Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
12-Help me


__ADS_3

CHATPER 12*


“ Help Me’’


Di dalam ruangan besar itu terlihat bagaimana sulur vlous yang bernama Fyrd itu seolah mengamuk dan mencambuki tubuh Briaz yang nampak kuat itu. Sesaat juga di belakang ku bermunculan beberapa sosok makhluk hujan yang bertubuh besar, berotot dan dengan sulur kokoh berwarna cokelat tua menari nari beriak tanda siaga, mereka mengenakan kostum yang sama, berwarna keemasan dan sangat terlihat seperti prajurit.


‘’ tenang kan dia’’ kata Bianca yang kali ini berbeda dengan nada sebelumnya yang ramah, ini tedengar mencekam. Dan aura nya juga mencekam, aku menepi mempersilahkan para prajurit itu masuk dan dengan sigap seolah bertarung menahan semua cambukan itu dengan susah payah, mereka memukul, menarik, menghantamkan pedang yang besar namun mempan, kekuatan Vlous itu terlihat ebih kuat dan itu membuat lutut ku bergetar hebat, Briaz terlihat seperti monster, mata nya terlihat menghitam seutuhnya dan berkilat dengan marah, namun ia nampak sangat kesakitan dengan cambukan mengerikan dari akar akar itu.


Beberapa prajurit terpental mehadapi serangan Vlous Fyrd yang marah karena usikan para prajurit itu. Dan yang membuat ku beteriak ngeri ketika sulur itu menembuskan sulur tajamnya ke tubuh prajurit itu yang langsung merenggang nyawa dan menghilang sepert abu.


‘’ apa yang terjadi dengan nya??’’ Tanya seorang prajurit yang lebih kepada kepala dari para prajurit di sana, ia menuduhkan kalimat kearah Bianca yang juga masih menyusupkan aura mencekam.


‘’ aku rasa dia sengaja tidak minum obat nya,’’ jawab Bianca , dan ia sesekali juga mengarahkan sulurnya kedepan saat sulur Fyrd ingin melukai seorang parjurit lagi, tapi sulur nya malah di hujam dan terputus, Bianca meringis kesakitan, prajurit didepan ku ini langsung menangkap Bianca, ia nampak sangat marah lalu turun tangan menggantikan anak buahnya yang lagi lagi tewas. Disana ia berkelahi alot dengan Briaz yang seperti monster, gedung itu seolah bergetar hebat karena nya, dan jangan di kata lagi semua perabot hancur tak berbentuk, retakan di dinding dan lantai.


‘’ hanya ada satu cara,’’ kata Bianca yang terlihat tegang melihat penyerangan Briaz. Ia lalu melihat kearah ku yang sudah pucat pasi melihat tontonan mengerikan disana tanpa berkedip.


‘’ Okta.. Ok’’ panggil Bianca membuyarkan ketegangan ku.


‘’ plis, ini hanya kamu yang bisa mengatasi dan menolong Pangeran..’ katanya dengan mata memohon, tangan nya mencengkram gemetar dibahu ku,


‘’ aku.. apa yang bisa aku lakukan?? Aku hanya punya pisau’’ ucapku setengah asal.


‘’ dekati dia.. tenangkan Fryd, dia hanya terobsesi dengan mu..’’


‘’ a-apa dekat.. ke sana, tidak!!’’


Pliss, hanya itu , tatapan memohon dan wajah sendu Bianca tidak bisa aku tolak, dan kasihan melihat tubuh Briaz yang sudah tercabik oleh cambukan iblis itu, bahkan melihat darah yang menetes di lantai membuat ku terenyuh itu pasti sangat sakit, aku perlahan mendekati kearah Briaz yang meringkuk disana kesakitan, dan gejolak vlous Fyrd yang tadi mengerikan mendadak kalem seolah menari nari ingin menyambut ku, benar saja dalam kondisi Briaz yang terlihat lemah vlous iblis itu langsung melilitkan ketangan ku dan lagi sengatan sensasi itu seperti merasuk kedalam otakku.


