Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
26-Diamond Fyrd


__ADS_3

CHAPTER 26*


“ Diamond Fyrd”


‘’ kalau begitu kita ke Italia’’


‘’ APA’’


Briaz hanya melihat kelucuan dari ekpresi okta yang kaget ia sampai tak bias bicara lagi setelah aku menginjak pedal gas dan membawa nya kencang.


Kami tiba 20 menit di bandara, Okta masih berpegangan dengan wajah syok sampai pucat pasi bagaimana tidak Briaz ngebut gila gilaan di sana, tidak peduli banyak pengendara lain di depan.


Jantung nya kembali berdetak keras saat Briaz kembali melepaskan sabuk pengamannya, mata nya sampai mengikuti kemana arah bibir itu, sedikt berpikir ngeres tapi bibir itu hanya berlalu begitu saja.


‘’ serius kita ke Itali??’’ pekik Okta kaget melihat nya sudah berada di parkiran Bandaran.


‘’ aku ada bisnis di sana, temenin aku’’ kata Briaz cuek ia lalu kembali menelpon.


‘’ Itali, waduuh aku harus mengabari Viola’’ piker Okta mengambil Hpnya dan mencari kontak Viola atau susan, tapi belum sempat ia menekan tanda telepon Hp itu sudah di rebut Briaz yang khawatir Okta mengetahui berita tersebut dari layanan internet di Hp nya.


‘’ pesawat nya mau berangkat, ayo’’ Briaz langsung menarik Okta dan menyembunyikan Hp itu, Okta yang kaget hanya bias menurut tanpa menuntut telpon genggamnya.


Sebuah mobil mengantar nya ke sebuah pesawat yang seperti sudah menunggu nya.


Okta kembali kaget dan heran dengan bangku kosong di sana tak ada seorang pun di pesawat itu selain mereka berdua, pertama ia diam berpikir mungkin penumpang lain belum dating, tapi saat pesawat mau berangkat ia kembali melihat ke sekeliling, hanya ada beberapa pramugari di sana.


‘’ Bri


‘’ hanya kita penumpang nya’’ jawab Briaz mengetahui kebingungan Okta, ia sambil asik melihat layar datar tablet nya.


Okta kembali duduk dengan bingung masih menyelimuti.


‘’ sekarang kita beneran ke itali??’’ Tanya nya lagi masih saja tidak percaya.


‘’ ya’’ sahut Briaz tanpa mengalihkan pandangan dari layar datar itu, padahal ia sedang berusaha kuat menahan gejolah fyrd , ia tak ingin Okta akan terdonasi meresakan sakit menahan serangan fyrd.


‘’ke Itali, ya aaampuun seperti mimpi,, berdua dengan Briaz.. ini fakta kan’ ‘


‘’ kenapa kamu senyum senyum sendiri??’’ Tanya Briaz sukses membuat Okta tergagap dan menyembunyikan rona pipinya yang merah.


‘’ ga…’’ jawab nya ketus lalu kembali meluruskan pandangan.


Saat pesawat mulai menukik naik, refleks ia mengerutkan kemeja Briaz lalu memejam mata merasakan bagaimana pesawat itu akan menyeimbangkan tubuh besinya yang besar.


Briaz hanya tersenyum kecil dan berpaling khawatir kalau Okta melihat nya tersenyum seperti itu.


‘’ eheeeem’’


Okta langsung melepas tangan nya dengan malu.


‘’ kau bahkan meninggalkan sentuhan mu Briaz,, apa ga boleh aku berpegangan karena pesawat yang naik ke atas’’ Okta mengumpat dalam hati.


Rasa sebal Okta sedikit berkurang karena pramugari membawa kan nasi goreng dan ayam tepung dalam jumlah besar.


‘’ kamu suka makan itu kan.. dan banyak’’ kata Briaz membuat Okta mengangguk malu, tapi ketika ia berhadapan dengan yang namanya makanan rasa malunya mendadak hilang.


Briaz melihat Okta dengan gemas, ia juga hera kenapa menyukai gadis yang tukang makan seperti itu, tapi ia sedikit lega setidaknya Okta tidak makan sedikit lagi saat dengannya beda dengan saat ia mengajaknya makan dengan raut tak seakrab sekarang.


Jika saja pertemuan nya baik dan menyadari perasaan nya mungkin di depan nya ini bukan milik orang. Sesaat ia merasa tubuh nya di serang fyrd, ia lupa kalau ia harus menahan semua nya.


