
CHAPTER 15*
“ Love U Okta….”
‘’ Oktaaaa lama tidak ketemu,,’’ sapa Bobi dengan senyum dibuat buat, saat aku masuk kedalam mobil nya. Aku yang masih syok hanya berusaha tersenyum tanpa sadar itu adalah Bobi.
‘’ kalian. Aah.. kenapa datang kesini..’’ Tanya ku setelah membutuhkan beberapa waktu menyadari kalau yang duduk di sebelah ku adalah Kevin dan si pengemudi adalah Bobi.
Kevin tidak menghiraukan pertanyaan ku, ia malah menarik tangan ku dan menggenggamnya kuat, aku berusaha menariknya, tapi pandangan Kevin yang tidak bisa ku baca membiarkan nya untuk meremas remas tangan ku, aku jadi salah tingkah dengan rasa gugub luar biasa. Kenapa orang yang baru ku pikirkan muncul, ya tuhaaan aku harus bagaimana sekarang…….
‘’ apa kamu kesini ingin mehakimi apa yang Susan lakukan???’’ Tanya ku pada cowok dengan alis yang nampak tebal., saking gugup nya kadang aku mengeluarkannya dengan nada yang berbeda dari gejolak hati ku.
‘’ tidak…’’ jawabnya singkat matanya yang hitam seolah menusuk nusuk ku lebih dalam, aku jadi sedikit nervous dan jujur bingung harus memulai pembicaraan dari mana dan ini benar benar pertemuan yang mengejutkan, dia yang menghilang sekejap waktu itu dan bertahun tahun tidak melihat langsung sekarang cowok yang baru saja jadi bunga tidur siang nya ada didepan nya.
‘’lama sekali ya kita tidak bertemu’’ katanya dengan senyum khas nya, segelintir aku merasakan sesuatu yang menguak ke dalam lagi, aku berusaha bersikap wajar agar tidak ketahuan Kevin, pelan pelan tangan itu aku tarik lagi, mengingat bagaimana laki laki itu sudah menghilang dan hidup bahagia dengan popularitas nya.
‘’ sepertinya kamu baik baik saja Kevin!!! Keadaan mu sehat kan…’’ ujar ku agak berbasa basi. Sepintas ku lihat Bobi yang berusaha menguping atau melihat kami dari kaca, tapi masih saja ekor mata ku tidak bisa menepis kalau Kevin sedang melihat ku lekat lekat, aku makin gelisah.
‘’ ah, Bobi kata teman teman kamu pernah jadi bintang iklan, kalian makin sukses.. selamat yaaa’’ aku menepis rasa gugup ku dengan bicara dengan Bobi.
Bobi tertawa hambar’’ iya Ok,, tapi karir ku tidak sebagus Kevin, aku hanya bertahan beberapa bulan dan akhirnya meneruskan usaha keluarga di Jakarta’’
‘’ oo begitu..
Wajah ku lantas di arahkan kearah Kevin, tatapannya seperti marah aku yang berusaha sibuk bicara dengan orang lain sedang kan ia yang kuabaikan.
‘’ apa kamu tidak senang melihat ku?? Apa kamu masih marah?? Apa kamu tidak rindu aku’’ Tanya nya dengan sangat dalam, aku ingin menyingkirkan tangan itu tapi rasanya sulit mengontrol situasi seperti ini apalagi ada Bobi, rasa canggung dan serba salah. Tapi Kevin terus berusaha mengintimidasi ku.
‘’ itu… aku.., aah kenapa kamu bicara nya begitu siiih’’ aku tertawa hambar dan memalingkan wajah
‘’ aku minta maaf’’ tutur nya membuat rasa gugup ku netral lagi, aku melihat nya dengan dalam.”aku waktu itu sangat bodoh dan aku akan menjelaskan semuanya’’ potongnya membuat hati ku kelu mendengar kata maaf yang terlihat sangat tulus itu, mataku menatap teduh pada Kevin, entah kenapa kata kata nya barusan adalah yang aku tunggu bertahun tahun dan rasa yang berkecamuk seperti ingin meluap, walau sudah memaafkan nya sejak lama, tapi ia yang menghilang susah untuk menerimanya sekarang.
‘’ kamu… jangan seperti ini, bersikap lah sopan dengan wanita, aku bukan gadis yang dengan mudah kamu pegang pegang’’ lontar ku mengalihkan rasa grogi, ku tepis tangan Kevin dan membuang muka darinya.
