Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
20-Hujan


__ADS_3

CHAPTER 20*


“ Hujan”


Di tempat lain, Venus sengaja mengipas ngipas tubuh Tuan nya dengan tangan nya tentu tanpa sepengetahuan nya.


‘’ Bri.. loe kenapa??’’ tanya Jacob yang memang tak peka kali ini.


Briaz menoleh nya dengan garang.


‘’ loe cemburu ya??’’ serang jacob dasar tak tau keadaan. Ingin rasanya di bekap Venus yang sedari tadi tak berani ngajak bicara tuannya.


Jacob lalu tertawa terbahak bahak.


‘’ astagaaa Bri.. loe serius ama recep, aah Okta??? Hmmmmp’’


‘’ maksud kamu apa??’’ tanya Briaz melihat Jacob dengan tangan mengepal.


‘’ sorry sorry, santai Bro, santai…, tarik nafas dalam dalam, lalu buang.. tar.


‘’ brisik’’ sergah Briaz.


Jacob maju kedepan Briaz’’ gue kaget aja loe serius sama tu cewek, biasa nya juga kan loe ga pernah peduli ama cewek kan.. , apa loe suka ama dia??pantas saja kita di minta turun naik,,,


Briaz meliat Jacob dengan tajam, lalu terbahak.’’ Aku suka dengan gadis itu….??”’


Jacob menepuk bahu sahabat nya itu, ‘’ kamu bukan hanya menyukai nya tapi mencintai nya..’’


Briaz melihat Jacob dengan sungguh sungguh.


**


‘’ waaaah Vin.. ga jadi nih, mereka ngancem bakal ngeluarin aku dari daftar kelompk tugas’’ pekik Okta menghentikan langkahnya, padahal hampir sampai kamar Kevin.


‘ hah kenapa –


Okta memperlihatkan isi sms Tifanny yang membenarkan penjelasan Okta barusan.


‘’ oke, kalau gitu aku yang temenin..’’ kata Kevin balik haluan, Okta mencegat nya dengan tangan menyilang.


‘’ buat apa!!! Di sana isi nya cewek cewek rempong…’’ Okta membayangkan bagaimana kalau Kevin si artis populer ikut kumpul di sana di mana ada si Tifanny yang bawel, Cindy yang centil, Ochi yang barbar, Okta langsung bergidik bisa bisa ke 3 cewek itu bukannya ngerjakan tugas tapi malah asik berfoto ria atau cuci mata, bukan karena tidak suka hanya saja Okta malas saja lama lama kumpul dengan cewek cewek temannya di kampus.


‘’ kamu takut aku rebut??’’ goda Kevin berhalusinasi sendiri.


‘’ hah, Ha!! Ya anggap lah begitu, kalau gitu aku pergi ya,,, byee byeeee’’ Okta segera ngacir. Kevin hanya geleng geleng kepala lalu berputar lagi menuju kamar nya, sepintas ia ingat bagaimana pertemuannya tadi dengan Briaz, pria yang membuat nya sangat cemburu. Mengingat bagaimana sikap Briaz di depan nya ia sangat yakin pria itu tidak menyukai nya.


‘’ okeee… kita lihat sampai mana kamu bergerak’’ kata nya lalu mengambil Hp nya dalam kantung celananya.


‘’ Kris….. cari tahu tentang Briaz Alvaro’’


‘’ baik Bos, tapi bos ada berita buruk!!’’


Kevin berhenti menekan kop pintu.’’ Apa…


Telinga nya terasa sangat panas dengan kabar dari Kris yang mengatakan kalau Ibu nya tidak ada di kalimantan, kris memohon maaf karena keteledoran nya memberi informasi, ia bilang kalau wanita yang ada di Kalimantan itu Ibu Palsu nya yang di suruh seseorang mengaku sebagai Ibu nya, dan Kris menambahkan kalau yang menyuruh adalah Ayah nya sendiri.


Dengan marah Kevin mencari kontak Ayah nya.


Telepon di sambut.


‘’ Apa maksud ayah memalsukan informasi tentang Ibu, IBU DIMANAAAA’’ Teriak nya sangat marah sampai memukul dinding dan tanpa ia sadari ada aliran hitam mengalir di bilik urat yang ada di leher nya, matanya sampai berkilat berwana ungu terang.


Terdengar tawa ayah nya di seberang sana.


‘’ ternyata informan mu jago juga ya, hebat’’ lantas terdengar suara tepuk tangan.

__ADS_1


‘’ apa maksud ayah!!!’ suara Kevin bergetar hebat setelah suara tawa ayahnya berhenti.


