
*CHAPTER 2*
“Boneka Kayu”
Spontan aku kaget saat makhluk berambut panjang itu mendongak kepala nya wajah nya rata dan hitam mengerikan, melihat kedalam mobil yang aku tumpangi, matanya hitam pekat dan jelas sangat menohok kearah ku, sampai sampai aku tidak sadar nyaris melompat dan teriak disana dan saat bersamaan lampu berganti hijau, Ricky mugkin ikut terkejut sampai menekan gas ia nyaris melompatkan tu mobil.
‘’ ada apa Okta.’’ Tanya nya panik dan heboh.
Aku melihat kebelakang melihat kearah makhluk tadi yang ternyata sudah menghilang, jantung ku langsung berdetak cepat, menggeleng berkali kali kearah Ricky yang masih ikut syok dan bertanya Tanya dengan tingkah ku barusan.
Mobil menepi di depan minimarket, laki laki itu setengah berlari dari pintu minimarket menuju mobil, dengan sedikit kebasahan ia menyodorkan air mineral kearah ku, aku menerima nya dan meminum sampai separuh nya, sekilas masih teringat bagaimana tatapan makhluk barusan.hyyyy
‘’ sudah baikan??’’ Tanya Ricky nampak khawatir.
‘ iyaa sudah, thanks yaa… aku hanya kaget tadi’’ kataku menggantung mencari kelanjutan yang lain, tidak mungkin aku menceritakan nya, dulu waktu SD pernah di anggap aneh dan di kira anak perempuan halu saat semua yang aku lihat ku beberkan , dan itu meningalkan trauma yang membuat ku berjanji tidak akan menceritakan nya lagi, kecuali hal itu pernah aku ungkapkan ke dokter Spikiater ku.
‘’ aku hanya melihat hantu’’ sambung ku membuang muka. Cowok itu mendongak sambil melihat kiri kanan dan melihat ku lagi, serius???’’ gantian cowok ini yang nampak begidik dan ketakutan sendiri
‘’ lupakan, mungkin aku salah lihat… bisa kita jalan lagi’’ pinta ku secepat mungkin pura pura merasa risih.
Setelah cowok itu mngantarku, aku langsung masuk menutup pintu rapat rapat dan menguncinya, sangat terasa kalau jantung ku kembali berdetak cepat ketakutan, mengingat makhluk hujan tadi.
‘’ Kak..’ suara Viola kembali membuat jantung ku nayris melompat. Anak kecil itu nampak bingung melihat ku. Dan disebelahnya Susan ikut melihat ku dengan tatapan aneh.’’ Baru pulang toooo… kemana aja’ cecar nya dengan bibir dikerucutkan 90 derajat.
Aku mengatur nafas pelan pelan sambil melepas sepatu ku.
‘’ main.. dosen ku lagi ga ada’’ sahut ku acuh tak acuh.
__ADS_1
‘’ pantas telepon ku ga diangkat, noh si ibu gurita tadi nanyain cicilan’’
‘’ Viola.. ga tidur??’’ Tanya ku pada anak kecil yang sambil menguap lebar itu, jelas mengacuhkan pertanyaan Susan, aku malas berdebat dengan gadis yang masih duduk di kelas 2 SMU itu.
‘’kebelet ka, kakak buruan mandi deh, nanti sakit. Tadi hujan hujan an kan’’ kata Viola seperti orang dewasa, sorot nya menjelaskan ia sedang khawatir, anak itu selalu mengundang seribu pelukan untuk nya. Viola aku asuh sejak ia bayi, mama Olla kadang menitip nya ke aku sampai sampai berasa tu anak adalah anak ku sendiri.
‘’ baik tuan puteri, Viola tidur lagi ya.. nanti kakak menyusul’’ kata ku yang memang satu kamar dengan anak itu, rumah yang kami tempati memang tidak besar, hanya jenis perumahan kecil dengan 2 kamar tempat tidur.