‘’ kamu masih saja seperti dulu Okta, judes.. pantas saja banyak yang ga tahan dengan sikap mu..’’
‘ apa!! Maksud mu..’’ aku menghujani Kevin dengan marah. Ia malah tetawa pelan.
‘’ jangan marah!! Mereka memang bagus begitu, cowok yang mendekatimu memang harus ga tahan!!’’ katanya sulit ku cerna.
‘’ termasuk gue dulu, bahahaaaa’’ sahut Bobi tertawa garing seolah dia bukan zona yang ikut ikutan dalam pembicaraan dua insan manusia yang duduk di belakang nya,ia sadar kalau ia hanya lah patung disana, Bobi mengatur intonasi suaranya yang nampak tidak ada balasan dari penumpang di mobilnya, sesaat pria ini mendumel jengkel menyadari ia hanya lah harus bersikap menjadi supir.
‘’ cukup!!’’ aku memotong nama nama cowok yang Kevin sebutkan satu satu.
‘’ kamu stalker ya’’
Seperti tercyduk Kevin membuang muka ia terlihat baru saja menyadari sudah membongkar nya sendiri.
‘’ stalker, mana mungkin aku punya waktu seperti itu, lagi pula untuk apa.., aku hanya mengetahui dari beberapa teman mu saja’’
‘’ teman’’ alis ku naik sebelah, jelas mendengar alasan Kevin rasanya aku mau tertawa dia jelas berbohong, aku punya beberapa teman yang hilang dan pergi tapi untuk mengetahui semua detail nama nama cowok yang mendekatiku seperti nya itu perlu seorang teman khusus.
‘’ jadi, selama ini kamu diam diam mencari informasi aku ya’’
Kevin tertawa hambar dan dibuat buat, ia nampak menyangkal tapi sangat jelas kalau dia memang mencari tahu aku, ada kesenangan tersendiri rasanya, aku pikir pria itu menghilang dengan jati dirinya yang menjadi artis dan melupakan ku.
Aku tertawa mengikuti notasi tawa nya’’ waaah seorang Kevin Er ternyataaaa seorang stalker’’goda ku sukses membuat nya salah tingkah.
‘’ Ya!! Gue emm aku akui memang!’’ jawab nya kembali kesosok nya sebelumnya, bagian yang aku sukai ketika cowok ini mengakui kesalahannya, wajahnya berubah menjadi lucu.
‘’ semua nya aku tau, aku hanya ingin memastikan kamu baik baik saja, setidaknya dalam jarak jauh..’’
Kami kembali saling bertatapan, ada seribu kata dari arah mata itu yang ingin meluap disana. Sangat lama aku tidak melihat mata nya Kevin, sorot nya tidak pernah berubah masih sama dengan dia yang dulu dan kebiasaan lainnya saat ia menjilat bagian bibirnya seperti kebiasaan dia sedang bingung mengatur kata kata dikepalanya, aku mengambil saat seperti itu mencoba menelusuri wajah Kevin yang sebenarnya tidak banyak berubah, wajahnya tetap putih bersih namun rahang nya lebih tegas dan dalam,kalau dulu agak masih ada cabi nya. sosok sekarang juga sangat jauh berbeda, dulu hanya berupa anak sekolahan yang tidak terlalu besar seperti sekarang. Entah kenapa aku seperti tersihir , aku lantas langsung membuang muka setelah ia memergoki ku, dan jelas sekali anak itu tertawa tanpa suara.
‘’ permisi.. iklan iklan..’’ seru Bobi dengan suara keras berusaha di dengar. Ia sampai mengetok ngetok untuk dapat perhatian dari kami. Aku lupa kalau ada orang lain disana.
‘’ bapak dan ibu.. kita mau kemana yaaa.. sedari tadi muter muter, pak supir lapeeeer niiih’’
Beberapa saat kemudian, Bobi melambaikan tangan, ia nampak kesal di tinggalkan di rumah makan sendiri, mobil pergi melaju meninggalkan pria itu, dan setir sudah di kuasai oleh Kevin.
‘’ Bobi.. kenapa kalian jadi dekat??’’ Tanya ku membuka suara lagi.
‘’ yaach kami ketemu di Jakarta!! Dan tidak tau kenapa anak itu menempel terus ke aku’’ sahutnya menatap lurus jalan raya yangsetengah macet.
‘’ menempel… ‘’ mengingatkanku Kevin dulu.
‘’ kenapa kamu senyum senyum begitu??’’
