
CHAPTER 11*
“ Diamond Fyrd”
‘’ baby… Okta… ‘’ Bram nongol lagi didepan ku sambil berjoget joget, dan aku yang hendak menghindarinya malah terhimpit raga Ka Adi yang sempoyongan, beruntung high heel ku tidak tinggi tinggi amat, jadi bisa menyeimbanginya, hanya saja tangan seseorang yang menahan ku jatuh membuat ku kaget My God si centil ini, benak ku segera menyingkirkn tangan Bram yang berpikir mendapat lampu hijau dari ku,
‘’ Maya di mana ssiiih, aah, ‘’ kesal ku mencari anak itu yang ternyata terbenam ditengah Vanesa dan Dicky.
‘’ baby…’’ panggil Bram lagi dengan muka songong nya, aku begidik dan kembali berlindung di dekat Ka Adi yang kupikir dia juga tidak sadar, Ka Adi lebih baik dari pada dekatan sama cecunguk itu, batin ku.
Tapi aku salah ka Adi benar benar loss control ia malah merangkul ku, memanggil nama Ayu, pacarnya. Aku langsung mendorong kepala anak itu yang malah makin mengelayut di tangan ku, Ya Ampun… help…
Ditengah kejengahan ku mengendalikan Ka Adi yang mabuk dan berpikir aku pacar nya, mata ku bertemu dengan Briaz, bos ku itu rupanya melihat ku dengan tatapan susah dijelas kan, dan terakhir yang kulihat ia tersenyum sinis seperti meremehkan ku, pasti ia menilai sesuatu dari cara pandangnya, batin ku lagi tanpa sadar malah menjitak ka Adi yang masih bergelayut di tangan ku.
‘’ Baby.. Oktaa’’ si Bram masih suka nempelin aku, hingga dengan kesal ku tarik cecunguk itu untuk menggantikan posisi ku di sebelah ka Adi, aku segera kabur dari tingkah konyol rekanku disana, sebaiknya aku pulang, tidur nyenyak dari pada ikut party gila itu.
Namun niat ku belum tersalurkan, saat yang kurasakan adalah tarikan tangan dari sesuatu yang licin, dan itu membuat ku seperti mendesah, aku lupa kalau menempel akan mengakibatkan halusinasi bak candu narkoba. 15 menit kemudian yang kurasakan adalah tangan besar laki laki yang entah kenapa sudah hapal di kepala ku, ruas jari dan panjang jari serta bulu bulu kecil di tangan nya.
Tangan itu memegang bagian perut ku, tapi tak berlangsung lama, aku langsung menyikut orang itu dibelakang hingga ia nampak kesakitan. Tapi belum selesai meloloskan diri, tangan itu kembali menariku, kali ini dengan memaksa.
‘’ tamu ku sudah datang, seharusnya kamu langsung menemuiku bukan menari nari genit disana’’ ucapnya berbisik.
‘’ menari nari genit, Oh MY-
Dan lagi aku diseret hingga masuk kedalam kelompok elit yang tadi aku lihat. Beberapa yang menyadari Briaz membawa ku kesana langsung mendelik kaget dan tatapan membunuh seolah dituju kearah ku dari beberapa wanita sexy dan menggoda disana.
‘’ tunggu disini, aku ada urusan dulu..’’ kata nya dengan jari menunjuk didepan ku, ia kemudian mengulurkan tangan kearah cewek cantik yang kata Maya adalah Cintya.
‘’ Jocob, kalau dia sampai kabur, aku akan memecat mu’’ ujar nya lagi kearah ketua pengacara itu dengan gamplang, lantas Jacob yang masih ber O ria di udara langsung tersekijab melihat ku dengan tatapan masih shok.
Lantas Briaz yang sudah menggandeng Cintya melongos pergi dari sana dengan wajah penuh nafsu.
‘’ dasar, pasti mau main dulu’’ dengus Jacob, lalu melihat kearah ku. Aku yang hendak pergi langsung di cegat nya.
‘’ pliss jangan pergi, kamu tau kan ancaman Bos tadi’’ bisik Jacob memelas, rupanya seorang Jacob juga takut dengan Briaz. Aku jadi tidak tega dengan Jacob yang tidak ada masalah dengan masalah kami. Dengan manis aku duduk lagi dengan canggung melihat interaksi para eksekutif muda ini lagi menikmati malam dengan gadis gadis cantik, apa mereka tidak takut dengan pacar atau istri mereka, benak ku melihat jijay dengan mereka. Dan aku dibuat menunggu hampir 1 jam, tenggorokan ku jadi tambah kering karena di depan hanya Anggur, dan minuman beralkohol saja, ingin mencari minum di lain pun susah karena di jaga ketat oleh mata elang Jacob yang lebih mementingkan posisinya.