Setelah makan Okta bahkan memakan habis kue yang tersedia. Anak itu uring uringan tidak jelas hingga tertidur dan kepala nya bergerak ke samping kanan dan ke kiri, ketika hendak kea rah kiri ia segera menangkap nya perlahan meratakan nya dna segera kembali duduk di tempat nya menyandarkan kepala itu ke bahu nya, dan dengan sengaja ia meletak kan punggung tangan nya membolak balik hingga lima kali, setidaknya setelah menyentuh kulit Okta energy nya bias sedikit membaik.


Sesekali ia meniup rambut Okta yang mengganggu wajah Okta, sampai ia membetulkan sendiri menyematkan ke pinggiran telinga nya. Wajah Okta langsung membius nya, wajah itu sangat cantik saat tertidur walau ada sedikit iler di sana.


‘’ lucu sekali aaah bagaimana bisa aku membiarkan mu tersakiti lagi’’ katanya bicara sendiri.


**


Aku membuka mata dan melihat kedepan dengan kabur, saat ku kucek baru terlihat dengan benar, aku melap iler ku tanpa masih sadar aku di pesawat.


Pesawat benar, aku beneran di pesawat dan ingat aku baru saja tertidur di sana dan, aku melihat ke sebelah Briaz masih duduk dengan tablet nya.


‘’ sudah bangun??’’ Tanya nya entah kenapa terlihat sangat menawan, aku lupa kalau ada Fyrd yang haus, dan godaan godaan yang dating pasti 50% ulah Fyrd.


‘’ iya, di mana kita?? Sudah sampai??’’


‘’ belum, kita di Jakarta. Turun lah dlu’’ katanya ramah.


Dan aku sadar kalau pesawat yang mengangkut kami sudah diam di tempat dan dia sengaja tidak membangunkan ku kalau sudah sampai sedari tadi.


‘’ kenapa aku tidak di bangun kan kalau sudah sampai’’


‘’ aah itu, tidur mu nyenyak sekali aku takut kena tinju mu kalau aku membangun kan mu’’ jawab nya lalu berlalu.


‘’ tinju?? Emang aku petinju??’’


Aku mengekorinya masuk kedalam mobil lagi dan mengantarkan kami ke sebuat pesawat lain. Saat masuk aku kagum dengan kemewahan di sana dan tak seperti banyak kursi. Kemungkinan itu adalah pesawat pribadi Briaz mengingat orang itu sangat kaya.


‘’ kita berangkat sebentar lagi?? Apa kamu mau ganti baju dulu??’ tawar nya lalu dating seorang pramugari membawakan paperbag .


Aku mengangguk dan mengambil paper bag itu, 5 menit kemudian dres hijau lumut beralih ke tubuh ku, terasa lebih nyaman dari pada seragam kerja ku, aku keluar dari sana berjalan meuju tempat semula tiba tiba saja pesawat itu mulai bergerak naik, aku kehilangan keseimbangan, tubuh ku reflek terhuyung kearah Briaz. Tapi tak seromantis di film, tubuh ku menubruk kepala dan aku terguling di bawah. Bukan rasa sakit yang aku rasakan tapi rasa malu.


‘’ kamu tidak apa apa?’’ Tanya Briaz membantu ku bangun yang sudah merasa ini muka mau di buang saja.


‘ ya ga papa,, bhaha maaf yaaaa’’


‘’ ga papa… kemari lah…’’ katanya beruntung tidak mengejek ku, aku duduk dengan gugup lagi ke sebelah nya. Dan sedikit malu malu kucing, entah kenapa kalau bersebelahan seperti ini rasanya mau sembunyikan saja ini muka, muka ku pasti sangat merah dan tangan ini tak berhenti menggenggam dengan gugup luar biasa, berapa lama kah lagi pesawat ini akan membawa ku, apakah boleh selama nya aku duduk disebelahnya, ya ampun apa yang aku pikirkan. Apa aku berniat ingin mengatakan perasaan ku, apa yang akan ia lakukan nanti, dia pasti akan menertawakan ku.


Mata ku sampai tak focus melihat layar Tv yang sedang memutar acara kartun, sesekali aku melirik ke samping Briaz masih sibuk berkutat dengan tablet nya, rasa bosan mulai menggerogoti ku.

__ADS_1


‘’ itu….


Briaz menoleh kearah ku, dan tu mata rasanya ingin aku cium, sumpah laki hot banged.


‘’ ya??’’


‘’aaah,, tidak emm,, ini Hp ku mana ya, tadi kalo ga salah sama kamu kan’’ kata ku mencari alas an.


‘’ aah iya,, dalam koper di sana’’ kata nya dengan mata menukik ke atas.


