
CHAPTER 23*
“ Perubahan”
Perkataan kevin kembali membuat Okta kaget dan menggigit sedotan nya 2 kali lipat tingga mau putus.
‘’ kenapa?? Apa kamu mau bilang kalau kamu mencintai orang lain??’’ ucap Kevin dengan nada tajam, melihat Okta dengan tatapan ingin membunuhnya.
‘’ a apaa mencintai orang lain’’
‘’ apa hubungan mu dengan dia??’’
Okta mengerjapkan mata nya melihat Kevin yang dingin.
‘’ Briaz?hmm dia dan aku karena ‘’ Okta mencari asalan yang tepat, ia tetap tidak bis abilang tentang siapa Briaz sebenar nya.
‘’ kamu ga akan percaya, semua nya di luar akal sehat’’ Okta menggenggam tangan nya kuat kuat, apa ia harus menceritakan cerita yang diluar masuk akal bagi Kevin.
‘’ apa itu??’’
Terbayang bagaimana dulu ia pernah di pandang anak gila oleh teman teman nya saat mengatakan apa yang ia lihat, ia cemas kalau Kevin akan berpikir sama.
‘’ tidak!! Aku tidak bisa menceritakan nya Vin…’’
‘’ APA ITU’’ Bentak Kevin semakin membuat Okta kaget dan mendadak matanya memanas.
‘’…”
Aku ga bisa bilang Vin, tapi semua tidak semua yang kamu pikir kan, aku dan dia bukan siapa siapa, terserah kalau kamu mau percaya atau tidak’’ Okta bangkit dengan mata sembab. Ia sudah mulai tak nyaman dengan sikap Kevin yang tempramental dan posesif.
‘’ Okta…’’ suara Kevin melemah.
‘’ Oktaaaa’’ panggil nya, tapi Okta tak bergeming ia lalu pergi dari sana, dengan cepat cepat takut Kevin akan mengejarnya.
Hatinya memanas, sebelumnya ia sudah merendam gejolak jiwa yang ingin meluap, sekarang ia malah mendapat perlakukan Kevin seperti itu, air mata nya sukses mengalir deras, telepon dari Kevin ia abaikan bahkan langsung ia reject.
**
Yakin mao pergi dengan mata bengkak gitu Ok??’’ tanya Tifanny melihat sahabat nya itu sedang menyisir rambut panjang nya. Mata nya masih kuyu dan tak bersemangat.
‘’ ya Fan..’’ sahut nya juga lemas.
Okta melihat ke pantulan cermin menyisir rambut nya pelan, yang ia ingat tetap perkataan Briaz tentang gadis lain yang memilki Diamond Fyrd, sebenar nya ia menangis lebih banyak karena sakit hati itu ketimpang pertengkaran nya dengan Kevin, ia juga tidak tahu kenapa kalau Kevin sebenar nya ia kesal dan menangis karena perasaan nya yang sudha terkoyak.
‘’ sini sini, aku bantu yaaa’’ Tifanny lalu duduk didepan Okta, mulai memoles wajah Okta yang sedih itu, ia sendiri tidak tau kenapa Okta sampai menjadi cengeng seperti itu, saat di tanya Okta hanya menceritakan kalau ia lagi bertengkar dengan Kevin.
‘’ Tifanny.. kamu sama Daus kan temenan dari dulu, bahkan kamu juga suka kan dengan nya,, misal nya datang seseorang menggeser posisi mu, apa yang kamu rasakan..’’
‘’ ku obok obok wajah Daus jadi dedak ayam’’ sahut Tifanny dengan geram.
‘’ hmpp tapi aku ga suka Daus kok, enak aja’’
Okta diam lama melihat ekpresi Tifanny yang selalu mengelak kalau di bilang suka dengan Daus, apa ia juga seperti Tifanny? Ia memang suka dengan Briaz, bahkan perasaan nya bisa di bilang lebih, tapi ia juga bingung itu antara dirinya atau pengaruh Vlous Fyrd, hanya saja pernyataan Briaz tadi siang membuat nya semakin yakin kalau dia terluka dan takut kehilangan Briaz.