Susan mendengis mendengarnya.lalu anak itu ikut berlalu dengan langkah besar besar. Entah kenapa aku dan Susan tidak pernah akur, padahal aku lebih tua tapi sikap nya sangat buruk, tak ada sopan sopan nya, bahkan sering menggundang pertengkaran.
Setelah selesai mandi, aku masuk ke kamar nomor dua yang lebih sempit dari kamar Susan di sebelah, Viola sesudah tertidur dengan manis nya, memeluk boneka lebah yang sudah bulukan. Hadiah ulang tahun ku saat anak itu masih duduk di bangku Tk. Rasanya melihat ia tidur, rasa penat semua nya hilang, apalagi mengingat ia menderita penyakit Jantung, ingin sekali menangis sekeras mungkin, kenapa anak sebaik dan sepintar Viola di beri penyakit mematikan itu. Aku duduk di siku kasur, menarik selimut untuk Viola, mengelus tangan nya yang nampak menggemaskan, walau sudah kelas 4 SD tapi bagi ku dia tepat bayi ku yang paling aku sayang, kemudian ku ambil buku yang tertanam dalam gubangan baju ku. Buku gambar yang isinya aku buat sendiri, ya aku senang menggambar, dan itu buku ku buat khusus makhluk hujan, rupa rupa yang pernah ku ingat semua aku ukir disana, dan itu buku kelima dan ratusan lembar yang pernah aku gambar. Sekilas lagi lagi kejadian tadi kembali membuat ku bergidik, buru buru buku itu aku tutup dank u sembunyikan lagi, menyusul Viola dalam selimut yang sudah bermimpi indah.
***
Pagi yang bersinar cerah, bau bekas hujan semalam meninggalkan bau khas yang lembab namun aku senang menghirunya dalam dalam. Aku berharap hari ini tidak ada hujan, sesampainya di Hotel seperti biasa sudah diwarnai kebisingan beberapa karyawan dibagian Front Office Hotel yang kena jam kerja pagi seperti aku sekarang, dan seperti biasa mereka seolah heboh membicarakan sesuatu yang lagi Viral, beberapa bulan terakhir staff perempuan banyak membicarakan dunia infoteiment dan gossip gossip selebriti hampir tiap hari seperti tidak ada kerjaan lain, tapi pagi ini sepertinya topic nya beda, mereka seperti membahas korban kecelakaan pesawat yang baru tadi malam terjadi, dan kebetulan Tv di kantor sedang meliput kejadian tersebut, aku yang ikut penasaran ikut nimbrung sebentar soalnya berita itu seperti membuat suasana kantor itu ikut mencekam dengan kesamaran kebisingan yang tadi aku dengar.
Jam makan siang masih terasa kental pembahasan kecelakan tersebut, seperti pembicaraan yang itu itu saja diputar membuat ku sedikit jengah dan lebih memilih kabur ke atas.
