Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
17-Fans Kevin Er


__ADS_3

CHAPTER 17*


“ Fans Kevin Er”


‘’ halaaaah paling juga cuman cari sensasi’’


‘’ kalau cinta pertama nya kaya dy mah aku juga ga akan melupakan nya, cantik uy’’


‘’ sumpah mereka cocok banged.. serasi banged banged banged…’’


‘’ cantikan guee cewek nya,…. Besaran dada gueeee kali!!!’’


‘’ mukanya oplasan kayanya, gue ga setuju Kevin Bias ku ama tu cewek ga setuju!!!’’


‘’ cantik dan ganteng, serasi!!! Semoga langgeng ya kaaa Keviiiin’’


‘’ cewek nya cantik!!!’’


‘’ dia kaku banged’’


‘’ ternyata cinta pertama Ka Kevin sama dia ya, cocok!!! Bikini dong filmnya documenter gitu kan asiiik tau gimana jalan cinta pertama ka Kevin!!!’’


‘’ mereka sih dari sekolah juga couple!!! Okta orang nya emang cantik alami dan Kevin memang ganteng dari dulu, aku teman sekolah nya lhooo,’’


‘’ pupus sudah harapan ku sama Okta, walau galak tapi dia baik, love u Okta’’


bibir ku sampai pegal membaca komentar komentar salah satu foto saat Okta dan Kevin lagi Konefrensi Pers 2 hari yang lalu, sisa komentar nya masih ribuan, sejak 1 jam yang lalu setelah kelar dari meeting aku langsung balik ke Hotel yang ada di Jerman. Sebenarnya lelah tapi penasaran juga tentang konferensi Pers gadis blagu itu, apalagi tranding topic nya kabar mereka saja yang menghiasi di internet media sosial seperti yang aku lakukan sekarang, sebenarnya juga aku tidak pernah punya akun sosmed beginian, ini juga si Venus yang membuat kan tadi sore.


Mereka kebayakan malah mengagumi kecantikan Okta,ah sial.. kenapa mereka menyebutnya cantik, blagu begitu, gumam ku entah kenapa jadi tidak suka, aku mengklik lagi ke foto Okta, benar jga siih Okta disana terlihat lebih cantik dan sangat anggun, aku mencari rekaman video nya saat konferensi pers.


Jari ku menyentuh nyentuh layar Hp ku saat kamera menzoom wajah Okta, benar dia secantik ini, pantas begundul begundul itu mengaguminya, terbesit rasa gelisah dengan komentar pria pria yang mengagumi Okta.


Kenapa dia malah jadi tranding topic begini sih, begundul begundul itu malah menyukai nya aaah siiiiial’’ omel ku terus memperhatikan penayangan ulang acara itu berlangsung tanpa menghiraukan kata kata nya, aku seolah terseret oleh wajah nya yang cantik dan tentunya masih menerapkan mimic nya yang dingin, namun terlihat sexy. Aaaagh..apa yang sudah aku pikirkan, otak ku mulai tak lurus, dan kau Fyrd.. apa kau sengaja membuat ku terus tertarik dengan gadis blagu ini…


‘ halaaah cinta pertama, bulshiit!!! ‘’


Melihat saat kamera yang mengarah ke Kevin yang sedang menjelaskan hubungan nya dengan Okta yang ia bilang dia adalah cinta pertama nya, perut ku semakin mual dan tidak suka dengan mulut itu juga tangan itu yang menggenggam tangan si blagu yang dengan songong nya mau mau saja, berbeda dengan ku yang ditolak nya mentah mentah sampai harus keluar predikat mesum.


‘’ apa bagus nya dia.. hhhaaa, jauh keren aku, ganteng iya, kaya iya!!!, itu lagi mata sok romantis kunyuk gitu, aah ni cewek centil juga senyum senyum aja di pegang pegang tangan nya…, aku yang sentuh aja dia kayak di pegang oleh orang penyakitan…’’


Hingga rasanya ubun ubun ku memanas, tu Handphone aku lembar ke samping, hancur hancur dah!!!


Aku membanting tubuh ke kasur yang dingin diterpa ac, hampir terlelap.


