Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
29-Jujur


__ADS_3

CHAPTER 29*


“Jujur”


‘’ please…. Don’t touch me’’ garang nya menghempas tangan si bule yang menarik tangan nya, Okta yang mulai was was segera naik ke atas dan berjalan sangat cepat, ia juga sadar kalau kawasan yang ia pijaki berbeda. Tapi si Bule malah mengikuti nya di daratan dan mengejar langkah Okta yang suda lebar dan cepat, Bule ini kembali menarik tangan Okta dengan paksa.


Okta mendorong nya tapi tangan nya masih belum bisa lepas.


‘ Briaz.. tolong aku’’ runtuk nya dalam hati ingin menangis melihat pria asing yang memaksa nya.


Tiba tiba Bule ini terjengkal dengan sendirinya, bukan tapi ada akar hitam sebesar tangan manusia baru menendang nya. Okta melihat sipemilik Vlous di ujung sana yang dengan cepat mendekatinya, bahkan kecepatan nya tak bisa di hitung.


‘’ kamu ga papa??’’


Okta menggeleng dengan mata masih kaget dan syok.


Briaz lalu menarik baju si bule mesum yang masih kesusahan bangun, dan melayangkan bongkahan mentah ke mukanya. Dan si vlous fyrd ingin ikut andil, Okta bergidik ngeri melihat akar itu membentuk samurai, dengan cepat ia menghentikan Briaz yang mata nya sudah gelap, dan sekuat tenaga menarik tangan besar itu sedikit menjauh.


‘’ kamu bisa membunuhnya Bri, hentikan, kumohon’’ kata Okta menyadarkan Briaz dan ia mata nya kembali berwarna cokelat.


Nafas nya naik turun menahan amarah.


‘’ sudah lupakan, sebaik nya kita sarapan’’ kata Okta masih merasa khawatir dengan tindakan mengerikan barusan.


Okta masih belum berani bicara walau ia sedang memakan sarapan dengan pelan disana, matanya melirik tajam kearah Briaz yang menenggelam kan wajah nya dan makan dengan kasar. Aura di sekitar nya terlihat masih mencekam.


‘’ minum lah dulu…’’ kata Okta memberikan air putih di depan dengan mendorong nya.


Briaz menurut tapi raut aneh itu menciutkan nyali Okta.


‘’ lain kali jangan jauh jauh’’ suara nya mulai terdengar.’’ Kau tau aku kebingungan melihat mu tidak ada, ternyata benar kan, ada yang ingin mengganggu mu’’ ucapnya terdengar mirip omelan, rasa takut Okta berubah menjadi riang, entah kenapa ia senang kalau Briaz mencemaskannya.


‘’ hmm iya maaf, habis nya aku bosan berenang sendirian, kau juga kan lagi asik dengan bule itu’’ sungut Okta mengingat bagaimana aduhai nya si bule cantik yang bicara dengan Briaz barusan.


‘’ dia, dia Jessie teman ku kebetulan berada di sini juga’’ terang Briaz membuat Okta sedikit lega.


‘’ oo teman mu cantik dan hot banged ya, opss’’


Briaz melihat kaget Okta menutup mulutnya,’’ kenapa??’’


‘’ tidak’’ sela nya dan tenggelam dengan sisa sarapannya.


Briaz memang dikelilingi gadis berkelas, entah kenapa ia kembali merasa sangat kecil.


‘’ habis ini kita kemana??’’ tanya nya setelah sekian lama ada kebisuan disana.


‘’ di kamar’’


‘’ apa!! Ga jalan jalan??’’


Briaz sebenarnya ingin mengajak Okta jalan jalan ke berbagai tempat, tapi mengingat kejadian tadi malam membuat nya sangat waspada, tapi melihat wajah Okta yang melemah membuat nya tidak tega.


‘’ nanti sore kita ke alun alun saja ya, dekat dari sini. Alun aun terbesar dan disana sangat indah’’

__ADS_1


‘’ benarkah, waaah asiiiiiik’’


Briaz tersenyum lagi meihat Okta suda kembali ceria.


Sesampai nya di lorong kamar Okta mencoba membuka pintu kamar nya tapi tidak bisa.


