
*CHAPTER 18*
“Cium Aku Please”
‘’ Briaz’’ pekik Okta kaget,
Laki laki ini tersenyum lebar, lalu mematikan telepon di sana yang jelas mendengar nama tak asing di telingan Kevin.
‘’ apa yang kam-
‘’ sudah 1 minggu, dan uggggh bau nya menjijikan’’ briaz mengibas ngibas hidung nya.
Okta yang tadi masih kaget dan menganga tak percaya baru tersadar lagi saat Briaz menyebut kata Bau, ia jadi tak nyaman dan menjauh cepat cepat.
‘’ hey mau kemana….
Okta tak menghiraukan laki laki itu memanggil ia terus berjalan memunggungi Briaz di belakang, dan berbalik.
‘’ jangan mendekat.. jauh jauh’’ usir nya melotot lebar lebar tapi karena sambil jalan mundur kaki nya malah masuk dalam got, melihat itu Briaz tak kuasa menahan tawa nya, Okta sendiri kesal luar biasa dengan kesialannya hari ini, sudah di oleh orak arik oleh cabe cabean itu, sekarang kaki nya masuk ke dalam got., di tambah di depan Bos mesum itu.
‘’ sorry sorry.. kamu ga papa kan??’’ tanya Briaz selesai puas tertawa, mata nya sampai berair karena terlalu hot tertawanya.
Okta tak menjawab, ia mengeluarkan kaki nya sebelah yang sudah kena cairan hitam lagi dan uggh menjijikan lagi, apalagi si bos nampak melipat wajahnya melihat cairan itu.
Ia mengambil sisa tissue basah dan melap nya, saat Briaz medekat bekas tissue itu ia lempar ke arah Briaz yang langsung melompat kaget.
‘’ aku bilang jangan mendekat’’ garang Okta nampak sangat kesal.
Dan lagi Okta segera kabur dengan lari yang kencang, tak tau juga kenapa ia sampai lari segala dari Briaz. Okta melihat jalanan ada taksi mangkal, segera ia menyeberang tanpa memastikan benar benar jalanan itu aman atau tidak, namun di ujung sana ada Truk yang melaju kencang, dan saat langkah nya menginjak jalan itu baru pertengahan Truk yang melaju kaget melihat ada orang yang menyebrang, sedetik kemudian terdengar suara decitan ban dan suara Rem yang di injak dalam, Truk itu berhenti dalam jarak yang mungkin sudah membunuh Okta di sana.
Mata Okta masih terpejam syok, jantung nya nyaris melompat karena insiden barusan, tapi sesaat ia sadar tak ada benturan di tubuhnya barusan malahan lengan besar merengkuhnya dengan erat.
‘’ kamu baik baik saja??’’ tanya Orang ini yang tentu adalah Briaz.
Okta kaget otak nya berputar cepat, bagaimana bisa Briaz secepat itu menyusul nya dan menyelamat kannya dari tabrakan itu, padahal sudah tepat sedetik yang lalu truk itu di depan hidung nya.
‘’ kamu ga papa??’’ bentak Briaz menyadarkannya.
Okta kembali melihat Briaz dengan rasa campur aduk dan jantung nya kembali berpacu.
‘’ ceroboh, nyaris saja’’ omel Briaz seolah ingin memakan Okta hidup hidup, andai ia tidak menggunakan kekuatan Fyrd dengan kecepatan, mungkin yang ia lihat adalah mayat Okta.
‘’ tuan, Nonaaa.. kalian baik baik saja??’’ tanya Venus di belakang sana dengan wajah khawatir.
‘’ kamu lagi, kenapa baru sampe’’ omel Briaz yang masih syok.
‘’ maaf tuan, saya ga ketemu dengan alamat yang tuan –
‘’ cepat bawa dia,.. aah sini biar aku saja’’ Briaz dengan sigap menggendong Okta yang masih pangling dengan situasi.