Kemudian terdengar suara bel, dengan cepat aku keluar dari kamar menuju pintu, sebelumnya aku menceknya dulu, didepan sana ada Jessie, cewek Jerman yang tadi siang dikenalakn kolega ku, wajahnya cantik dan dengan tubuh sexy yang menggoda, biasanya Vlous Fyrd dengan senang hati mempengaruhi otak ku untuk mencicipi nya, tapi ini Vlous sama sekali tidak bereaksi dan itu juga terjadi dengan cewek cewek lain nya seperti Cintya contohnya, hampir satu jam aku berusaha untuk menyudahi nya malam itu dengan nya, tapi penolakan Fyrd membuat ku jadi tidak bernafsu dengan gadis sexy seperti Cintya.


Aku langsung mematikan monitor dan mengabaikan pintu yang masih barbell ria.


Tubuh ku terasa berdenyut, seperti ada yang mencabik nya di bagian sisi, pasti Fyrd sedang berusaha menyakiti ku lagi, meski sudah meminum obat yang dari Diamond Hord, sakit nya tetap terasa walau tidak separah jika aku tidak meminum nya.


Aku merikuk dalam kasur meringis tanpa suara menahan setiap serangan Fyrd.


‘’ aku membutuhkan mu Okta… dan Diamond Fyrd’’


Lusa nya aku sampai Ke Kalimantan dan berbegas ingin menyakini sesuatu yang salah dengan otak ku itu,


‘’ tuan mau pulang ke rumah atau …??’’ Venus yang berada di kursi kemudi bertanya saat kami mau meninggalkan Bandara


‘’ kira kira dia ada dimana??’’


‘’ siapa??’’ laki laki yang seumur dengan ku ini menoleh dengan tampang bingung.


‘ si apa lagi kalau dia’’ sahut ku tak ingin terlihat menjijikan di mata Venus, aku cukup merasa malu saat minta bikinkan sosial media olehnya.


Venus mengangkat tangannya dengan suara lantang.


‘ nona Okta??’’

__ADS_1


‘’ diam berisik..’’


‘’ aa baik tuan, kita coba langsung kerumah nya saja’’ kata Venus tersenyum lebar mirip seekor kuda yang memamerkan jejeran giginya.


1 jam kemudian kami berada di dekat rumah Okta, di sana masih terlihat beberapa wartawan yang nampak kelelahan menunggu di sana.


‘’ tunggu sebentar tuan, saya akan mencari nya di dalam’’ kata Venus sambil memakai kaca mata hitam dan keluar dari sana.


Aku melirik jam tangan, sudah jam 3 apa yang di lakukan Okta ? dia juga tidak masuk kerja setelah terjadi kehebohan tentang cuitan adik nya dan Konferensi Pers 2 hari yang lalu, apa dia bersama pacar nya?? Aaah ….


Mata ku lalu terarah pada gadis yang keluar dari bilik rumah di lain tempat, dia mengenakan seragam SMU yang nampak kekecilan di tubuh nya, kentat dan rok nya pendek. Ia mengenakan topi menggulung rambut ke dalam nya, tapi aura Fyrd seolah mencuat dan aku tau persis Fyrd tidak pernah salah kalau sedang melihat mangsa yang belum aku penuhi itu, sesuai rencana ku aku menegak obat dari Diamond Hord double, semoga ini berhasil membuat aura Fyrd lebih jinak, dan dia tidak mengetahui keberadaan ku.


Aku segera turun dari mobil, berjalan sekitar 10 meter dari gadis berseragam SMU itu, aku tau dia Okta, dia tampak sangat menggemaskan di balik seragam kentat itu yang juga tampak membuat nya tak nyaman.


Okta naik ke atas ojek yang mangkal disana, ia tampak menjaga wajahnya khawatir orang mengenalinya.


Aku melakukan hal yang sama setelah ojek itu mengangkutnya lumayan cepat.


‘’ apa apaan ini, aku bahkan naik ojek demi mengikuti nya’’ pikir ku aneh , tapi cukup segar juga naik motor yang lumayan laju membawa ku walau di bawah terik matahari, tapi ini menyenangkan.


‘’ maaf mas,, tangan nya..’’ aku kaget karena berpegangan terlalu kuat pada si abang ojek yang nampak misuh misuh pada ku yang memegang pinggang nya, ya Ampuuun aku pasti di pikir gay, runtuk ku merasa sangat terhina.


Okta berhenti di sebuah butik baju.


