sampai tidak harus menanti Briaz sekian lama kan’’ gundah Frans dengan perban di Bahu nya, muka nya masih terlihat pucat.
‘’ bukan nya aku sudah bilang Rencana B rencana terakhir dari Rencana A, karena konsesuensi nya lebih besar. Setelah Hord menyatu di tubuh Kevin itu artinya dia sudah bisa di hidupkan tapi karena penghidupannya secara paksa kemungkinan besar Hord akan sulit di atur dia bisa menyerang kita balik’’
Frans diam sesaat’’ bahkan setelah Fyrd juga masuk ke tubuh nya secara tunggal??’’
Bianca melihat Frans sekian detik.
‘’ iya!! Kita harus membuat Kevin berada di pihak kita’’ ucap nya menyakin kan.
Lalu Bianca melakukan pembacaan mantra dan cahaya hitam keluar dari mulutnya masuk kedalam tabung ia terus membacakan mantra mantra yang terdengar mencekam di sana. Tabung itu menghitam lalu sosok Hord kejang dan melemah beralih pada Kevin mata nya terbuka dengan tubuhnya yang membesar dan mengerikan dengan seluruh kulit berwarna hitam pekat, matanya merah menyala. Bianca tersenyum lagi melihat Iblis Hord yang sudah utuh di dalam tubuh Kevin.
‘’sebentar lagi Fyrd akan menyatu dengan mu, dan aku akan memiliki kalian untuk membalas semua dendam ku juga menyingkirkan cecunguk manusia angkuh ini’’
*
Okta terbangun, dan melihat Briaz di sana sedang memandangi nya lalu tersenyum menawan senyum yang selalu ia idolakan dan membuat jantung nya bedegub kencang. Briaz mengulurka tangan nya yang disambut kta dengan manis, pria dalam bayangan itu kemudian memeluk Okta dengan hangat dan menciumi Okta dengan lembut, Okta terkikik geli dan sesekali mendorong Briaz. Lalu mereka kembali berciuman di sana. Okta yang dalam pengaruh sihir Bianca tidak sadar kalau yang ia lihat bukan Briaz melainkan Kevin. Tanpa mereka ketahuan diluar Briaz dan pasukan istana datang menyerbu hingga terjadi pegulatan antar mereka dan bahu tembak antar manusia.
Briaz tak ada urusan dengan penjahat penjahat disana, ia mencari Okta dan merasakan aura Okta di dala kamar sana. Dengan cepat ia mendobraknya. Hingga terperangah kaget melihat Okta di sana sedang berciuman mesra dengan Kevin. Okta yang melihat langsung terperanjat kaget melihat ada 2 sosok yang sama.
‘’ Briaz.. kenapa kamu ada dua??’’
Briaz yang bingung sadar akan aura Okta yang dipenuhi sihir Bianca.
‘’ dasar sialan…’’ ia menatap marah pada Kevin.
Kevin disana sudah berupa bukan Kevin yang tampan dan penuh pesona tapi sosok yang mengerikan, tapi ia segera menarik Okta yang berada di bawah tubuh Kevin saat makhluk itu lengah.
‘’ bRiaz.. kalian kenap..
‘’ aku akan mencuci bibir itu sampai bersih’’ umpat Briaz kesal lalu menarik Okta ke belakang nya.
‘’ apa… ‘’ Okta masih belum sadar juga.
‘’ dia Kevin, kamu dalam pengaruh sihir Bianca, ‘’ perjelas Briaz keki.
Okta hanya melongo ****, sesaat kepala nya mendadak pusing , dan bayangan Bianca mengucapkan matra terngiang ngiang ke dikepala nya. Di depan nya Briaz sudah bergelut melawan Kevin yang dua kali lipat lebih mengerikan. Dan tentunya Kekuatan Fyrd dalam tubuh nya tidak bisa menyakan kekuatan Kkevin sekarang. Berkali kali Briaz di serang dan di hajar habis habis an, tubuhnya juga penuh dengan luka tusuk. Okta yang melihat itu mulai melihat sosok yang tadi ia pikir Briaz ternyata sosok mengerikan, ia menjerit melihat bagaimaan Briaz terkapar bersimbah darah., teriakan nya mengundang perhatian Kevin yang menoleh dan menuju kearah nya, tapi beberapa prajurit datang membantu mengendalikan Kevin namun itu tak ada arti apa apa, dengan mudah Kevin membunuh mereka semua. Tujuan nya tetap sama, yaitu Okta. Briaz berusaha bangun walau tertatih tapi ia tidak bisa membiarkan kta dalam bahaya disana, dengan sisa tenaga ia bangkit dan kembali menyerang Kevin dari belakang,
‘’ larii Oktaaa’’ teriak nya.
Kevin yang terusik berpaling ke arah Briaz, sulur hitam nya membentuk senjata tajam sejenis tombak besar. Dan kembali menyerang Briaz dengan ganas.
Okta melihat dengan lemas senjata itu menghujam bahu Briaz. Dan Briaz kembali tersungkur dengan luka parah, pandangan nya kabur saat tombak itu secepat kilat akan mencabik nya namun terhenti karena tubuh nya di tindih Okta.