Di atas atap Hotel yang luas dan sangat nyaman buat sekedar menghilangkan penat ditambah angin yang terasa menyegarkan walau cuaca sedang terik, bagiku itu sudah sangat nyaman apalagi ini sudah seminggu setelah kejadian waktu itu, rasa takut ku sudah menghilang dan menganggap itu hanya halusinasiku, tidak mungkin rasanya makhluk hujan itu bisa memergoki ku melihat nya, sudah hampir 23 tahun yang aku alami hanya melihat mereka menari nari salam guyuran hujan dengan berbagai rupa dan kilauan cahaya dan selama itu juga aku berusaha mencari jawaban dari siapa mereka sebenarnya, tergolong makhluk dedemit kah, siluman kah atau makhluk astral lainnya, hanya saja yang aku ketahui saat dulu punya teman yang punya penglihatan bisa melihat makhluk astral kondisinya sangat berbeda, aku cukup minta ia menggambarkan gambaran makhluk yang ia lihat saat kami berada di depan koridor sekolah yang diguyur hujan, teman ku itu mendiskripsikan makhluk astral yang bentuk, letak dan apa yang dilakukan nya sangat berbeda dengan yang aku lihat dan itu aku ulangi 3 kali dengan orang yang berbeda, rasa ingin tahu ku tidak berhenti disana, aku mengubak ibak perpustakaan mengenai hal sejenis tapi hasil nya nihil, sampai sampai hal itu membuat ku nyaris membuat ku berpikiran kalau aku aneh atau mengalami gangguan jiwa, waktu SMU aku pernah ke spikiater dan menceritakan hal yang aku alami tapi hasilnya tidak berubah aku berusaha menjalani pertahapan penjiwaan semua yang dokter itu bilang aku turuti hampir satu tahun tapi tetap saja aku tetap bisa melihat mereka, alhasil karena frustasi aku benar benar seperti orang gila teriak tidak jelas mengeluarkan semua isi kepala ku di tengah guyuran hujan berharap bisa berbicara dengan mereka dan ada yang menjelaskan apa arti semua nya, tapi semua mkhluk hujan itu tak bergeming mereka lalu lalang menari nari tanpa menganggap adanya aku yang seperti orang gila.
Aku menikmati secangkir kopi latte yang masih hangat dan cemilan amplang yang terbuat dari ikan tenggiri, semilir angin menggelitik leher ku terasa sangat menyegarkan melenyapkan segelintir permasalahan yang masih sama bertahan dikehidupan ku, apalagi kalau mengingat sisa hutang yang masih harus ku bayar serta biaya seolah Viola dan Susan, nafas ku memberat tidak tahu mau terimakasih atau tidak dengan Mama Olla yang merawat ku sejak bayi, dia hanya mengatakan aku bukan anak kandung nya, dan kedua orang tua ku tidak pernah ada, Mama Olla cerita kalau aku hanya dititipkan di depan rumahnya, mengingat bagaimana Mama Olla menceritakan itu terasa sangat menyakitkan, bagaimana tidak aku dibuang dan menjadi seperti ini, sampai aku pernah berspekulasi kalau aku bagian dari makhluk hujan itu, siapa tau aku dari mereka dan itu menjelaskan kenapa aku bisa melihat mereka, tapi itu hanya asumsi ku tapi sudah sebesar ini aku masih belum menemukan jawaban nya, yang terjadi hanya usaha ku untuk membalas budi Mama Olla dan menanggung semua beban nya dan hidup di dunia sekarang, ya yang harus nya aku hadapi adalah keadaan ku sekarang bukan spekulasi spkulasi yang tidak masuk akal sebelumnya.
Lamunan ku terhenti saat suara Hp ku berhentak keras di saku baju, nama Maya tertera disana.
‘’ dimana O’Ok… ‘’
‘’ kenapa emang? Tanya ku balik’’
__ADS_1
‘’ buruan kesini gih.. barusan ada paket buat kamu nih, ga ada nama pengirimnya… sepertinya isinya tas mahal…’’ ujar nya diseberang sana diiringi suara kretak kretak, dan benar saja sesampainya disana paket besar yang muat 1 buah tas masih terlakban erat.
‘’ buka Ok,,, buka, aku jamin ini pasti tas mahal.. atau isi nya lemari besi lengkap ama isinya’’ cecar Maya menarik tangan ku, intonasinya makin ditinggikan mendongak kearah Mba Adel yang berada diujung sana, kuping nya seperti cepat menangkap sinyal. Wanita tu membalik badan seolah ingin cari tahu, tapi obrolan nya yang sok tau tentang kecelakaan viral itu seolah sangat tahu persis apa yang terjadi, sehingga ia menjadi pembicara yang sedang di ladeni 3 rekan nya para pendengar.
Aku menyikut Maya melototinya, kata katanya agak berlebihan, anak itu hanya terkikik geli’’ umpan ku ga kemakan o’ok, si ibu biang rupi lagi berceramah’’. Aku tergelak mendengarnya.
