Rain And Love Okta

Rain And Love Okta
41- Dia Briaz


__ADS_3

CHAPTER 41*


“ dia Briaz”


Briaz melihat marah pada mobil yang membawa Okta, ia bahkan semalaman suntuk menunggu mobil itu kembali mengantar Okta pulang tapi hingga pagi menjelang Okta belum pulang, sial’’ umpatnya merasa tak tahan ingin mengatakan semuanya pada Okta dan menembak kepala Kevin.


‘ oke.. tenang Bri, beri 1 kesempatan lagi buat si brengsek itu’’ ucapnya menarik nafas dalam dalam.


Dan ia harus kembali bersabar karena Okta belum juga pulang sampai malam malam berikutnya.


2 harian ini Okta sangat disebukan dengan pekerjaan nya diluar kota, dan sekarang tubuhnya kembali terasa remuk, seperti biasa ia berjalan menenteng high hill nya di tangan dan kepala nunduk ke bawah dengan lemas.


Wajah nya sedikit ceria melihat Briaz ada di depan pintu Apartement nya, sesaat ia ingat ciuman di kala senja itu, pipi Okta memerah dan salah tingkah harus bagaimana mehadapi Briaz sekarang dan kenapa tubuh nya tak juga masuk ke Apatement nya.


‘’ apa kabar okta’’ sapa pria ini selalu membuat jantung nya mendesir riuh, sorot indah pria ini selalu saja ingin membuatnya mabuk kepayang, bukan hanya keindagan wajah nya yang tampan tapi ada sisi lain yang membuat nya kecanduan selalu ingin bersama nya walau hanya mendengar suara nya.


‘’ baik’’


Sesaat mata mereka bertemu seolah ingin melepas rindu.


‘’ kau mau masuk kedalam’’


Dan lagi lagi Okta menurut, tubuh lemas nya kembali bersemangat karena memang selama 2 hari ia tak lepas memikirkan pria ini.


‘’ kopi latte??’’ tawar nya dengan minuman kesukaan nya.


‘’ boleh’’


Lalu Briaz membuat kopi di mesin kopi. Sesaat kemudian tercium bau kopi yang nyaman.


‘’ kerja mu sibuk??’’ Briaz menyuguhkan secangkir Kopi yang teramat sangat nyaman di hirup aromanya.


Okta hanya mengangguk singkat.


‘’ sebelum nya kalian kemana??’ Tanya nya yang sudah sangat ingin meledak.


‘’ kemana?? Kapan??’’


Saat kita pulang berciuman itu, jawab Briaz lugas lantas membuat Okta mematung, bahkan pria ini sangat enteng menyampaikan nya tidak tau bagaimana ia setelah itu selalu memikirkan nya, mata indah itu lagi dan lagi ingin merengkuh gadis ini.


‘’ aa itu, aku menemani Kevin’’ sahut Okta


Briaz menoleh dengan alis naik sebelah’’ hmm jangan salah paham aku masih Virgin’’ kata nya membuat Briaz tersenyum lagi bahkan ia ingin tersenyum dalam hati bagaimana masih virgin toh mereka sudah melakukan nya setelah pernikahan nya.


‘’ benar kah… menurut mu sekarang bagaimana’’


‘ bagaaaimana apanya??’’


‘’ apa kamu akan membatalkan pernikahan mu??’’


‘’ aauuuw panas..’’ Okta yang kaget tak sengaja mencicipi kopi yang masih panas itu. Briaz dengan sigap ikut mengipas ngipas tangan nya di bibir Okta, hingga ia sadar reaksi nya sangat lucu.


Okta kembali berdehem dan Briaz kembali ke posisi semula.

__ADS_1


‘’ aku anggap itu lelucon Bri..’’


‘’ tapi aku tidak bercanda’’


Okta diam ia memandang Briaz dengan seribu pertanyaan’’ kenapa aku harus membatalkannya??’’mata itu teduh ingin disapu dengan sekali pandangan


‘’ karena kamu tidak mencintainya’’ jawab Briaz lugas lagi, da itu berhasil membuat Okta terdiam. Itu memang jawaban nya tapi ia masih sangat susah payah memikirkannya.


‘’ kenapa kamu bisa menyimpulkan nya??’’


Kali ini Briaz yang diam, ia sudah akan meluap kan nya tapi tidak saat ini.


‘’ tanyakan saja pada hati mu’’ dan ia kembali menyeruput kopinya.


Dalam hati ia juga meragukan dengan kalimat nya, apakah Okta masih mencintainya atau sudah mulai mencintai Kevin.


Okta mengendik kan bahu ‘’ aku akan coba memikirkan nya’’ kata nya kemudian.


Briaz tidak boleh gegabah ia harus tenang, ia cukup senang karena Okta mulai mengingat nya tapi ia masih meragukan apakah perasaan Okta untuknya masih sama atau sudah berubah.


‘’ aku pulang, terima kasih atas kopi nya’’ kata anak itu tuun dari kursi mini bar disana.


Briaz menahan tangan Okta saat melewatinya.


‘’ ikuti kata hati mu Okta’’ pesan nya Briaz lalu melepaskan tangan itu. Okta mengingat kata kata itu lagi dan lagi, ya dia bisa saja mengikuti kata hati nya tapi apakah semua nya akan baik baik saja.