‘’ HENTIKAN KEVIIIIIIN’’ teriak nya.
Okta menatap ujung tombak yang nyaris mengenai mata nya itu.
‘’ aku tau kamu masih di sana Vin’’ kata nya bicara pada sulur runcing itu.
Di dasar sana Kevin yang seolah berada dalam lautan dan terjebak dalam kebatan cairan hitam terbangun. Ia mendengar suara Okta di sana namun tak tahu ada di mana, sementara tangan dan kaki nya terikat oleh cairan kuat yang bila di tarik akan kesakitan, seperti sebilah pisau yang menyenyat.
‘ Vin,, aku tau kamu ada di dalam sana, sadar lah…. Dan kembali lah’’ suara itu semakin jelas dan berada di atas, Kevin mulai melakukan perlawanan, ikatan itu terlepas ia segera naik keatas yang semakin jernih namun kaki nya kembali tertaik kebawah.
__ADS_1
Okta senang melihat senjata itu tertarik ke atas, melihat ada peluang dengan cepat ia membantu Briaz bangun dan Venus yang ikut datang mengangkat nya.
Sosok Kevin belum berubah sepenuhnya tapi ia terduduk san meringis kesakitan, merasakan serangan balik dari Iblis Hord yang mengerikan.
‘’ kita harus cepat pergi kak’’ Fredika menarik tangan Okta. Okta dengan nanar melihat Kevin seperti itu. Tapi ia harus pergi dan meninggalkan tempat itu, di luar sangat kacau balau darah dan mayat di mana mana, yang membuat Okta kaget melihat Frans sudah terbujur kaku dengan luka parah di kepala nya. Fredika kembali menarik Okta ketika terdengar suara getaran hebat dari dalam kamar sana, kemungkinan besar Kevin kembali menjadi sosok mengerikan, dan para panglima datang untuk melawan makhluk itu.
*
Okta, Fredika, Venus dan Briaz segera naik ke helikopter yang sudah menunggu mereka di luar.
Nafas Briaz tersengal sengal dengan sekujur tubuh penuk cabikan luka. Okta sampai menangis melihat Briaz terlihat sebegitu parah.
‘’ kita harus segera kembali ke Rainermond’’ kata Fredika kepada pilot mereka.
1 jam perjalanan terbang di udara membuat sesekali Briaz terbatuk ia masih terlihat sekarang Fredika dan Okta semakin cemas melihat nya seperti itu.
‘’ tuan, bertahan lah,karena Hord sudah bangkit nyawa anda sebagai penghalang Furd. jangan sampai Fyrd mengalahkan mu… kalau anda meninggal, dia akan bangkit dan menyatu dengan Hord atau Kevin..’’ kata Venus mengingat kan. Briaz mengangguk dengan mengerhapkan matanya, di dalam sana ia juga berjuang keras untuk tidak di tarik Fyrd yang merejalela menghakiminya yang sedang sekarat.
‘’ Bri… aku mohon… bertahaaan’’ tangis Okta memegangi wajah Briaz yang makin pucat.
‘’ kamu tidak lupa kan rencana kita ke Itali lagi’’ katanya terus memberikan Briaz semangat
Briaz terbatuk dan keluar darah Okta makin ketakutan luar biasa.
‘’ bagaimana ini, kalau di serang secara bersamaan ini kakak bisa tidak tahan’ jerit Fredika.
‘’ lepaskan saja Vlous mu Bri,, aku akan membantu mu ‘’ pinta Okta, dan vlous sulur Briaz mengulur dan melilit ilit di tangan Okta, kaki dan leher, setidaknya ia bisa membuat Vlous Fyrd tidak fokus dan Briaz lebih bisa bernafas sedikit walau darah terus keluar banyak.
Sesampainya di kediaman Briaz, Briaz yang pingsan langsung di evakuasi oleh dokter yang sudah menunggu disana, diberikan donor darah dan obat obatan, semua nya bergerak sangat cepat mengingat mereka harus segera ke Rainermond, karena harus menyelamatkan Ratu dari eksekusi mati.
***
Okta berdiri di tengah puluhan petinggi Istana yang berkumpul, di ujung sana Ratu dengan posisi kepala terpasung batu dan kaki tangan yang diikat, beruntung mereka datang di saat yang Mulia Ratu itu nyaris di penggal kepala nya.
Briaz sendiri sudah sadarkan diri, ia masih terlihat lemah walau tak separah sebelumnya.
