
CHAPTER 36*
“ Rahasia ”
Aku memeriksa urat nadinya dan aku bisa bernafas lega ia masih hidup. Tiba tiba tangan yang aku sendtuh bergerak dan menangkap tangan ku, mata nya terbuka, mata itu kecoklatan dan menawan.
Sekian detik mata ku terpaku disana, namun sejurus kemudian aku sadar dengan tangan ku, aku menghempasnya dan berdiri takut, belum sempat aku berpaling dia bangun separuh
‘’ Oktaaaa’’
‘’ siapa kamu..’’, apa dia mengenali ku karena aku memang sudah di kenal orang banyak. Ya mungkin itu runtut hati ku bicara karena aku tidak mengenali pria ini.
Samar samar terdengar suara panggilan di lain tempat. Aku berlari dan meninggalkan pria ini menuju pria yang aku kenal. Kevin.. mengenakan payung kuning dan sibuk berteriak memanggil nama ku, wajah nya terlihat sumringah saat aku melambaikan tangan dan berlari kearah nya, Kevin langsung meyungi ku dan menyambut tubuh ku yang menggigil.
‘’ apa yang kamu lakukan..’’ cecar nya tampak khawatir.
‘’ main hujan’’ sahut ku sambil memeluk tubuh nya mencari kehangatan dan kami segera masuk ke dalam.
***
Tuan…
Venus meletakan tangan nya di bahu Briaz yang masih terpaku dia sangat lama melihat ke ujung sana saat Okta berlari dan memeluk Kevin. Venus bisa merasakan perasaan tuan nya sekarang yang sekian lama terpisah dan nyaris membuat nya depresi karena tidak bisa kembali ke dunia manusia sekarang saat kembali ia malah tak di kenal dan melihat sesuatu yang menyakitka seperti itu.
‘’ aku baik baik saja’’ sahut Briaz setelah sekian lama bungkam, ia menjadi sangat pendiam bahkan tak mau bersuara sejak mengetahui Okta hilang dan akses penghubung lenyap begitu saja.
Venus sedikit lega dengan suara tuan nya ini, ia melihat ke sekeliling dan awan di atas sana yang juga terlihat sedih, tapi ia senang mereka kembali lagi ke dunia manusia. Ia yakin sekali lagi kalau Okta adalah takdir untuk tuannya.
**
Aku kebingungan mencari Okta yang tak terlihat, sementara hujan sangat lebat, berkali kali aku panggil ia tak menyahut. Aku sangat tak suka hujan, aku takut Okta akan kembali melihat makhluk makhluk itu dan mengingat semua nya. ketakutan ku seperti orang gila yang mencari carinya di hamparan rumput luas ini. Sesaat aku melihat ia berlari dan melambaikan tangan dengan basah kuyub. Wanita ku itu langsung memeluk ku dengan tubuh yang sangat menggigil. Aku segera membawanya kedalam dan kru yang melihat Okta langsung memberinya kain, handuk dan selimut. Aku terus memeluk nya agar tidak kedinginan lagi.
Dan Lia memberikannya kopi hangat lalu meninggalkan kami berdua tentu setelah ia berganti pakaian.
Okta meniup niup kopinya dengan lambat entah apa yang ia pikirkan.
‘’ kamu tidak apa apa??’’ tanya ku cemas dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh ku agar ia tak kedinginan, Okta mengangguk lalu meminum seteguk kopinya ia kembali melamun.
‘’ sayang..
Gadis ini menoleh lambat
‘’ ada apa??’’ tanya ku terus memperhatikan manik mata nya mencoba menerka.
‘’ tidak apa, cuman dingin sekali di sana’’ jawab nya tersenyum tipis dan kembali menggenggam erat secanggir kopinya.
‘’ setelah ini kita ke pulang, nanti aku belikan obat’’ kata ku sambil menyelusuri poninya yang memanjang kesamping dan sudah mulai kering. Ia mengangguk.