‘’ tunggu bentar mas, ‘’ kata ku pada abang ojek yang hanya mengangguk, kami berada di bawah pohon yang tidak rindang alias tandus, panas dan gerah aku sampai keringatan. Juga kulit ku agak lembab, mata ku tak lepas menunggu Okta yang belum keluar keluar juga dari sana.


‘’ ngapain dia disana.. lama’’ kesal ku ingin sekali masuk kesana, tapi kemudian Okta keluar bersama seorang gadis lainnya yang rambutnya kuning dan pendek.


Mereka saling berpamitan, lalu Okta masuk ke dalam mobil yang baru datang menjemputnya.


‘’ siapa lagi itu???’’


‘’ gimana mas?? Ikutin??’’ tanya si abang ojek yang paham aku lagi ngikutin Okta.


‘’ iya bang, buruan ya…’’ kata ku.


Tak berselang lama mereka berhenti didepan sebuah rumah urutan 3 dari komplek perumahan dan di depan rumah itu ada spanduk kecil bertulisan di kontrak kan. Okta keluar dan masuk kesana.


‘’ udah sampai sini aja pak, ini uang nya..’’ kata ku mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


‘’ 50 ribu aja mas,’’


‘’ ambil saja…’’ kataku yang mengawasi dari jarak jauh.


Dengan sumringah si abang ojek menerima dan mengatakan terima kasih berulang kali.


‘’ Ven… jemput aku di-


***


‘’ baik bu, nanti saya transfer uang nya, beberapa hari lagi kami akan menganggut barang barang kami’’ kata Okta pada si pemilik rumah itu, ya dia baru saja mendapatkan rumah kontrakan baru untuk kediaman barunya. Dan lumayan lebih bagus dari pada sebelum nya yang hanya semi permanen, kalau sekarang permenen semua walau uang sewa nya lebih mahal, tapi tak apa lah ia memang harus pindah ke kediaman lain.


Setelah selesai Okta keluar dari sana, tenggorokannya terasa kering karena si pemilik rumah yang juga tak menyimpan air minum membuat nya ingin segera ke mini market di depan komplek.


Okta membetulkan baju Susan yang kekecilan di tubuhnya dengan susah payah. Padahal tubuh Okta lebih kecil dari Susan tapi memang Susan nya aja yang bandel mengecil ngecilkan baju sekolah dan memotong rok nya agar lebih pendek, sial nya Okta lebih tinggi dari Susan, membuat rok itu makin mulus menerjang pahanya yang putih.


‘’ ya ampun ni baju sekolah atau baju balet sih, waktu sekolah ku dulu aja ga sekentat ini, dasar anak itu pasti selalu bikin pelanggaran’’


2 buah motor yang memang sudah ngintilin dia dari rumah tadi berhenti di depan nya, 4 cewek cabe cabean yang adalah fans fanatik Kevin.


‘’ siapa kalian??’’ tanya Okta merasa jalannya di halangin begitu saja oleh 2 motor ini.


Salah satunya membuka kaca help yang tertutup, dan yang lain turun bersamaan.


Tiba tiba saja Okta di dorong hingga jatuh ke aspal.


‘’ mau tau kami siapa??’’ ujar si cewek yang mendoro tadi dengan langkah maju, lalu di bantu teman teman nya yang lain yang sudah ,memberikan bungkusan plastik berisi sesuatu yang mengerikan.

__ADS_1


‘’ kami ini antifans mu, jauh jauh sana dari Kevin, jangan mimpi jadi Cinderella ya’’ kata teman nya yang lain lalu menaburkan isi ikan yang super menjijikan itu ke tubuh Okta, mereka juga sampai menutup hidung, Okta yang melihat baju nya dan tubuh nya di beri cairan mengerikan itu beringsut bangun, perutnya langsung mual.


‘’ apa yang kalian hmmppp’’


‘’ rasain tuuuh, cocok nya mandi luluran pakai itu tu biar makin cantik’’ tawa mereka yang menjauh karena bau nya luar biasa.


‘’eeh anak kampret.. ‘’ Okta merasa perutnya mendadak menggeliat, baunya perut ikan yang amis dan busuk sukses membuat nya muntah di tempat.


Anak anak itu makin tertawa terbahak.


‘’ tambahan niiii, awas aja kalau masih dekatin Bias kami’ lalu lemparan telur mendarat di kepala Okta dan cairan kuning yang bau juga mengeluar, Okta makin tidak tahan tambah muntah isi perut nya. Ingin sekali ia menangkap salah satunya tapi sayang mereka keburu pergi dengan tawa yang masih terdengar.


