Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
04-Cinta Pertama Okta


__ADS_3

*CHAPTER 4*


‘’Cinta Pertama Okta’


Aku yang mendengarnya ikut melongo dan tubuh ku merosot di kursi itu, kenapa saat kebetulan itu Kevin malah mengungkap hal itu, rasanya otak dan hatiku berkecamuk hebat.


Maya menganga lebar, matanya berbinar binar seperti mata rusa.


‘’ OH My God’’ pekik nya berulang ulang sampai pengunjung café di sana menoleh kearah kami,’’ serius nih Okta.. o’ok serius… cewek itu cewek itu kamu, kamu dan Kevin ER…. KEVIN ER’’


Mulut ember Maya langsung aku bekap keras keras, mata ku melotot lotot nyaris tu anak aku tendang keluar agar tidak membuat keributan.


‘’jangan tanya dulu, aku.. masih belum siap untuk sekarang’ kataku menarik nafas dalam dalam. Maya menurut dengan air muka masih ingin tahu lebih banyak, tapi intinya aku sendiri masih kaget luar biasa, semua ungkapan Kevin Er itu semua nya adalah nyata kalau yang dibicarakannnya adalah aku, aku yang dulu juga pernah jatuh cinta dengan nya, dengan sosok nya yang belum bertrasformasi menjadi artis seperti sekarang ini, Kevin Er adalah salah satu murid pindahan yang hanya setengah tahun berada di sekolah ku. Dia itu sebenarnya pengganggu yang setiap hari selalu mengusik ketenangan ku. Kevin SMU kala itu adalah pribadi yang bisa dibilang pembuat onar, kedatangan nya di sekolah hanya untuk main-main, hampir setiap pelajaran ia hanya sibuk main game yang kebetulan saat itu sekelas dengan ku dan parahnya satu bangku!!, lelaki yang masih belum punya proposi tubuh sixpect seperti sekarang ini dulunya lebih kecil ukuran anak SMU lainnya, tapi wajah tampannya memang sudah dari dulu, saat masuk di sekolahnya saja ia sudah sangat popular dielu elukan kaum hawa. Hampir setiap pagi, jam istirahat atau pulang dia dikelilingi cewek cewek sekelas pupuler di sekolah dulu, tapi hanya bertahan beberapa minggu, Kevin Er tidak memperdulikan mereka sama sekali, bahkan menolak ajakan cewek cewek itu dengan kasar sampai beberapa ilfeel dan mundur dengan manis. Beralih dari sana ia malah mendekati ku, awalnya aku tidak peduli tapi setiap hari ia terus menempel bak permen karet, bahkan yang membuat ku tambah ngeri kala itu, dia bilang menyukai ku secara gampalng dengan wajah polosnya kala itu.


‘’ AKU SUKA.. KAMU, OKTAVIANI…’’


Kevin Er disebelah ku yang baru saja lolos dari beberapa fans nya berlari kearah bangku kami, ya dia duduk disebelah ku, anak pindahan yang tidak tau kenapa wali kelas meminta nya duduk disebelah ku, karena memang aturan kelas kami harus sepasang, cewek-cowok.


Aku baru saja menggulung celana olahraga kedalam rok abu abu ku biar lebih efisien menganga kaget, spontanitas seluruh teman teman seisi kelas melihat kearah kami, dan 2 cewek penguntit dibelakang Kevin tampak syok.


Dan seperti biasa aku tidak mengubrisnya, cowok pindahan yang beberapa hari aku kenal sebagai teman sebangku ku itu ngos ngos an, tampangnya seperti baru mendapat lotre ada kebahagian setelah mengatakannya. Tapi rupanya sikap acuh tak acuh ku tak berpengaruh untuk seisi kelas yang riuh, menganggap aku baru saja di tembak, beberapa diantara nya berteriak TERIMA TERIMA bahkan sampai kata kata CIUM segala, dan aku terkepung disana dengan tatapan menunggu dari cowok pindahan yang tingginya sudah diatas ku, aku melihat kearah matanya yang tajam dan tersenyum berharap banyak.