Dengan gugup bahkan tak berani melihat Yang Mulia Raja duduk di sangsana nya dengan agung, Okta hanya takut kalau kehadirannya tidak bias menyelamatkan yang mulia Ratu ataupun Briaz. Ia sudah memberikan tetesan darahnya sebagai bukti dari Diamond Fyrd yang ada di tubuhnya, perdebatan berjalan sengit karena ada kubu lawan yang tetap menginginkan Ratu di eksekusi tapi orang orang yang bertahan di sisi ratu juga tak kalah banyak. Hingga keputusan final yang diinginkan terjadi. Mengingat mereka juga tak punya waktu banyak untuk berdebat sementara di luar sana Iblis Hord sudah bangkit dan tentunya perang pasti akan terjadi karena mereka mengincar iblis Fyrd yang belum Bebas, Briaz memerlukan Okta untuk melenyapkan kutukan dan memberikan energy baru untuk nya saat nanti berhadapan dengan Hord, nanti nya mereka akan di bantu oleh semua penyihir yang di Istana dalam pelepasan Diamond Fyrd. Dan pernikahan Okta dengan Briaz sekarang didepan mata. Sementara itu kubu lawan tidak tinggal diam mereka yang memang sudah bekerja sama dengan Bianca ikut mengerahkan pasukan dalam perang yang pasti akan segera dating.
Dayang istana membuka tirai yang menghentangkan cermin besar, Okta berdiri di sana dengan balutan baju pengantin dari Negara sana yang terlihat berat mewah dan sangat mengagumkan. Kepala nya juga di beri mahkota yang tak kalah berat beban nya. Ia senang akan menikah dengan pria yang memang ia cintai walau mengingat perang yang terjadi membuat nya sangat sedih mengingat Briaz akan berhadapan dengan sosok monster yang mengendali kan Kevin.
Tapi ada hal lain di depan mata yang membuat nya kembali gugup, Jantung nya berdetak tidak karuan, ia bahkan masih terpaku dengan kenyataan ia akan menikah dengan Pangeran, dan itu benar benar seorang Pangeran dari tempat yang berbeda.
Beberapa dayang masuk dan yang mulia Ratu bersama Puteri fredika dating, yang mulia Ratu terlihat lebih baik sekarang dari keadaan nya yang di pasung. Dan tentunya kedua nya terlihat sangat agung dengan baju kebesaran mereka berdua.
Okta mengangguk pelan karena berat nya mahkota di kepala nya, tubuh nya juga di tuntut untuk seimbang agar benda itu tidak terguling walau sudha tampak kuat menancap di rambutnya.
Mat Fredika terbula lebar melihat Okta di sana.
‘’ kakak sangat cantiiiik’’ serunya menghambur kearah okta dan menyemat kedua tangan Okta yang sedingin es.
‘’ apa kakak gugup??’’
Okta hanya tersnyum dan mengerjap kan mata. Kegugupan nya tak bias di sembunyikan.
‘’ terimakasih puteri Okta..’’ kata yang mulia Ratu melihat okta dengan teduh, Okta membalas senyuman itu dengan hangat.
‘’ apa kamu sudah siap?? ‘’ Tanya yang mulia Ratu lagi.
‘’ iya yang mulia’’
Dan dengan di giring dengan sangat hati hati Okta beserta Fredika juga Ratu memasuki sebuah pergelaran pernikahan singkat. Kaki nya terasa sangat lemas dan jarak yang semakin dekat membuat nya benar benar ingin pingsan disana, namun matanya teralih pada sosok Pangeran yang sangat memukau di sana menunggu nya dengan senyuman yang hangat, Okta membalas dengan pipi makin bersemu merah.
‘’ apa aku terlalu tampan sampai mata mu nyaris keluar??’ goda Briaz saat mereka sedang di bacakan sesuatu saat pernikahan berlangsung.
Okta hanya meringis mendengarnya.
‘’ kamu sudah siap untuk tahap selanjutnya kan..’’ kata Briaz lagi. Membuat jantung Okta berdegub kencang lagi.
‘’ diam kau mesum’’
Briaz hanya tersenyum tipis mendengar gertakan Okta dengan posisinya yang tak bias menoleh ke kiri dan ke kanan.
*
Bianca dengan sengaja memperlihatkan bagaimana resepsi pernikahan Okta dan Briaz berlangsung melalui cawan besar. Kevin menatap marah ke sana hingga bergemuruh dengan nafas nya yang berat, ia merasa sangat cemburu dan marah tentunya.
‘’ aku akan membunuhnya’’ ucapnya dengan suara serak.ia lalu menghancurkan cawan itu hingga pecah.
‘’ tentu tuan, anda harus selamatkan Okta karena dia hanya akan di telantarkan setelah Briaz naik tahta’’ ucap Bianca dengan maksud tersembunyi, Hord harus membunuh Briaz agar Fyrd bias menyatu dengan nya dan seutuhnya ia bias mengendalikan nya.
‘’ kami sudah menyiapkan persiapan perang, sebentar lagi kita akan ke sana, persiapkan diri anda tuan karena saya yakin Diamond Fyrd sudah keluar dan Briaz akan menjadi lebih kuat, kalian sekarang menjadi sebanding’’
Benarkah,, menarik sekali, Kevin tersenyum tipis dengan mata nya yang menukik tajam. Lalu Bianca meninggalkan nya sebentar disana, sosok Kevin yang tadi berubah menjelma menjadi separuh dirinya, ia meringsut sedih karena melihat acara pernikahan Okta dan Briaz, kenangan bersama Okta seolah menjadi roller caster, cara nya tersenyum, cara nya bicara dan semua nya membuat nya benar benar tidak terima kehilangan OKta, bagaimana pun cara nya ia harus mendapatkan Okta lagi dan menyelamat kan nya dari nelangsaa
Ia terdiam menahan semua gejolak rasa sakit nya, saat membuka mata Kevin berada dalam lautan lepas di tengah di mana di atas yang terlihat jauh dan dasar yang tak berdangkal, di dasar sana terlihat sosok gadis yang ia kenal mengenakan gaun salem, sambil terisak. Okta menangis dan membuat nya semakin kedasar mendekati, Okta melihat keatas dengan tangis dan tatapan sendu
‘’ selamatin aku ya Vin…
Kevin semakin berenang ke dasar dimana kegelapan Hord sudah merasuki sekelilingnya ia pun seolah semakin terseret dan tercekik di sana hingga nafas nya habis.