Aku mengangkat kepala Briaz meletakkanya keatas paha ku dengan sangat hat-hati dan rasanya ingin menangis melihat penderitaan pria itu, nafas nya ngos ngosan dan terlihat sangat lemah, terbayang barusan ia baru saja bersenang senang dengan gadis gadis itu dan baru saja masuk ke kamar itu dengan posturnya itu, tapi pebandingan nya sekarang.


‘’aku harus menyelamatkannya, yaaa aku harus..


Aku mencium bibir itu yang sudah terluka dan berdarah, gelora diotak ku ikut merasuki, aku menciumnya dengan lama namun perlahan bibir itu bergerak dan tubuh itu ikut bergerak hanya hitungan detik aku merasa sosok lemah yang nyaris tewas barusan masih terekam di kepala ku seolah bergerak sangat kokoh, tangan nya menyusup keleher belakang ku dan mencium ku dengan sangat penuh haus.


Apa aku berhasil menyelamatkannya, apa benar aku adalah obat yang bisa menyelamatkan nya.. apa kah ciuman ini benar benar bisa menolong nya….


Gerakan Briaz makin liar dan agresif, aku yang entah kenapa seolah hilang akal sehat ikut menikmati bagaimana lidah itu menari nari disana, sentuhannya membuat ku merasa ingin terenyuh disana, dan gerakan si Vlous yang merayap rayap semakin aku menggeliat. Dari arah mata ku aku melihat tetesan darah tadi seolah kembali naik dan merayap kedalam kulit Briaz hingga luka yang menganga ikut masuk dan kembali dalam bentuk yang utuh bersih tak ada goresan sedikit pun, aku takjub dengan semua itu, mendorong pria ini yang masih snagat mengebu ngebu saat terlepas otak ku baru kembali menjadi otakku yang setengah normal.


Briaz nampak tidak suka aku melepas ciuman itu ia hendak kembali menyerangku, dengan cepat aku mendorongnya.


‘’ bagaimana bisa…semua luka itu..’’ mata ku masih tidak bisa percaya dengan apa yang aku lihat, Briaz benar benar kembali menjadi sosok sebelum ia terluka parah.

__ADS_1


Ia melihat sekujur tubuhnya dengan tersenyum puas tentunya.’’ Mukjizat.. rasa sakit nya sudah menghilang’’ gumam nya.


‘’aku sudah terlalu lelah menahannya, hanya dengan cara ini kamu mau menyerah iya kan….’’ Sambung nya dengan nada mengartikan sesuatu.


‘’ aku tidak bisa menggunakan gadis lain, dia hanya menginginkan mu’’ katanya lagi.


‘’ bisa kita lanjud kan…’’ tatapan nya terlihat kesetanan.


‘’ PLaaak’’ aku mengayunkan tas yang ada duri duri di ujung nya ke kepala laki laki ini, sampai jidatnya memerah dan tergores.


‘’ apa yang kau-


‘’ kamu mempermainkan ku..’’ erang ku sadar akan sesuatu, tentu saat ini entah kenapa Bianca dan pengawal yang mengagumkan itu sudah tidak ada disana, bahkan pintu yang nyaris hancur sudah tertutup.


‘’ tidak’’ jawab Briaz dengan tampang tak sekuyu tadi, ia melangkah maju, tapi aku segera mundur.


‘’ jangan mendekat..


‘’ hey.. bukan kah sudah jelas, aku memerlukan mu untuk menolong ku…’’


‘aku memandang nya dengan tatapan terluka, dia mempermain kan ku barusan aku melihat nya hampir saja meninggal di tangan Fyrd.


Pintu lalu kembali dibuka, muncul Bianca dan laki laki yang berpakaian aneh itu.


Penjelasaan Bianca membuat ku masih syok, apa aku harus marah arau tidak, hanya saja mereka sekongkol untuk membuat ku nyaris pingsan tadi.