Telepon Okta berbunyi,


‘’ ya halo..yen’’ ia lalu lama mendengarkan perkataan Yeyen salah satu teman Nana yang kerja di salah satu perusahaan komunikasi. Ini terkait tentang masalah nomor nomor tertentu yang tidak bisa dihubungi walau tak ada keterangan di blokir di Hp nya.


Dengan perasaan campur aduk ia menelpon Tifanny.


‘’ hey beb’’ sapa Tifanny di seberang sana’’


‘’ fan, jujur katakan yang sebenar nya apakah Kevin ada meminta mu menutup mulut’’


Mendengar suara ku yang lantang Tifanny sedikit gugup dan terbata’’ please Fan,, kamu sahabat ku kan, tolong katakan, apapun itu aku terima’’


Tifanny mendehem sebentar’ baik Ok, kamu kecelakaan tidak sendiri melainkan bersama pria yang kamu sukai itu’’


‘’ apa?? Pria??’’


‘’ iya, kamu pernah curhat tentang nya dan kamu sangat terluka karena nya waktu itu, dan aku tau kamu mencntai pria itu, tapiiiiii


‘’ tapi apa??’’


‘’ dia meninggal!!!’’


‘’ hah. Meninggal?? Siapa?? Pria yang aku sukai itu siapa??’’ Tanya nya dengan suara bergetar hebat. Ia bahkan tak bisa mengingat nya.


‘’ Kevin bilang, dia menyakiti mu lalu karena bertengkar di jalan. Mobil oleng dan kecelakaan terjadi, kamu selamat tapi dia meninggal’’


Okta hanya terperangah walau merasa tidak mengalami nya tapi mendengar cerita itu ia cukup syok.

__ADS_1


‘’ Kevin meminta kami untuk bungkam karena kondisi mu yang kritis waktu itu dan juga ia tidak ingin kamu mengingat pria yang menyakitimu itu, kami juga sependapat akan bungkam demi kamu’’


‘’ kami, jadi Maya dan semua nya juga tahu kisah ini??’’


Tifanny membenar kan..


Okta menarik nafas panjang


‘’ kamu baik baik saja kan Okta??’’


‘’ yaaa aku baik hanya sedikit syok.


‘’ sudah ya Okta jangan di ingat lagi dia, dia jahat sama kamu’’


Okta diam sesaat’’ kamu tau siapa nama pria itu??’’


‘’ ya.. tentu aku tau, nama nya BRIAZ’’


‘’ Briaz….’’ Lutut nya kembali lemas, apakah tetangga nya itu adala pria yang sama yang sudah meninggal?? Dan itu pernah ia sukai!!!


‘’ Okta.. Oktaaa’’ panggil Tifanny cemas.


‘’ kamu tau dia menyakiti ku seperti apa??’’


Lama Tifanny diam’’ hmm kamu tenang ya Okta, aku mohon kamu harus tenang.. kata nya dia ingin memperkosa mu’’


Seolah ada belati tajam mehujam ulu hatinya.


Telepon lalu terputus.


Okta masih merisut di tepi ranjang dengan mata nanar, ternyata ia benar pernah bertemu dengan Briaz dan fakta menyatakan kalau pria yang meninggal itu dia dan dia sudah ingin memperkosa nya lalu mimpi buruk yang mengahantui nya seperti sebuah jawaban.


Dengan cepat ia kembali menekan bell pintu Briaz, setelah terbuka Okta mendorong Briaz dengan kasar hingga pria itu terhuyung ke lantai. Lalu mengambil barang yang ada di sana melemparkan kea rah Briaz sambil menangis


‘’ jadi.. kamu Briaz yang pernah ada di masa lalu aku??’’ nafas nya naik turun, matanya menukik tajam denga sejuta luka disana.


‘’ kamu sudah ingat??’’ Briaz bangun dengan kaget dan tersenyum tipis.


‘’ PLAAAK, PLAAAK


Tamparan keras mendarat 2 kali di wajah Briaz.


‘’ jadi kamu masih hidup?? Manusia hina seperti mu pantas nya mati’’ cecar Okta memukul mukul tubuh Briaz lalu merisut menangis.


Briaz yang masih belum sadar Nampak kebingungan, bukan kah seharusnya Okta memeluknya karena sudahmengingat dia??


Okta lalu berdiri lagi’’ aku membenci mu Briaz’’ ia lalu pergi dari sana sambil menangis.


Meninggalkan Briaz yang seperti di sambar petir.


Okta menangis semalam an, Viola yang melihat tidak berani mengganggunya. Sementara itu pintu diluar terus di gedor oleh Briaz.


**

__ADS_1


Kevin melangkah di lorong Apartement Okta , ia baru saja mendapat kabar dari Kris suruhan nya kalau Okta melaporkan nomor nomor yang ia blokir di cetral, nomor nomor teman teman nya yang ada di Banjarmasin yang mengetahui tentang Briaz. Mata nya mengarah kearah pintu Okta namun ia melewatinya menuju pintu di sebelah, menekan bell nya sekali saat terdengar suara pintu terbuka ia berbalik dan melihat sosok Briaz di depan sana.


__ADS_2