‘’ kurang ajar, bau nya ini baju.. uggght’’ dengan susah payah Okta menetralkan kondisinya yang seperti itu, tapi ia berhasil bangun dan tertatih menuju minimarket yang di depan mata.


Tanpa memperdulikan bau nya seperti apa dan tatapan menjijikan dari pengunjung minimmarket itu kepada Okta, Okta segera mengambil belanjaan nya untuk membersihkan sisa di baju nya.


‘’ mba pinjem kamar kecil nya’’ pinta nya pada si kasir yang menahan bau dan sesekali menutup hidung.


‘’ di belakang mba’’ jawab nya cepat.


‘ oke thanks..’’ Okta segera bergegas kearah tunjukan si mba, dan membersihkan sisa perut ikan dan pecahan telur di kepala nya yang kenapa malah terasa perih. Ada sedikit luka di kepala akibat lemparan telur busuk itu.


‘’ awas aja kalau ketemu kalian… ku binkin abon ikan uugh’’ kesal Okta sambil meremes remes tissu basah dan membersihkannya dengan sangat kasar, ia juga mencuci rambutnya dengan cepat.


Baju nya sedikit basah namun terlihat lebih baik dari sebelumnya.


‘’ mba… sorry kamar mandinya jadi kotor, ini sebagai tanda gantinya..’’ kata nya menyodor kan uang berwarna biru, ia tak enak karena menyisakan bau amis di kamar mandi sana.


Si Mba tadi ragu ragu tapi ia tetap menerima nya karena Okta cepat cepat keluar dari sana dengan segera.


Ia duduk di salah satu kursi, sambil meminum air mineral menetralkan isi kepala nya yang mendadak seperti air mendidih.


‘’ uuugh, bau nya masih kecium..’’ sungut nya meringis dan memencet hidung nya.


Perutnya bergejolak, karena lapar dan sudah banyak mengeluarkan isi nya, kebetulan di depan sana ada penjual bakso kuah. Okta segera memesan 2 mangkok sekaligus dan juice mangga. Kepala nya perlu yang segar segar di cuaca panas serta hati yang panas.


Setelah pesanan nya datang, 2 mangkok itu langsung ludes mengisi perut nya, dan segelas juice mangga, membuat suasana hatinya lebih baik sekarang.


DRRTTTTT DRRRTTTTT


Hp nya berbunyi, di layar tertera nama Kevin memanggil.


Sebenarnya Okta malas menjawab karena merasa Kevin biang ia jadi dapat pembully an barusan walau bukan salah Kevin sepenuhnya tapi tetap saja ia perlu kambing hitam. Teleponnya ia reject dan langsung kabur dari sana. Menelusuri jalanan mencari ojek atau apalah, ia perlu cepat pergi dari sana.


Kebetulan juga di sana ada toko baju berupa kios kecil, Okta segera menuju kesana mencari kaos yang cocok dan murah karena uang nya tak cukup banyak.


‘’ mba, aku numpang ganti ya’’ ijinnya pada si Mba pemilik Kios itu.


‘’ iyaa silahkan, masuk aja ke dalam’’


Okta segera masuk dan mengganti baju nya dengan baju kaos berwarna Navy itu.


‘’ oke mba, makasih’’ ia kembali melongos pergi.


DRRRTTTTT DRRRRT, Kevin kembali memanggil.


Jiwa dan perasaan nya sudah lebih stabil sekarang. ‘’ YAAAA


‘’ kenapa baru angkat Ok??’’ tanya Kevin diseberang sana.


‘’ lagi ada urusan tadi Vin’ jawab Okta sekenanya. Lalu menggingit tu Hp sambil mengikat rambutnya keatas mirip kuncir kuda karena sudah kering dan ga nyaman rambutnya berkibar kibar.


‘’ urusan apa?? Kenapa tidak bilang??’’ omel Kevin dengan nada mengintimdasi, tadi bobi kerumah mu untuk menjemput mu, ternyata kamu ga ada.


‘’ ya, aku lagi ke rumah kontrakan baru’’ sahut Okta malas.


‘’ kontrakan baru, dengan siapa??’’

__ADS_1


Belum juga Okta menjawab, telepon itu melayang ke udara tepat nya sedang di jinjit oleh seseorang yang Okta kenal.


__ADS_2