Sepanjang perjalananpulang Okta melihat keluar kaca mobil yang dihiasi rintik hujan, ia seperti sedang melamun. Okta yang sekarang memang banyak diam, kadang aku cemas suatu saat ingatan nya kembali, namun selama 2 tahun ini aku senang ia tak ingat apa pun, dan aku berharap setelah menikah nanti dia ingat atau pun tidak dia adalah milik ku, perjuangan ku mempertahan kan nya sampai sekarang tidak boleh sia sia, aku sudah membuat berita kecelakaan dan berita kematian Briaz secara palsu, aku harus membuat nya terikat dengan ku dengan semua biaya yang aku keluarkan untuk nya, untuk keluarga nya. namun setiap hari aku merasa ia semakin memperlihatkan kepalsuan, dia seperti sedang berpura pura tapi aku yakin aku akan membuatnya selalu berada di sisi ku aku yakin ia hanya mencintai ku, walau aku juga sangat merasa bersalah karena pernah melakuka tindakan pemerkosaan ya walau waktu itu bukan aku sepenuhnya tapi berimbas sampai sekarang kadang saat aku menyentuhnya, ia refleks menjauh dan bergetar. Aku hanya berharap kenangan pahit itu ikut menghilang, aku takut ia akan membenci ku setelah mengingat nya.
Aku menyentuh pipinya, Okta terperanjat dan tampak pangling.
‘’ apa yang mengganggu mu??’’ tanya terus melihat wajahnya.
‘’ aku rasa aku sedikit demam’’ katanya sambil memutar mata, aku pegang jidat nya dan memang agak hangat.
__ADS_1
Lalu aku memutar dan berhenti di apotik. Tunggu disini..pinta ku lalu segera membeli obat demam disana.
Aku kembali 7 menit kemudian, saat itu Okta sedang meletakkan sesuatu dalam tas nya, saat mata ku ingin tahu ia sudah menutup nya.
‘’ apa kau mau lihat pembalut wanita??’’ ujar nya membuat ku malu, Okta tertawa kecil. Kadang aku merasa terlalu over posesif dengan nya tapi itu terjadi begitu saja sejak aku akan kehilangannya dan memori nya yang bisa datang kapan saja menjadi camuk besar untuk ku.
‘’ kamu yakin baik baik saja??’’ tanya ku setelah mengantar nya pulang bahkan membawanya ke kamar nya.
Okta mengangguk’’ aku sudah minum obat, pasti kalau dibawa istirahat akan sembuh’’
Aku menatapnya lagi yang tersenyum pada ku, Okta lalu menarik tangan ku dan meletakkannya di jidat nya memutarnya berkali kali, ia sering melakukan nya tapi aku menyukai nya.
‘’ kamu pulang lah, aku mulai merasa obat nya sudah bereaksi’’ ucap nya lagi.
‘’ baik, hubungi aku kalau kamu perlu sesuatu’’ kata ku lalu mengecup kening nya dan keluar dari sana, saat mau membuka pintu aku melihat kertas bergambar yang begitu familiar, terletak di atas meja belajar Viola. Hanya sepintas namun membuat ku penasaran saat hendak aku ambil handphone ku berbunyi.
Saat masuk mobil aku melihat bungkusan plastik yang terjatuh di bawah, aku mengambilnya ternyata itu plastik dari store penjualan Handphone, setengah curiga karena mengingat Okta yang tadi tergesa gesa menyembunyikan sesuatu dalam tas nya. tapi itu mungkin saja bekas plastik milik orang lain yang hanya ada dalam tas Okta.
**
Aku mengambil Hp baru, beruntung tadi Kevin tidak curiga dengan cepat aku mengisi nomor nomor teman teman ku terutama Maya dan Tifanny.
Entah kenapa aku tidak ingin Kevin mengetahui aku sengaja membeli Hp baru untuk menghubungi teman teman ku.
Terdengar suara nada sambung sampai akhirnya panggilan video itu tersambung terlihat wajah gadis tirus yang mungil berbalut hijab.
Di seberang sana Tifanny nampak berusaha mengenali ku sampai ia memekik nyaring.
‘’ OKTAAAAA…. ‘’
Tifanny masih tampak berseru seru heboh disana sampai ia menyampaikannya ke sebelah nya yang sedang menyetir dan itu Daus, suami nya sekarang, Daus terlihat tambun sekarang.
‘’ Fan… fanny’’ panggil ku
Dan kembali muka nya di layar Hp.’’ Apa kabar beb…’’ tanya anak itu dengan mata sembab, aku juga ikut mewek, karena rasa kangen yang teramat sangat.
‘’ baik Fan, kamu gimana?? Udah merried niiii’’
Fanny tertawa kecil’’ iyaa Okta sayang, aku mau undang tapi kamu ga bisa di hubungi….
Kami mulai bernostalgia menceritakan hal konyol masa kuliah, sebenar nya aku memang rada demam tapi gejolak ku ingin melihat sahabat ku lebih besar.
