Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
24-Jarak


__ADS_3

CHAPTER 24*


“Jarak”


Okta kembali masuk kedalam mobil Briaz.


‘’ cepat sekali?? Sudah mesra mesraan nya??’’ sindir Briaz.


‘’ sudah’’ sahut Okta kesal mendengar kata kata macam itu dari Briaz.


Venus memutar ekor matanya melihat bagaimana buku buku jari tuan nya memutih mendengar Okta membalas kalimat nya.


‘’ shiiiit’’ berang Kevin saat masuk kedalam mobil Bobi yang siap mengikuti mobil lamborghini Briaz di depan sana.


‘’ hmmm hmmmm hmmmmmm kita ikutin mobil itu kan??’’


‘’ ya, buruan ‘’ sahut Kevin dengan aura mencekam.


‘’ siap bos’’


Bobi dengan gesit meliuk liuk mengejar mobil Hitam yang membawa Okta, gaya juga sok di bikin serius seperti sedang mengejar penculik. Sedang kan Kevin sedari tadi diam dengan wajah ditekuk, dalam pikiran nya ia mengingat bagaimana Okta menghindari ciumannya, rasa nya sangat sakit, apalagi tahu mobil itu mobil milik Briaz.


Hampir 2 jam Bobi mengikuti mobil itu hingga mereka memasuki daerah sepi yang banyak pohon karet nya.


‘’ bini mu ngapain di sini ya Vin,, serem aku liat kawasan sepi begini’’ kata Bobi bergidik melihat kiri kanan yag hanya ada pephonan gelap.


‘’ kalau aku tau juga, aku cegat tadi Bob’’ sahut Kevin yang sekarang berubah cemas, khawatir kalau Okta mau di perlakukan tidak baik di tempat sepi seperti itu.


Mobil memasuki jalan menanjak, mobil mini bus Bobi kesusahan menjalani tanah berlumpur dan sesekali ban nya sedikit amblas hingga mobil Briaz makin jauh.


‘’ waah bakal bobrok niiii mobil’’ sindir Bobi


‘’ tenang aku ganti 2 kali lipat’’ sahut Kevin.


‘’ yuhuuuuuu, beres kalau begitu, ayo kita selamat kan snag puteri’’ seru Bobi.


Setengah jam kemudian mobil Bobi berhenti di dekat kawat berduri, dan merupakan pagar dari lahan yang kosong juga luas, terdapat lampu penerangan di sekeliling nya.


‘’ disini aja kayak nya aman Vin…’’ kata anak itu sambil melihat depan dan belakang.


‘’ terus kita ngapain.. Vin,,, liat nooh tu penjaga badan nya kyak tronton, ga berani mah aku buat ngehajar mereka’’ Bobi angkat tangan ia bergidik ngeri melihat penjaga penjaga di sana yang berbadan kekar.


‘’ tunggu disini, matiin lampu nya’’ kata Kevin lalu segera turun.


Bobi melihat cemas pada Kevin yang mulai memanjat ke salah satu pagar dalam gelap, ia berharap sobat nya itu tidak ketahuan dan Okta juga tidak kenapa napa di dalam sana.


Mobil berhenti di depan rumah tinggi dan besar di tengah hamparan luas pekarangan gelap dan sepi itu.


‘’ rumah kamu disini Bri??’’ tanya Okta melihat kesekeliling yang sepi dan hanya rumah itu seorang berdiri di bukit itu.


‘ yup.. di sini tempat penghubung kalau Bianca mau ke tempat kami’’ terang Briaz.


Okta mengangguk mengerti kenapa rumah itu berada terpencil dari perkotaan.


‘’ cepat masuk, nanti masuk angin’’ suruh nya pada Okta yang masih celingak celinguk ke hutan hutan sana.


‘’ aaah iyaaaa’’


‘’ tuan, kita diikuti’’ kata Venus berbisik, Briaz sebenarnya juga sudah tahu sejak meninggalkan hotel ia sudah di ikuti.


‘’ siip. Biar kan dia masuk’’ jawab nya lalu menyusul Okta yang sudah masuk ke dalam.


Okta terperangah kagum melihat arsitektur rumah megah dan berkelas di depan nya menyerupai gaya Eropa, dengan interior yang semakin mengentalkan negara sana. Ia juga melihat jelas bagaimana ada simbol dari keramik lantai.


‘’ kita keruangan sebelah sana’ suruh Brias lagi dalam jarak 2 meter, ia merasa Okta akan aman dengan jarak itu mengingat bagaimana gadis itu menghindari nya dengan duduk di belakang.