‘’ oh ya sudah’’ jawab ku kembali melihat ke depan, ‘’ lebih baik aku nonton kartun saja walau tidak tau alur nya’’


Lalu pramugara di sana dating membawakan makanan ringan yang banyak juga juice mangga.


‘ thanks’’ kata ku pada pria muda nan maskulin.


Pria itu tersenyum manis dan berlalu, aku tanpa sadar melihat siluet nya bukan bermaksud apa hanya saja kalau tidak salah tadi di rambut nya ada sesuatu.


‘’ mas..’’ panggil ku


‘’ disini saja’’ lalu Briaz menarik ku kembali ke bangku.


Wajah nya tampak di tekuk’’ jangan genit genit an dengan dia, dia sudah punya istri dan 3 anak’’ kata Briaz melihat ku sepintas, mata nya yang hot menyipit tidak jelas.


‘’ apa 3 an..


‘’ permisi, mba memanggil sa- aah iya baik’’ si pramugara yang aku yakin usia nya lebih muda dari ku kembali berlalu seolah melihat setan. Aku menoleh ke samping, Briaz kembali mengalihkan pandangan ke tablet nya.


‘’ kalau lelah, selonjor saja..’ kata nya lagi.


Aku merasa kaki ku menjadi lelah setelah kata kata nya, dan menarik kursi panjang yang membuat kaki ku bertengger apik disana.


‘’ pakai selimut, kaki mu nanti dingin’’ kata Briaz lagi. Dan aku menurut.


‘’ tidur saja kalau mengantuk, nanti aku bangunkan kalau makanan sudah siap’’ katanya lagi.


‘’ siap boss’’ sahut ku lalu menyandarkan punggung , teparan ac membuat ku semakin nyaman dan tontonan ku membuat ku ikut terjaga sesekali aku tak tahan menahan tawa karena ulah si larva yang kocak walau jorok. Dan sesekali juga aku melihat kearah Briaz yang ternyata malah tertidur, tablet nya menggantung di tangan dan nyaris jatuh. Segar aku ambil dan ku letakan di meja. Melihat nya tidur seperti itu pasti bangun nya pegal, aku minta bantuan di pramugara itu untuk menyandarkan kursi dengan pelan jangan sampai membangunkan Briaz. Aku juga menselonjorkan kaki Briaz biar ia bisa tidur dengan nyaman, sepatu dan kaus kaki nya ku lepas. Si vlous Fyrd lalu merangkak naik dan melilit tangan ku, sontak seperti ada aliran listrik yang penuh candu, aku menikmatinya sesaat lalu vlousitu aku lepaskan dan mencari peraduan baru, setidaknya Briaz akan lebih nyaman kalau aku tidak di sebelahnya.


Bolak balik kekiri dan ke kanan, tapi mata ku belum bisa tidur, mungkin karena tadi sudah tidur. Acar tv pun terasa membosan kan. Di belakang terdengar suara gentingan kaca, aku yang penasaran mencoba menengok dan melihat Adam, pramugara itu sedang sibuk menyusun botolan minuman.


‘’ oo aku pikir siapa’’ kata ku setengah kaget.


‘ oh iya mba, ini lagi beresin minuman, mba ga tidur??’’


‘’ belum ngantuk’’ jawab ku sambil melihat aktivitas si Adam, kebetulan nametag nya tertera nama nya.


‘’ udah lama mas jadi pramugara??’’ tanya ku iseng, mencari teman ngobrol.


‘’ udah 2 tahun mba’’ jawab nya sambil tersenyum dengan lesung pipit di kedua sisi, muka nya entah kenapa tampak familiar.


‘’ ooo lumayan yaa, kalau pergi anak anak nya pasti bakal nyariin dong ya’’


‘’ ya anak mas lah, masa anak saya, hhaaa’’


Adam menaikan alisnya bingung’’ pacar aja ga punya mba, apa lagi anak-bini’’ cuap nya sambil tertawa singkat.


‘’ belum, tadi kat- bukan apa apa… hahaaa’’ aku menggaruk tekuk yang tak gatal.


‘’ oh ya mba, tadi seragam mba kerja di Hotel ya??’’


‘’ iya, kok tau??’’


‘’ soal nya sama seragam nya dengan sepupu saya’’ umbar nya lagi.


‘’ sepupu?? Siapa??’’


‘’ Maya’’


‘glek’’


Aku menepuk jidat ku sendiri’’ ya ampun kok dunia sempiit ya, Maya itu sohib aku Mas Adam dan kami terlibat obrolan mengenai tingakah Maya, Adam juga membahas mengenai Adrian pacar nya Maya yang juga adalah teman nya sendiri, dunia itu memang sangat kecil kalau kebetulan seperti itu.


