
CHAPTER 37*
“ Tetangga Baru”
Aku tiba di Apartemen ku setengah jam kemudian, dengan gontai berjalan seperti zombie yang haus daging. Bahkan aku sampai menjinjing sepatu high hill ku yang tinggi, dan berjalan dengan telanjang kaki tak peduli tatapan orang yang melintas melihat ku dengan aneh.
Aku menekan lift dan kebetulan ada tangan lain yang juga menekan saat menoleh mata ku terdiam di manik bola mata indah di sana yang dimiliki oleh seorang laki laki tampan, berpostur tinggi dan dadanya bidang. Aku merasa pernah bertemu dengan nya, ya aku kenal tato di tangan nya itu. Dia pria yang kemaren telungkup di rumput, aku melihat nya sekali lagi, dan benar saja, tapi pria ini cuek ia hanya melihat kearah ku sepintas bahkan aku melempar senyum tapi ia tak bergeming, hanya wajah dingin dan datar beda dengan kemaren ia seperti sok kenal. Apa aku salah orang atau kemaren aku salah dengar ia menyebut nama ku?
Pintu lift terbuka dan kami masuk bersama. Aku sedikit kesal juga senyum ku tak dibalas.
‘’ Hatchiiiiiiii’’ bersin ku makin berulah. Dan kalian tau, pria ini mengibaskan tangan di udara dan bergeser ke samping, dia pikir aku penyakitan. Tapi kalau di tilik dari pakaian nya ia orang berduit dengan stelan jas dan jam tangan mahal melingkar di tangan nya, pantas saja ia tampak perfect sok malah. Aku meringis keki dan mundur kebelakang sengaja ingin menjangkit jangkitkan pilek ku dengan diam diam tentunya.
‘’ silahkan sakit tulari diiiiaaa’’ kikik ku dalam hati, tapi rupanya pria ini merasa ada pergerakan aneh yang aku buat, ia menoleh dan aku pura pura diam. Hingga pintu lift terbuka. Kami keluar bersamaan dan berjalan ke lorong yang sama pula. Makin di arahkan makin sama saja.
‘’ apa dia penghuni baru??’’ runtuk ku seolah mengekorinya di belakang. Tapi tiba tiba pria ini berhenti dan berbalik.
‘’ kamu nguntit aku??’’ ujar nya membuat ku syok, aku nguntit dia, sialan. Tapi aku harus jaga sikap, tidak boleh terpancing emosi, siapa tau dia adalah haters aku dan dengan sengaja nanti nya akan menyebarkan bahasa kasar ku.
‘’ maaf, anda ngomong sama saya??’’
Pria ini menaikan alis nya dan melihat kiri kanan ku yang kosong.
‘’ aah, iya tapi saya ga lagi nguntit kamu, apartemen saya di sana’’ jawab ku sedikit kesal dengan raut muka si ganteng nan jutek ini.
Dia hanya ber O di udara dan kembali berjalan hingga berhenti di kamar sebelah apartement ku. rupanya dia tetangga baru ku, yaa what ever lah.
Tapi ketika membuka passcode ternyata tak berfungsi aku mencobanya sekali lagi tetap tak bisa di buka.
‘’ ada apa??’’ tanya pria ini yang melihat ku tidka bisa membuka pintu itu.
‘’ ga tau, kok ga bisa di buka ya, padahal aku sudah benar menekan pass nya’’ ujar ku. lalu ku hubungi Susan.
‘’ kenapa ga bisa di buka passcode nya, kamu ubah ya’’
‘’ enak aja, aku aja belum balik, coba telepon Viola, tapi dia lagi nginep di rumah teman nya siih’’ kata Susan.
‘’ ya sudah biar nanti aku hubungi pihak keamanan’’ kataku lalu mematikan telepon, kepala ku makin terasa pusing dan berkunang.
‘’ bagaimana??’’ tanya pria ini yang lihat malah jadi dua, jadi tiga dan pandangan ku gelap.