Okta menurut ia sambil terus berdecak kagum setiap melewati perabotan perabotan yang ada disana. Kesan rumah itu nampak sangat kebarat barat an dengan fasilitas yang modern.


‘’ duduk lah.. mau minum apa??’’ tanya Briaz.


‘’ hmmm apa aja boleh’ jawab Okta sekena nya, ia menjadi sangat udik di sana, terus melototi kemegahan rumah itu, tak peduli dengan pandangan Briaz sekarang.


Briaz memetik jari dan beberapa pelayan datang membawakan 1 botol anggur.

__ADS_1


‘’ air putih aja’’ kata Okta meringis melihat minuman itu.


Dan pelayan kembali datang membawakan air putih juga beberapa cemilan yang membuat Okta ingin meraup nya.


‘’ kau mau lihat lihat di atas?? Di atas lebih bagus’’ tawar Briaz menyadari Okta sangat menyukai rumah nya.


‘’ boleh??’’


‘ tentu’


Dengan cekatan ia langsung bangkit dan mengikuti arah pelayan yang memberikan arahan dimana ia harus naik tangga.


Sesampainya di lantai dua Okta kembali terkagumkagum dengan interior di sana namun di sana lebih kalem dan sederhana, suasana nya juga di buat dingin, banyak ac di setiap jengkal sudut.


‘’ di tempat kami tak ada matahari, jadi aku membuat nya di sini mirip tempat asal ku’’ tutur Briaz memunggungi Okta.


Okta merasa Briaz terlihat sangat merindukan tempat nya berasal.


‘’ hmm begitu ya.. apa kamu ingin kembali kesana??’’


‘’ bodoh untuk apa kau bertanya sih Ok,,, tentu dia akan kembali, dia sudah menemukan gadis itu dan kamu.. ckckckck kamu sungguh kasian ’’


‘’ aku tidak tau’’ jawab Briaz lalu menoleh kearah Okta. Sesaat pandangan mereka bertemu.


‘’ nanti kalau kamu sudah sembuh, kita masih bisa berteman kan???’’ kata nya hati hati dengan ujung jari mengait didress nya ada rasa sakit di hatinya mengatakan itu.


Briaz tersenyum ia ingat sebelum nya Okta mengancam kalau mereka jangan pernah saling kenal lagi, tapi rupanya Okta sudah mulai berbeda dan sedikit nyaman dengan nya.


‘’ di luar lebih nyaman, kamu suka makan angin kan..’’ kata nya lalu mengomando ke luar yang disusul Okta.


Okta kembali ingin lari lari melihat teras yang luas dan sangat rindang dengan banyak tanaman hidup di sekitar nya.


Ia bahkan menghirup udara banyak banyak, terasa segar apalagi di tengah hutan seperti itu.


‘’ aaaah… di sini banyak angin nya, nanti malah masuk angin.. ini ambil lah..’’ Briaz melepaskan jas nya hendak memberikan pada Okta tapi ia berhenti ingat dengan jarak yang ingin ia lakukan.


Okta diam disana ia merasa terluka Briaz sampai tak mau dekat dengan nya karena khawati akan menyentuhnya, “apakah hingga terakhir pertemuan kita kamu malah menjauhi ku Bri’’


‘’lempar aja’’ kata Okta dengan wajah susah di artikan.


‘’ apa kah gadis itu cantik??’’ Tanya Okta menahan kuat agar suara nya tidak bergetar.


‘’ gadis?? Aaah dia, ya dia cantik’’ jawab Briaz yang berada di sebelah kiri dalam jarak jauh.


‘’ oooooh, apa jadi kalian sudah bertemu, hmmm’’ Okta memutar mutar ujung kaki nya ia kembali terluka.


‘’ apa dia galak sama dengan ku?? Apa dia langsung setuju saja harus melakukannya dengan mu??’’


Briaz heran mendengar rentetan pertanyaan Okta, padahal ia hanya berbohong tapi di malah di hujani pertanyaan tentang kebohongan nya.


‘’ dia orang yang menyenangkan’’ jawab Briaz singkat.


‘’ begitu…’’ Okta melihat ke sekeliling lagi sambil memeluk tangan nya sendiri’’ ternyata seperti ini kalau sakit hati’’ runtuk nya kembali menangis.


‘’ apa kamu baik baik saja??’’ tanya Briaz memiringkan kepala nya.


Okta segera mehapus air matanya.


‘’ apa kalian bertengkar gara gara tadi pagi?? Apa karena itu kamu menangis??’’


Okta hanya mendehem dalam hati ia mengomel’’ karena kamu bodoh.. aaaahgggrh’’


Lalu mata nya menangkap sosok di bawah sana yang di bawa beberapa pria berbadan kekar.