‘’ SUKA??? Emang kamu kenal aku sudah berapa lama?? jangan karena kamu itu popular sekarang terus asal bilang suka!!’’ kata ku dingin, dan mendadak suasana kelas yang tadinya riuh menjadi seperti kuburan.


‘’ JANGAN MENYUKAI KU!! JANGAN PERNAH MENYUKAI KU!!! AKU TIDAK SUKA KAMU’’ ucap ku sangat jelas dan tegas melihat tajam ke Kevin Er yang diam kaget dan teman teman lain juga kaget, ucapanku jelas membuat nya malu 100 persen, Tapi aku yakin dengan begitu aku bisa memberinya pelajaran. Aku agak tidak suka dengan pernyataan nya barusan, jelas sekali dia tidak mengenal ku dan kalau menyukai ku karena fisik ku aku serasa membencinya, karena sebagian cowok cowok yang mendekati pasti tertarik dengan wajah dan fisik ku, lagipula aku benar benar tidak ingin mencari pacar atau teman kehidupan ku sudah terlalu melelahkan.


Setelah mengatakan itu aku berlalu dengan sedikit menambrak bahunya dengan sengaja, tersenyum sinis dan berlenggang bak putrie model yang jadi pusat perhatian, tapi hal tersebut rupanya awal dari bencana. Besok nya Kevin Er menyerukan kata kata yang sama, dekti dan intonasi yang aku katakan kemaren, dia menolak cewek cewek yang menyatakan perasaan padanya, atau sekedar mengajak nya ke kantin dan mendekatinya. Hampir 5 kali dalam sehari kata kata yang aku katakan kemaren terjadi di depan ku? Bahkan saat di kantin dia tidak ragu menolak cewek kaka kelas yang menyukainya, sangat jelas kakak kelas itu malu luar biasa sampai berlari sambil menangis sesegukan karena malu.


Entah itu hukuman atau sebuah peringatan yang sudah aku buat!!!


‘ BRuk’’


Tubuh ku didorong hingga bahuku menabrang pintu toilet. Beberapa kakak kelas yang ku ingat kemaren baru di tolak Kevin menjadi salah satu penculikan mendadak itu, aku di tarik paksa ke dalam toilet yang mendadak di kosongkan oleh mereka.


‘’ JADI INI??? ‘’ gadis berambut panjang dengan wajah penuh kemarahan itu menunjuk muka ku dengan gusar, lalu ia langsung menjambak rambut ku dengan kencang serasa sakit menjalar, rambut ku pasti langsung tertarik.


‘’ dengar nya, ini akibat kamu sudah mempermalukan aku’’ katanya lagi lagi menarik rambut ku. Aku berontak tapi kedua teman nya langsung menahan ku.


‘’ apa maksud mu?? Aku tidak ada urusan dengan mu’’


‘’PLAK’’


‘’ Berani sekali nya kamu


Pipi ku memanas, tamparan barusan terasa pedas dan menyilukan.


‘’ kalau saja kamu tidak mengatakan itu pada Kevin, dia pasti tidak akan mempermalukan aku kemaren’’ katanya menjelaskan yang sebenarnya aku juga sudah menduga arti kemarahan gadis itu.


‘’ kamu jangan sok kecantikan ya… jangan karena kamu cantik jadi banyak tingkah.. pasti Kevin benar benar malu sampai dia juga seperti itu ke aku!!! dengar j*lang’’ cewek itu meronta ronta penuh kemarahan, mendorong aku bertubi tubi, ya memang aku melakukan kesalahan mempermalukan Kevin waktu itu dan ini seperti tamparan pembalasan rasa malunya Kevin waktu itu. Semakin aku berontak semakin ketiga cewek preman itu menghujani ku dengan pukulan, hingga terdengar suara seorang guru menghentikan ulah mereka, mungkin ada anak yang melihat dan melapor, ketiganya langsung di gelandang keruang guru untuk di intograsi dan aku, keadaan ku sangat buruk luka lebam dan darah di wajah ku, rambut ku acak acakan tidak karuan dengan seragam yang ikut sobek.