Dalam gendongan Briaz, Okta tak tak apa yang terjadi dengan jantung dan otaknya, sesaat ada pengaruh Fyrd yang mengusik namun di sisi lain ia yakin ia dapat merasakan hal lain yang aneh dengan bekapan Briaz kali ini, debaran jantung nya tidak seperti debaran orang yang syok setelah hampir di tabrak.
Briaz meletakkan nya di kursi kemudi.
‘’ antar dan pastikan dia baik baik saja’’ titah nya pada Venus.
‘ terus tuan??’’
‘’ turuti saja, aku akan naik ojek’’ jawab Briaz sukses membuat Venus menganga lebar, tuan nya naik Ojek, seumur umur mana bisa tuannya yang sangat berkelas itu naik pakai ojek.
‘’ kenapa bengong??’’
‘’ tidak tuan, kenapa tidak sekalian masuk aja??’’
‘’ dia tidak akan nyaman kalau aku di dekat nya’’ jawab Briaz membuat Okta terkesima, dan raut Briaz yang seolah sangat serius mengucapkannya, bahkan setelah menutup pintu mobil Briaz tak melihat lagi kearah nya, mirip sosok yang sedang marah.
*
Okta keluar dari klinik terdekat dengan kaki di beri obat merah, ia menolak di bawa kerumah sakit karena tidak mengalami cedera serius, malahan sebenar nya yang ingin ia periksa bukan kondisi fisik nya tapi hatinya yang semakin aneh.
‘’sudah!!, terima kasih’’ kata nya pada Briaz yang mondar mandir di depan sana dan sumringah melihat Okta keluar.
‘’ ya’’ jawab laki laki ini.
Mereka diam dengan suasana agak canggung.’’ Venus akan mengantar mu’’ kata Briaz kemudian.
‘’ ga usah, aku bisa balik duluan’’ sahutnya kearah Venus yang setuju setuju aja.
‘’ jangan, biar dia yang antar, gimana kalau nanti di serang anak anak tadi lagi??’’ tanpa sadar Briaz mengatakan nya, ia keceplosan.
‘’ anak anak?? Kamu melihat nya??’’ tenggorokan Okta terasa kering, pasti Briaz melihat adegan memalukan itu.
‘’ ti.. ti.. ah kebetulan saja…, siapa sih mereka… mau aku cari tahu??’’
‘’ ga usah, ga penting, lebih baik aku pulang..’’ sela Okta lalu melihat kearah Venus yang mengangguk.
‘’ aa.. itu…-‘’ bibir Okta berhenti, dalam pikiran nya ia ingat kalau sudah bersentuhan dengan Briaz lagi saat Briaz menolongnya tadi.
‘’ ga jadi’’ ia cepat cepat kabur dari sana, bagaimana mungkin ia mengingatkan ada skipskin yang harus membuat mereka harus berciuman agar efek nya tidak menggerogoki kedua nya, tapi Okta terlalu malu untuk mengatakannya, ia pikir nanti Briaz akan sadar sendiri, dan ia berharap bisa mengatasinya dengan cara lain.
__ADS_1
**
Okta kembali masuk kerja, wartawan juga tidka terlihat satupun di kawasan hotel, seolah lenyap bak di telan bumi. Padahal Briaz yang memerintahkan pengawasan ketat di sekitar Hotelnya.
Dan dua malam ini ia tidur di rumah Tifanny, beruntung saat itu orang tua Tifanny lagi keluar kota jadi ia dan Viola bisa menginap disana sebelum pindah ke rumah yang baru. 2 hari 2 malam ia merasakn lagi lagi sensasi gila yang Fyrd lakukan. Tubuh nya kembali terasa bobrok, kalau boleh ia juga mau minum diamond Hord untuk mengurangi rasa sakit nya atau berciuman dengan Briaz, tapi itu pilihan terakhir karena Briaz sendiri tak tampak batang hidung nya.