‘’ cukup tingkah mu seperti anak kecil Kevin!! Atau Kau mau aku menyakiti wanita itu??’’ Kepala nya menegang mendengar ancaman ayahnya. Ini baru pertama kali Ayah nya mengancamnya melalui Ibu nya.


‘’ apa yang ingin ayah lakukan pada ibu??’’


‘’ tergantung tingkah mu!! Kalau kau menurut aku tidak akan bertindak!!!’’


Kevin hanya diam dengan nafas berat.


‘’ oh iyaaa… sebaik nya kau juga jangan bermain dengan perempuan saja, pulang lah …. Kerja yang benar disini’’


Kevin langsung mematikan telepon itu, ia kembali memukul dinding melampiaskan amarah nya, terlihat dinding itu retak hingga sebagian semen berjatuhan, urat hitam itu semakin menjadi dengan kuku kuku nya yang memanjang. Lalu ia merisut ke bawah, dada nya sesak luar biasa nyaris kehilangan Oksigen dengan cepat ia mencari Obat nya yang selalu ia siap kan dan mnyuntikan ke dalam urat nadi nya, perlahan namun pasti rasa sakit itu menghilang. Tangan nya yang bergemetar mengangkat dengan Hp di sana, ia mencari nama kontak Okta, ia membutuhkan gadis itu.


Baru saja Okta keluar dari Lift, teleponnya berbunyi dan itu dari Kevin.


‘’ Ya..


Terdengar suara nafas berat ‘’ Oktaaaa..,


‘’ vin, kamu kenapa??


Kevin tidak menjawab.


‘’ Kevin…’’ teriak Okta cemas, dengan cepat ia kembali memencet pintu lift yang sangat lama terbuka, setelah membuka ia segera masuk lagi.


Di seberang sana Briaz melihat nya dengan sangat cemburu.


‘’ jadi aku benar menyukai mu nona Okta.. hahaa sialan apa yang ingin kamu lakukan sekarang dengan brengsek itu’’


**


Beruntung pintu kamar tidak di kunci, Okta dengan cemas langsung menghambur ke kamar Kevin dan melihat Kevin pingsan di dekat nakas.


‘ ada apa??’’ tanya nya sesampai di sana dan melihat Okta kesusahan menggotong Kevin, Okta yang setengah kaget tak di tanggapi Briaz, Briaz langsung membatu nya mengangkat Kevin ke kasur.


‘’ aku juga tidak tau, dia baru menelpon’’ cecar Okta panik.


‘’ oke, tenang lah, aku sudah menghubungi dokter’’ kata Briaz menenangkan, sepintas ia melihat sisa cairan dalam jarum suntik di dekat nakas dan mengambil nya.


‘’ kamu kenapa ada di sini??’’ tanya Okta mengaget kan nya dan Briaz buru buru menyimpan sisa obat itu dalam saku jas nya.


‘’ aku kebetulan mendengar kamu menelpon Maya, jadi aku ke sini’’ kata nya menjelaskan.


Okta mengangguk, lalu kembali melihat ke arah Kevin yang masih tidak sadar kan diri.


‘’ apa dia punya riwayat penyakit??’’


‘’ aku tidak tahu’’ jawba Okta tak melepaskan mata nya pada Kevin yang tampak pucat.


Briaz melihat nya dengan dada yang sesak’’apa kamu sangat mengkhawatir kan nya Okta??? Bagaimana kalau itu aku, apa kamu secemas sekarang??’’


‘’ permisi..’’ kemudian seorang laki laki tambun dengan jas putih ala dokter datang.


‘’ bagaimana dia dok??’’ tanya Okta setelah dokter selesai memeriksa.


‘’ tidak apa apa, dia hanya kelelahan, nanti beri dia obat vitamin.. ini resep nya’’ dokter memberikan nya pada Okta.


‘’ baik terimakasih’’


Dokter itu mengangguk lalu pamit pulang.


Okta menengok ke dalam kamar di lihat nya Kevin sudah bangun. Ia segera menghambur kesana, terkecuali Briaz, ia hendak menyusuk tapi mengurungkan niatnya, tak siap melihat hal yang akan membuat nya sakit hati.


‘’ Oktaaaaa’’ suara kevin terdengar lemah.

__ADS_1


‘’ aku disini’’ Okta muncul.


Kevin mengulurkan tangan nya dan Okta menurutinya, ‘’ kemari lah..’’


‘’ jangan pergi oke’’


‘’ iyaaa, kamu baik baik saja kan??’’


Kevin mengangguk lemah.


‘’ ciiiih, bukannya dia hanya kelelahan’’ kesal Briaz yang akhirnya memutuskan untuk mengintip. Ubun ubun nya benar benar mendidih. Ia lalu segera pergi dari sana sebelum membuat gaduh.