**
Briaz lama menatap Okta yang pingsan dan saat ini membawanya ke dalam Apartement nya, ia menang sengaja merusak passcode Apartement Okta. Tapi ia juga masih sedih karena Okta tak mengenal nya lebih tepat tidak mengingat nya, sebelum nya Venus memberikan laporan kalau Kevin membuat laporan palsu tentang kecelakaan dan kematiannya 2 tahun silam dan mehapus jejak nya dengan sangat rapi, Venus berasumsi kalau Kevin menggunakan sihir dari Bianca untuk mehapus memori Okta tentang nya, dan sekarang ia berniat akan mencoba mengingatkan ia dengan Okta, Istrinya! Ia yakin Okta akan kembali padanya.
Andai saja Okta bisa melihat makhluk hujan lagi ia yakin ia bisa melihat Vlous nya yang bergerak dalam tubuh nya dan andai Iblis Fyrd masih bersemayam pasti pengaruh itu akan terus menarik Okta dan mengingat nya, tapi seberapa apapun ia berandai andai kenyataan sekarang ia harus berjuang mengembalikan Okta padanya.
__ADS_1
Ia menepikan rambut yang mengusik mata gadis ini, dan kembali menatap dalam wajah Okta yang makin terlihat cantik.
‘’ kamu tidak tau bagaimana aku mehabiskan hari hari ku tanpa kamu Okta…, ‘’ ucap nya lirih dalam hati lalu mengecup tangan Okta dengan lembut .
‘’ Kyaaaaaaaa’’ tiba tiba Okta yang bangun berteriak. Okta kaget melihat ada pria asing didepan nya sedang bersimpuh seolah sedang ingin melakukan sesuatu.
‘ siapa kamu pria mesum’’ maki Okta bangun dan melihat kesekeliling.
‘ tenang… tenang… aku tetangga mu, tadi kamu pingsan dan..
Okta mengingat saat ia pingsan tadi, dan suara nya di buat sedatar mungkin’’ hmmm kalau begitu sorry..’’
‘’ aku dimana??’’ apa di apartement mu??’’ tanya nya datar, setengah masih curiga dengan Briaz.
Briaz hanya mengangguk,’’ apa kau sakit??? Badan mu panas’
‘’sedikit, hmm kalau begitu aku permisi’’ ucap nya tidak ingin lama lama berada di sana.
‘’ aku sudah memanggil pihak Apartement mu, katanya passcode nya sedang bermasalah dan lagi diperbaiki. Memakan waktu 1 jam, duduk saja dulu sini, dan jangan melihat ku curiga seperti pria mesum’’ kata Briaz ia lalu berlalu dari sana.
Okta terdiam dan sadar mulut kasar nya kumat lagi. Lalu Briaz datang dengan secangkir the hangat.
‘’ kau sakit kan, minum lah ini…’’ kata nya lagi dan duduk berseberangan dengan Okta membuat wajah sedingin mungkin.
‘’ ooh iya, maaf jadi merepotkan dan terimakasih tumpangan nya’’ Okta mendadak ramah lagi, ia kembali ingat dengan sopan santun yang harus ia perlihatkan di depan orang yang baru kenal, takut kalau Briaz adaah haters.
‘’ apa kita sebelumnya pernah bertemu??’’ tanya Okta setelah ada kecanggungan terjadi.
‘’ ya, kemaren kan’’ jawab Briaz membuat Okta tercekak, ternyata ia tidak salah, tapi kenapa ia tadi di cuekin.
‘’ sebelumnya…apa kita pernah bertemu??’’ Okta menarik nafas dengan tinggi, sejak kemaren ketemu di rumput itu ia berkecamuk wajah Briaz familiar tapi tak ada satu pun yang ia ingat.
Briaz diam sesaat’’ menurut mu??’’
Okta memiringkan kepala nya mencoba mengingat ingat lagi’’ apa mungkin kamu pernah menjadi Kru atau dimana gitu?’’