‘’ tidak!!, oh ya.. kamu kenapa ada di sini sih, bukannya sekarang kamu pasti lagi dapat masalah..’’
‘’justru itu aku mau menyelesaikan semua masalah nya’’
Aku mencerna perkataan nya yang tidak mengerti.
‘’ kita jalan jalan atau kesuatu tempat?? Kamu laper ga?? Kita makan saja??’’aaa.. sebaiknya kita ke tempat aman yang bisa makan’’
Aku hanya tersenyum mendengar pria itu bertanya dan menentukan sendiri, dia tidak berubah.
‘’ Hey kenapa kesini sih..’’ komentar Okta saat mobil berhenti diparkiran hotel, tapi Kevin belum menjawabnya, ia memasangkan Okta jaket Hodie nya seperti mengenakan baju buat anak kecil, lalu menutup resleting hingga penutup kepala Okta, ia juga segera mengenakan jaket Hodie lainnya, mengenakan kacamatanya.
‘’ kamu pikir ada tempat lain yang aman, setelah semua orang mencari kita… ‘’
Gadis ini masih melihat nya dengan bingung.’’ Hanya ini tempat aman sementara, dan aku menginap disini, atau apa kamu mau aku nginap di kamar hotel tempat kerja mu saja???
Okta langsung menggeleng dengan wajah susah dijelaskan membuat Kevin agak merasa janggal, walau ia sebenarnya merasakan hal lain yang disembunyikan Okta tapi ia harus menahannya dulu.
‘ baiklah, kita turun’’ ajak nya.
*
‘’ Vin.. kamu belum menjelaskan, siapa yang mencari siapa???’’
Kevin duduk di kasur dengan tenang sambil membuka atribut penyamarannya’’ yaach.. mereka sudah tau siapa gadis yang aku kasari waktu itu’’
‘’ APA!!’’
Terlihat jelas Okta sangat khawatirdan ia nampak kesal bergumam gumam dengan seseorang yang tidak lain adalah Susan.
‘’ tenang saja, aku akan klarifikasi semua nya, jangan ambil pusing’’
‘’ bagaimana tidak pusing, kau tau kan aku tidak suka jadi dikenal orang, aku…’’ ia memendam kalimatnya melihat kearah Kevin dengan jengkel.
‘’ semua gara gara kamu’’ tuduhnya lalu melempar Kevin dengan sepatu, beruntung Kevin menghindar ia meringis nyaring sambil tertawa membenarkan perkataan Bobi.
‘’ aku mau pulang..’’ Okta beranjak dari sana, secepat kilat Kevin menahan pintu.
‘’ kita makan dulu, aku lapeeer’’ pintanya dengan tatapan memelas yang diiringi suara kriuk dari dalam perutnya, walau terlihat memalukan Kevin hanya tersenyum nyengir. Didepan Okta ia tidak perlu menggunakan topeng seperti image nya di dunia hiburan. Okta hanya berdecak geli, matanya dan bibirnya membuat Kevin terpesona sejenak.
Menu pesanan Kevin bermacam macam, seperti mau selamatan, anak itu nampak antusias meyendok kuah gangan keladi yang menjadi salah satu pesanannya, dan juga ikan goreng saluang.
‘’ aku benar benar lama tidak makan masakan banjar’’ ujar nya sambil menyuapkan kemulutnya dan dengan lahap memakan habis.
‘’ enak, walau kurang pas,, tapi tak apalah aku lapeer’’ katanya terus bicara.
‘’ hey, Okta.. makan mu sedikit sekali, pantas saja tumbuh kembang mu segitu gitu aja’’
‘’ apa kamu bilang???, aku lagi malas makan.. lagian aku hanya menemani mu makan saja kan, setelah ini aku mau pulang,,’’
Kevin tau betul, kalau Okta lagi memikirkan sesuatu ia tidak berselera makan, beda kalau mood nya bagus, Okta pasti menjadi pemakan segalanya.
‘’ emang kamu mau pulang kemana??’’
‘’ kerumah..’’ Okta tergelak sadar akan sesuatu, dengan malas ia memasukan nasi kemulutnya.
‘’ disini saja, aku jamin aku tidak akan menodai mu,, aku baru dapat sms katanya sekarang komplek rumah mu lagi kebanjiran wartawan dan Susan dengan senang hati menerima mereka semua’’
__ADS_1
Okta kembali merasa marah dengan gumaman dari mulutnya.
‘’ jangan hiraukan, aku selesaikan semua nya nanti.. kamu hanya diam saja menunggu intruksi dari ku’’ katanya menyakin kan.