‘’ Okta… ngapain kamu disini’’ suara baritton berat yang aku kenal dan aura fyrd yang menyeruak. Aku memutar arah kepala, Briaz di sana dengan mata merah karena baru bangun.


‘’ Ah Bos, lagi menghilangkan suntuk ngobrol sama Adam ternyata di


‘’ kembali ke sana’’ sela Briaz dengan nada kurang enak di dengar. Aku langsung berdiri.


‘’ dan kamu, siapa nama mu.. aah Adam.. siapkan makan malam kami’’ suruh nya pada Adam.


‘’ baik pak’’ jawab Adam sopan.


Aku melambaikan tangan pada Adam dan mengekori Briaz.


‘’ kenapa disana, di situ’’ omel anak itu melihat ku yang duduk di seberang, bibir nya menunjuk tempat duduk ku sebelumnya.


‘’ apa siih marah marah gaje…’’


‘’ hah apaan?? Gaje


‘ ga jelas’’ perjelas ku


Tak lama kemudian Adam datang dengan membawa berbagai menu lauk yang terlihat enak, buah dan juga sayur,jugaa kue.


Okta dengan antusias menjilat bibirnya melihat makanan di sana yang terlihat sudah siap ia makan.


‘’ kalau mau tambah lagi nanti saya ambikan’’ kata Adam menawarkan.


‘’ ga usah dam, ini kayak nya udah muat ama perut ku, be te we.. kamu mau ikut makan di sini??’’

__ADS_1


Adam terlihat kaget dengan ajakan ku, ia lalu melihat kearah Briaz, aaah lupa kalau bos nya ada di sebelah ku, aku bahkan juga sudah lupa kalau dia Bos ku juga.


‘’ hmm gimana bos??’’ tanya ku


‘ ga ga usah mba, saya permisi dulu’’ kata Adam cepat cepat.


Aku melihat punggung Adam dengan heran, Adam terlihat takut begitu.


‘’ jangan pecicilan… nanti aku harus bilang apa sama pacar kamu’’ kata Briaz di sana dengan wajah ditekuk.


‘’ pecicilan, iihk.. kan aku cuman kesepian jadi ga salah nya ajak dia ngobrol.. lagian kalau mau ngadu ngadu aja,’’ jawab ku sambil menyendok suiran ayam yang terlihat banyak minyak sambel nya.


‘’ kenapa tidak membangun kan ku kalau kamu kesepian’’


‘’ mana ada anak buah membangun kan atasan nya’’ sahut ku asal lalu tersenyum singkat.


Briaz meringis’ emang sejak kapan kamu bersikap sopan dengan atasan mu’’


Aku tergelak dengan makanan di mulutku, benar juga, malahan yang ku ingat dia kuperlakukan semena mena.


‘’ nanti sebentar lagi’’ jawab ku pelan sepelan mungkin dan kembali menyantap makan malam kami. Dan sukses semua makanan untuk ku sudah berpindah lagi kedalam perut. Aku sampai di lihat aneh oleh Briaz tapi ia tidak mengeluarkannya.


‘’kalau mau tambah aku ambil kan’’ kata nya menawarkan.


‘ ga usah kan aku bisa panggil Adam’’


‘’ aku yang ambilkan deh, kamu mau apa??’’


Aku melihat nya heran dan sedikit tersipu dengan kebaikan nya.’’ Ga usah udah kenyang’’ jawab ku kembali memalingkan wajah yang merona.


‘’ perjalanna masih lama, kalau ngantuk tidur saja Ok’’ kata nya setelah 15 menit dari acara makan malam kami.


‘’ iya siap’’ sahut ku sambil mencari chanel tontonan yang menarik tapi kebanyakn isinya hanya kartun dan music.


‘’ ga ada gossip??’’ tanya ku.


Dan spontan remote itu beralih ke tangan Briaz.


‘’ tonton Kartun aja, kebanyakan gosip bisa merusak otak’’ kata nya dengan aneh dan menyembunyikan tu remote. Ia lalu kembali membaca majalah yang tadi sudah aku bolak balik yang isi nya berupa bisnis bisnis dna hal hal yang tak menarik.


Aku menenggelamkan pandangan ke depan sana, melihat tokoh kartun dengan bahasa inggris. Sesekali aku merasa tubuh ku seperti di tusuk tusuk, aku meringis namun kembali sakit itu menghilang, Briaz pasti juga merasakan yang sama, aku kembali melirik dan melihat bagaimana tatto yang menyembul di kerak kemeja nya bergerak, tapi Briaz tampak menahan sakit nya.