Sejak kejadian itu aku tidak masuk selama 2 hari, aku harus memulihkan kondisi dan kesiapan ku untuk kembali sekolah, andai saja aku punya uang aku memilih pindah sekolah, aku malu sekaligus sangat membenci anak pindahan itu, rupanya bukan hanya prilakunya yang buruk tapi caranya membalas juga sangat mengerikan.


‘’ Okta… aku dengar dia juga berkelahi dengan Bobi’’ kata Adis teman sekelas ku di telepon kemaren malam, aku ingat Bobi, kakak kelas yang memang pernah mengajak ku jalan tapi aku tidak begitu meladeninya. tapi isunya ada dua antara dia marah dengan prilaku Kevin yang seenaknya di sekolah itu atau membalas kejadian pembullyan di sekolah yang korbannya adalah aku yang memang notabeni Bobi menyukai ku, tapi aku tidak ikut membahas nya lagi memilih menutup buku.


Beberapa anak yang aku lewati berbisik bisik sambil berlalu saat aku kembali sekolah, walau sebenarnya aku sudah sangat malas masuk sekolah tapi mau bagaimana lagi, hanya sekolah itu aku bisa mengenyam pendidikan apalagi masuk ke sekolah elite dan tinggi itu sangat susah, terbayang bagaimana perjuangan ku belajar mati matian agar bisa masuk ke sekolah itu dulu memaksa ku sekarang harus berusaha menahan semua omongan seentero sekolah yang melihat ku dengan kasian atau tatapan merendahkan.


Pagi itu di bangku belakang tempat aku duduk sebelahnya sudah ada Kevin yang nampak asik memainkan game di Handphonenya seolah tidak terjadi apa apa, saat aku datang menarik bangku saja ia tidak bergeming, sebelum Bell berbunyi aku duduk manis lalu menenggelamkan kepala ku ke meja dengan kuping berisi headset tapi tau tau salah satu head set ku di ambil, aku mendongak melihat luruh kearah Kevin yang jarak nya searah, tatapan kami bertemu, aku melihat nya dengan penuh kemarahan dan kebencian.


Kevin melihat kearah lebam dibagian pipi yang meninggalkan warna kebiruan, ia menyetuhnya dengan perlahan tapi jelas aku tepis kuat kuat, sesaat kami seolah menjadi sorotan lagi, aku berusaha mengontrol emosi ku, khawatir nanti nanti malah berujung buruk.


‘’ jangan sentuh aku?? Jangan ganggu aku’’ kata ku pelan mencoba duduk baik baik dan bicara ke depan sana bukan ke arahnya, aku mengisyaratkan kalau aku tidak mau jadi tontonan lagi.


‘’kita impas’’ sambung ku melihatnya sebentar, tapi cowok itu dengan acuh tak acuh terus melihat ku dengan tajam tanpa berkata kata. Aku pikir aku sudah bisa memberikan jarak dan tuntutan kepadanya tentang semua yang terjadi cukup sampai disana tapi aku salah. Anak itu malah menunggu ku sepulang sekolah.


‘’ ayo bicara’’ pintanya menghalangi jalan pintu keluar kelas. Aku melihat nya dengan aneh ‘’ hallo siapa kamu??


‘’ aku minta maaf, aku salah’’ ungkapnya menghentikan langkahku.


