
CHAPTER 19*
“ Need you Briaz”
‘’ kita ciuman yuk’’ kata Okta kaku lalu mengerjap ngerjap mata nya beberapa kali dengan bulu mata nya yang lentik dan hidung pancung mencuat menggelikan.
Dan Okta benar benar menyesali perkataan nya barusan, andai ia punya pemutar waktu ia akan memotong bagian itu.
Tik
Tok..
Tik.
Tok
Kevin melihat nya diam setengah kaget dan geli, Okta sendiri langsung menutup mulutnya dengan cepat, dan menutup telinga nya, tidak mau mendengar ejekan kevin.
‘’ lupa kan lupakan, aku Cuma bercanda’’ erang nya lalu menutup kedua wajah nya, Okta terlihat makin konyol, tapi Kevin menyukai nya, melihat Okta seperti itu yang kelabakan dan ia makin senang karena Okta meminta nya secara langsung, apa Okta juga merindukan nya seperti ia yang merindukan gadis itu yang menghilang beberapa hari.
Tangan Okta ia tangkap, untuk menenangkan tingkah konyol nya. Okta terlihat makin mematung gugup.
‘’ kenapa kita harus berciuman??’’ tanya nya sengaja membuat Okta semakin tak karuan.
‘’ ga, ga jadi.. aah Vin, berhenti tertawa..’’ erang nya mulai makin tersudut kan.
Kevin berhenti tertawa, lalu menangkap waja Okta dengan dua tangannya, mata Okta melebar gemas dengan bibir ikut terjepit.
‘’ apa kamu merindukan ku??’’
Okta hanya semakin melebarkan mata nya yang bulet.
Lalu Kevin mencium Okta di bibir.
Okta hanya diam membiarkan bibir itu ******* bibirnya, tak ada yang berubah, sensasi nya tetap berasa beda, bukan seperti sensasi yang menghilang setelah hasrat Fyrd di turuti. Benarkan.. ga berubah?? Apa karena belum??
‘’ ada apa??’’ tanya Kevin menatap manik bola mata Okta yang hanya diam mematung, Okta menggeleng, namun pandangan lain dari Kevin beda, ia kembali ******* bibir Okta dengan lembut, bahkan memaksan Okta untuk emngikuti ritme ciuman nya, Okta tak berekasi, ia pindah menciumi leher Okta dengan lembut, menyibak rambut gadis ini.
‘’ Vin…’’ Okta menghentikan langkah Kevin yang tampak menggila disana.
‘hmmm..
‘’ aku sakit perut’’ bisik Okta, lalu Kevin beralih menatap nya dengan tanda tanya besar.
‘’ aku balik ya, kayak nya mau PMS’’ perjelas nya lagi dengan berbohong.
Kevin merisut lemes.’’ PMS???’’
‘’ obat pereda nyeri di loker, udah yaa aku balik,,, byeee’’ Okta cepat cepat beranjak dari sana meninggal kan Kevin yang sudah setengah naik, dan merasa ada yang mengganjal celana nya.
‘’s iaaaaal’’ kesal nya lalu ngacir ke kamar mandi.
Di balik pintu Okta bernafas susah susah, naik turun, ia memegang dada nya dan bisa bernafas lega.
‘’ kenap ga berhasil?? Aaah… duuuh Briaaaz’’ lagi lagi ia membayangkan wajah tampan Briaz tadi pagi dengan stelan kemeja babyblue yang tersemat di balik jas semi formal nya, tanpa sadar ilernya menetes.
‘’ Fyrd… sialaaan, okeee.. kita sudahi….’’ Ia lalu melangkah lebar lebar dengan tekad yang kuat.
**
‘’ permisi..’’ Okta masuk ke ruangan itu dengan wajah semerah tomat.
Mba sekretaris yang tadi sibuk mengetik di komputer memutar pandangan kearah Okta.
‘’ iya!’’
‘’ apa Bapak Briaz ada di dalam??’’ tanya Okta bersumpah akan menjahit mulut nya kalau ini terjadi lagi. Ia sudah tidak punya muka dengan si sekretaris yang melihat nya dari atas sampai bawah dan mengenali seragam Okta.
‘’ apa sudah ada janji??’’ tanya wanita ini kurang bersahabat.
‘’ aah itu, apa mba di titip kan HandPhone??’’ tanya Okta beralasan, beruntung ia punya alasan yang tepat.
‘’ HaaaandPhone??’’
‘’ iya!!
‘lalu pintu ruangan Briaz terbuka, tubuh itu keluar.
‘’ suruh di masuk’’ titah nya dan kembali masuk kedalam ruangannya.