**


Okta berbaring di sebelah Kevin yang masih pucat walau sudah meminum obat.


‘’ kamu kenapa?’’ tanya Kevin melihat Okta gelisah.


‘’ tidak, hmm kamu apa mau makan buah lagi??’, dan hendak bangun tapi kevin menahannya.


‘’ tidak, di sana saja, temanin aku tidur!!’’


‘’ apa!!’’


‘’ jangan mesum, aku hanya ingin istirahat dan kamu di sini saja’’ perjelas Kevin sebelum Okta mencincang nya.


Dengan ragu Okta kembali menghadap Kevin yang menatap nya lekat lekat, menyentuh rambutnya, menyentuh jidat, hidung bulu mata dan bibir dalam diam namun sangat terlihat ia sangat mencintai gadis ini.


Okta hanya diam saja membiarkan kevin menyentuh bagian wajahnya seperti itu, sampai mata pria ini terpejam dan tertidur. Perlahan Okta melepas tangan Kevin dan beringsut turun dari sana. Ia merasa lapar dan gerah karena belum mandi.


Sebelum turun mencari makan ia mandi sebentar, beruntung di loker ada baju ganti nya.


‘’ jadi, dia kenapa?’’ tanya Maya kepo.


‘’ cuman kelelahan’’ jawab Okta sambil menyumpit Mie yang ia rendam dengan air panas.


‘’ oh, aku pikir karena apa’’


‘’ya… hmmm… aku pikir juga karena apa’’ sahut Okta mengikuti gaya bicara Maya


‘’ yaa, kau ini !! pacar sakit malah bisa berguyon’’


Okta hanya cengengesan.


‘’ udah ah.. aku mau kerja lagi, be te we…kamu tidur di mana malam ini??’’


‘’ di kost mu saja boleh??’’


‘’ serius?? Tapi ada emak aku sii datang’’


‘’ ya udah batal’’ sahut Okta lalu kembali menyumpit mie itu dengan porsi besar. Maya misuh misuh melihat cara Okta makan seperti itu, ia lalu meninggalkan Okta sendirian disana.


Selesai makan Okta bingung mau kemana, bagaimana kalau Kevin bangun dan mencari nya?? Tapi apa ia akan menginap di sana?? Apa kata orang kantor nanti’’ jadilah Okta setrikaan tidak jelas dengan seribu pemikiran nya di sana, di samping itu. Briaz baru keluar dengan Venus ia hendak pulang dan terhenti melihat Okta di sana mondar mandiri menggemas kan kemudian masuk kedalam, sontak Briaz menarik Venus mengikuti nya bersembunyi di balik tanaman pohon hidup yang besar. Dengan seksama Briaz melihat Okta yang bergegas berjalan kearah pintu darurat.


‘’ mau kemana dia


‘’ tuan’’ panggil Venus yang terhimpit tubuh tuan nya yang membuat nya nyaris roti gepeng. Tapi Briaz tak bergeming ia lalu meninggalkan Venus yang mematung.


Briaz masuk ke dalam ruangan yang merupakan tangga darurat, mendengar suara kaki Okta yang naik ke atas sana, ia kemudia mengikuti hingga mengantarkan nya ke roof.


Tempat nya sangat luas dan nyaman, udara juga enak.namun sedikit gerimis. Di lihat nya ke kanan dan kekiri tak menampakan sosok Okta. Mencari sebentar dan benar saja Okta berdiri di sana denga mata terpejam seperti sedang merasakan sesuatu. Ia ingat gadis itu pernh berkata kalau ia bisa melihat makhluk sepertinya saat hujan turun, apa Okta sekarang sedang melihat kaum nya, ia sendiri tidak melihat sesama nya kecuali di dunia nya saja dan Bianca tentunya.


Ia berjalan pelan agar Okta tak tahu kedatangan nya dengan menahan semua pengaruh fyrd tentunya. Gadis ini berdiri dengan wajah menadah ke atas dan tangan sedang menerima sentuhan hujan, bibir tipisnya tersenyum tipis dan berwarna merah muda, kulit nya terlihat bersinar dengan cahaya lampu sorot di atas yang mengenai kulit nya, di tambah pesona rambut nya yang berkibar mengikuti alunan udara, Okta terlihat sangat cantik disana. Briaz sampai terkesima dan terpukau, ia pun mengulurkan tangan itu. Hingga Okta terperanjat kaget dan mata nya melebar takjub melihat makhluk hujan yang tadi ia lihat sekarang benar benar ada menyambut tangan nya dan terlihat sangat menawan.


Air ludah nya sampai tercekat melihat Briaz di depan sana.

__ADS_1


__ADS_2