Tak lama kemudian Bianca kembali dating dengan beberapa makhluk mengerikan yang jauh lebih besar dari nya, makhluk buas dengan gigi runcing dan menyeramkan.
‘’ aku mau kau melakukan sesuatu untuk ku’’ kata Kevin yang sudah kembali menjadi sosok Iblis Hord.
Bianca tersentak’’ apa itu tuan??’’
Bianca menimbang permintaan Kevin tapi ia tetap menyetujui nya toh sebentar lagi juga ia akan menguasasi Hord dan Fyrd.
Kemudian mereka keluar disana sudah terlihat jutaan pasukan makhluk besar mengerikan, buas denga gigi mencuat lapar, mata merah dan sosok yang berwarna hitam mereka tdak memiliki hidung bahkan ada yang hanya berupa mata satu, ada yang bertanduk dan bahkan tak berupa, pasukan itu bangkit setelah Hord di bangkit kan di tubuh Kevin waktu itu. Pasukan ini juga di ikuti kubu James dan Bianca yang membuat jumlah nya tambah banyak.
Dan ketika melihat Kevin semua nya tunduk dengan takut dan patuh.
Sementara itu Okta… dia sudah berganti pakaian, sedang mematung di biik dinding dengantangan sedingin es dan jantung makin parah detak nya, rasa gugup nya melebihi rasa gugub sebelumnya.
Sesekali ia menilik dan melihat Briaz yang sambil membuka baju nya, membuat nya semakin lemas tidak karuan.
‘’ Oktaaaaaaaaaaa’’
Okta tak menjawab ia sibuk menyibukan diri mengusir rasa gugup nya, dan kembali menilik ke dalam. Tapi yang ia lihat malah dada bidang Briaz yang menggiurkan disini.
‘’ aku pikir kamu pingsan’’ kata nya entah khawatir atau mengejek.
‘’ kita tidak punya waktu banyak, semakin kau ulur semakin cepat kita berpisah Okta’’
Okta mengangguk mengerti ia bahkan tidak berani menatap wajah Briaz, dagunya mendadak berat sekali. Briaz lalu menyadari kegugupan Okta disana, ia mulai ingin menggodanya.
‘’ apa aku perlu melepaskan baju mu??’’ bisik nya langsung di sergah Okta yang malah menginjak kaki nya, ia lupa kalau Briaz masih penuh luka, dan membuat Briaz menjerit kesakitan. Okta yang sadar akan kecerobohan nya meminta maaf dan merasa sangat bersalah. Tapi Briaz malah tertawa.
‘’ kau pikir aku selemah itu, ayo kita lakukan…’’
‘’ aa tidak, kenapa kamu nafsu an banged sih Bri.. ga ada romantic romantic nyaaa’’ kesal Okta
‘’ itu karna,, aah baiklah.. kamu suka ajakan yang romantic.. hmm
‘’ bu bukan begitu’’ pipi Okta kembali tersipu malu dan makin menyulut saat Briaz menghujani nya dengan tatapan mata nya yang selalu sukses membuat Okta menyerah.
Baiklah, Briaz lalu menggendong Okta dan meletak kan nya di kasur, detak jantung mereka kembali berpacu saat saling bertatapan, dan sedetik kemudian Briaz memulainya dengan ciuman nya.
‘’ aku akan menghapus jejak Kevin di bibir ini’’ katanya terlihat kesal mengingat bagaimana ia menemukan Okta sedang bercumbu dengan Kevin.
‘’ hey.. itu kan aku dalam pengaruh sihir, dan yang aku lihat itu kamu’’ terang Okta.
‘’ tetap saja’’ sahut Briaz lalu benar benar menyapu bersih sisa jejak Kevin di bibir itu hingga tak berbekas.
Entah berapa lama sekarang Okta berada dalam pelukan Briaz, jalan nya sangat panjang ia bahkan tak tidur hamper 2 hari setelah insiden di persembunyian Sandra kemaren. Dan sekarang ia hanya berupa tubuh yang sangat lemah. Namun ia terbangun dengan jantung berdetak cepat dan menyakitkan, semakin cepat dan memanas. Hingga terlihat sebuah cahaya merah keluar dari tubuhnya dan sebutir batu merah yang di sebut Diamond Fyrd itu jatuh di tangan nya. Okta sampai terkesima melihat keindahan batu berlian itu. Di pandangan lain ia baru sadar kalau Briaz menggeliat di dalam selimut dan meraung kesakitan. Ia segera membuka selimut dan melihat bagaimana Fyrd bergerak sangat aktif seolah menguasasi tubu Briaz. Okta memekik ngeri dan langsung memeluk tubuh Briaz dengan sejuta harapan Briaz akan baik baik saja. Dan keringat seperti membanjiri Briaz. Ia bangkit dengan sekujur tubuh sudah tidak luka lagi, luka sobekan yang ada Nampak menyatu dan tubuhnya menjadi lebih besar.
