
CHAPTER 21*
“ Gejolak”
‘’ apa yang kamu lakukan di sini??’’ tanya Briaz melepas tangan nya yang terasa aneh di sana. Dan Okta takjub terlihat malu sendiri.
Mata nya berkeliaran mencari alasan, itu memang tempat favorite nya, apa ia harus bilang hal itu juga pada Briaz.
‘’ kamu sendiri??’’ tanya nya balik.
‘’ aku!! Hmm mengikuti mu…’’ jawab Briaz jujur.
Okta melihat nya dengan bingung dan membuang muka, wajahnya bersemu merah tidak jelas.
‘’ hujan begini dan angin nya deras, apa tidak takut sakit nanti??’’
‘’ tidak, kulit ku tebal setebal kulit kerbau, jadi ga gampang sakit karena hujan doang’’ sahut nya asal.
Briaz tertawa kecil dan menangguk mengerti,’’ bagaimana pacar mu?? Sudah sehat??’’
‘’ Kevin??, ya sudah’’
‘’ bagus lah, kalau begitu aku turun.. kamu pulang lah…’’ kata Briaz membalik kan badan tapi Okta menahannya dengan refleks, setelah sadar ia kembali melepas tangan Briaz.
‘’ itu… apa
‘’ aku membutuhkan ciuman mu Briaz’’
Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa ku kemaren’’
Briaz menaikan alis nya sebelah’’ bukannya kau sudah bilang kemaren dan tadi pacar mu juga sama kan’’
Okta kembali tergagap dan menunduk malu’’ iya’’
‘’ oke, ‘’
‘’ tunggu..’’ Okta kembali menahan dengan panggilannya.
‘’ bagaimana cara mengeluarkan Diamond Fyrd nya??’’
Briaz berbalik dan berjalan mendekati lagi.
‘’ aku yakin kamu tidak suka mendengarnya..’’
‘’ apa!! Kata kan saja’’
‘’ dengan keperawanan mu’
Glek, Okta menganga lebar.
Serasa waktu berjalan lambat…
‘’ serius?? ‘’ tanya Okta masih gugu
‘’ ya!! Tapi itu hanya akan terjadi kalau kamu ikhlas melakukan nya…’’ perjelas Briaz dengan senyum kecut.
Okta langsung mengantup bibir nya lagi.
‘’ tenang saja, aku tidak akan memaksa mu lagi!! , pulang lah… di sini nanti hujan, nah mulai hujan kan..’’ Briaz mendapati kepala nya mulai di hujani guyuran hujan yang besar besar, tapi mereka terlambat hujan sudah mengguyur dengan cepat nya. Briaz menarik nya ke samping ada atap kecil yang tak mampu membuat kedua nya bisa selamat dari percikan air hujan. Okta dan Briaz membersihkan guyuran hujan yang membuat sebagian baju mereka.
‘’ maaf , karena aku kamu jadi ikut basah’’ kata Okta tak enak hati.
Briaz membalas dengan senyuman yang memikat di mata Okta, ia langsung memalingkan wajah ketika Briaz menangkap pandangan nya.
Okta kembali menahan air dalam tangan manis nya, mata nya melihat bagaimana makhluk hujan di sana sedang menari nari indah dengan balutan baju yang menawan da sulur sulur menyerupai keemasan.
‘’ kamu sedang melihat nya??’’
Okta mengangguk sambil tersenyum.
‘’ vlous nya emas, dia itu bagian yang mana??’’
‘’ bangsawan?? Apa dia cantik atau ganteng??’’
__ADS_1
‘’ menawan’’ jawab Okta terus tersenyum manis, Briaz tampak kesusahan menahan gejolak perasaan nya.
‘’ apa kamu tidak melihat kaum mu sendiri??’’
Briaz yang tadi sedang menatap gadis ini terperanjat kaget.
‘’ tidak, aku hanya melihat di tempat ku saja’’
Okta mengangguk dan kembali menadahkan tangan tak peduli air itu membuat wajahnya basah.
Briaz kembali menyemat tangan itu,’’ apa kamu sedang menahan sesuatu Okta??’’
Okta merasa jantung nya kembali maraton tidak jelas, ia membiarkan tangan itu menggenggam tangan nya, malahan pengaruh Fyrd terasa mengganggu nya.