‘’ berhenti makan, kalau hanya di mainkan seperti itu, lebih baik kamu mandi.. kurasa air di bath up sudah aku isi’’
Aku melihat Kevin dengan pandangan aneh.’’ Aku hanya menyuruh mu mandi bukan telanjang kan.. otak mu mesum yaaa’’
Ku injak kakinya sebelah’’ sialan.. siapa yang mesum.. ‘
Kevin tertawa singkat, lalu menarik bahu ku dari meja makan.
‘’ sudah mandi.. bau mu sudah tidak enak..’’
Bahu ku naik turun berusaha melepas tangannya.
Apa aku sebau itu, lepaskan..
Kepalanya langsung aku pukul dengan sendok hingga ia meringis kesakitan.
‘’ aku bercanda, jangan pukul pukul sembarangan dong, ini muka nilainya mahal tau’’
Aku berdecak mendengarnya, benar saja di depan ku adalah aktor top yang kudengar bayaran nya mahal. Tapi melihat kelakukannya seperti itu rasanya ingin ku operasi saja mukanya.
Kevin mengacak acak rambut ku yang sudah aut autan.’’ Sudah mandi sana.. mau aku temenin..’’ mimik nya berubah seperti Om Om yang haus akan sesuatu.
‘’ TIDAK!!’’ sahut ku jelas di depan matanya dan berlalu dari sana, tapi tangan ku kembali ditarik, dan dilepas lagi, Kevin mengumbar senyum khas nya, rasanya aku mau meleleh. Aku masuk kedalam kamar mandi besar, fasilitasnya lengkap dan sangat nyaman, air hangat sudah tumpah tumpah keluar dari bath up dengan beberapa bungan mawar yang mengeluarkan aroma segar dan nyaman. Rasanya tubuhku benar benar lelah, perlahan semua pakaian aku lepas suasana nyaman dan tenang langsung menyambut ku setelah air mawar itu merendam seluruh tubuh ku, dan yang harus aku pastikan pintunya dikunci.
Setengah jam kemudian aku keluar dengan ragu ragu, baju ku rupanya jatuh dari gantungan dan basah, aku hanya mengenakan handuk putih. Ku lihat Kevin tidur tiduran di atas kasur dengan kaki naik sebelah dan ia sibuk main game, kebiasaan nya masih sama ternyata, dia dulu sering seperti itu di kelas menjadikan bangku ku dan dia alas nya, itu sering terjadi kalau selesai jam olahraga.
aku kembali masuk kedalam, bingung harus bagaimana, tidak mungkin aku keluar dengan lilitan handuk seksi seperti saat ini.
‘’ Okta kamu sudah..’’
Mata ku terbelalak melihat Kevin yang tiba tiba mendorong pintu yang tidak ku kunci. Aku langsung tersijap lari kebelakng pintu.
‘’ sorry gue pikir di kunci’’ katanya ikut menarik tubuhnya keluar.
‘’ ga papa..
‘’ ini gue siapkan loe baju..’’ segumpal pakaian ia julurkan dari celah pintu.
‘’ dapat dari mana??’’
‘’ nyuri!! ‘’
‘’ apa??’’
‘’ beli lah… cepat lah pakai,jangan banyak tanya’’ katanya yang nampak pegal disana, aku menyambar baju itu dan segera mengenakannya, Cuma dress lebar yang nyaman di pakai.
Aku keluar juga dari sana dengan aman dan tentunya lebih segar, kulihat Kevin berasa di beranda dengan Handphone menempel di telinganya ia bolak balik seperti setrikaan dan terlihat marah marah dii ujung sana, karena penasaran aku mengupingnya.
‘’ IYA GUE BAKAL BALIK NANTI, UDAH LOE URUS DI SANA’’
Cowok ini memutuskan telepon sepihak, ia melihat ku yang menguping dan segera menemui ku yang sudah lari masuk kedalam.
‘’ loe kesulitan ya..’’ Tanya ku merasa tidak nyaman, Karir Kevin pasti sedang buruk sekarang.
‘’ sulit!! Ga lah… begini sih sudah resiko’’ katanya lalu duduk di sebelah ku. Aku sedikit lega karena orang yang tentu paling banyak dirugikan adalah dia, karir nya adalah taruhan nya.
‘’ gimana sudah segar kan?? ‘’ Tanya nya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.’’ Beneran beli ya ni baju?? Kapan??’’
Kevin tersenyum jahil, ‘’ gue eh aku.. beli punya orang hotel’’
‘’apa??’’