‘’ jangan jual mahal lagi, kamu itu dilahirkan untuk menghilangkan kutukan ini, teruskan berada di sebelah ku, dan katakan berapa harus aku bayar untuk setiap sentuhan?’’ kata Briaz terdengar membuat ku malah tersulut emosi. Ya aku memang rentan dengan amarah. Laki laki itu melangkah menuju arah ku.


Diujung sana Bianca menunduk lesu, sadar akan Briaz akan membuat kekacauan lagi.


‘’ mohon maaf Pangeran saya menyela, kalian bisa kah membicarakan nya dengan kepala dingin… setidaknya kita sambil duduk’’


Aku melihat kearah mereka secara bergantian.’’ Baiklah


Bianca dan laki laki yang memperkenalkan nama nya Venus itu berdiri disamping Briaz yang duduk berseberangan dengan ku, aku mencoba menarik nafas agar bisa mengatur kedongkolan ku terhadap drama yang terjadi ya walau tidak semua palsu, Briaz hanya ingin membuktikan kalau aku mampu membuat rasa sakit nya hilang, tapi tetap saja mengingat bagaimana kengerian si monster dalam tubuh Briaz mencambukinya dan mengamuk.


‘’kamu mau di bayar berapa? dan Apa saja yang kamu bilang? Semua nya pasti aku penuhi’’ kata Briaz membuka obrolan lagi, ia kembali menyinggung masalah nilai, dan aku sangat tidak suka, walau aku tau dia sekaya apa tapi sifat sombong san songong nya benar benar aku benci.


‘’ begini, Pangeran hanya tidak mau berhutang budi’’ potong Bianca meluruskan pikiran ku.


Aku mendelik kearah Briaz, otak ku masih berusaha berpikir lagi dan lagi.

__ADS_1


‘’ kami bisa menyembuhkan Viola’’ sambung Bianca, aku melihatnya intens, kenapa ia tahu keadaan Viola.


‘’ dia dokter dan tentunya bukan sembarang dokter,ramuannya bisa menyembuhkan anak itu ‘’ timpal Briaz lagi.


Bianca mengangguk menyakin kan ku.


‘’ jadi kau banyak untung bukan!! Sudah bisa jadi kaya, adik mu juga bisa hidup normal’’


Aku memejamkan mata menahan amarah, ini cowok kenapa selalu membuat isi kepala ku mau keluar ya…


‘’ maaf saja aku tidak butuh uang mu, Pangeran’’ perkataan ku mampu membuat mata cowok ini membulat dan menukik tajam.


‘’ hey ayolah, bukan nya kamu sangat butuh, hutang hutang mu bisa lunas, dan hidup mu tentunya tidak miskin lagi bukan!!’’


‘’ ini bukan masalah nilai nya Pangeran yang agung, bisa berhenti ga kamu terus memamerkan uang mu, aku bilang aku tidak butuh uang itu’’ dada ku sampai naik turun karena terlalu kesal.


‘’ oke, kalau kamu tidak mau uang, terserah. Jadi kamu bersedia menolong ku kan!!!


‘’ dia bahkan tidak minta maaf, dasar kutu kupret’’ gumam ku.


‘’ hey, kau masih mendengar ku kan..’’


‘’ ya aku dengar, katakan bagaimana aku melakukan nya… aku tidak harus selalu dekat dengan mu kan!!’’


‘’ emang ada yang salah dengan ku??’ pria ini balik bertanya , ia merasa dilecehkan oleh kata kata ku barusan.


‘’ tentu, aku tidak mau dekat dekat dengan orang yang aku tidak suka, dan berotak seperti mu.’’


Briaz mengerucutkan bibirnya , mata nya mehujani ku dengan kesal.


‘’ tapi sepertinya memang harus begitu, sayang sekali kan nona..’katanya sambil tersenyum sinis


‘’ aku-


‘’ aaah sebentar, ‘’ Bianca memotong kalimat ku.


‘’ pertengkaran kalian tidak akan berhasil menyelesaikan masalah… aku punya saran yang bagus.


Aku dan Briaz saling melihat kearahnya.


‘’ bagaimana kalau kalian menikah””

__ADS_1


“…..”


__ADS_2