Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
42-Jarak


__ADS_3

CHAPTER 42*


“ Jarak”


Wajah nya mematung tidak percaya, laki laki yang Okta temui untuk mencari Susan adalah Briaz?? Bagaimana bisa ia kembali ke dunia itu dan sekarang tinggal di sebelah Okta.


‘’ kau….’’


‘’ apa kabar mu Kevin’’ kata Briaz dengan kepalan tangan siap menghajar pria di depan nya, namun pintu Okta terbuka, mata nya nampak bengkak tapi Okta kaget melihat Kevin berada di depan pintu Briaz dan Briaz ada di depan Kevin. Spontan ia langsung menarik Kevin dan melihat Briaz dengan marah.


‘’ kamu menanyakan apakah aku mencintai nya kan?? YA AKU MENCINTAI NYA.. AKU MENCINCAI KEVIN’’


Kevin sampai kaget mendengar kata kata itu dari Okta.


Briaz sendiri luka sembilu teriris lagi. Lalu ia melihat bagaimana Kevin tersenyum penuh kemenangan, rasa kecemasan Kevin semua menghilang.


‘’ sebaik nya kita jangan pernah berurusan dengan dia lagi’’ kata Okta marah dan membawa Kevin segera turun dari sana.


Okta masih terlihat kesal, ia bungkam.


‘’ Okta..’’p anggil Kevin pelan. Wanita ini kemudian terisak dan langsung memeluk Kevin.


‘’ maaf kan aku Vin.. maaf’’ tangis nya dengan sangat dalam.


Tangan Kevin melayang di udara ia tersenyum lagi dan memeluk wanita ini dengan penuh kasih.


Di perjalanan Okta menceritakan apa yang ia ketahui, kebohongan Kevin berhasil membuat Okta berasumsi kalau pelaku yang ingin memperkosanya adalah Briaz. Walau ia masih sangat syok dengan kembali nya Briaz tapi melihat Okta mengatakan nya di depan Briaz ia yakin Briaz akan menyerah


**


Okta sekarang tinggal di Apartement Kevin dengan penjagaan ketat tentunya, ia ditemani Body Gurad saat kerja atau kemana mana, dan Kevin tentunya. Walau risih tapi Okta mau tak mau bersedia karena demi keselamatan nya, Viola dan Susan sendiri harus ia pindahkan Apartemen nya ke tempat yang baru, walau Susan sangat tidak setuju tapi Okta tetap bersrikeras pindah terserah gadis itu mau ikut atau tidak.


Briaz melihat wanita yang ia cintai ada di depan kamera sedang melakukan commercial Brand sebuah produk, ia bersama dengan teman model wanita lainnya. Di sisi lain Body Guard seolah tak lepas mencari kesana kemasi memeriksa apakah Okta aman.

__ADS_1


Dia sendiri hanya menggunakan topi terus melihat kearah Okta, masih teringat jelas perkataan Okta kemaren, ia sakit hati tapi ia tau Okta masih belum mengingat dengan baik, dia juga tau Okta itu mencintainya, kalau tidak, mana mungkin ia menyerahkan Diamond Fyrd begitu saja, secara batu berlian itu bisa keluar karena keikhlasan dan kemauan nya sendiri.


Okta selesai, gadis itu segera di serbu kru lain dan mereka masuk ke sebuah tenda, karena tempat pemotretan di out door sebuah kebun. Dan para bodyguard ikut menjaga di sisi tenda dengan ketat. Ia bisa saja untuk melumpuhkan mereka tapi ia hanya ingin melihat Okta di sana.


Tak lama kemudian Okta keluar dengan dress berwarna dusty cantik. Ia terlihat sedang bicara dengan 2 bodyguard itu, Briaz tertawa kecil melihat bagaimana Okta mengepalkan tangan kearah mereka seperti sedang mengancam, dan anak itu misuh misuh menjauh dari sana, dengan cepat Briaz mengikutinya, mengikuti Okta yang mulai berjalan seorang diri di samping samping pohon pohon dengan mata sesekali sedang melihat ke kiri dan ke kanan, ia juga menghirup udara di sana dengan senyum yang manis. Bahkan merentangkan tangan nya. Briaz mengikuti dari jarak beberapa meter di belakang nya.


‘’disini sangat tenang.. sangat nyaman,, rasanya bebas ‘’ Okta mendehem panjangan merasaka semilir angin, ia sudah cukup tertekan dengan 2 hari belakangan ini. Mengingat bagaimana kenyataan yang menyakitkan, Briaz yang sengaja mendekatinya lagi, membuat nya jatuh cinta lagi dan ternyata dia orang yang selalu menghantui mimpi buruk nya. ia terluka karena itu, tapi tetap saja ia mencintai penjahat itu, semakin di tepis rasa nya semakin yakin ia mencintainya apalagi saat bersama Kevin ia tetap merasa hambar dan itu membuat nya tersiksa juga, walau seharusnya ia berterima kasih dengan Kevin yang mencoba menutupi masa lalu itu dan sekarang benar benar menjaga nya sampai menyuruh bodyguard itu walau pun ia tidak bisa bergerak kemana mana.


Ia berhenti berjalan karena di depan sana sudah ada Kevin yang menunggu nya. Pria itu bersandar di mobilnya sambil menunggu nya mendekat.