“kenapa dia tidak mencium ku siiih, kan setelah ini bisa aman.. , apa ia menahan nya berkali kali lipat agar aku tidak terlalu kesakitan..’’


Aku larut dalam pikiran ku sendiri sampai lupa alur si kartun yang berupa bola bola tak jelas itu.


Makin di pikir makin gelisah, apalagi dalam situasi berduan begini, di pesawat pribadinya yang super romantis ala aku. Aku sampai beberapa kali menggaruk rahang, rambut hingga kaki karena pikiran pikiran sliweran yang tak jelas itu.


‘’ kamu elergi kulit Ok??’’ tanya Briaz mengejutkan ku.


‘’ elergy.. tidak’’ aku langsung meringis malu, ya ampun Oktaa!!! Masih untung bukan di kira kudisan.


Jam tangan ku sudah menunjukan jam 1 malam, mata ku masih melek apalagi ada Briaz yang di sebelah dengan pengaruh setan si Fyrd bergentayangan di kepala ku. Ingin mencium pasti bakal dikira cewek apaan, ingin di tahan,,, rasanya tubuh ku susah bekerja sama.


Sial nya kenapa Briaz yang seharusnya juga merasakannya tidak bertindak sedikit pun, jangan kan mendekat, ia malah bersandar ke jendela dengan majalah di pahanya.


‘’ dia pasti menggunakan Diamons Hord untuk mengurangi sakit nya jadi dia tak bermasalah, aah apa aku juga meminum nya ya, siapa tau membantu’’


‘’ Bri.. ssst sssssst’ panggil ku mendesis desisi kayak ular.


Briaz mehadap ku dengan alis terangkat.


‘’ itu, hmmm kamu punya obat Diamond Hord tidak??’’ pinta ku setengah malu bersembunyi denga selimut.


‘’ untuk??’’


‘’ ya komplak ni Boss si pinter si kaya kok ga peka amat sih’’. ‘’ buat bikin obat jerawat, ya bukan lah, buat aku minum’’ kata ku judes lagi.


Briaz mengambil kan nya untuk ku dan dengan santai ia kembali sibuk denga aktivitas nya.


Aku segera minum obat berwarna pink itu, dan 1 jam berlalu tidak ada reaksi apa pun, malahan aku merasa tubuh ku panas dingin, Fyrd rupanya ingin menyerang melalui daya imun ku.


‘’ bukan nya aku sudah bilang, kalau kamu tersiksa bilang’’ kata Briaz sesantai mungkin.


Aku melirik nya dengan gemes. ‘’ aah tidak kok, aku tahan .. aku tahaaan’’ kata ku lalu berbalik dan bersembunyi dala selimut.


‘’ oke Okta hitung domba.. biar bisa tidur dan sakit nya hilang’’


aku mulai menghitung domba yang makin lama wajah nya berubah menjadi wajah Briaz dan bukan nya tertidur tapi malah makin tersiksa.


‘’ Fine’’


Aku membuka selimut dan mendongak kearah nya, tapi yang kulihat Briaz meringis dalam diam di sebelah sana, memunggungi ku.


‘’ kenapa ia menahan nya…


Lalu aku membiarkan pertahanan ku terbuka, membiar kan sulur itu seolah merayap kearah ku, aku menerima tangan ku sudah di sambut si sulur itu dan Briaz yang berbalik kearah ku, sengatan listrik candu itu semakin menguat hingga aku menggeser tubuh ku dan mencium bibir Briaz yang seperti menunggu ku disana, ia membalas nya dan kami saling membalas dengan ciuman yang terasa semakin panas. Ya hati ku rasa nya memanas, dengan sejuta kupu kupu ingin berterbangan, mata indah yang sering ku curi itu menatap teduh dan tersenyum. Aku makin terseret dalam diam dan kehangatan. Bahkan aku lebih berani menciumi dada nya yang keras dan bidang.


Maafkan aku Kevin, aku tak bermaksud mengkhianati mu aku memang meragukan perasaan ku dan disini aku merasa kan kenyamanan.


Aku merasa dada ku panas, dan seolah ada yang terbakar, aku menarik tubuh ku dari Briaz yang masih mencium ku alot. Dengan cepat aku membuta kancing baju dan kaget bukan kepalang melihat letak jantung ku itu seolah menghitam dan ada cahaya merah muda ingin berkedip kedip disana, dan sedetik kemudian cahaya itu meredup dan kulit ku kembali seperti semula.


‘’ ada apa??’’ tanya Briaz cemas.


‘’ tidak’’ jawab ku masih gagu dan langsung lari ke tempat ku bersembunyi di sana.


‘ diamond fyrd.. dia benar benar ada’’


**

__ADS_1


__ADS_2