‘’ ntar ceritain ya gimana kamu bisa jadi ama Daus, padahal kan dulu kalian musuhan dan sok jual mahal kedua nya’’ ujar ku yang juga penasaran bagaimana bisa mereka langsung menikah.
‘’ tentu doong tapi nanti ya, kalau aku bilang disini nanti…dia besar kepala’’ bisik Fanny
‘’ dia ngelamar aku Oktaaa’’ terdengar suara Daus disana, Tifanny langsung menutup speaker Hp nya.
‘’ wwwaaaaaah bener Fan’’ kata ku menahan tawa.
‘’ bo’ong Ok,, hahaaaaa
‘’’’ masa siiih’’ goda ku iseng
‘’ yaaa kayak kamu ga ajaaaa, katanya dulu mau nyatain cinta sama CEO itu’’
__ADS_1
‘’ CEO?’’
Tifanny tampak gelabakan disana’’ aaah Kevin Er.. ya kan,, ya kan beb.. bhahahaaa
‘’ dasar aneh,’’ kata ku lalu Hp ku satu nya berbunyi dan itu dari Manager ku Lia.
‘’ fan,, nanti sambung lagi ya.. byeeee
Aku lanjud mengangkat telepon dari Manajer ku.
Esok paginya aku merasa masih kurang enak badan, tapi tetap saja aku harus kerja.
Pagi ini aku berangkat sendiri karena tadi pagi aku baru dapat sms dari Kevin ia harus ke China karena ada Bisnis dadakan di sana.
‘’ haaatchiiiiii’’
‘’ mba o’ok Flu ya??’’ tanya Nana seraya mengambilkan tissue saat akan memake up ku.
‘’ o’ok…??’
‘’ hee teman mba kemaren yang cerita kalau mba dulu di panggil o’Ok.. kaya ayam ya mba,, haaa
Aku ikut tertawa dan meluruskan kalau yang memanggil ku seperti itu cuman Maya seorang.
‘’ udah minum obat nya mba??’’
‘’ udah, tapi ni ingus kayak nya mau meleleh terus..’’
‘’ di taruh ke frezer aja mba ntar beku lagi’’ jawab Nana asal, aku menyikutnya.’’ Kamu yang jilat yaa Es rasa ing*s’’
‘’ weeeek, jorok ah Mba’’
‘’ kamu yang mulai’’
Kami tergelak lagi.
‘’ body Gurd Mba ga antar ya hari ini??’’
‘’ ya begitulah’ jawab ku sambil memejamkan mata karena Nana mulai memasangkan bulu mata palsu.
‘’ ciyee freee lagi dooong, traktir lagi ga niii’’
‘’ atuur’’
Selesai di Make Up aku segera bergabung dengan model lain. Kami sedang shooting untuk commercial music dan aku juga menjadi model video clip salah satu band yang hits di Indonesia, memakan hampir seharian penuh dalam stamina yang agak kurang tapi aku tetap berusaha profesional mengingat kalau menundanya waktu nya maka akan panjang lagi, alhasil setelah selesai tubuh ku rasa nya lemas, dengan kepala berdenyut. Dan flu ku kumat lagi.
‘’ mau di antar nih Ok??’’ tanya ka Lia tampak prihatin melihat ku.
‘’ ga usah ka. Udah pesan taksi online’’ jawab ku.
‘’ yaa kan kita searah’’ kata wanita yang umur nya terpaut 10 taun dari ku ini. Aku tetap menolak nya. lalu segera mengambil barang barang ku dan menunggu taksi online di bawah.
Aku tiba di Apartemen ku setengah jam kemudian, dengan gontai berjalan seperti zombie yang haus daging. Bahkan aku sampai menjinjing sepatu high hill ku yang tinggi, dan berjalan dengan telanjang kaki tak peduli tatapan orang yang melintas melihat ku dengan aneh.
Aku menekan lift dan kebetulan ada tangan lain yang juga menekan saat menoleh mata ku terdiam di manik bola mata indah di sana yang dimiliki oleh seorang laki laki tampan, berpostur tinggi dan dadanya bidang. Aku merasa pernah bertemu dengan nya, ya aku kenal tato di tangan nya itu. Dia pria yang kemaren telungkup di rumput, aku melihat nya sekali lagi, dan benar saja, tapi pria ini cuek ia hanya melihat kearah ku sepintas bahkan aku melempar senyum tapi ia tak bergeming, hanya wajah dingin dan datar beda dengan kemaren ia seperti sok kenal. Apa aku salah orang atau kemaren aku salah dengar ia menyebut nama ku?
__ADS_1