‘’ tidak’’
‘’ aah mungkin karena perasaan aku saja, hahaaaa’’
Briaz tersenyum simpul dan terus menatap Okta, melihat ia di tatap sedemikian rupa jantung nya tiba tiba berdetak cepat, sedikit nervous dan percaya dirinya menciut, entah kenapa ia menjadi seperti itu.
‘’ oh ya kita belum berkenalan, aku Okta
‘’ Briaz..’’
__ADS_1
‘’ Bri…az??’’ ulang okta penuh penekanan ia menyela rambut ke sisi telinga nya dan kembali bergumam, nama itu kenapa sangat mengganggu jantung nya sekarang.
‘’ apa kamu akan menikah bulan depan??’’ tanya Briaz membuat Okta melotot kaget.
‘’ kamu tau dari mana?’’
‘’ aku menonton liputan live mu’’ jawab Briaz tepat nya ulangan penanyakan acara itu, dan ia hancur sekita saat itu.
Okta buru buru meminum teh buatan Briaz.
‘’ ya, aku akan menikah bulan depan’’ jawab nya dan meminum lagi the itu.
‘ apa kamu mencintai laki laki yang akan menjadi suami mu?’’ tanya Briaz membuat Okta kaget, bibir nya mengerucut dan sedikit terganggu dengan ucapan Briaz, ia menganggap pertanyaan itu telalu lancang lebih lebih mereka baru mengenal walau sejujur nya ia benci ada yang bertanya seperti itu.
Di benak Briaz, ia merasa kesal mengatakannya, ia lah suami nya, dan harus bersandiwara seperti ini. Baginya percuma kalau ia jujur, Okta akan bingung tanpa mengingat nya. ia Cuma tidak ingin di benci Okta.
‘’ waah maaf, aku bicara asal ya.. lupakan ya’’ katanya lagi dan tertawa hambar.
Okta hanya diam, entah kenapa kata kata itu berkecamuk, apa ia mencintai Kevin? Tunangan nya dan bulan depan sudah menjadi suami nya.
Di tengah lamunan nya tiba tiba pria ini mencondongkan tubuhnya lalu meletakkan punggung dan telapak tangan nya memutar sampai 5 kali.
‘’kenapa… dia melakukan nya..’’
Ia langsung menarik tangan itu dan menatap Briaz dengan diam.
‘’ apa kamu mengenal ku?? apa kita pernah berteman?? Atau dekat??’’
‘ tidak’’ jawab Briaz lalu menarik tubuh nya.
‘ aku hanya memeriksa suhu tubuh mu.’’ Apa kau sudah minum obat??’’
Okta tak menjawab ia terus melihat kearah Briaz, hati nya bergemuruh hebat, hal yang dilakukan Briaz barusan adalah hal yang sering ia lakukan.
‘lalu suara bell memecah kesunyian. Briaz melihat di layar 2 pihak Apartement di luar.
‘’ sepertinya mereka sudah selesai’’ katanya kepada Okta.
‘’ aah iya, kalau begitu aku permisi, dan terimakasih tumpangan juga minum mu’’ ucap Okta ramah.
di depan pintu ia kembali melihat kearah Briaz yang juga menatap matanya dengan penuh makna.
‘’ lain kali aku akan mentraktir mu’’ kata Okta kemudian dan menghilang di bilik pintu.
Briaz tersenyum hambar, ia masih merasa syok sandiwara yang ia lakoni sebenar nya susah buat hati nya yang ingin sekali memeluk Okta dan mehajar si Kevin br*ngsek itu.
__ADS_1
Okta sudah bisa masuk ke Apartement nya tapi ia masih membisu duduk di kursi tamu dengan keanehan perasaan nya saat bersama Briaz, pria yang baru ia kenal, kedua cara nya seperti mengingatkan nya akan hal yang entah lenyap di mana dan lagi perkataan Briaz, membuat nya ingin marah, ia marah pada dirinya yang tak bisa bergerak, ia sudah terikat dengan Kevin, apa ia harus mengakhirinya setelah semua sejauh sekarang.