Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
35-Dibawah Hujan yang sama


__ADS_3

CHAPTER 35*


“ Dibawah Hujan yang sama’’


Dan benar saja, kontrak kerja nya berada di luar Jakarta bahkan diluar Negeri da itu Italy.


‘’ Vin… kan ini jadwal nya ga kena tanggal pernikahan kita..’’ rengek ku yang memberitahu perihal isi kontrak kerja itu.


‘’ ga boleh sayang, kan waktu kita sangat sempit, kamu juga harus banyak fit, kalau keluar sana nanti badan mu bobrok’’


Aku menghela nafas berat, rasanya bukan alasan itu Kevin tidak mengijinkan aku, dulu juga pernah ada tawaran di Italy tapi dia juga menolak.


‘’ baiklah’’ kataku mengalah dan mematikan telepon. Aku kembali masuk ke dalam dan menggeleng pada Ka Lia, Ka lia tampak kecewa berat tapi ia tidak bisa memaksa ku juga mengetahui betapa keras kepala nya Kevin.


Ssst ssssst, hey cewek genduuut’’ panggil ku pada Nana yang sibuk membereskan alat make up nya.


Anak itu menoleh dan mengerinyit melihat ku yang menyebutnya cewek gembul.


Aku nyelosor masuk dan mengganggunya.


‘’ mba Oktaa aaah.. kok di kembalikan lagi, iseng banged’’ kesal nya Nana, aku hanya terkekeh.


‘’ free nii, kita ke mall yuuuk, aku traktir makaaan’’ ajak ku langsung menarik perhatian gadis yang terpaut 2 tahun di bawah ku ini.


Dan kami tiba di Senayan City 1 jam kemudian karena macet nya Jakarta jarat dekat jadi berasa lama.


Kami menuju outlet Es Krim dan mata ku terbelalak senang meilhat seember penuh es Krim yang berbentuk sapi.


‘’ waaaaaah enyaaak ini na, mau ga’’


Nana misuh misuh ingin mencicipi nya, ia hanya 1 cup kecil itu pun makan nya dikit dikit.


‘’ yakin, enyaaak banged lo, ada mint mint nya’’


‘’ ga ah, ini aja sekali cicip pasti BB ku naik 1 kilo’’ ringis nya miris,’’ lha kamu…. Ga takut genduuut bu?’’


‘’ ga ah kan tubuh ku ajaib, makan setruk makanan juga tetap slim’’ aku ku membanggakan diri sambil terkekeh melihat wajah Nana yang tampak iri.


Dan aku benar benar mehabiskan 1 ember es krim itu dengan nikmat. Setelah itu kami berkeliling sesekali lihat lihat outlet baju dan sepatu. Aku membelikan sepasang sepatu buat Nana, anak itu kegirangan.


‘’ pizza yuuuk, lapeer’’ ajak ku lagi merasa perut meringis.


‘’ makan lagi?? Ya ampuuun mba, itu perut balon ya??’’


Aku hanya tertawa singkat, lalu menyeret nya ke Restoran Pizza, hingga seloyang besar di depan kami.


‘’ udah jangan diet diet segala, tersiksa ntar idup kamu Na..’’ kata ku sambil iseng makan seenak mungkin di depan Nana yang hanya mencicipi sedikit.


‘’ iya tersiksa lagi kalau ni badan tambah melar’’ sahut nya judes dan kesal sendiri dengan lengan nya yang menggelabir.


‘’ ga papa, kan kamu nanti aku bayar buat tukang pukul wkwkwk’’ ledek ku sukses membuat nya makin meringis dan mengumpat umpat, aku memang senang menggoda nya tapi Nana tak pernah marah.


‘’ udah mau habis mba,, ya ampuun mba mbaaa’’ Nana makin geleng geleng melihat ku yang nyaris mehabiskan pizza seloyangan itu.


‘’ hamil bu??’’


‘’ yee enak aja, perawan ting ting gini’’ sahut ku memonyong monyongkan bibir.’’ Ceklek’’ tiba tiba suara kamera dari Hp terdengar, aku kaget dan melihat ke arah anak muda yang baru mengambil gambar ku. dan secepat mungkin bersikap seanggun mungkin, Nana terkikik melihat ku yang kelabakan.


‘’ pasti nanti jadi meme tu, ‘’ tawa nya puas di seberang sana.

__ADS_1


‘’ biarin’’ sahut ku lalu bangkit menuju wastafel. Mencuci tangan singkat.


‘’ yaaa bentaaar bentar aku kirim nomor nya’’ seseorang wanita beranbut sebau datang merapat dengan telepon di telinga nya, dan kedua tangan nya mengulur ke kran air. Aku melihat wajah familiar ini, dan benar saja aku kenal wajah berkulit hitam manis ini. Dan kebetulan pula Maya melihat ke cermin. Kami melongo bersamaan.