‘’ bekas sih, tapi katanya baru di laundry, yaaa kan lebih baik dari pada kamu pakai baju yang sudah di pake”
‘’ so!! Okta… kamu mau dengar alasan aku selama ini??’’
Aku hanya melihat nya dengan teduh, tidak mengerti alasan apa yang ia maksud kata alasan.
‘’ aku mencari ibu kandung ku, jadi waktu itu aku sekolah diisni juga karena sekalian mau mencari keberadaan ibuku, tapi nihil, dia tidak ada!! Lantas aku berpikir kalau aku terkenal pasti dia akan datang menemui ku, dan dengan mudah kami bisa bertemu, jadi begitulah… aku jadi seseorang yang terkenal sekarang hanya sekedar mencari Ibu ku, dan’’ Kevin tersenyum tanpa ada beban apapun terlihat disana. Dia menceritakan hal yang baru saja aku ketahui, jadi dulu dia memendam nya sendiri.
‘’ aku sudah menemukannya…’’
‘’ sungguh…’’ kata ku setelah melamun sekian detik. Kulihat Kevin yang nampak bahagia, ia kembali tersenyum kearah ku
Terbesit rasa iri yang dalam , andai aku juga bisa melakukan hal sama seprti Kevin apa mungkin aku bisa bertemu orang tua ku. Aku saja tidak pernah berjuang untuk mencari mereka, ya walau aku marah aku dibuang dan membenci mereka tapi kadang rasa ingin tahu itu datang kalau melihat anak anak yang begitu dirawat kedua orangtuanya.
‘’ kamu nangis Ok??’’
Aku kaget tersadar dan langsung mehapus air mata.’’ Bukan ini hanya rasa senang kamu bisa menemukan ibu mu.., terus apa kamu sudah menemuinya??’’
Kevin menggeleng dengan raut sedih, ia tersenyum lagi’’ aku hampir menemukannya di kota itu, tapi… mungkin aku sendiri belum siap untuk ketemu dengan nya
‘’ nanti akan kulakukan kalau aku siap’’ sahutnya lagi setelah katanya mengembang lama. dan lagi ia tersenyum mempesona dengan kedua mata yang melebar.
Kevin mengambil kedua tangan ku, serasa tubuh ku berdesir hebat.
‘’ aku ingin menemuinya dan mengenalkankamu kedia’’
‘’ aah, apaa.. emm kenapa’’ mendadak bibir ku gagu dengan perasaan aneh menyusup keulu hati ku.
Tangan pria ini menarik rambut ku yang melintang di dekat hidung ku dengan lembut.
‘’ kamu pura pura bodoh atau benar benar bodoh??’’
Apa, dan aku kaget melihat kedua matanya yang dibuat juling.
Aku meninju nya dengan geram, sampai anak itu tergelak menahan sakit di perutnya.
‘’ Okta, tinju mu sakit sekali, rasanya mengenai ginjal ku’’ erang nya terlihat kesakitan dan membungkuk. Aku shok dan terpaku melihatnya, seolah bayangan bagaimana Briaz yang penuh darah disana. Rasanya tubuh ku kembali menegang
‘’ ini serius.. bisa panggilkan dokter’’ minta Kevin nampak sangat kesakitan.
‘iyaa.. aku akan panggilkan dokter.. aku minta..’’ panik ku dengan cepat beranjak dari sana kebingungan mencari task u, mencari Handphone ku atau aku keluar dari kamar untuk minta tolong.
Lalu sekejap tubuhku tertarik ke depan, menempel kearah Kevin, laki laki ini tersenyum jahil’’
Ternyata kamu memang bodoh, mudah di bodohi’’ bisik nya lalu memelukku, aku berusaha menarik tubuhnya tapi Kevin lebih kuat hingga aku membiarkan dia memeluk ku seperti itu, nafas ku yang tadi memburu karena panik mendadak hilang dengan rasa gugup yang menguasai, apalagi posisi nya seperti itu.
‘’ aku sangat merindukan kamu Okta….’’ Katanya memebankan tubuhnya di ceruk leher ku dengan hembusan nafas yang terasa sangat hangat, nafas ku perlahan lahan naik turun, kaku dengan posisi Kevin yang masih menghirup kulit leher ku, walau agak geli tapi rasa itu tercampur dengan dekapannya yang erat.