‘’ baik Pak’’ jawab Melly dengan tampang tak percaya, karena tidak ada yang pernah masuk ke dalam selama Briaz menjabar, perempuan yang masuk kesana hanya ia itu pun sekedar seputar pekerjaan.
__ADS_1
Sebelum sekretaris cantik ini menatap nya dengan intimidasi Okta segera berlenggang masuk ke dalam sana.
Briaz sudah berada di kursi kebesaran nya, dengan tangan sambil memegang tablet.
‘’ ada apa??’’ tanya pria ini tanpa rasa bersalah.
‘sialan.. kau Briaz, apa dia tidak ingin menyudahi pengaruh Fyrd sialan ini…’’
‘’ itu pak handphone saya’’ aku Okta dengan bibir bergumam guman kesal, tangan nya sampai menggenggam kuat.
‘’ oooh.. ‘’ Briaz lalu membuka laci dan mengambil nya.
‘ nih’’ ia meletakkan di meja di tengah tengah meja nya yang lebar.
Okta sudah frustasi, ia maju perlahan meraup Hp satu satunya itu.
‘’ Oke Trimakasih’’ jawab nya lemas.
‘’ kalau begitu saya permisi..’’ ucapnya pelan sepelan mungkin.
Briaz kembali sibuk dengan tablet nya tanpa melirik sedikit pun pada Okta yang kemudian menghilang di balik pintu. 3 detik kemudian ia bangkit dengan cepat membuka pintunya mendongak ke luar.
‘’ dia sudah pergi??’’ tanya nya pada Melly yang nyaris teriak melihat bos nya seperti itu.
‘’ sudah pergi??”’
Melly mengangguk dengan ragu dan masih terpaku.
Briaz tampak kecewa dan kembali masuk ke dalam. Mondar mandir tidak jelas.
‘’ dia mencari ku hanya mencari Hp nya?? Aaah masa siiih?? ‘’ tanya nya masih tidak percaya dan terlihat sangat konyol.
‘’ bukan nya harus nya dia …, kok bisa tahan ya…apa dia kesini karena tidak tahan dan malu malu?? Aaah aku akan pastikan’’ kata nya kemudian lalu kembali minum obat Diamond Hord.
**
‘’ o’ok…’’ Maya menyikut Okta berkali kali.
‘’ apaaa??’’
‘’ Bos kita… kok bolak balik sih??’’ kata Maya yang sebenar nya Okta tau, ia dapat merasakan sensasi gila itu seolah tarik ulur. Dan kenapa Briaz seolah sengaja bolak balik seperti sedang mengerjainya saja.
Maya menggeleng, lalu berlalu dari sana. Ia lebih baik masuk ke dalam mencari tempat duduk dan makan roti yang tadi ia bawa dari rumah tifanny.
‘’ hmmm.. hmm hmmmm’’ suara Mba Adel menggema.
‘’ kenapa mba?? Ambean nya kumat??’’ tanya Okta tanpa dosa.
‘’ ambean, kapan mba punya riwayat ambean??’’
Okta hanya melanjutkan kunyahannya.
‘’ Okta.. mba bisa minta tolong boleh ga??’’
Takjub Okta kaget, seorang Mba Adel sedang minta tolong?? Why??’’
‘’boleh apaan ya mba’’ tanya Okta dengan mata memutar lambat.
‘’ nanti, boleh kan aku foto sama Kevin Er’’ kata Mba Adel setengah berbisik, mukanya sampai merah padam.
‘ glek’’
‘ mau yaaa Ok?? Mau??’’ bujuk Mba Adel yang membuat ku masih menganga dengan permintaan nya, dan jarang banged Mba Adel bersikap manis seperti ini.
‘’ hmmm.. boleh mba,, nanti kalau dia ada, saya panggil yaaa’’ kata Okta menyanggupi.
Yang benaaar Okta,, Kyyaaaaaa, lalu wanita yang sering menyinyir Okta ini memeluk kta erat sampai Okta kesusahan bernafas.
**
‘’ harus di sana ya Fan??’’
‘’ baiklah… smsin nomor rumah nya, oke see u…’’
Okta menutup telepon, ia harus segera ke tempat Cindy karena ada tugas Kampus lagi, bolos beberapa kali kuliah membuat nya harus banyak mengumpulkan tugas, tapi ia agak ragu untuk keluar dari sana, takut kalau di bully lagi atau di kejar wartawan.
‘’ kamu balik Ok??’’ Maya muncul di balik loker ku, nyaris aku berteriak kaget.
‘’ yup, banyak tugas’’
‘’ ga kencan dulu??’’
__ADS_1
‘’ kencan?? Buat?’’
Mata tergelak’’ buat bikin upil, ya amplop Okta… ‘’ Maya geleng geleng kepala.