Rasa bosan ku akhirnya hilang juga setelah si pria itu datang dengan wajah susah dikatakan, bajunya sedikit kumat dan rambutnya yang tadi nampak rapi agak berantakan, dan dia datang sendiri, mungkin meninggalakn begitu saja gadis kencannya di suatu tempat, pikir ku.
Belum juga mengatakan apa apa, lagi lagi ia menarik ku dengan tangan nya, jujur saja aku mulai enggan shinship dengan pria itu karena sensasi aneh yang terus muncul ketika kami dekat ataupun skinship.
__ADS_1
Oke, untuk segera menyelesaikan masalah aku harus menuruti kemauan pria ini membawa ku mana asal tidak berbuat macam macam, aku jamin kepala nya pasti langsung ku pisahkan dari leher nya.
Ke kamar??
Aku berhenti mengikutinya saat ia memasuki lorong kamar hotel, aku melambat langkah ku memastikan dugaan ku, ternyata benar ia masuk kedalam kamar room yang ku ketahui adalah menjadi kediaman nya di sana.
‘’ masuk’’ katanya lagi kembali seperti perintah, mata nya seperti susah di tangkap, ia terlihat menghindari pandangan ku.
Aku sebenarnya ragu tapi dengan bekal sebilah pisau di tas ku aku jamin aku bisa membuat keberadaan pisau itu tidak keluar, kali ini aku yakin pria ini menempati janji nya tadi siang.
Sebuah kamar besar dan fasilitas yang megah terpapar disana, ada 2 buah kamar, ruang tamu, ruang telivisi dan pantry serta kamar mandi yang ku tau tidak jauh besar dari kamar utama.
Aku makin mendekatkan tasku saat ia mengunci pintunya tapi tidak membuangnya seperti kemaren.
‘’duduk lah’’ katanya lagi sambil melepas baju nya yang sudah kumal itu, aku memalingkan wajah saat melihat indah nya tubuh itu yang padat, dan banyak roti sobeknya juga bulu bulu kecil didadanya, yang terlihat tambah sexy adalah vlous yang seperti tato tao hidup. Dari ekor mata ku ia mengenakan kaos yang lain, mengabaikan cara ku yang terkesima dengan tubuhnya, aku harus mendelete lagi pikiran kotor itu walau tidak bagus hasilnya.
Lalu ia duduk di seberang ku dengan sesuatu diatas meja, seperti obat yang terkumpul diatas nya.
‘’ katakan kau mau apa??’’
Aku melihatnya dengan bingung, ia kenapa bertanya seperti itu, harusnya aku.
‘’lagi, CK’’ darah ku kembali mendidih, tapi pria ini kembali meralat ucapannya.
‘’ berapa harga yang harus ku bayar agar kamu bisa mencium mu lagi’’
Kali ini aku hilang kesabaran, sebelum aku mengeluarkan pisau dari tas ku tiba tiba saja pintu kamar terbuka, seorang gadis cantik yang seperti baru bangun keluar yang membuat ku terkesima adalah bagaimana vlous itu menarik narik di kulitnya yang pucat, vlous gadis itu berwarna hijau seperti matanya sekarang.
‘’ sudah datang..’’ katanya menggantung saat melihat ekpresi ku yang menahan marah.
‘’ aaaa anak ini pasti membuat mu marah lagi ya, hmm maaf ya Okta’ ujarnya tersenyum manis, bahkan membuat ku makin kagum ia mirip peri peri di negeri dongeng, dan ia juga menyebut nama ku segala, siapa dia sebenarnya.
‘’ lebih baik saya aja tuan yang bicara dengan nya’’ ujar gadis ini sangat santun dan hormat tentunya dengan Briaz.
‘’ baiklah.. silahkan..’’ Briaz lalu menyilangkan kaki nya ke kaki satunya dengan tangan melipat didadanya.
‘’ perkenalkan aku Bianca, aku adalah ibu pengganti tuan ‘’ ujar gadis ini menyebut dirinya ibu? Dengan wajah imut dan semuda itu, aku yang masih penuh di tumbuhi rasa pernasaran hanya mengangguk dan tersenyum membalas uluran gadis ini, sulur cantik milik nya terasa hangat berbeda dengan sulur Briaz itu.
‘’ benar ternyata kamu sangat cantik’ puji nya dengan hangat.
__ADS_1
Aku tersenyum pelan’’ terimakasih, sebenarnya kalian ini siapa???’’ umbar ku di sambut Bianca dengan tawa kecil’’ ya ampun ternyata kamu benaran galak ya… pantas saja tuan ku –‘’ kata kata nya behenti disana karena sadar Briaz melihat nya dengan dingin.