‘’ perasaan ku tidak pernah berubah, walau bertahun tahun aku tetap mencintaimu’’
Kali ini aku mendorngnya lebih keras, memandangnya dengan ragu.’’ Apa maksud mu .. mencintaku,, ‘’
‘’ aku mencintaimu.. aku menyukai mu saat pertama melihat mu di bangku itu seorang diri, aku suka kamu dan aku jujur waktu menembakmu’’
‘’ tidak, kamu waktu itu hanya-
‘’ aku berbohong, aku benar menyukai mu, dan penjelasan ku sepulang sekolah waktu itu hanya bohong, aku tau kalau tidak begitu kamu akan membenci ku’’
‘’ lagipula.. apa aku terlihat main main saat meminta mu menikah dengan ku malam itu??’’
Rasanya ombak riak dalah hatiku makin bergemuruh hebat. Kembali membuka perkataan nya waktu itu.
‘’ aku sudah menemukan Ibu ku, dan aku kembali kesini. Aku ingin melanjutkan cerita kita’’kalimat nya terdengar lambat dan terdengar tulus.
Bibir ku terasa kelu untuk membantah atau menyela kalimat Kevin, pria ini kembali mendekat menyentuh leher ku dengan lembut, ia lalu membungkuk, mendaratkan ciuman yang entah kenapa aku sangat merindukan nya, Kevin melepas ciumannya dan tersenyum kearah ku, matanya kembali membius ku untuk diam disana, dan membiarkannya kembali membungkuk kembali mencium ku dengan lembut sangat lembut malah aku yang juga hanya wanita normal yang wajar jika hal biologis ku menyeruak yang entah dari mana muncul. Aku membalas ciumannya dengan caranya yang sama, kami tersenyum sesaat dan kembali berciuman, hingga tangan itu seolah mencari cari sesuatu di belakang dress ku yang ada resletingnya, aku merasakan Kevin menariknya pelan hingga ke bawah dan dres itu bisa terbuka dengan nyaman, leher ku makin terbuka, rambut ku yang panjang di kalungkan kesebelah dan jenjang leher ku ia kuasai, dengan ciuman dan sentuhan nakal yang meriak mendesir desir tidak karuan. Sebelum ia melanjutkan langkahnya lagi yang makin liar, dari titik situ aku menarik tangan nya, mendorong bagian dada nya hingga beberapa centi.
‘’ sebaiknya aku pulang, ….
__ADS_1
‘’ kita belum menikah… nyaris saja kita…, ah sudah lah…’’ aku melihat Kevin dengan nanar, kami sama sama bersalah.
‘’ kamu jangan pergi Okta…, aku tidak melakukan sejauh itu, kamu tenang saja’’ katanya sulit ku percaya mengingat bagaimana deru hasrat yang membara saat ia mencium ku barusan, walau ritme nya santai tapi sangat jelas ia ingin menyudahinya.
‘’ aku harus pulang…, dan apapun keadaan di luar aku siap’’ kataku mantap.
Kevin kembali mengejar ku, dan menarik tas ku
‘’ kamu sudah resmi jadi wanita ku kan…’’ Tanya nya dalam udara ia lalu menarik ku lagi.
Aku melihat nya dengan datar.
‘’ apa hubungan mu dengan CEO itu??’’ Tanya nya yang dalam sedetik wajah Kevin yang lembut dan hangat berubah menjadi wajah yang beratmosfer hitam, serasa ada aura hitam disekitarnya.
‘’ CEO’’ aku menggantungkan kalimat, tentu nya sangat kaget Kevin sampai tau tentang CEO itu, sesaat aku sadar kalau dia benar benar stalker padahal aku baru saja mengenal Briaz.
‘ katakan Okta!! Apa hubungan kalian….’’
Aku kaget mendengar bentakannya, urat leher nya mencuat menahan marah, apa Kevin sedang cemburu.
‘’ dia Briaz. . dia kenalan ku…’’sahut ku setelah jengah melihat suasana sekarang, dan bentakan nya barusan, apa dia pantas membentak ku yang hanya semenit baru menjadi kekasihnya.
Kenalan?? Kapan dan sejauh apa’’ Tanya nya dengan nada dalam, bahkan sampai menarik tangan ku segala.
‘’ kamu cemburu??’’ tanya ku melepaskan tangannya.
‘’ IYA!!’’
Kevin lagi lagi menarikku dengan kasar, masuk dalam lingkaran tubuhnya.