‘’ apa Kevin yang melakukannya Ok??’’
Okta menggeleng membuat Tifanny kaget, ia hanya tau yang dekat dengan Okta saat ini Kevin, ya walau maya pernah mengungkit tentang pria lain CEO mereka.
‘’ apa CEO kamu itu??’
Okta diam dan mengangguk malu.
‘’ ceritain aja Ok.. kan kita sahabatan’’
__ADS_1
Okta mengangguk’’ ya Fan.. aku belum yakin dengan perasaan ku, kami bahkan tidak ada hubungan apa apa, tapi dia bilang kalau ada gadis lain yang bisa menggantikan posisi aku, rasanya kok ngenes banged yaaa hmmmm’’ Okta kembali manyun dan ia kembali menangis, cinta ternyata membuat nya tak setegar dulu.
Tifanny menyambut tubuh Okta sambil mengelus punggung Okta dengan pelan,’’ kalau aku di posisi kamu sih aku akan perjuangin Ok, jangan sampai posisi kamu di ambil orang lain’’
Okta menarik tubuh nya,’’ tapi… aku ga bisa berbuat apapun, aku harus gimana dengan Kevin..
Tifanny menatap Okta dengan prihatin.
‘’ kamu sebenar nya ga sayang dengan Kevin??’’
Okta mengangguk dan menggeleng, membuat Tifanny gemes, tapi ia juga sedih dengan keadaan Okta.
‘’ aku ga tau fan.. setelah jadian aku malah kehilangan arah… padahal aku menyukai nya dari dulu bahkan susah move on kan.. ‘’
‘’ apa kehilangan arah karena CEO itu??’’
Okta mengendikan bahu’’ entah..
‘’ haaaaah masalah mu ribet juga ya Ok, padahal aku ngerasa kalau Kevin sayang banged sama kamu, tapi mau gimana lagi, kamu aja ga yakin sama perasaan mu ke dia, kalau gitu lebih baik jujur saja dengan Kevin, dari pada makin lama makin ribet, tapi itu saran aku aja siiiih, kamu pikirin dulu…
Okta manggut manggut.
‘’ dan kamu juga harus jujur dengan perasaan mu sama CEO itu’’
‘’ aah mana mungkin, ga akan’’
Tifanny tertawa ngakak melihat reaksi Okta.
Drrrt Drrrrrrrrrrrrrrrt
Panggilan dari Briaz.
‘’ orang nya udah dateng, aku pamit dulu ya Fan…’’ kata Okta sembari merapikan wajah nya yang tampak berantakan.
‘’ busyeeet kalo kaya dia ssssiiiiiiiiih… sikaaat aja Ok’’ bisik Tifanny langsung di raup Okta muka mupeng nya.
‘’ sorry Bri, lama,.. oh ya kenalin sabahat ku Tifanny’’ kata Okta sewajar mungkin dan mengenalkan kedua nya.
‘’ hallo, Briaz..’’ sapa Briaz menyambut tangan Tifanny yang tampak gemetaran.
‘’ Tifanny sahabat Okta yang galak dan baweeel’’
Okta langsung menyikut nya. Dan mereka terkekeh tidak jelas.
‘’ ya udah kita pergi yaaa’’
‘’ sampai jumpai Tifanny’’ kata Briaz sambil tersenyum memikat.
‘’ ya ampyuuuuuuuun bisa mati berdiriiii’’ runtuk Tifanny merasa jantung nya nyaris meledak.
‘’ oke Briaz… tolong jaga Okta sampai utuh yaaa, kasian tu habis nangis’’ kata Tifanny Ember. Okta langsung mendorong Briaz sesegera mungkin keluar dari Butik Tifanny sebelum anak itu buka suara lagi.
Okta duduk di kursi paling belakang sementara Briaz di depan dengan Venus.
‘’ yakin kamu di sana?’’
‘’ yaaa… biar aman’’ sahut Okta di sana dan mebuang muka ke jendela.
Briaz menurut, dan kembali melihat lurus kedepan sesekali ia melirik ke spion samping melihat Okta lagi ngapain, dan sebaliknya Okta sambil curi pandang saat Briaz tak melihat nya. Venus hanya senyum mesem mesem melihat gelagat keduanya yang menggemas kan itu.