‘’ aku tidak suka selalu dikuti mereka, jadi aku menggunakan mu untuk membuat mereka pergi, tapi saat kamu menolak dan mempermalukan ku aku lagi lagi salah membalas mu dengan cara itu hingga kamu yang terluka aku benar benar menyesal’’


Aku melihatya dengan geram lebih lebih kata kata awal yang mengatakan ia hanya menggunakan ku itu artinya waktu dia bilang suka itu hanya pengalihan agar tidak diganggu lagi, dan sebenarnya itu adalah kebohongan, apajadinya kalau aku bilang suka juga, aku bisa bunuh diri sekarang, tapi ada sedikit kelegaan juga mendengarnya.


‘’ tapi pengawal pengawal mu sudah membalaskan nya, lihat.. bahu ku nyaris robek’’ cowok itu membuka baju nya dan meperlihatkan jahitan kecil yang masih basah.


Aku kaget melihat luka sepanjang 3 cm itu, ‘’ siapa yang melakukannya dan apa??’’ cecarku merasa ikut salah.

__ADS_1


‘’ emmm lupakan, mungkin ini balasan dari yang aku buat!!! Jadi.. apa sekarang kamu memaafkan aku??’’ katanya lagi segera menutup dan merapikan bajunya.


‘’ apa bobi melakukannya??’’ Tanya ku lagi masih penasaran sekaligus syok melihat luka barusan.


‘’ Bobi.. aaa preman itu?? Yaaach.. hanya pergulatan antar pria, aku benar benar tidak tau kalau sudah menggangu seorang puteri’’ katanya lagi.


Aku meringis pelan melihat kearahnya, cowok itu tersenyum manis menjelaskan ia baik baik saja dan sejak penjelasan itu hubungan kami membaik, hikmah dari kejadian itu sekarang Kevin bebas dari cewek cewek penguntit2 itu, hari hari ia berlakon sewajarnya, hanya saja ia sering mengabaikan pelajaran, ia malah sibuk main game, tapi awal itu pula ia mulai malah bersikap lebih dari teman, anak itu menempel perlahan mengikuti ku, dan melakukan hal mengganggu lainnya, ia selalu memaksa untuk mau berpergian dengan nya, jalan jalan, nonton sampai makan pun anak itu selalu minta ditemenin, nyaris setiap hari ia menempel dan aku seolah dituntut selalu mengikuti kemauannya ya walau dia orang yang menyenangkan tapi itu sedikit mengganggu waktu privasi ku walau akhirnya terbiasa. Sampai di sekolah kami dijuluki couple tak terpisahkan, entah siapa yang memulai tapi itu sering aku dengar dari sebutan anak anak pada kami. Padahal hubungan kami hanya sekedar teman ya walau kalau dipikir Kevin seolah memperlakukan ku lebih dari teman, tapi aku mencoba tidak terbawa perasaan takut dia hanya mengalihkan perhatian penggemarnya untuk melarikan diri walau aku juga terbantu, cowok cowok pengganggu lain juga lama lama tidak mengganggu ku lagi. Tapi mungkin karena sudah merasa nyaman aku mulai menyadari kalau aku suka dengannya.


Hingga……


Malam itu hujan lebat, seperti biasa aku memilih menetap dirumah tanpa mau keluar walau telepon dari Kevin selalu berdering, dari sms dia berulang ulang mengajak ku keluar.


Ditambah saat itu lagi mau ulangan, sambil belajar dan terus mengabaikan si Hp yang terus bergetar serta merta guyuran hujan yang membuat atap rumah seolah air terjun.


Sontak Susan membuka pintu kamar dengan kasar ‘’ laki mu tuh.. dateng’’ ujar nya membuat rasa kantuk ku tiba tiba lenyap. Aku tau siapa yang Susan katakan.


‘’ gila ya kalian… bikin malu tetangga aja, selalu aja dua dua kan..’’ katanya dingin, Susan memang tidak pernah ramah dengan ku, dia dengan riang mengatakan yang tidak tidak kepadaku, sikap nya itu karena ia menganggap aku adalah beban keluarga nya, dia tidak terima Mama nya mau menampung ku yang jelas untuk hidup mereka saja serba kekurangan.