Dengan malu malu Okta mengakuinya’’ kau tau aku malah meminta Kevin mencium ku untuk menghilangkan pengaruh nya’’ aku nya membuat Briaz memanas,
‘’ kalau begitu kita sudahi saja….’’ Ia langsung menarik Okta dalam bekap an nya, menatap Okta Intens dan ******* bibir nya yang sangat manis itu. Okta sendiri seolah membalas ciuman Briaz yang entah dalam kuasa fyrd atau sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Kali ini ciuman itu terasa menjadi sangat manis dengan nya dengan debaran jantung yang meronta ronta ingin keluar dengan sentuhan lidah dan bibir Briaz seolah membuat nya terenyuh.
Briaz lalu melepas ciuman nya.
‘’ kamu bebas’’ kata nya datar dengan siratan yang dalam dari tatapannya, ‘’ sebaiknya kita kembali, hujan nya semakin gila’’ kata nya lagi.
‘’ kau duluan saja lari ke sana, aku takut kalau menyentuh mu lagi’’
Okta terperanjat kaget lagi, ‘’ okee..’’ ia lalu lari ke arah pintu tangga dan disusul Briaz.
**
‘’ vin, aku pulang ya.. kalau ada apa apa hubungi saja’’
Kevin bangun tengah malam, ia kaget melihat Okta menghilang di sebelah dan membaca sms Okta setelah nya. Pria ini kembali merisut lemas. Ia sangat ingin wanita itu menemani nya tidur di sana dalam keadaan sakit seperti itu ya walau ia sudah baikan tapi hatinya masih terasa sakit dengan ancaman Ayah nya.
**
Maya muncul dengan segelas kopi yang mengundang hidung Okta untuk bergerak mengikuti.
‘’ wangi banged, mau dong..
Okta terlihat malas dan kali ini ia tak beranjak dari kursi nya.
‘’ nih khusus buat sahabat ku Okta tersayang’’ Maya meletakan kopi latte itu ke meja Okta yang langsung di hujanji senyum manis Okta.
‘’ hari ini kayak nya sumringah banged sih Bu..?? ‘’ tanya nya kepo. Memang Okta sudah dapat energy nya lagi setelah semalam Briaz mencium nya dan ia bisa tidur dengan nyenyak.
‘’ benar kah.. , tambah cantik kan..’’ canda Okta sambil menyeruput kopi itu lalu bibir nya di maukan nay keatas, membuat Maya tergelak.
‘’ ngomong ngomong, Kevin gimana??’’’’
Belum juga Okta jawab Kevin sudah nongol mengetuk ngetuk meja di depan.
‘’ temenin aku breakfast’’ katanya lebih mirip memerintah dari pada meminta.
‘’ ga bisa, kan lagi kerja..’’ tolak Okta.
Kevin langsung melemaskan wajah tampan nya dengan sangat lucu.
‘’ ayolah, bukan nya bos mu dekat dengan mu’ entah itu bercanda atau sindiran. Maya yang mendengar langsung kaget menutup mulut nya dan menjauh dari atmosfer Kevin di sana.
‘’ okeee’’ dengan malas Okta beranjak, padahal ia sedang menyelesaikan tugas nya yang terbengkalai.
‘’ titip dulu May’’ katanya dengan tampang di tekuk.
‘ siap’’
**
‘’ tuan? Apa mau breakfast di sana?’’ ajak Venus yang meihat Briaz berhenti ketika melihat Okta di sana sedang makan dengan Kevin.
‘’ menurut mu apa laki laki harus berjuang mendapatkan cinta nya??’’ tanya nya pada Venus yang nyaris mengulum senyum, tapi ia mantab menjawab.
‘ iya harus tuan, apalagi kalau cinta nya tidak sebelah tangan’’
‘’ maksud nya??’’
__ADS_1
‘’ ayolah tuan, coba anda liat baik baik, nona Okta sama sekali jarang melihat pacar nya dengan serius, berbeda saat bersama tuan tadi malam hmmp’’ Venus menutup mulut nya yang bocor, ia memang sedang mengikuti mereka tadi malam.
‘’ kamu-
‘’ ampuun tuan..!! tapi serius, saya bisa lihat dengan jelas nona Okta tadi malam itu merasa nyaman dengan tuan!!! Dia juga sering kan curi pandang dengan tuan!!! Selepas pengaruh Fyrd kalian memang terikat pernah saling memikirkan satu sama lain sedikit banyak pasti ada kenangan yang berbekas’’ Venus menjelaskan lebar lebar, membuat Briaz melangkah maju menuju Café Resto disana.