Okta memeluk Briaz dengan suka cita.
‘’ Bri… apakah aku tidak bisa di sana saja??’’ kata Okta sedih ia harus di bawa pergi setelah ini karna semua wanita dan orang Istana harus menjauh dari lokasi perang.
‘’ tidak, kamu harus ke Towngirs denga Ibu dan adik ku, di sana kalian aman’’
Tapi…., Okta menatap Briaz dengan nanar ia sedih harus melepas Briaz yang akan ikut perang dan ia adalah satu satunya harapan melawan Iblis Hord atau Kevin.
Briaz mengecup kening Okta dengan hangat.
‘’ kita pasti akan bertemu lagi sayang’’ ucap nya menenangkan Okta yang merasakan firasat buruk, tapi ia berusaha menyangkal nya.
Briaz lalu meletak kan punggung dan telapak tangan nya hingga berputar 5 kali di jidat Okta. Ini skinship ku… kamu dan aku pasti selalu terhubung’’ bisik nya lagi dan menguatkan bekapannya ke tubuh Okta yang terasa sangat tipis dan kecil. Terdengar suara ketukan pintu, itu tandanya ia akan berpisah dengan Okta melanjutkan tugas yang ada di depan mata. Dengan pakaian lengkap berupa baju baja dan senjata Briaz terlihat sangat kasatria, tapi itu membuat Okta semakin berat melepas Briaz, ia hanya berharap semua akan berakhir baik-baik saja.
**
Di luar sana seluruh prajurit Istana yang jumlah nya hampir menutupi kastil istana dan halaman istana itu tampak sangat siaga, awan yang sudah redup makin menggelap dengan sendirinya, mereka saling berpandangan cemas dan mengharapkan pertempuran ini akan di menangkan dan tak banyak korban jiwa.
Di sisi lain para penyihir yang berada di pihak Istana berkumpul melakukan ritual selama masa pelepasan Diamond Fyrd. Karena mereka harus membuat iblis Fyrd tetap bersemayam sementara di tubuh Briaz agar Briaz memiliki kekuatan sebanding dengan Iblis Hord yang berada di pihak musuh. Lalu tanah bergetar hebat, Fredika sampai menyemat tangan Venus karena terlalu takut hingga Venus sendiri merasakan degub jantung yang aneh.
Dan dari dalam tanah muncul makhluk berkelebat hitam yang besar besar dengan wajah mengerikan, mereka adalah pasukan Fyrd yang bangkit setelah pelepasan Diamond Fyrd itu. Jumlah nya sangat banyak dan tentunya tinggi nya melebihi makhluk hujan biasa.
Melihat itu semua nya sedikit tenang karena Fyrd sudah bangkit dalam tubuh Briaz.
Fredika dan yang mulia ratu segera masuk Istana untuk secepat nya membawa Okta keluar dari sana dana menuju lokasi yang lebih aman selama perang berlangsung. Saat di depan kamar Ratu berhenti.
‘’ aaa Ibu takut mengganggu ya?’’ tebak Fredika sukses membuat Ratu kaget putri nya itu terlalu nyablak dengan kata kata nya.
‘’ biar Fredika saja’ kata fredika antusias lalu maju kedepan siap mengetuk, tapi ia kembali mengurungkan niat, ia mendekatkan telinga nya ke sana.
__ADS_1
‘’ eeehmmmm’’ dehem Ratu melototo tingkah Putrinya ini.
‘’ baik baik..’’ Fredika lalu mengetuk pintu dan tak lama kemudian Briaz juga Okta sudah berpakaian Rapi, Briaz tampak lebih besar dan kasatria itu memeluk Ratu dengan sangat dalam. Dan Okta mendapat pegangan oleh Fredika, ia bisa merasakan bagaimana perasaan pasangan pengantin muda itu dipisahkan sementara waktu walau akhir nya masih semu.
Okta, Fredika dan ratu masuk dalam 1 kareta , rombongan itu terdiri 3 rombongan 2 rombongan sebagai pengecoh, khawatir kalau mereka akan di ikuti, dan ketiga rombonga ini segera meninggalkan Istana dengan jalan yang berbeda.
Okta menilik keluar terlihat awan hitam yang terlihat sangat mencekam lalu terdengar suara terompeet bergema sangat lantang tanda musuh sudah mulai dating menyerbu.
‘’ Ibu aku takut’’ kata Fredika sambil terus meremas jari Okta. Okta yang merasakan sama terus merasakan firasat buruk, semoga saja pikiran nya salah semoga saja Briaz bisa memenangkan perang dan ia dapat kembali bersama Briaz.