‘’ kok terkunci’’


‘’ kamar mu nyatu dengan ku sekarang’’ kata Briaz sambil mendorong masuk pintu kamar nya.


‘’ hah ke ke napa… kita jadi se kamar??’ tanya Okta mengekori dengan gugup yang melanda.


‘’ tadi malam ada pencuri menyusup, dan di sana baru di selisiki polisi setempat’’


‘’ apa?? Pencuri??’’


‘’ iya, sementara di sini saja dulu nanti aku carikan kamar yang bisa bersebelahan’’ kata Briaz sambil melepas jubah mandi nya, ia tak berenang dari tadi dan berniat ingin mandi saja.


Melihat postur Briaz , mata Okta langsung melebar lagi dengan ujung bibir menukik, apalagi dengan tato hidup yang bergerak ke sana kemari, saat Briaz bergerak terlihat lagi otot otot lengan dan roti sobeknya yang ingin Okta gigit.


‘’ wajah mu kenapa merah?? Kamu sakit?’’ tanya Briaz tanpa dosa. Okta terperanjat kaget.


‘’ kau ini,, kenapa telanjang dada seperti itu,’’ omel nya.’’ Tidak liat ada anak gadis disini’’ Okta lalu lari ke kamar mandi duluan, dadanya naik turun mengingat setiap lekuk postur Briaz.


‘’ ya ammmpun, jantung ku Briaz seksi sekaliih’’ ringis nya sambil mengggigit buku jarinya.


‘’ pluk pluk’’ ia memukul kepala nya sendiri menyadari otak nya sudah mulai tak sehat.


Saat keluar ia kembali merasa jantung nya maraton Briaz di depan sana dengan melilit handuk nya di pinggang.


‘’ aku mau mandi, kau lama sekali’’ cecar Briaz mengambil alih kamar mandi. Okta hanya mematung dan menyadari tingkah konyol nya.


Setelah mengganti baju dengan kaos dan celana santai, Okta segera menguasai sofa dengan Tv, kepala nya menyembul hati hati saat melihat Briaz keluar dari sana dengan rambut basah menjuntai di kening nya dan jangan lupa roti sobek nya itu seolah meleleh oleh sisa air. Saat Briaz melihat ke arah yang seperti memperhatikannya Okta segera bersembunyi ke bawah dengan menutup mulut dan memutar badan nya untuk kembali menonton Tv dan menikmati cemilan di sana yang berlimpah.


Briaz sebenar nya melihat Okta yang diam diam meperhatikan nya timbul niat iseng nya ingin menggoda gadis itu.


Okta menghentikan memakan cemilan nya menguyah pelan saat ekor mata nya melihat Briaz di sebelah sana masih bertelanjang dada sambil menegak minuman berenergy, setiap gerakan tegukan nya kembali membuat nya kesusahan menelan makanan. Dan itu sukses membuat Briaz terbahak di sana. Okta langsung memalingkan wajah dengan rasa malu yang luar biasa.


‘’ kenapa?? Kamu pasti terpesona ya, waaaah mesuuum tuh’’ ujar nya di sana sambil terus tertawa,


‘’ enak saja, ga tuh’’ jawab Okta misuh misuh lalu kembali menenggelam kan tubuh nya merosot di sofa empuk itu sambil menggigit buku jarinya lagi.


‘ BAA’’


Tiba tiba Briaz nyembul mengejutkannya, sontak Okta berteriak kaget dan langsung memukuli muka Briaz dengan bantal, tanpa sengaja handuk yang melilit itu melorot. Okta memekik nyaring melihat sesuatu disana dan langsung kabur entah kemana.


Briaz sendiri merasa malu luar biasa, wajah nya merah padam dan dengan cepat memungut handuk nya segera lari ke kamar.


‘’ya ampun, itu tadi apa…’’ wajah Okta masih sangat merah,rasanya mata nya tak henti menyingkirkan ingatan tadi. Ia beteriak teriak kesal dan malu luar biasa. Tapi suara getaran Hp menyadarkan nya . Hp nya berada di dekat dapur.