‘’ kamu itu wanita ku!!!’’ bisik nya terdengar dengan nafas berat,
Aku mendorong nya’’ wanita mu?? Heh…Kevin.. aku
Belum selesai bicara ia mencium ku lagi, memaksa ku untuk mengikuti ritme gerakan lidahnya. Hingga kami menepi kedinding, Kevin kembali mengeriyang leher ku dengan caranya yang lebih gesit, darah ku sampai naik turun, ingin melepaskannya tapi ia membuat ku seolah tersihir entah iblis apa yang masuk ke otak ku.
Kemudian ia membawa ku ke kasur, dan kembali menghujani ku dengan ciuman nya, Kevin tersenyum singkat dan kembali menarik baju ku yang merosot, ia seperti hilang kendali saat ciuman dan jilatannya menyentuh kulit ku, dan gilanya aku ikut dalam permainannya, saat pria ini memamerkan tubuhnya yang keras dan membentuk lekukan lekukan mirip roti sobek.
‘’ aku janji tidak akan menodai mu’’ bisiknya lalu kembali mencium ku lagi.
Kevin melakukannnya hampir 1 jam, dan benar saja dia tidak melampaui batas yang ia janjikan, seperti sekarang aku dan Kevin malah terbenam dalam bath up air panas dengan aroma teraphi mengisi ruangan kamar mandi, aku bersandar di dadanya yang di tumbuhi bulu bulu tipis dan keras, pria ini memainkan busa yang berada di kepala ku. Rasanya aku menjadi sangat tenang dan nyaman melupakan segelintir masalah diluar sana melupakan makhluk hujan itu.
‘’ Aku tidak suka kalau kamu dekat dengan pria siapa pun’’ kata nya lagi seolah masih membahas tentang Briaz.
‘’ aku tidak ada hubungan apa apa dengan nya’’ sahut ku mencoba mengendalikan pria ini, aku sedikit cemas juga melihat perubahan nya yang mendadak seperti pria bertangan kasar.
Emmm, Kevin mendehem dan mencium kulit punggung ku, tangan nya terus meremas tangan ku.
‘’ kalian ketemu dimana? Dan aaah apa saja yang kalian lakukan??
Aku merasa Kevin sudah tau banyak tentang Briaz terkecuali sosok laki laki itu, dari pertanyaan nya yang terdengar mengintimidasiku membuat ku sedikit malas lagi dengan nya, apalagi mengingat apa saja yang kulakukan dengan Briaz, apakah Kevin bisa menerima nya yaa walau yang kami lakukan hanya sebatas ciuman dan itu terjadi bukan dari hati kami.
Aku keluar dari Bath Up dengan mengenakan baju untuk mengambil handuk. Kevin mengekori ku dengan rasa penasaran.
‘’ aku tidak ingin membicarakan nya Vin, dia itu bukan siapa siapa ku, lagipula jika aku bertanya banyak tentang wanita wanita mu apa kau merasa enak??’’
‘’ baiklah… aku mengalah’’ sahutnya. Aku menatap nya dengan tatapan kesal, tentu saja aku pernah mendengar ia dekat dengan beberapa artis lain bahkan artis luar negeri juga, siapa sekarang yang harus marah dan cemburu.
Malam nya Kevin mengajak ku keluar masuk kesalah satu Resto di Hotel itu yang sangat elit dan mewah.
Walau ragu dan khawatir akan mengundang wartawan, Kevin menyakin kannya dengan penampilannya sekarang yang sedikit konyol, ia membelinya melalui online tadi sore, sebuah rambut palsu yang sebahu, mirip wanita, dengan kaca mata bulat dan stelan yang nampak norak. Aku terkikik geli sampai perut ku sakit melihat nya, anak itu sedang menyamar atau sedang melucu, sepertinya ia sudah piawai melakukannya.
Dan tentu saja penyamaran nya tidak di ketahui orang orang sekitar, dan aku yang hanya mengepang rambut dengan stelan biasa juga berhasil menipu pandangan orang orang.
‘’ sudah ku bilang kan semua nya akan berhasil’ bisik Kevin di seberang sana setelah seorang waiter selesai melayani pesanan kami.
aku tertawa pelan kelakukan Kevin agak konyol, pria ini nampak benar benar culun dengan stelan itu tapi dengan wig panjang itu ia lebih mirip pendekar entah dari mana.
‘’ aku bisa sering melakukan nya kalau mau keluar bebas’’ ujar nya berlanjut menceritakan kebiasaannya selama jadi Artis, Kevin nampak sangat antusias dan terbuka menceritakan semuanya tanpa takut orang lain mendengar, makan malam kami menjadi sangat panjang dengan cerita cerita konyol nya.