Okta mencek Hp nya, panggilan tak terjawab dari Kevin sebanyak 29 kali, dan sms kemudian masuk.
‘’Ok.. kamu dimana, aku sakit’’
__ADS_1
sms itu berulang kali masuk.
Ia lalu mencoba menghubungi Kevin, merasa bersalah juga kalau membiarkan Kevin sakit di sana.
Terdengar suara Kevin yang berat.
‘’ kamu dimana..??’’ tanya nya
Okta bingung apa yang ingin ia katakan, Kevin pasti akan marah kalau ia bilang sedang bersama Briaz, apalagi ia sedang sakit.
‘’ aku menuju kesana’’ jawab nya singkat lalu menutup telepon. 15 menit kemudian mobil berhenti di parkiran hotel. Okta segera keluar dari sana.
Briaz tampak diam seribu bahasa melihat Okta yang ingin menemui Kevin yang sakit, tapi ia janji akan kembali secepat nya.
‘’ tuan… baik baik saja kan??’ tanya Venus hati hati.
Briaz tak menyahut, tampang nya berubah sangat masam membuat Venus segera mengalihkan pandangan yang lain, padahal ia ingin membahas mengenai obat yang Kevin minum.
**
Okta dengan cepat langsung menuju kamar Kevin yang terbuka, tapi Kevin tak di sana.
‘’ keviiiin’’ panggil nya mencari Kevin dan menemukan pria itu duduk di balkon dengan tubuh memunggungi nya.
‘’ Vin. Kamu bohong sedang sakit kan’’
Kevin berbalik badan’’ kalau tidak seperti itu apa kamu akan menemui ku??’’ tanya nya balik, aura nya masih terasa menyeramkan.
‘’ kalau kamu mau kita bertengkar, aku malas Vin…’’
Kevin menatap Okta dengan dalam’’ oke, aku minta maaf’’ kata nya dengan nada ramah lalu mendekati Okta mengambil tangan nya.
‘’ jangan menghindari ku Okta… ‘’ katanya lirih dan menyentuh pipi Okta dengan lembut.
‘ kamu jadi banyak nangis juga??’’
Okta tak menjawab, ia menangis bukan semata mata karena nya. Sesaat ia merasa sangat bersalah dengan Kevin, bisa bisa nya seperti itu, berhubungan tapi hati nya tidak sepenuh nya untuk Kevin.
‘’ Vin-
Okta berniat ingin jujur dengan kevin, tapi bibir nya tecekap karena Kevin tau tau sudah mencium nya. Okta mendorong tubuh Kevin dengan pelan, khawatir Kevin merasa di tolak. Tapi Kevin kembali mencondongkan wajahnya ingin kembali mencium, Okta menghindar,
‘’ kenapa??”’ tanya nya dalam posisi yang belum berubah.
‘’ aku ga suka kalau kamu bersikap seperti ini Vin…’’ kata Okta dengan wajah menyamping.
Nafas Kevin terasa di kuping Okta’ begitu.. aku minta maaf’’ ia lalu menarik tubuh nya, dan melihat Okta dengan sayang.
‘’ Vin aku-
‘’ sssttt sudah Okta jangan di bahas’’ Kevin menutup bibir Okta dengan jarinya.
‘’ I love u’’
Kalimat itu membua Okta benar benar tak bisa jujur untuk kali ini. Ia hanya bisa tersenyum kaku.
‘’ aku ada urusan Vin, nanti kita bicara lagi’’ kata Okta membalikan badan beruntung Kevin tak menghujanji nya dengan pertanyaan. Ia berhasil keluar dengan hati yang kembali berada di titik semu.
‘’ ya ampuun apa aku sudah jahat banged sama Kevin, aku bahkan tidak bisa jujur dengan nya’’ runtuk nya menyadari betapa bodohnya ia, Okta tak sadar kalau kevin di belakang sana sedang mengikuti nya.
‘’ tunggu aku di bawah Bob..’ kata nya pada Bobi.
**
__ADS_1