‘’ Boss ganteng Ok.. o’ok’’ senggol Maya, sekejap Okta bangkit refleks melihat kedepan sana ada Briaz yang datang dengan Jacob melangkah lebar lebar, ia sendiri melihat arah lekuk tubuh Boss nya itu yang menggiurkan, sesaat fyrd kembali mempengaruhi.
Briaz dengan sengaja tak ingin melihat arah meja receptionist walau ia tau Okta sudah kembali masuk kerja, dengan obrolan tak terlalu penting, ia mencoba mengalihkan perhatiannya untuk tidak melihat meja itu, entah kenapa Lift di ujung saja terasa sangat jauh.
‘’ hmmm.. kayanya Boss udah patah hati Ok,, dia ga liatin ke sini, biasa nya juga kan arah mata nya langsung ke sini’’ kata Maya berpendapat.
‘’ hahaha ngomong apaa an kamu’’ sela Okta sambil melihat kue di mulut Maya yang kemudian membuat nya lapar.
‘’ aku minta ‘’ ia langsung menarik makanan yang di mulut Maya dan melahap nya cuek.
‘’ ya ampun ni cewek aku, tingkah ga berubah walau udah jadi viral dan pacar artis’ Maya berdecak dan menggeleng geleng tidak jelas.
Tapi Okta terus menguyah sambil menyengir tidak jelas.
‘’ ngomong – ngomong, Kevin nyari terus tuh, kalian bertengkar ya??’’ tanya maya selidik.
Okta menggeleng sambil terus mengunyah biak, setelah seteguk air membuat nya bisa mengembalikan pipi tirus nya.
‘’ lalu karena apa??’’
‘’ kamu ga kasih tau kalau nginep di rumah Tifanny Ok???’’
Okta menggeleng,’’ nomor nya ada di Hp, aku ga bisa hubungin, lagian aku sibuk ama tugas kampus..’’ jawab anak ini sekenanya.
‘’ lha emang Hp nya kemana?? Rusak??’’
‘’ ga kan di tangan Bri- ga papa’’
Maya mengecurutkan wajahnya melihat Okta menyembunyikan nya.
‘’ pantas aja dia nelpon dan kesini terus’’
‘’ hah?? Kesini??’’
‘’ lha kamu ga tau kalau dia nginap disini??
‘’ ga?? Emang iya??’’Okta lalu melihat layar komputer, dan benar saja.
‘’ ya ampyuuun ni anak, pacar seumur jagung udah di telantarin dan di cuek in.. walawalaaaaaaa, di ambil orang baru ngaho’’
‘’ nah lo,, tu pangeran kamu Ok…’’ kata Maya lagi yang Okta pikir pangeran itu pangeran Briaz, mengingat Bianca dan Venus menyebut nya pangeran. Saat kepala dan tubuh nya naik, di depan adalah Kevin dengan gaya maskulin, wajah nya tampan seperti biasa, namun wajah itu terlihat tidak nyaman di pandang dengan aura gelap di sekitar nya, Okta sadar pasti Kevin ingin mengintograsi nya lagi tentang 2 hari ini.
5 menit ia melayani si penelpon dengan berharap bisa lebih lama lagi atau Kevin menyerah saja menunggunya di sana.
‘’ sudah sudah… ladenin tuuuu’’ bisik Maya yang sadar Okta menghindari Kevin.
Okta naik ke depan dengan susah payah karena gejolak fyrd yang menyerang.
‘’ he. Hey.. Vin..’’ sapa nya basa basi dengan senyum palsu.
‘’ ikut aku’ kata anak itu siap menelan Okta bulet bulet.
‘’ aku kan lagi kerja’’ jawab Okta beralasan di susul suara telepon yang berdering bersahutan.
‘’ oke, nanti ke atas.. aku tunggu ‘’ ucap nya lalu beranjak dari sana.
‘’ apa aapaaan itu, seenak nya’’ geram nya.
‘’ ciyeeeee’’ goda Maya sudah siap dengan pertanyaan lagi.