‘’ BUKA BUKA BUKA’’ Maya menepuk nepuk tangan nya mirip anak kecil yang lagi menghadiri ulangtahun sebaya nya.
‘’ sssst… diam May, jangan bikin seisi ruangan ini se kepo kamu, biar ntar aja aku buka, isinya pasti oleh oleh doang, noh lihat ini kan cuma kardus…. dan ringan’’
‘’ paket ini ga bakal seheboh kecelakaan 24:00 ‘’ Maya nampak kecewa dan cemberut, wajah nya sangat penasaran dengan isinya, tidak tau apa yang ia gumamkan setelah paket itu ku simpan dibawah meja.’’ Awas ya di BUKA’’ancam ku mengepalkan tangan.
‘’ aaaaaa Oktaaaa… ntar aku penasaaraaaan’’ rengeknya menarik narik kemeja seragam ku, sampai menghentak hentak kaki. Aku menyikut dan melototi kelakukan nya yang mirip anak kecil. Tapi anak itu masih merengek hingga suara nya di buat buat dan bikin gaduh.
‘’ iyaaa aku buka…, tapi kamu yang buka’ kata ku memenangkan perjuangan nya, kuletakkan kembali paket itu ke meja. Dengan senang hati Maya mencari carter seentero ruangan sampai ia lari ke pantry, ka Adi yang datang nyaris di tubruknya saat keduanya sama sama mau keluar masuk pintu, ia melihat kearah ku dengan bingung, ku silangkan tanda silang di jidat tanda ka Adi harus paham, cowok itu terkekeh geli, lalu mendongakkan dagu kearah paket.
‘’ keluarga nya tidak jadi korban kecelakaan pesawat 24:00 kan??’’ Tanya cowok itu kearah ku dengan tampang penasaran. Aku hanya mengendikan bahu.
‘’ Okta…. Bantuan sini.., banyak tamu’’ Vanessa nongol dari balik pintu, aku terkejap ingat akan kelanjutan pekerjaan ku, aku dan ka Adi segera kedepan meja setengah lingkaran itu yang siap mehandle tamu, dan benar saja ada banyak tamu yang nampak mengantri di depan meja, sebagian menunggu di Lobby, sepertinya kali ini tamu dari luar daerah yang pagi tadi sudah disampaikan saat Meetting.
Kami berempat termasuk Maya yang datang beberapa menit kemudian, semua kami handle mereka tanpa bisa istirahat sampai 1 jam berlalu.
Saat serasa sudah bisa duduk, dari arah pintu timur terlihat 3 orang pria yang menuju kesana, jantung ku langsung berdetak keras kaget, salah satu darinya adalah pria bertubuh tinggi, rambutnya cokelat kebule-bule an dan ia mengenakan kacamata hitam dengan stelan santai, celana pendek dan kaos hijau laut. Aku tidak mengenalnya, hanya saja pria itu berakar. Tato akar yang biasa aku jumpai didalam tubuh makhluk hujan dan itu kenapa bisa ada pada pria itu, dia manusia!!! Jantung ku semakin beradrenalin saat pria itu mendekati meja, ia bersama 2 manusia yang tak menyerupainya, pria itu bersandar sambil mengambil sebatang rokok mengabaikan salah satu temannya yang menghadap ku.
‘’ Okta..’’ seru Maya menyikut ku, entah berapa kali ia memanggil sampai akhirnya Maya yang menyahut teman pria itu, aku masih terkesima dengan apa yang aku lihat, akar akar itu benar benar ada ditubuh pria itu dengan warna hitam berkelebat, serasa tubuhku mendadak hujan keringat dan yang lebih mnengerikan lagi ketika salah satu akar nya seperti menancap di meja mendekati ku dengan perlahan hingga sekian detik seperti angin cepat ia kearahku.
‘’Kyaaaaa’’ jerit ku terjerambap kebawah, akar itu tertarik kembali.
__ADS_1