‘’ kamu ga nanya hubungan ku dengan artis artis cewek??’’ Tanya nya kemudian membuyarkan lamunan ku yang melayang mengingat Briaz, entah kenapa lagi pria itu muncul saat Kevin di depan ku!!
‘’ aah siapa??’’
Kevin menarik piring ku yang sudah aku aduk aduk sayurnya.
Aku melihatnya balik, cowok ini berdecak ‘’ rupanya berita ku tidak begitu membuat mu cemburu ya..’’
‘’ cemburu.. hahahaaaa, tidak tuh.. melihat mu di Tv saja aku mau muntah…’’
Kevin menyeruput juice yang sudah mencair lama, ia tau kalimat ku hanya bercanda.
‘’ aku pikir kamu melupakan ku, jadi melihat mu atau mendengar nama mu di sebut rasanya…. ‘’
Kali ini ia mengembangkan senyum seperti kata kata ku itu yang ingin ia dengar.
‘’ tapi bohong, aku benar benar tidak peduli’’ kata ku asal menenggelam kan kepala ku dan dari arah seberang sana Kevin mengacak rambut ku, sesaat aku teringat akan Hp ku yang sudah aku telantar kan. Hanya beberapa persen baterainya sudah nyaris habis, banyak panggilan tak terjawab dari Maya sejak siang, dan telepon lainnya.juga sms sms yang sudah banyak memenuhi spam.
Kevin merebutnya lalu membuka isi nya
‘’ kembalikan…’’
Anak itu tak bergeming ia sibuk mencari sesuatu.
‘’ hey itu privacy’’ kesal ku melemparinya dengan tisu basah.
Ia mengembalikan nya dengan tidak sopan agak membanting ke meja.
‘’ Kevin..
‘’ kamu masih belum menjelaskan siapa Briaz itu’’
Rupanya dia mencari tahu dari Hp ku mungkin galeri yang isinya hanya simpanan foto biasa.
‘’ bukannya aku tidak mau membahas nya… dia itu bukan siapa siapa, lagi pula kenapa kamu penasaran sekali…’’ aku mengambil secangkir air putih. Kevin menunggu dengan tidak sabaran, pria itu kadang tidak bisa mengotrol kesabarannya atau malahan emosinya lebih parah dari aku yang memang sudah suka marah marah.
‘’ kalian sampai jalan jalan dan bermesraan, aku cukup menjadi stalker sejati mu Okta, aku tau persis bagaimana kamu meladeni pria yang dekat dengan mu’’
Aku menatap Kevin dengan menelaah kata-katanya, ya jika kami tidak terjebak Vlous aku juga akan menedang bokong nya berani menyentuh ku, benak ku jika boleh. Tapi tentu tidak bisa aku jelaskan.
‘’ baiklah, sebenarnya kami dekat ‘’ jawab ku sukses membuat raut wajahnya kembali seperti tadi sore, tapi Kevin terlihat lebih menahan nya.
‘’ dia…, tapi bukannya sekarang aku sudah menjadi milik mu, apa yang kamu takutkan..’’
Kevin lalu mencoba tersenyum lagi, walau aku merasa bahagia juga melihat nya secemburu itu dengan Briaz.
‘’ tapi kamu tidak menyukai nya kan??? Dia tampan, bahkan seorang kolongmerat ‘’
Aku menggeleng santai, terlihat Kevin yang tentu mengenalku kembali mempercayaiku.
‘ tapi aku meragukan mu Kevin, kamu datang tiba tiba menyatakan perasaan dan kita malah berciuman bahkan… Hmmp.. aku benar benar meragukan mu Kevin!! Kamu pasti banyak menyimpan wanita kan..’’ cecar ku entah kenapa malah menghujaninya seolah aku benar benar cemburu sekarang.
‘’ kamu meragukan ku??’’
Aku tidak menjawab atau mengelaknya.
‘’ apa itu penting sekarang kalau sekarang saja semua nya sudah mengetahui hubungan kita..’’
‘’ hubungan apa??’’ Tanya ku.
Kevin mengambil Hpnya dan memperlihatkannya kearah ku.
Ia membuat sebuah komentar dari sebuah akun asli nya mengenai pernyataan Susan di media dan itu terjadi 1 jam yang lalu
‘’ benar dulu aku pernah berbuat salah, aku mencintai gadis itu waktu itu dan sekarang pun masih, aku berharap hubungan kami semakin membaik’’
__ADS_1