‘’ ciye gundul mu, ga liat dia seenak nya nyuruh aku ke atas??’’
‘’ lha emang dia mau ngapain di atas?? Omees nii omeees??’’
‘’ apa aan siih??’’
Maya makin tertawa, dan sesaat Okta terdiam dengan sesuatu yang muncul entah dari mana, mungkin ia bisa memanfaat kan Kevin untuk menghentikan sensasi fyrd yang mulai tak terkendali ini.
Setelah jam istirahat ia segera masuk Lift dan menekan nomor lantai kamar Kevin.
Ting
Pintu Lift terbuka sebelum lantai kamar tujuan nya terbuka, dan mata nya nyaris keluar melihat Briaz yang masuk dengan 2 orang Venus dan jacob, Jantung nya mendadak maratoon hebat. Briaz yang semua kaget melihat Okta di sana berusaha menutupi keterkejutan nya, ia memasang wajah datar, dan berdiri di paling depan.
Melihat wajah Briaz sebegitu dingin Okta mengurungkan niat ingin menyapa, yang ada yang ia rasakan gejolak fyrd yang kembali menyerang dalam jarak dekat nya ia dengan Briaz, Briaz juga dapat serangan yang sama, tapi ia menahan nya, apalagi melihat lampu lantai tujuan Okta yang masih menyala, ia tau kemana lift itu akan mengantar Okta.
‘’ hmm…kamu pacar nya Kevin itu kan??’’ tiba tiba Jacob buka suara, dengan tanpa tau situasi.
Okta teperanjat’’ aah iya pak’’
Jacob lalu tertawa kecil’’ ya ampun.. pasti banyak yang patah hati kalau kamu pacaran dengan artis itu ya..’’
Okta hanya senyum masam masam, kenapa pria ini malah membahas itu sekarang.
__ADS_1
‘’ selamat yaaa’’ kata nya kemudian, yang hanya di sambut senyuman lagi oleh Okta.
‘’ karyawan disini juga pasti sangat patah hati, banyak yang jadi fans kamu…’’
‘’hahahahah bapak bisa aja, mana mungkin’’ jawab Okta dengan tawa.
‘’ iyaaa, kamu kenal tau dengan-
TING
Okta selamat karena lantai gilirannya berbunyi dan bisa lolos dari obrolan dari Jacob.
‘’ oke sampai jumpa lagi’’ jacob melambaikan tangan nya setelah Okta keluar dan pintu tertutup lagi.
‘’ waaah bukan nya pacar nya ada di lantai itu?? Dia kayak nya mau kesana yaaa? Waaah’’
Briaz menoleh ke arah jacob dengan tatapan membunuh, sontak Jacob langsung menutup bibirnya rapat rapat.
‘’ kita kembali keruangan’’ titah nya memencet nomor lift lain lagi dengan kasar.
**
Okta mengetuk pintu kamar Kevin dengan cepat, ia sebenar nya malas nyamperin Kevin di sana takut kalau orang berpikiran aneh aneh, walau tadi saja ia sudah ketauan oleh Boss nya akan ke lantai dimana Kevin menginap. Tapi apa urusan Boss nya, bukan kah ia juga sudah meminta urusan pribadinya tidak boleh di ikut campuri. Lagi pula emang Briaz peduli???
Pintu dibuka dan Kevin langsung masuk begitu sana setelah membukanya.
Dengan cepat Okta masuk dan menutup pintu.
‘’ apa kamu sudah makan??’’ tanya nya basa basi sadar dengan kondisi wajah Kevin yang merengut dan gerak tubuh nya yang kaku, dan ia hanya menjawab emmm, Kevin duduk di depan Tv sambil menekan nekan nomor chanel. Menjadi Okta aneh di sana. Untuk apa dia di minta ke sana kalau di anggurin.
‘’ Vin, kamu ga balik Ke Jakarta??’’ tanya Okta dengan maksud membuka percakapan, ia tidak tau kalau yang dipikiran Kevin malah seolah di usir.