*
Hey.. gabung boleh
Briaz tiba tiba nimbrung di sana dengan Venus lengkap dengan makanan di piring mereka.
Okta sampai membataskan suapan nya karena kaget melihat Briaz ikut dalam satu meja, sedangkan Kevin ia terlihat tidak suka dengan kedatngan Briaz.
‘’ kamu bagaimana?? Sudah sehat??’’ tanya nya pada Kevin yang tak bernafsu melihat wajah Briaz, malahan memilih diam dan sibuk dengan makanan nya.
‘’ se hat kok pak,,’’ jawab Okta tak nyaman dengan tanggapan Kevin.
‘’ bagus!!, ga papa kan kami makan disini.. yuk Ven,, habiskan makan mu’’ kata Briaz sambil menepuk bahu Venus yang sudah makan lebih dulu.
‘’ ga papa pak, silahkan’’ jawab Okta sambil menedang kaki Briaz.
‘’ ada apa ya nona Okta? Nendang kaki saya??’’ kata pria itu sengaja, Okta sampai habis kata kata karenanya, entah kenapa Briaz jadi menyebalkan.
Kevin mehujani nya dengan tanda tanya besar, dan beralih pada Briaz.
‘’ maaf yang terhormat bapak CEO Briaz Alvaro, bukan kah anda terlihat buruk sedang makan dengan 2 sepasang kekasih ??’’
Kalimat Kevin mengundang emosi disana. Tapi briaz terlihat sangat menahan emosinya, Okta bisa melihat bagaimana sulur yang tadi melebar merisut masuk lagi.
‘’ Kevin apa apaan’’ sela Okta memalingkan wajah Kevin yang menatap Briaz dengan garang.
Briaz tertawa kecil dengan ujung bibir di tarik.
‘’ mungkin kamu tidak tau Kevin Er, sebelum dia pacaran dengan mu dia pacar ku’’
‘’ glek’’
Sukses makanan yang tadi sudah tak berselera di mulut Okta hampir keluar.
‘hahhaa BAPAK ADA ADA SAJAAAA’’ Okta langsung menepuk bahu Briaz dengan kasar dan sebagian pengunjung yang sebagian tamu hotel menoleh mencari suara Okta yang nyaring.
‘’ emang ada yang salah?? Kamu lupa kita ber-
‘’AAAAAAAGHHHHHR’’ Okta langsung memasukan potongan ayam ke mulut Briaz yang ember,dan Venus nyaris tersedak melihat bagaimana Tuannya di perlakukan.
Briaz lalu tertawa lepas setelah nya.
‘’ jadi hubungan kalian sebenar nya apa??’’ tanya Kevin dengan suara mencekam. Okta sampai kelihatan takut melihat perubahan wajah nya, berbeda dengan Briaz ia dapat melihat adakejanggalan dengan emosi Kevin seperti sedang melihat aura sihir yang familiar, tapi cuman sepintas terasa.
‘’ hmmm.. sebaiknya kita makan dengan nyaman saja, tidak enak di lihat orang’’ kata Venus menengahi.
‘’ aku tak punya selera’’ jawab Kevin melempat sendok dan garfu dengan kasar disana.
‘’ ha, kalau kamu khawatir tentang hubungan ku dengan pacar mu tenang saja, aku dan dia hanya urusan yang tak perlu kau ketahui’’ kata Briaz belum mau merubah atmosfer disana.
Kevin melihat Okta dengan garang lagi’’ nanti aku jelaskan, sebaiknya kita pergi’’ Okta dengan cepat menarik Kevin di sana. Dan menggerakan tanda dead dengan tangan di leher nya ke arah Briaz.
Briaz lalu tertawa lepas, tak peduli dengan pemandangan sekitar.
‘’ lihat itu setelah ini mereka pasti bertengkar’’ ucap nya tertawa hambar.
‘ tuan sih!!, lebih baik bersikap adil tuan’’ Venus mengingatkan hati hati. Tapi Briaz tidak menanggapinya.
‘’ Venus, ada yang aneh, apa kau merasakan aura berbeda dari Kevin??’’
‘’ aura berbeda??’’
‘ ya entah kenapa seperti bau sihir dari tempat kita berasal’’ jawab Briaz dengan serius.
‘’oh ya aku lupa, ada benda yang harus kamu selidiki’’ ia baru ingat akan obat kemaren yang ia temukan di nakas kamar Kevin.
**
__ADS_1