‘’ Okta…


‘’ Maya’’


KYAAAAAAA


Kami heboh dan langsung berpelukan ala teletubis tak peduli orang orang yang datang langsung terperanjat ngeri mendengar teriakan kami.


Maya gabung di meja kami. Dan aku masih menatap nya lekat karena terlalu rindu dengan sahabat ku ini.


‘’ ya ampun Okta, sumpah kayak mimpi banged kita bisa ketemu di sini yaaaa, dan kamu makin kincloooong’’ umbar ni anak berlebihan.


‘’ iyaa aku juga, kamu juga makin iteem May’ canda ku membuat kami tergelak dan kami bernostalgia bersama, mengacungkan si Nana yang mesem mesem melihat keriuhan 2 anak manusia yang seperti terpisah begitu lama.


‘’ kamu jahat banged sih Ok, ganti nomer ya??’’


‘’ ganti, engga ko, bukan nya kamu yang susah di hubungi, Vanessa juga, Ka Adi juga dan apalagi tu Tifanny, dia sombong banged mentang mentang udah Merried ama daus’’ cecar ku menjelaskan bagaimana aku kesal dengan semua teman teman ku sampai sahabat ku yang ilangan setelah aku ke Jakarta.


‘ lha… kamu tu yang ga bisa di hubungin, wong aku terus coba nelpon tapi ga terhubung mulu, aku ada kirim pesan di Ig juga ga di balas…’’ Maya memamerkan wajah kecewa dan kesal nya.


‘’ hah masa siiih, tapi kalau sosmed bukan aku yang pedang, orang manajemen, kan kamu tau sendiri aku ga suka main sosmed’’


Maya mengangguk paham’’ tapi tetap aja kamu kayak ngilang gitu, kayak takut di umbar borok nya’’


‘’ ihk, ga laaa, aku siih cuek, mau kamu sebarin aku sedang kentut juga aku ga peduli, tapi sumpah aku juga mencoba hubungi kalian tapi ga bisa’’


Maya lalu menatap ku intens’’ bohong tuu


‘’ engga suuuer ketewer teweer deeeh


Ya kami kembali tukeran nomor, aku juga minta nomor nomor teman teman semasa kerja di Hotel dulu. Tapi nomor Maya double save, itu artinya nomor nya tetap sama, dan karena penasaran aku menelponnya, tetap tak terhubung.


‘’ Na, minjem Hp mu bentar’’ pinta ku pada Nana, dan anak itu nurut.


‘’ jangan di bajak yaaa’’


‘’ tergantung’’ jawab ku yang memang sekali pernah ngebajak status BBM nya dan dia kesal banged.


‘’ emang kamu pernah jadi korban kejahilan dia??’’ tanya Maya pada Nana, dan Nana sukses menceritakan nya dengan penuh dramatisir, aku cuek saja dan mencoba menghubungi nomor Maya pakai telepon Nana, dan terhubung, aku kembali menekan nomor Maya di Hp ku tetap tak terhubung hingga aku mencoba nomor Ka Adi dan Vanessa, hasil nya sama.


‘’ aneh…’’


‘’ oh ya Ok… gimana keadaan mu sekarang udah ga cenat cenut lagi kan??’’ tanya Maya yang sudah memesan Pizza nya. aku mengerti maksud Maya, itu pasti tentang kecelakaan yang aku alami dulu.


‘’ udah baik’’ jawab ku jujur.


‘’ syukur deh Ok, tapi kamu benaran kehilangan beberapa ingatan ya??’’ tanya Maya menatap ku intens.


‘’ yaa mungkin, hmm apa kamu mau ceritakan sesuatu yang bisa membuka ingatan ku??’’


Maya tercekat dan ia buru buru minum juice nya.


Aku merasa aneh dengan sikap ember Maya yang dulu, biasanya ia langsung dengan senang hati berkicau ini itu.


‘’ ga ada yang manis juga Ok’’ katanya kemudian dan tersenyum, tapi aku tau itu senyum palsu, karena terlalu sering tersenyum palsu aku jadi mengenal bagaimana jika orang tersenyum palsu, dan itu artinya ada yang di tutup tutupi. Apa yang Maya sembunyikan dari ku.

__ADS_1


Lalu telepon anak itu berbunyi.


‘ yaaaa bentar lagi, okeee byeee’’


Okta sayang banged niii, aku harus balik ke bawah, sepupu aku udah nunggu, kata nya lalu ia mencium pipi ku dan Nana hingga anak itu hilang di antara pengunjung lain.


‘’ habis ini temenin aku nyari Hp baru ya Na’’ pinta ku.


‘ hah Hp baru, emang itu udah rusak??’’