‘’ aku sekarang tinggal di sini?? Kenapa?? Ga suka??’’
‘’ apa nya?? Aah suka suka’’ jawab Okta asal.
Lalu mereka diam, Okta sendiri makin kikuk dan tak nyaman.
‘’ aku balik dulu ya Vin.. ‘’ pamit nya lalu beranjak pergi, kesal juga ia di acuhin padahal sudah susah payah ke sana sampai di pergoki Briaz, aah kenapa ada Briaz lagi.
‘’ Okta’’ panggil Kevin menahan langkah nya.
‘’ aku pesan makanan, tunggu saja dulu’’ kata nya dengan suara sedikit adem ayam.
Okta yang mendengar makanan mendelik senang, ia memang sudah lapar.
‘’ duduk lah, jangan di sana saja??’’ kata Kevin lagi.
Okta menurut, ia duduk di sebelah kevin dengan sedikit kaku yang masih menyelimuti, memang setelah Konferensi pers semalam ia tidak ketemu lagi dengan Kevin hanya melalui telepon dan kemaren dia juga menghilang 2 hari.
‘’ Hp mu dimana?? Kenapa tidak bisa di hubungi? Dan kamu kemana saja??’’ pertanyaan yang sudah bisa Okta prediksi kan. Tapi ia sudah siap dengan jawaban nya.
‘’ Hp lagi error, aku tidur di rumah Tifanny’’
‘’ ooooo’’
Wajah Kevin kembali di tekuk.’’ Eror apa error??”’
Jantung Okta bedetak cepat, apa ia ketahuan berbohong??
‘’ emmm sama Bos i-itu’’ jawab nya tercyduk.
‘’ kenapa??’’ Kevin bertanya sambil melipat kedua tangan nya.
Beruntung ada bunyi ketukan pintu dan Okta merasa tertolong sebentar, pesanan mereka datang dan dengan sumringah Okta memakan ayam ayam itu dengan senang hati tentunya. Perut nya terasa membuncit karena terlalu kenyang.
‘’ jadi,, kenapa Hp kamu sama pria itu??’’
Kevin masih membahas nya, Okta mengambil air dan meminumnya dengan tandas.
‘’ kemaren, aku kebetulan ketemu dengan nya-‘’ ia menceritakan dengan jujur tentang pertemuannya dengan Briaz, dan juga kejadian yang hampir merenggut nyawa nya, Kevin berubah menjadi cair sekarang lebih lebih mengetahui Okta yang hampir celaka.
‘’ nanti aku akan bilang terimakasih dengan nya…’’ kata nya dengan santai.
‘’ untuk apa??’’ kaget Okta syok.
‘’ berterima kasih’’ jawab nya enteng sambil tersenyum tipis, bibir nya tertarik kecil di ujung, ia mencoba menahan gemuruh cemburunya. Kenapa malah pria itu yang menyelamatkan Okta.
‘’ Vin..’’ panggil Okta nampak malu malu.
‘’ iyaa kenapa??’’
Okta lalu mendekat ke sebelah Kevin. Bibir nya ke kanan dan ke kiri kayak lagi olahraga senam.
‘’ ada apa sih Okta sayaaaang??’’ tanya Kevin nyaris kebingungan dengan tingkah Okta yangnampak menggemaskan seperti itu.
Tangan Okta pelan pelan merambat ke tangan Kevin, ia mengutuk berat dengan tindakan nya sekarang, masa ia harus menggoda dulu untuk di cium Kevin?? Untuk bisa lepas dari nelangsa fyrd.
Fyrd.. Kevin aja ya.. dia lebih pantas di cium karena dia kekasih ku jangan Briaz….
__ADS_1
‘’ kita ciuman yuk’’ kata Okta kaku lalu mengerjap ngerjap mata nya beberapa kali dengan bulu mata nya yang lentik dan hidung pancung mencuat menggelikan.
Dan Okta benar benar menyesali perkataan nya ba