‘’semua akanbaik baik saja’’ kata yang mulia Ratu mencoba menenangkan Fredika.
Barisan sekutu prajurit yang sudah berpakaian perang terbuka, Briaz yang berada di atas kuda berjalan perlahan kearah depan di iringi Venus pengawal kepercayaan nya, mereka berjejer di urutan paling depan, dimana sudah di penuhi pasukan Fyrd yang membentengi para prajurit istana dan panglima perang yang berbadan tangguh.
Di depan Baginda Raja dan para kasatria lain sudah siap dengan segala serangan.
Terlihat dari kejauhan langit semakin hitam dan berarak kesana.
‘’ mereka sudah tiba’’ kata Baginda Raja.
Lalu terdengar terompet melolong lantang menandakan musuh sudah tiba.
Briaz dan Venus saling berpandangan satu sama lain saling menguatkan akan perang pertama yang mereka hadapi. Segala kemungkinan akan siap mereka terima.
Briaz kembali melihat kedepan dimana pergerakan itu semakin cepat mendekat, namun ekor matanya bisa merasakan pergerakan di lain arah.
‘’ Venus… susul rombongan Okta…. Mereka seperti nya mengetahui arah Okta juga ratu di bawa’’titah Briaz. Venus mengangguk dan mengalihkan kuda nya berlari kearah utara dengan sangat cepat, sementara itu pasukan Hord sudah tiba di seberang sana dengan seringaian buas dan lapar oleh para pasukan itu. Di sisi lain juga ada para prajurit di kubu James yang tak terlihat di sana. Kevin berada paling depan tepat berseberangan dengan Briaz.
Dalam hitungan detik kedua kubu pasukan Fyrd dan Hord maju saling serang, mereka saling membunuh dan bergulat disana. Dan para prajurit yang juga melawan para prajurit namun pihak Hord juga ada yang langsung menyerang prajurit Istana maupun Panglima.
Di depan Briaz, Kevin tersenyum sinis. Mereka berputar dengan senajata dari masing masing, Briaz dengan cabik besar dan kevin dengan Bongkahan besar yang siap meretak kan otak briaz kapan saja.
‘’ aku yakin kamu bisa mendengar ku Kevin’’ kata Briaz belum mengubah dirinya sepenuhnya, berbeda dengan Kevin yang sudah berubah fisik menyerupai monster mengerikan.
‘’ perang ini hanya akan membuat pertumpahan darah .. apa kau juga ingin tubuh mu di kuasai iblis itu…’’
‘’ diam saja kau sialan’’ hardik Kevin dengan suara berubah, parau dan berat. ‘’ kamu yang membuat ku memilih melakukan nya, aku tidak akan membiarkan lagi kamu memanfaatkan Okta untuk kekuasaan mu’’ lalu Kevin menyerang lebih dulu, Briaz berkelit dan membalas serangan dengan cabik an nya.
‘’ aku tidak pernah memanfaatkan nya’’ serang Briaz namun lepas. Kevin berputar sangat ceoat dan memukul Briaz hingga Briaz terjatuh di kuda dengan darah langsung keluar dari mulut.
Kevin turun dari kuda nya, berjalan kearah Briaz.
‘’ cukup drama mu sialan, dan jangan sok kuat rubah saja fisik mu agar kita seimbang, aku tak ingin perkelaian ini tidak seimbang’’
Briaz bangun dan kembali menyerang, pedang di tangan kiri nya menembus keher Kevin tapi kelebihan Kevin adalah mampu menyembukan luka nya dengan sangat cepat.
‘’ Ha… bagus juga keahlian mu, baik… ‘’ Briaz lalu membiarkan Fyrd mengambil alih posisi nya, kulitnya ikut menghitam dengan sisik yang menyerupai duri beracun, matanya menghitam dan postur nya bertambah besar.
Kevin dengan senang hati kembali menyerang Briaz dalam bentuk yang ia inginkan.
*
Pasukan Hord yang di pimpin Bianca dan James mengejar rombongan yang membawa Okta, Ratu dan Fredika.
Bianca tertawa puas dengan semua rencana nya yang semakin lancar. ‘’ mau kemana kalian, kalian pikir bisa mengecoh ku…’’ ucap nya dengan nada berat dan mengencangkan pegangan nya ke makhluk buas yang ia kendarai.
Sementara itu rombongan yang sedang mereka kejar semakin laju memasuki jalanan setapak di hutan yang gelap. Satu satu pengawal yang mengging berguguran karena hujanan panah yang datang dari segala sisi. Dan dari belakang kilatan cahaya datang menyambar menghujam tanah, dan membuat longsor, sebagian pengawal lengser jatuh kejurang.
Para pengawal semakin intens melakukan serangan balik, sesekali mereka memanah dan beberapa musuh yang bersembunyi berjatuhan.
‘’ mereka sepertinya mengetahui jalan ini, sial’’ umpat salah satu pengawal yang dengan siaga menembak kan panah.