‘’ sayang..’’ Kevin mengulurkan tangan nya yang di sambut Okta dengan senyum, ia masih dalam senyuman palsu.


‘’ kamu sudah makan??’’


‘’ sudah’’ jawab Okta bohong, ia sebenarnya sangat tidak mood makan, 2 hari belakangan ini.


Kevin melihat nya intens, dan mengelus rambut kepala Okta dengan lembut.


‘’bagaimana cara nya agar aku mengembalikan selera makan mu sayang…?? Apakah aku perlu menyakiti pria itu ??’’ ujar nya dengan wajah serius, Okta sedikit kaget dengan nada Kevin.


‘’ ah iya…,’’ Kevin mengambil sesuatu dalam mobil nya dan mengeluarkan sebuah kalung bermata indah.


‘’ kamu pasti menyukai nya’’ katanya.


Okta terkesima melihat keindahan berlian di sana yang tampak bersinar, dan itu seolah membuka bayangan lain, benda bersinar yang melayang dengan warna merah dan sangat cantik. Sesaat ia terkesiap karena sadar saat Kevin mengalungkan benda itu di leher nya. ia juga kaget karena Kevin ingin mencium nya tapi reflek ia memalingkan wajah.


‘’ Vin.. jangan di depan umum’’ bisik nya setengah kawatir Kevin marah.


‘’ hmm baiklah..’’ bisik nya lalu tersenyum di sana, dan mereka kembali masuk ke mobil.


Briaz yang melihat nya merasakan bagaimana dadanya sesak bergemuruh, ia sangat cemburu dan sial nya kenapa ia hanya bisa diam saja membiarkan pria lain yang ingin mencicipi bibir istrinya.


*

__ADS_1


Di hari hari berikutnya, Briaz sebenar nya juga selalu di teror, ia di ikuti dan bahkan ada berapa kali pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya. seperti sekarang ia bergumul dengan salah satunya, dengan luka pukul di bibir dan di tubuhnya, ia terus berusaha bertahan hingga ia bisa melumpuhkan pria besar yang ingin menembaknya.


‘’ sial.. aku akan mengembalikan kalian ke tuan kalian..’’ marah nya mencengkram di pria yang sudah babak belur itu.


Di belakang Venus terengah engah dengan pakaian tak kalah berantakan. Venus membantu Briaz mengejar kiriman lainnya tapi gagal.


‘’ tuan, saya kelihangan yang lainnya’’


‘’ ya Venus, cukup 1 saja cecunguk ini kita bawa ke sana’’ ujar nya dengan suara bergetar marah.


Venus menyipitkan matanya melihat bagaimana Briaz yang juga terluka namun sangat marah.


Mereka masuk kedalam mobil, dan Venus meminta beberapa anak buah nya yang lain di belakang. Dengan sangat laju mobil itu membawa ke kantor Kevin. Kedatangan mereka tidak di sambut manis. Beberapa pria lain yang seperti juga penjaga Kevin para mafia sudah bahu hantam dengan Briaz, Venus dan orang orang nya, hingga Briaz bisa menemui Kevin yang duduk dengan manis di ruang kerjanya, dan si boneka kayu yang seperti sedang menemani nya di atas meja itu.


Briaz menodongkan pistol ke arah Kevin, kemarahan nya sudah tidak di bendung lagi, pria di depan nya benar benar membuat nya muak.


‘’ tembak saja, maka Okta akan semakin membenci mu’’ tututr Kevin terlihat santai sambil memainkan game. Ia bahkan tak takut dengan ujung pistol yang siap menghancurkan isi kepala nya.


‘’ kau-


‘’ kenapa?? Apa aku salah bicara? Bukan kah sudah jelas kalau Okta tidak mencintai mu…’’ ia berdiri sejajar dengan Briaz menatap nya dengan tajam. Ia tersenyum sinis menepuk bahu Briaz.


‘’ kalau kau membunuh ku sekarang, Okta tidak akan pernah memaafkan mu seumur hidup nya’’


Perkataan itu sukses membuat Briaz tidak bisa berkutik walau ia ingin sekali menarik pelatuk pistolnya,, namun ia tetap menarik pelatuknya tapi yang ia tembak adalah mata si boneka kayu yang ada di meja sana.


Kevin terlihat marah, itu benda kesayangan nya yang menyimbokan Okta disana.


‘’ kenapa malah menembak benda mati, kamu takut menembak ku, tembak saja…. Di sini… tepat di otak ku… tapi ingat Okta membenci kekerasan, apa lagi di mata nya kau yang ingin memperkosanya, bahahahaaaa’’’


melihat Briaz mulai lengah perlahan ia mengambil pistol di belakang nya, dan dengan cepat menembakkan di perut Briaz sekali dua kali dan tiga kali, hingga Briaz merasa tubuh nya lemas dan tersungkur disana, dalam bayangan kepala nya perkataan Okta itu membuat nya harus merasakan sakit nya timah panas itu mengoyak oerut dan dadanya yang seperti mengenai ulu hatinya.


‘’ hmmm seharus nya aku sendiri yang menyingkirkan mu..’’ kata Kevin dengan paus melihat Briaz yang mengerang kesakitan di lantai dengan darah mulai mengalir. Ia pun melangkahi pria itu dengan santai sambil menjawab telepon.’’ Sayang…..

__ADS_1


*


__ADS_2