Aku tidak mengubris omongan Susan, toh aku juga tidak pernah mengajak Kevin berdua di rumah itu dan itu untu pertama kalinya Kevin dibiarkan masuk.


Aku menemui Kevin yang nampak aut autan, biasanya ia sangat menjaga penampilannya kali ini entah dia seperti habis berkelahi, rambutnya berantakan, cowok itu berdiri gelisah menunggu ku di ruang keluarga yang sempit.


‘’ Kevin..’’


Anak itu berbalik dan langsung menyerbuku dengan gusar.’’ Kenapa tidak mengangkat telepon, membalas sms ku?? Bukannya malam ini aku bilang aku akan mengajak mu makan!!’’


Aku nyaris melongo kaget melihat sikapnya seperti itu, aku memang sengaja mengabaikanya karena kondisi cuaca diluar yang sangat tidak bersahabat.


‘’ Hujan, aku ga bisa’’ kata ku setengah terbata, air muka Kevin masih tidak terbaca ia mirip Mama Olla yang lagi stress karena harus bayar hutang.


‘’ sekarang buruan kita pergi, ga papa aku memaafkan mu’’ cecar nya lalu menarik ku seraya membuka pintu, spontan yang kulihat adalah makhluk hujan yang wara wiri diluar sana dan itu bukan wajah makhluk yang cantik, mereka buruk rupa dan dihuj


ani dengan kilatan petir yang nyaring, aku langsung menutup pintu dengan nafas naik turun.


‘’ aku ga bisa’’ kataku mantab.


‘’ harus, kalau kamu tidak mau.. kamu akan menyesal’’ ucapnya bernada mengancam dengan mata menatap tajam seperti omongannya tidak main main, aku tidak terima dengan perlakukan nya kasar seperti itu.


‘’ AKU GA MAU DAN BAKAL GA MAU KELUAR’’


‘’ dengar ya.. Kevin.. aku bukan budak mu yang selalu menuruti kemauan mu.., sekarang sebelum aku mengusir mu lebih baik pergi’’ pinta ku sedikit melunak berharap dia mengerti.


Dia mengangkat alisnya sebelah, beberapa detik kami terdiam seperti adanya deru amarah yang mencoba meluap atau melemah.


Anak itu kemudian mengambil sesuatu di sakunya, dan ia menarik tangan dan jariku, sebuah cincin melingar di jari manis ku, rasanya aku mau mati berdiri, jantung ku berdetak sangat cepat, walau tidak tau arti dari cincin itu.


‘’ setelah lulus, aku resmi melamar mu’’ ujarnya tetap dengan intonasi susah dibaca, seperti bukan perkataan tulus, itu lebih dari kearah peraturan yang ia lontarkan.


‘’ apa??’’


Aku menarik tangan ku dan melihat nya lekat lekat, walau rasanya ingin melompat riang karena memang kedekatan kami memang membuat ku merasa sesuatu yang nyaman dengan nya, namun situasi seperti ini aku belum bisa memahami kondisi Kevin.


‘’ kita menikah, kemudian kabur keluar negeri’’


‘’ hah…, Kevin kamu lagi mabuk atau


‘’ GILA?? Ya AKU GILA’’ sahutnya setengah membentak.


‘’ bukannya ini kemauan mu?? Kamu mau hidup miskin seperti ini?? dengan mereka yang juga tidak mau menerima mu?? Mama mu?? Apa dia peduli dengan mu?? APA KAMU MAU DIA MENJUAL MU??’’


Darah ku mengalir dengan cepat, dengan keras Kevin aku tampar, kata katanya sangat kasar.


‘’ tarik kembali kata kata mu kevin!!!!, kamu tau apa tentang aku???’’


‘’ aku tau kamu Okta, selama ini aku sudah mengenalmu dan aku ingin mengeluarkan mu dari keadaan seperti ini!!’’