Beruntung mereka juga di kawal para pasukan fyrd yang ikut melakukan serangan balik walau tidak menutup kemungkinan serangan di belakang semakin menyamakan kecepatan kuda yang membawa Okta, Ratu dan Fredika.
Kereta itu miring dan kuda berhenti sebentar hingga isi nya bertubrukan dan kembali berlari kencang sesekali terdengar suara deguman keras.
Fredika membuka tirai dan matanya membelalak kaget melihat jumpal pengawal di belakang yang berkurang juga serangan dari belakang.
‘’ Ibu.. kita di ikuti dan diserang’’ pekik Fredika membuat Ratu dan Okta semakin tegang.
‘’ kalau begitu tidak ada cara lain’’ kata Ratu lalu membuka tataan rambutnya yang, rambut panjang itu terurai indah. Ratu mengikatnya keatas lalu membuka jubah kebesaran nya, yang di dalam nya adalah baju besi.
‘’ Ibu’’ kaget Fredika melihat Ibunya seperti petarung, dan memang riwayat Ratu dulunya adalah seorang petarung sebelum menikah dengan baginda Raja dan meninggalkan dunia nya
Ratu tidka bisa menjelaskan detail, ia memberikan Okta dan Fredika sebuat cabik kecil.
‘’ gunakan ini jika kalian dalam bahaya, dan kamu Fredika.. bawa Okta ke hansdewn, di sana sepertinya lebih aman’’
Fredika mengangguk singkat.
*
Pertahanan pengawalan semakin sedikit, hanya tinggal beberapa pengawal yang menjaga kareta itu, dan kini Bianca sudah berada di sebelah nya, dengan bantuan makhluk mengerikan yang ia tunggangi, makhluk itu menyantap hidup hidup panglima, dan 2 yang lain segera melakukan serangan ke makhluk itu, Bianca melompat ke atas kareta dan masuk kedalam nya. Kareta itu kosong, namun sesaat kemudian tangan nya di serang di tusuk dengan pedang, dan kareta terbelah, Bianca terjatuh tergantung di atas kuda, di atas nya Ratu kembali menyerang. Bianca bisa berkelit dan naik keatas langsung memukul Ratu dengan sihir nya. Ratu terjatuh da terguling di jurang. Dan tubuhnya menabrak tumbangan pohon besar. Saat bangkit Bianca melompat ke atas nya dan memukul nya sekali lagi.
‘’ ini balasan terhadap kematian anak ku..’’ erang nya lalu menarik Ratu dan menubrukan nya ke pohon dengan keras.
‘’ apa maksud mu Bianca, kenapa kamu jadi seperti ini’’ kata Ratu dan sekali lagi tubuh nya di tabrakan ke pohon itu.
‘’ anak ku juga mengalami kutukan Fyrd dan harus mati, giliran kau.. hah keegoisan mu sialan… kau menyembunyikan Pangeran’’
Ratu kaget dengan penuturan Bianca, ia memutar tubuhnya dan menedang Penyihir yang sebenarnya adalah sahabat nya juga, ia bahkan tidak tahu kalau Bianca pernah melahirkan seorang anak.
‘’ aku tidak pernah tahu kamu punya anak’’
‘’ mana ada aturan penyihir harus menikah…’’
Dan dua wanita ini kembali bergelut.
‘’ aku minta maaf Bianca, tapi aku tidak punya pilihan, Briaz adalah penerus kutukan fyrd yang terakhir, kalau dia juga mati maka Hord akan bangkit’’
Aku tidak mau dengan ocehan sial mu ‘’ Bianca kembali menyerang kali ini dengan pedang nya. Ratu berkelit dan mengunci tangan Bianca.
‘’ kalau kau hanya membenci ku sampai melakukan ini, bunuh saja aku, tapi kumohon hentikan. Kamu tahu sendiri kamu bersama Iblis, dia akan memperdaya mu.
Bianca tertawa lepas’’ aku tidak akan menuruti kemauan mu, kalian semua harus jadi budak ku’’ ia lalu memutar tubuhnya keatas dan menendang kepala ratu hingga Ratu terhuyung dan jatuh ke rawa. Bianca kembali melakukan serangan, pedang itu menhujam dadanya
‘’ aku beri kesempatan’’ katanya terus mencoba membujuk Bianca.
Tapi Bianca semakin kuat memperdalam tusukannya.
‘’ baik ini pilihan mu Bianca’’ Ratu lalu mengerahkan tenaga nya berputar dan memukul tangan Bianca, ia mengerang keras dengan pedang yang menancap di tubuhnya, dan mencabutnya dengan cepat, darah seperti air mancur keluar. Bianca hendak bangkit tapi ujung pedang sudah di depan matanya. Ratu juga terlihat sangat lelah.
Saat pedang itu benar akan menusuk mata Bianca ratu kembali terhuyung karena sebilah panah mengenai punggung nya.
Bianca merisut naik, James datang dengan sejuta senyum.
‘’ tragis sekali kematian mu yang mulia Ratu’’ umbar nya melihat Ratu yang semakin lemah.
Bianca kembali mengambil pedang nya dan mengayunkan ke arah Ratu, namun tindakannya gagal karena Venus datang melompat dan mendorong Ratu.