‘’ jadi begini, nona Okta… kami ini adalah dari dunia Rainmond, tuan ku ini adalah pangeran dia punya masalah dengan vlous, Fyrd yang mengutuk nya,’’
Hemm eheem‘’ aku mau mandi sebentar, kalian bicara lah’’ potong Briaz, ia lalu meninggalkan kami berdua.
Setelah memastikan Briaz masuk kamar nya Bianca kembali tersenyum ramah, ‘’ dia sangat enggan membahas nya’’ ujarnya lagi.
‘’ sebenarnya ada apa?? Bisa lanjudkan cerita mu ‘’kata ku.
‘’ baiklah, tapi tunggu sebentar aku ambil kan mau minum, sepertin ya kamu kehausan’’ ia lalu bangkit dari sana menuju pantry dan mengambilkan air putih.
Aku mehabiskan minuman itu dengan rakus, memang benar sedari tadi aku merasa tenggorokan ku kering. Dan kemudian Bianca kembali melanjudkan ceritanya mengenai Vlous yang bernama Fyrd, Briaz adalah anak Raja yang merupakan penerus kerajaan tapi semuanya lenyap ketika vlous yang tumbuh ditubuhnya adalah kutukan dari iblis Fyrd, dan ia harus mati. Tapi karena Ibunya sangat mencintainya posisi Briaz di gantikan anak lain dan diyakini ia sudah mati di tempat nya berasal, Briaz di buang di sini dengan penjagaan yang ketat juga pengawasan dari dirinya oleh Ibunya.
Bianca juga menjelaskan pengaruh Fryd yang membuat nya merasakan gejolak aneh yang mendekati hawa nafsu setan itu. Karena Fyrd menginginkan Okta, sama seperti wanita lain yang selalu dikencani Briaz, kalau tidak menurut Briaz akan disakiti dan itu bisa menjadi dua kali lipat dari rasa sakit fyrd di tubuh nya, dan Diamond Hord yang di paparkan Bianca tertuju pada sebotol obat di meja sana. Itu adalah obat penghilang sakit Briaz, tapi tidak terlalu membantunya, hanya satu satunya obat mengandung batu berlian Fyrd yang sudah musnah lama yang bisa mengobatinya dari kutukan Fyrd dan itu ada di dalah tubuh ku.
Aku menganga lebar saat Bianca mengatakan tubuh ku menyimban batu itu, aku tertawa keras bahkan sangat keras, walau terlihat mengolok ngolok wanita anggun ini, tapi ia nampak tidak peduli bahkan seolah memahami perkataannya.
‘’ kami bersedia membayar berapa saja asal dia sembuh’’ kata Bianca menekan kan kata sembuh dari bibirnya, terlihat jelas ia sangat mengharapkan sesuatu yang lebih dari ku.
Jadi maksud dari kata membayar itu adalah itu, aku sedikit menyesal sudah berpikiran negative untuk pikiran ku beberapa saat yang lalu.
‘’ memang bagaimana cara nya mengambil benda itu dari tubuh ku??’’ Tanya ku sedikit cemas, apakah aku akan di mutilasi untuk mencari benda itu dalam tubuh ku, membayangkan nya saja aku bergidik ngeri.
‘’ benda itu tidak bisa keluar dengan sendiri nya kalau kamu tidak menyerahkanya dengan ikhlas’’ katanya lagi.
‘’ maksud nya, apa aku harus bersemedi gitu? Atau ritual’’
Bianca lantas tertawa mendengarnya’’ tidak Okta sayang… kami bukan jenis dedemit atau mistik seperti itu’’
Aku menyadari kata kata konyol ku barusan dan sedikit tertawa.’’ Kalau begitu bagaimana cara nya??’’
Iblis itu terlahir dari sebuah emosi dan alirah jahat dan batu itu terlahir dari keikhlasan dan perasaan yang lapang, memang rumit untuk bisa menjelaskannya, tapi aku memerlukan mu untuk bisa menolong Pangeran
Aku diam sekian detik menelaah kata kata Bianca itu
‘’ jadi…
Kalimat ku belum selesai terdengar suara pecahan dari kamar yang dimasuki Briaz, disusul suara benda lain yang dilempar dan suara erangan kesakitan yang lain, Bianca tersigap dan berlari kearah sana, aku yang kebingungan ikut menyusul. Saat kamar dibuka, sebuah bangku yang nampak berat melayang, spontan akar hijau menangkapnya dengan sigap, sangat mengagumkan mirip film fantasi yang pernah aku tonton, sayang nya ini terlaku kaget dan menakutkan karena nyata.
__ADS_1