Mata ku terasa panas walau ditahan ternyata air nya semakin banyak, anak itu sangat keterlaluan.


‘’ kamu pikir aku diam saja melihat mama angkat mu adalah-


‘’PLAK’’


‘’stoop!! JANGAN DILANJUTKAN LAGI, PERGI KAMU DARI SINI’’ aku melepas cincin itu dan melemparnya asal. Aku sudah banjir air mata, laki laki didepan ku itu seolah ingin kulenyapkan, aku benar benar tersinggung dengan perkataan nya.


Pintu ku buka dan ia kutarik keluar.

__ADS_1


‘’OKTA DENGAR.. KAMU AKAN MENYESAL SETELAH INI…’’


‘’PERGIIII!!!.


***


Keesokan harinya Kevin tidak masuk sekolah, berlanjut esoknya lagi seminggu berlalu ia juga tidak masuk sekolah sampai yang ku ketahui dari wali kelas ia keluar dari sekolah kembali ke Jakarta, dan aku semakin benci, hingga setahun setelah kelulusan aku kembali melihat wajahnya tidak secara langsung namun melalui Televisi, ia membintangi sebuah film yang sukses membuat film dan namanya naik, sejak itu aku yakin dan berpikir kalau aku hanya lah bagian dari segelintir kehidupan nya yang tidak penting dan tentang perasaan ku entah lah, tapi dengan ungkapan dan kiriman nya boneka itu sekarang apa aku harus membuka perlahan pintu maaf atau perasaan yang juga masih samar samar.


***


Di sebuah ruangan yang lengkap dengan tataan kantor nan mewah, Kevin duduk dengan kaki mengangkat keatas meja, matanya menatap tajam kearah beberapa lembar foto yang ia pegang saat ini.


‘’ yakin dia ada disana lagi??’’ katanya sumbang.


‘’ tentu!! Aku yakin Wanita itu ada di sana’’ kata laki laki lebih tua darinya, lalu merogoh tas nya dan menyerahkan foto lainnya yang bukan wanita separuh baya sebelumnya.


Kevin yang sedang berpikir keras mengambil foto itu, alis nya semakin bertautan melihat foto itu walau ia memang sudah sering melihat di salah satu akun palsu nya. Foto Okta saat ini, ia mengenakan seragam bekerja di perhotelan dengan wajah semakin cantik, bibirnya tersenyum tipis dengan setengah mengingat bagaimana ekpresi gadis itu setelah menerima kirimannya kemaren, lalu kembali beralih ke foto wanita blasteran separuh baya yang masih sangat cantik, hanya saja tubuhnya terlihat lelah, wanita Disana sedang sibuk melayani seorang pembeli warung makannya. ‘


‘’ Mama…. Apa dia ada sedikit saja memikirkan ku’’ besitnya terasa sangat tersiksa, melihat dalam ke foto itu. Kemudian Hp nya berbunyi. Kevin menyuruh laki laki bernama Kris itu untuk keluar dari sana dengan isyarat tangan nya.


Di layar tertera nama Manager nya.


‘ Ya.


Terdengar suara teriakan dari seberang sana, sampai ia harus menjauhkan beberapa centi dari telinga, Manager nya sedang mengomel karena Kevin lagi lagi ingkar untuk memenuhi kontrak pertemuan pertemuan talk show. Sejak tayangan live itu ia malah menjadi perbincangan mengenai siapa perempuan yan ia maksud, dan itu mengundang beberapa station Tv memintanya untuk talkshow.


‘’ gue ga mau…!’’ balas Kevin dengan teriakan pula lalu ia matikan telepon selular itu, membanting tubuhnya ke kursi kerja yang langsung turun naik menahan berat tubuh nya. Di atas meja nya seolah sedang diperhatikan sebuah boneka kayu yang seperti sedang berbicara dengan nya.