‘’ Kev.. Kevin.. kenapa dia ada di sini’’ kaget Okta mengucek matanya, menyakini dia tidak salah lihat, tapi itu benar, Kevin baru di giring ke di bawah sana.


*


Di sana terlihat Kevin masih di pegang oleh 2 penjaga Briaz yang sebenar nya adalah Makhluk hujan yang menyerupa menjadi manusia.


Briaz memerintahkan melepaskan tangan Kevin.


‘’ apa yang kamu lakukan disini Vin..’’

__ADS_1


‘’aku yang harus nya bertanya, apa yang kamu lakukan di hutan ini dan dengan pria baj*ngan ini’’


Perkataan Kevin membuat para pengawal dan terutama Venus tidak terima, tapi Briaz segera memberi tanda pada nya untuk tidak usah bergerak.


‘’ jaga bicara mu Vin’’ hardik Okta tidak terima.


‘’ apa, hah ternyata kau sama saja dengan wanita j*lang.. tidak bisa melihat pria kaya langsung kepicut’’


‘’ PLAK’’


Briaz yang melihat nya juga tak kalah emosi.


‘’ jaga bicara mu Vin, aku kesini hanya untuk Viola’’ cecar nya dengan mata nanar.


‘’ viola???’’


‘’ benar, kakak ku suda dapat pendonor jantung buat Viola’’ kata Briaz mencoba tenang, padahal sulur Vlous nya sudah bergerak marah nyaris ingin mendekati Kevin.


Dan kebetulan Bianca datang dengan stelan jas putih dan tas ala dokter.


‘’ sorry telat, banyak pasien’’ kata gadis ini dengan wajah heran dengan situasi yang ada di sana.


Kevin seolah tersadar dengan kebodohannya, tapi Okta keburu sudah duluan, Kevin segera menyusul okta yang jelas sangat marah dengan ucapan Kevin barusan.


‘’ ada apa sih?? ‘’ tanya Bianca bingung dan hendak menyusul tapi di cegat Briaz’’ biarkan… biar dia tau rasa gimana marah nya Okta kalau ia di hina seperti itu’’ Briaz tersenyum singkat mengingat pengalaman nya yang dulu pernah menghina Okta membuat gadis itu sangat membencinya.


*


Okta…. Aku minta maaf


Kejar Kevin kesusahan dengan langkahOkta yang cepat.


‘’ Oktaaaaaaa


Okta sampai melepas sepatu nya lalu melempari kearah Kevin.


‘ pergi jangan dekat dekat’’


Tapi bukan Kevin namanya kalau tidak berhenti.


Mereka kejar kejaran sampai mendekati ujung gerbang.


‘’ aku minta maaf Okta,,pleaaaseeee’’ Kevin membungkuk, membuat Okta jadi kaget, ia tidak suka Kevin sampai seperti itu.


‘’ bangun bangun.. aku ga suka kamu begini, KEVIN’’


Kevin tidak bergeming, hingga Okta yang mengangkat nya naik keatas.


‘’ aku mohon aku minta maaf, aku memang bodoh sudah mengatakan yang tidak tidak’’


Katanya dengan sangat tulus dan memelas.


Okta kembali diam.


‘’ aku mencintai mu Okta, aku cemburu kamu kenapa sama dengan Briaz’’


Okta menatap Kevin bibir nya bergetar hebat ingin mengatakan sesuatu, tapi melihat wajah ini dan tatapan kesedihan membuat nya kembali tidak berani.


‘’ oke aku maaf kan’’


Kevin kembali sumringah dan langsung memeluk Okta.


‘’ terima kasih, terima kasiiih’’


Okta hanya membiarkan tubuh nya di peluk kedongkolan nya sedikit bergeming saat melihat 2 sosok di depan sana yang ia kenal, Briaz dan Bianca sedang melihat nya berpelukan, entah kenapa ia menjadi sangat tak nyaman kalau di depan Briaz.


‘’ kita pulang sekarang Vin’’


**


‘’ kenapa cepat sekali dia memaaf kan nya’’ kesal Briaz tidak terima.


‘’ aaah mungkin karena Okta sudah lelah’’ kata Bianca sambil menepuk bahu Briaz.

__ADS_1


‘’ tenang saja, Okta sebenar nya hanya menyukai mu.. dia itu hanya di takdir kan untuk mu’’


Briaz melihat Bianca lekat lekat, apa maksud perkataan nya, tapi Bianca hanya btersenyum simpul lalu meninggalkan Briaz disana sendirian. Di balik senyum itu raut nya berubah lain raut kecaman dengan kemarahan.


__ADS_2