Venus datang disusul pengawal lainnya, merasa terancam Bianca dan James segera melarikan diri.
‘’ yang mulia Ratu’’ Venus membantu ratu berdiri, wajahnya sangat pucat dengan darah terus keluar namun ia masih bisa tersenyum dan tertolong dengan kedatangan Venus.
‘’ aku baik baik saja, kamu kejar Okta dan Fredika, mereka melarikan diri ke hutan sebelah selatan’’ kata Ratu dengan suara tersengal sengal.
*
Hutan yang gelap,
Pengawal yang bernama dorm memotong semak belukar agar okta dan Fredika bisa melewatinya tanpa tertusuk duri. Dan Panglima lain di belakang terus waspada menjaga mereka dengan sangat siaga.
‘’aaawwww’’ Fredika berhenti karena lengan nya teriris ranting pohon yang runcing.
‘ kamu tidak apa apa??’ cemas Okta melihat luka menganga itu, ia lalu merobek baju nya dan melilitnya kesana.
‘ hati hati’ Okta kembali memegang fredika dan menariknya berjalan dalam gerak hanya mengikuti suara sabetan semak semak di depan.
Kemudian terdengar suara langkah kaki berlari menuju kesana, dan sabetan pedang di belakang dengan suara teriakan dari prajurit yang kemungkinan tewas.
‘ lari’’ perintah Panglima di belakang. Secepat itu Okta dan Fredika lari tanpa melihat kebelakang, dan mereka semakin ketakutan karena di belakang sudah tidak ada panglima yang menjaga mereka. Fredika lagi lagi tersangkut, dengan cepat Okta menyingkirkan pohon yang menyangkut kaki Fredika.
‘’ lari aja kaa… tinggal kan Fredika di sini’’ suruh fredika.
‘ tidak akan, kita harus selamat sama- sama’’
Lalu pohon itu berhasil Okta angkat walau ia merasa tangan nya nyaris copot karena beban nya yang sangat berat. Mereka kembali berlari tanpa melepaskan tangan, Fredika yang ketakutan sangat memegang erat tangan Okta namun beberapa meter ia merasa yang ia pedang bukan sebuah tangan setelah melihat nya hanya ranting pohon, Okta tak terlihat batang hidung nya.
*
3 jam berkeliat saling menghujam dan melakukan serangan, terlihat mayat mayat prajurit bergelimpangan di mana mana entah itu dari kubu Instana atau lawan, yang bertahan hanya beberapa Panglima dan tentara pasukan fyrd maupun Hord itu pun jumlah nya sudah sedikit. Di tengah sana Kevin dan Briaz tersengal dengan serangan mereka. Pertahanan Kevin maupun Briaz sama sama menitip namun keduanya masih berjuang saling membunuh. Beberapa kali Briaz terlempar karena bongkahan batu yang menjadi senjata Kevin menghujam dirinya dan Kevin juga berkali kali di serang Briaz dengan sabit yang siap mencabik cabik kulitnya. Hingga pergerakan terakhir Briaz mengerahkan seluruh kekuatan Fyrd , sampai Kevin terlempar jauh, dan dengan kecepatannya ia menuju kearah Kevin dan menyerang nya lagi dengan sabit besar ke kepala Kevin dan leadakan besar terdengar. Sedetik kemudian di tengah kabut kepulan debu, Kevin berada di lubang yang menganga, ia tampak susah payah bergerak dan kesakitan. Dengan vlous fyrd ia menahan semua vlous Kevin hingga Kevin benar benar lumpuh total. Dan para panglima datang membawa tubuh Kevin yang tak sadarkan diri disana memasukan nya ke dalam kandang yang sudah di beri mantra penjaga.
Tumbang nya Kevin membuat tentara pasukan Hord lenyap seketika, dan langit yang hitam kembali menghilang yang terlihat hanya lautan darah yang mengalir di mana mana.
Briaz merasa lega perjuangan nya tidak sia sia walau ia sendiri terluka cukup parah dan kembali tersungkur.
2 jam berlalu, semua sibuk memberitkan pertolongan pada prajurit yang terluka dan para Penyihir yang menyiapkan ritual selanjutnya untuk melepaskan iblis Fyrd di tubuh Briaz dan Hord di tubuh Kevin.
‘’ semua sudah berakhir nak’’ Bagianda Raja menepuk bahu Briaz yang menatap cemas ke depan sana, ia masih menunggu keluarga dan istrinya Okta yang tak terlihat juga.
‘ mereka pasti selamat’’ Baginda Raja menenangkan kegundahan Briaz. Briaz hanya membalas dengan senyuman sambil memegang perut nya yang terluka.
Di depan sana terlihat beberapa pasukan kuda dari kubi Istana, ia kembali tersenyum senang melihat nya, dan tak berselang lama yang mulia Ratu dan Freadika datang tanpa Okta. Matanya mencari kesetiap penunggang kuda tapi Okta tak terlihat.
‘’ dimana Okta??’’
__ADS_1
Fredika turun dari kuda dan menatap nanar kearah Briaz.
‘’ maaf kak, Okta menghilang’’