‘’ ya gue tau.. jangan melihat seperti itu?? Sekarang loe pasti sedang menertawakan gue kan’’ katanya melihat sebal pada boneka tanpa ekspresi itu beberapa detik, lalu mengambil boneka itu melihatnya dengan lembut dan tersenyum tipis, ada kesenangan yang ia rasakan.


‘’ sekarang gue sudah menemukan mama gue…., loe pasti juga senang kan..?? bagaimana kalau nanti kita menemuinya sama sama’’


Kevin larut seperti anak perempuan yang memainkan boneka nya, bicara dan tertawa sendiri, hingga pintunya di ketuk, baru ia terperanjat saat seorang laki laki masuk dengan wajah kagok, Kevin sontak meletakkan boneka itu kembali mengatur nafas nya dan menarik beberapa baju nya.


Laki laki yang tidak lain adalah manager nya itu melempar kertas kertas yang di gulung ke meja


‘’ harus berapa banyak uang lagi yang terbuang’’ kata nya marah melanjutkan kemarahannya di telepon. Laki laki berumur di atas 40 itu bolak balik dengan gelisah, ia sangat kesal lebih lebih sudah mendapat teguran dari direktur manajemen nya.


Kevin melihat malas kearah laki laki yang bekerja sebagai manager nya itu, ia kembali duduk malas sambil membuka game di Handphone nya, sesaat ada telepon masuk dari Laura yang kemudian di reject nya.


Laki laki itu masih saja mengomel tanpa sadar kalau Kevin sendiri tidak tahu menahu, malahan ia lebih dongkol melihat Kevin yang larut dengan game nya, hingga benda persegi itu di rebutnya.


‘’ jangan mengolok ngolok ku, kau tidak tau direktur marah besar.. dan aku nyaris di pecat!!!’’


Kevin melihat nya dengan tajam lebih lebih tidak terima permainannya di ganggu, Manager nya mengalihkan pandangan sesaat melihat perubahan wajah Kevin yang nampak tidak terima, tanpa membalas nya ia beranjak dari sana


‘’ mau kemana?? Hey..


Teriaknya saat Kevin menuju pintu, tapi anak itu hanya megancungkan tangan jari tengah sebelum menghilang keluar, si Manajer makin nampak keki hingga menendang nendang kaki meja berulang ulang hingga berujung teriakan kesakitannya yang malah ketendang besinya.


Ia berjalan sambil mengenakan kacamata hitam, beberapa karyawati yang melintas tersenyum dan menunduk memberi hormat, terdengar singkat pekikikkan singkat di belakang, Kevin sudah biasa dikagumi seperti itu hingga nyaris membuatnya bosan, di ujung sana terihat sosok laki laki berumur yang di ikuti 5 lainya yang sering mengawal atau menjaga nya, dia ayahnya sang Direktur di kantor yang juga tempat dia sekedar menjalani tugas keluarga, terlihat ayahnya yang sangat tegas dan disegani orang orang nya tu sedang bebisik pelan kesalah satu kaki tangannya disebelah, kemudian setelah melihat Kevin ia melanjutkan kembali langkahnya yang nampak kaku dan mengesankan aura dingin. Kevin berhenti didepan ayahnya sekedar memberi salam, hubungan nya tidak terlalu dekat dengan ayahnya apalagi setelah mengetahui kebohongan yang Ayahnya lakukan padanya tentang Ibu nya, ia langsung menjadi membenci Ayahnya, walau begitu ia tetap peduli dengan ayah nya.


‘’ sudah pulang??’’tanya Frans, Ayahnya .


‘’ iya Yah, tadi malam’’


‘’ nanti berkunjung lah ke rumah, sudah lama kita tidak bicara’


Kevin tidak menjawab, ia hanya mengangguk lalu permisi.


‘’ Markus’’ panggil Frans kepada asisten nya yang berada di samping nya.


Pria jangkung itu menyahut, terus awasi dia, dan jangan lupa selalu menyiapkan obat untuk nya’’ kata Frans meminta pada kaki tangan kepercayaan nya.