Okta segera meraup nya dan melihat nama pemanggil yang ia kenal lagi


“Kevin,, aaah mau apa lagi sih dia..’’ katanya agak bingung mau mengangjat atay tidak. Tapi ia mantab ingin sekalian jujur dengan Kevin mumpung ada scandal itu yang membantu jalan nya.

__ADS_1


‘’ halo..


Terdengar suara kevin yang tampak bersemangat di seberang sana


‘’ Okta.. kenapa baru mengangkat sekarang, apa kamu tau aku hmapir gila disini…’’ ucap Kevin dengan suara bergetar hebat, lalu ia tertawa kecil’’ tapi aku sangat senang kamu masih mau mengangkatnya


Kevin merisut dengan sosok nya yang berubah, matanya nya gelap dan kuku nya memanjang, dan urat hitam itu terlihat kontrak di kulit nya yang memucat. Isi kamar apartement nya terlihat kacau balau, nyaris bobrok.


Ia hampir gila mengamuk karena tidak bisa mendengar suara Okta yang terakhir kali tadi malam mematikan telepon nya.


Dan sekarang urat hitam yang tadi menguasasi kemarahan nya perlahan memulih setelah mendengar suara Okta.


‘’ Kevin….


‘’ aku minta maaf Okta, aku mencintai mu.. percaya lah..’’ kata nya dengan bibir bergetar hebat.


‘’ Vin.. dengerin aku dulu’’ bentak Okta di seberang sana. Jantung nya terasa berhenti ia tak ingin Okta mengatakan hal yang membuatnya syok lagi.


‘’ Briaz yang melakukan nya Okta, dia yang menyuruh Laura untuk menyebarkan video itu, dia ingin merebut mu dari ku’’ kata Kevin dengan amarah yang kembali mencuat.


‘’ apa!!!’’


‘’ aku sudah bertemu dengan Laura, dan dia mengatakannya.. aku mohon kamu sekarang pulang lah, jangan bersama nya..’’


‘’ KEVIN, JAGA BICARA MU!!’’ Bentak Okta terdengar marah.


‘’ kamu bicara apa tentang Briaz, dia tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu, aku mengerti dengan semua masalah mu tapi tolong jangan salah kan orang lain’’


Kevin mematung mendengarkan Okta membela Briaz, perubahan kembali terjadi, kukunya kembali memanjang dan matanya berkilat marah.


‘’ aku percaya dengan mu, tapi maaf Kevin aku harus mengatakan ini, ini sudah dari kemaren aku ingin mengatakan nya tapi aku tidak berani… aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi’’


Kevin terperangah rasa panas memenuhi ubun ubun nya seperti ada cahaya hitam keunguan yang ikut mencekam di sekitar nya.


‘’ hmm kamu bercanda kan sayaang?? Okta…


‘’ aku tidka bercanda Vin, aku serius.., maaf kalau aku juga harus bilang saat kamu dapat kasus tapi aku juga tersiksa harus menyembunyikan nya, aku –


‘’ hentikan, jangan bicara lagi’’ hardik Kevin dengan berteriak sampai Okta telinga nya memekik sakit.


‘’ aku tidak mau dengar, sekarang aku akan menyusul mu ya.. kamu jangan kemana mana dengan br*ngsek itu…’’ suara nya melemah dan berusaha membujuk.


‘’ maaf Vin… aku tidak bisa bersama mu lagi’’ suara Okta jelas terdengar dengan nada menekan.


Kevin terdiam, ia menggenggam Hp itu dengan kuat


‘’ apa kamu mencintai pria itu??’’


‘’ iya’’


Jawabkan Okta membuat nya semakin kehilangan kesadarannya nya, Hp itu langsung remuk dan hancur seperti hatinya yang ikut hancur sekarang, ia meraung kesakitan merasakan tubuh nya seolah terbelah menjadi beberapa bagian.


*

__ADS_1


Okta memandang Hp itu dengan diam, ia sedikit cemas dengan telepon yang mendadak mati tapi ia juga lega karena bisa mengatakan nya pada Kevin, walau ia menyesal harus jujur di saat ia lagi dalam masalah, tapi kalau berlarut larut ia khawatir tidak akan ada titik temu untuk menyelesaikan nya.


**


__ADS_2