‘’ ga siih aku nyariin buat Viola’’ jawab ku bohong.


Dan kami segera ke Outlet handphone. Setelah membeli kami iseng ke Bioskop melihat lihat film terbaru. Tapi mata ku mengenali pakaian dan postur Maya yang ada di sana dengans eorang cowok. Aku langsung menarik tangan Maya dan anak itu kaget dua kali dan syok.


‘’ aku pikir kamu pulang, aah ternyata kencaaan dengan siapa??’’ goda ku pada pria tampan di sebelah Maya.


‘’ kencan, enak aja ini sepupu aku Adam, kenalin’’


‘’ Adam..’’ aku melirik kearah Adam dan terdiam sesaat kenapa aku merasa pernah ketemu nya ya??


‘’ Mba Okta kan’’ kata laki laki bondong ini.


‘’ ha iyaaa


‘’ masih ingat sama Adam kan?? Waktu jadi pramugara dulu’’


‘’pramugara?? ‘’ aku menatap wajah nya leka.


‘’ iya mba Okta waktu ke I..


‘’ aaah iya, waktu itu Adam pernah mampir ke Hotel karena acara maskapai nya, ya kan Dam..’’ kata Maya melirik kearah Adam, aku melihat ke Adam, yang tampang bingung dan sedikit meringis karena sesuatu.’’ Iyaaa iyaaa’’ ujar nya.


Aku geli dengan tingkah dua sepupu ini.’’ Ya udah… May, ntar kita call ya… ‘’ kata ku lalu kembali berpisah dengannya karena jadwal kerja ku tinggal hampir dekat.


‘’ iyaa vin,, baru juga ni meluncur ke sana’’


Kata ku sambil menyeruput ice coffe.


‘’ baiklah, hati hati nanti aku jemput’’ katanya yang mengatakan kalau ia batal ke Bandung. Aku lalu memutuskan telepon, dan mobil yang membawa kami sampai.


Aku mengenakan dres putih yang panjang dengan akses bunga bunga di kepala ku, di sisi kanan dan kiri ada Daniel rekan seprofesi ku, kami saat ini berada di langan Golf. Walau di atas mendung tapi semua nya tetap berjalan baik.


‘’ break, mau hujaan’’ teriak Kru yang sudah beberes di sana.


Dan benar saja air menetes di jedat ku yang langsung berubah menjadi guyuran Hujan yang lebat.


‘’ Okta, buruan masuk’’ ajak Daniel setengah berteriak.


‘’ ya.. duluan saja’ kata ku yang sibuk melilin ekor Dres yang sudha basah dan kotor karena cipratan tanah.


Daniel meninggalkan ku dan jadilah aku seorang diri di tengah sana yang hanya ditemani hujan yang super lebat, melihat latar dimana aku sekarang seolah mengingat kan kembali mimpi itu. Aku berjalan kearah yang berlawan semakin ke tengah. Walau agak menggigil hanya saja ada kesenangan sendiri bermain hujan seperti ini, seperti masa kecil yang hanya memusingkan masalah pelajaran bukan masalah kehidupan ku sekarang. Riak riak hujan yang aku injak terasa dingin di kaki telanjang ku, aku tertawa dengan senang dan malah berputar putar di sana dengan meliha langit gelap di sana. Dan kembali melompat lompat ringan. Aku hanya merasa hampa pada hidup ku yang sekarang apalagi aku akan melepas masa lajang rasanya aku semakin kosong. Samar samar aku melihat ada sosok yang terbaring di sana, aku memberani kan diri mendekat walau sedikit cemas siapa orang yang berbaring disana?? Apakah mayat??


Dia telungkup dengan baju dan celana basah semua.


‘’ permisi..’’ panggil ku menggoyangkan kaki nya dengan kaki ku, tak bergeming, aku panik dan mencoba minta tolong tapi tak ada sahutan dari siapa pun. Rasa kemanusian ku muncul, aku tidak bisa membiarkan dia atau mayat ini di sana.


Dengan susah payah aku membalikan tubuhnya yang berat. Dan wajah itu terlihat, wajah nya tampan bersih dan dia memiliki tato di dada dan bagian leher nya disampingnya seperti mimpi ku dimana pria itu punya tato.


Aku memeriksa urat nadinya dan aku bisa bernafas lega ia masih hidup. Tiba tiba tangan yang aku sendtuh bergerak dan menangkap tangan ku, mata nya terbuka, mata itu kecoklatan dan menawan.

__ADS_1


Sekian detik mata ku terpaku disana, namun sejurus kemudian aku sadar dengan tangan ku, aku menghempasnya dan berdiri takut, belum sempat aku berpaling dia bangun separuh


‘’ Oktaaaa’’


__ADS_2