Markus mengangguk dengan patuh sebelum rombongan itu berlalu dari sana.


Kevin membanting tubuhnya masuk mobil dengan rasa kesal yang entah kenapa selalu muncul ketika bertemu dengan Ayah nya, masih ingat jelas bagaimana ayahnya selalu bilang kalau Ibunya pergi meninggalkannya dan ia, padahal kenyataan yang dia dapat adalah Ibunya tidak pergi, itu terbukti ketika wanita itu menyamar menjadi pengasuh nya waktu ia kecil, ia tidak pernah tau kalau pengasuh yang 1 tahun itu adalah ibu kandungnya, sebelum kedok nya ketahuan dan sebelum malam perpisahan itu ia masih teringat jelas bagaimana Ibu nya menangis dan mengatakan hal hal aneh yang ia tidak mengerti masa itu. Setelah mengetahui pengasuh itu tidak bekerja ia merasa sangat kehilangan namun rasa itu hilang beriringan waktu digantikan rasa terkejutnya saat seorang laki laki yang mengaku teman ibunya menyampaikan kabar itu, bahkan ibunya memberikan pesan kalau ia harus menemukannya sendiri. Hanya itu kenangan terbekas yang menyelimuti perasaan nya saat ini, dan mengingat bagaiman ayahnya selalu berbohong kalau ibu nya tidak peduli dengan nya, ibunya pergi dengan laki laki lain, ia yakin ibunya masih peduli dengan nya, terbukti dari penyamaran nya sebagai pengasuh nya. Ia harus mencari Ibunya, itu adalah pesan dari wanita yang mengandung nya itu, dari situ ia mulai mencari Ibunya di kota kelahiran nya di Kalimantan, ia nekat kabur dan sekolah disana seorang diri,namun nihil ia tidak bisa menemukan Ibu dan keluarga ibunya, seolah jejak nya dihapus disana dan satu satu nya cara untuk menarik perhatian ibunya adalah ia harus terkenal, karena itu ia masuk dunia artis walau menjadi larangan keras Ayahnya sampai semua akses keuangan nya di hentikan, tapi ia tetap nekat berjuang didunia itu dan menjadikan nya sebagai penompang hidup mencari nafkah, dan belakangan ayahnya seperti mulai mendekatinya lagi, dengan memberikan kuasa untuk masuk disalah satu bisnis keluarga, awal nya ia menolak tapi sejak ia jatuh sakit 6 bulan yang lalu dan hanya melalui bantuan keuangan ayahnya ia bisa membeli semua obat yang harus rutin ia suntikan di tubuhnya, jika tidak ia bisa kembali sekarat, tentunya impian bertemu ibunya akan hilang. Imbas nya ia benar benar harus dekat lagi dengan ayah nya.


Sesaat nafas nya terasa sesak dan jantung nya terasa berdetak lemah dengan keringat dingin di tangan, Kevin dengan buru buru mencari obat dimobilnya, mengambil alat suntik yang sudah terisi cairan kental berwarna hitam, ia tidak tau persis obat apa itu, hanya saja obat yang diberikan ayahnya dalam hitungan menit sudah bisa membuatnya segar lagi.


Ia melihat dirinya di cermin dengan datar, seolah bertanya kenapa ia malah di dera sakit aneh 6 bulan itu dan harus terikat dengan ayahnya lagi. Dari sudut yang berbeda ia tidak sadar kalau cairan yang masuk kedalam tubuhnya seolah mengubah urat urat nya yang terlihat di leher menjadi hitam, cairan itu masuk perlahan namun pasti dengan efek sihir didalamnya.


‘’ aku harus secepatnya menemui mu..’’ katanya bicara pada boneka kayu yang menggantung di spion dalam, boneka yang mengukir senyum itu hanya bisa melihat dengan sumringah seolah keputusan itu yang ditunggu.


***

__ADS_1


__ADS_2