‘’ malas aah, udah dulu ya bebeb Maya..’’
Maya mengangguk lalu mencium pipi kanan dan pipi kiri Okta dengan manis.
Okta segera mengambil tas ransel dan mengenakan hoddie nya.
‘’ hati hati’’ kata Maya masih diam di tempat. Okta hanya menaik kan alis sambil melambai.
Saat ke Lobby, langkah nya terhenti melihat Briaz berada di sana denga para sekutu nya, Jacob dan Venus.
Tapi ia berusaha bersikap biasa walau si Fyrd sengaja mnyulik nyulik otak waras nya. Dengan cepat ia menunduk dan berjalan menunduk melintasi 3 sekawan itu.
‘’ Okta…’’ suara itu memanggil, mata Okta nampak terbuka lebar dengan senyum sumringah berharap itu adalaaaaah
‘’ kenapa telepon nya putus’’
Jeng jeng jeng… Mata Okta meredup bukan Briaz tapi pacar nya Kevin.
‘’ aaah itu, tadi ada telepon kantor bunyi’ jawab nya sekena nya, sambil melirik ke belakang, 3 sekawan itu masih di sana dan entah kebetulan Briaz juga sedang meliriknya, seolah sama sama melirik kedua nya cepat cepat membetulkan retina mata masing masing.
‘’ kamu mau kemana??’’ tanya Kevin sambil melihat ke belakang arah lirikan Okta yang membuat Okta tergagap.
‘’ aah apa Vin?’’
‘’ kamu mau kemana?? Bukan nya tadi aku bilang temenin aku nyari barang ‘’ kata Kevin mengingat kan.
‘’ barang?? Hmm oh my god. Aku lupa,, aku mau ke rumah cindy ada tugas kuliah’’ jawab nya sekenanya.
‘’ ga bisa di batalkan??’’
‘’ entah lah, tapi kita pergi yuuuk, ajak Okta menarik Kevin sedikit menjauh dari sana karena hati nyaseperti sedang di cabik cabik. Tapi Kevin menahan nya.
‘’ sebentar…’’ laki laki ini malah berputar ke belakang mendekati Briaz, Okta sampai syok, mau ngapian Kevin.
‘’ permisi…’’ kata Kevin mengganggu 3 sekawan yang nota beni adalah Bos Okta. Dan Okta langsung mengekor gagap melihat Kevin kesana.
‘’ iya’’ sahut Briaz dengan raut dingin dan tak bersahabat.
Kevin mengulurkan tangan, wajah nya di buat semanis mungkin.’’ Perkenalkan.. Kevin’’ katanya dengan sopan, Okta sampai menutup kedua mulutnya ia hampir berteriak.
Briaz melihat arah tangan di depan nya, dan melihat ke atas lagi ke arah Kevin, dengan berat ia menyambut tangan itu.
‘’ Briaz Alvaro’’ jawab nya dengan tangan masuk di saku celana samping nya di sebelah. Entah kenapa suasana itu menjadi sangat mencekam apalagi di saat di sana tak serame seperti biasa.
‘’ thanks sudah menyelamatkan pacar saya kemaren’’ umbar Kevin lalu menarik Okta ke sebelah nya, melingkarkan pinggang nya dengan mesra.
‘’ oh. Iya,, sama sama’’ jawab Briaz tanpa berkedip melihat Kevin dengan aura permusuhan, dada nya nampak sesak.
‘’ lain kali aku akan mentraktir mu’’ kata Kevin lagi.
Briaz hanya mengangguk, lalu beralih pada Okta dengan tatapan membunuh.
‘’ Vin.. kita pergiii yoook’’ Okta sesegera mungkin menyeret Kevin, entah karena apa tapi ia sangat tak nyaman dengan aura Briaz.
‘’ permisi ya pak?? ‘’ kata Okta pamit lalu menarik Kevin jauh jauh dari sana.
‘’ ada apa sih??’’ kesal Kevin melepas tangan Okta dengan gusar.
‘’ kamu yang apa apaan, itu Bos aku’’
‘’ terus?? Kenapa???’’
‘’ bu bu kan apa apa. Udah deh, aku temenin mau beli barang kan’’
Kevin masih diam melihat Okta yang gelabakan seperti itu.
‘’ nanti saja, kerjakan saja tugas kuliah mu, aku mau ke kamar’’ ujar nya berputar haluan.
Okta masih panik dengan sesuatu, ia kembali bergedayut di tangan Kevin.
‘’ Vin…aku ikuuut kamu aja deh’’
‘’ benar??”’
Okta mengangguk cepat.
Di dalam Briaz dan sekutu nya sudah lenyap entah kemana.
__ADS_1