
bertemu kembali...
"haris?! sini nak masuk... " kata tante Lidia
"ini haris Lid??? " tanya bu Fatimah
"iya.. ini dia haris... gimana udah berubah bukan??! " kata tante Lidia
"tante.. apa kabar?? " tanya Haris langsung salam dan mencium tangan bu Fatimah
"baik nak.. sekarang kamu udah besar, ganteng lagi... " kata bu Fatimah
Lana terbelalak melihat sosok Haris, tapi bukan karena kagum dengan nya melain kan ada sesuatu yang mengganjal hati nya dan itu berkaitan dengan Haris.
"tapi, tunggu dulu!! setelah di lihat-lihat, seperti nya aku sangat familiar dengan orang ini..." gumam Lana dalam hati.
"Lan... Lan... itu kan...orang yang lagi pamor itu ya?? " bisik Naida
" iya Nai..... " jawab Lana
"tunggu biar aku pasti kan... "Naida langsung mengambil ponsel nya dan memasti kan apa itu benar Haris yang lain tranding topic apa bukan.
"cepat Nai...!!! " kata Lana
"iya benar na.. gak salah lagi... "kata Naida langsung menunjukkan layar ponsel nya kepada Lana
dek.. dek.. jantung Lana berdebar kencang. Bukan karena grogi atau pun senang. Lana malah sangat takut dengan hal ini. Bukan takut kehilangan, tapi bahkan karena Haris merupakan pacar dari Riana, teman sekelas Lana waktu sekolah. Dan bisa di kata kan Riana dan Lana bukan lah teman yang akbrab tapi malah sebaliknya.
flash back on 8 tahun yang lalu :
"heh, cewek murahan!! berani-berani nya kamu rebut Ruben dari aku..." kamu kira kamu siapa?? " kata Riana membentak Lana
"aku gak pernah merebut siapa pun dari kamu kok.. " jawab Lana
"bukti nya kemarin kamu pergi sama dia... " kata Riana
"asal kamu tau ya Riana, aku gak pernah suka sama Ruben, dia nya aja yang ketemu sama aku di bioskop.. " kata Lana
"kamu nya aja yang ganjen... " kata Riana
"sembarangan kalo ngomong.."kata Lana
Plak... tamparan mendarat di wajah Lana. Dan Riana langsung mendorong Lana di tangga sekolah.
"aaaaaaaaa.... "Lana teriak dan buk...Lana terjatuh di lantai. Lana pun sempat di bawa ke rumah sakit dan di rawat beberapa hari.
Seminggu kemudian, Lana pun sudah bisa pergi ke sekolah namun harus menggunakan tongkat karena kaki nya patah di antara pegelangan kaki nya. Butuh waktu sekitar 2 bulan agar kaki Lana kembali normal. Tapi walau pun Lana sudah separah itu, namun Riana tidak sampai di situ. Ia tetap saja menjahili Lana.
__ADS_1
"eh.. gimana rasa nya?? sakit?? tapi setelah kejadian ini aku rasa kamu kapok.. tapi awas ya jangan macam-macam kamu. paham??? " bentak Riana dan langsung pergi
Lana hanya diam, ia tidak mau membalas perbuatan Riana. Karena melihat keadaan ibu nya saja ia kasian dan tidak mau menambah beban ayah nya hanya untuk memikirkan masalah yang sepele. Bisa saja dia melaporkan ke pihak yang berwajib, namun berbalik lagi dengan kondisi keluarga nya saat ini.
"huh...." Lana menghembus kan nafas panjang nya dan kembali berjalan.
"Lana.. " panggil Ruben
"eh.. kak Ruben , ada apa kak?? kok singgah di sekolah Lana?? " tanya Lana kepada Ruben
"gak.. cuman mau nanya keadaan kamu aja.. " jawab Ruben
"hmm.. baik kok.. kak sebaik nya kakak jangan ketemu Lana lagi ya... "kata Lana
"kok gitu?? emang kenapa?? " tanya Ruben heran.
" yaaa.. karena Lana lagi gak mood aja.. ntar fan'snya kak Ruben malah gak suka.. " kata Lana
"ya gak bisa gitu dong... " kata Ruben, belum sempat Ruben melanjutkan kata-kata nya. Lana langsung pergi menuju dalam sekolah dan Ruben pun berlalu menuju kampus depan sekolah Lana.
πππ
Istirahat pun telah tiba, Lana yang merasa kan nyeri di kaki nya pun tidak pergi ke mana-mana tapi rasa nya ia haus sekali. Ia pun memutuskan menitip kan minuman kepada teman sekelas nya yang tak lain ialah Idris yang merangkap sebagai sepupu nya. Setelah itu, Lana pergi ke kamar mandi karena kebelet pipis. Dalam perjalanan ke toilet tiba-tiba ada orang yang menutup mulut Lana memakai sapu tangan.
"awwwww...." suara Lana langsung hilang. dan tidak sadar kan diri. Ketika bangun Lana melihat ia di kunci di gudang. Lana melihat jam di tangan nya sudah menunjukkan pukul 2 siang. Lana menggedor pintu gudang, berharap ada yang mendengar.
"tolong. tolong... buka pintu nya... " teriak Lana dari dalam gudang sambil memukul pintu gudang. Namun usaha nya sia-sia karena tak ada satu pun orang datang menolong.
πππ
Samar-samar Lana membuka kan mata nya, ia melihat sekeliling nya ia melihat dia ada di sebuah ruangan.
"aku di mana?? " tanya Lana
"kamu aman kok jangan takut, istirahat lah... " kata suara itu, dan kebetulan Lana masih pusing dan ia pun melanjutkan tidur nya.
Lama ia tidur, dan ia pun sudah bangun. Ketika bangun ia melihat Idris dan Naida di samping nya.
"Lana... " panggil Idris
"aku di mana?? "tanya Lana
"kamu di rumah sakit na... " jawab Idris
"kamu yang bawa aku dris?? " tanya Lana
"bukan.. tadi aku terima telpon kalo kamu ada di rumah sakit.. dan kami langsung ke sini... " jawab Idris
__ADS_1
Lana coba mengingat-ingat kembali, siapa yang ngantar ia ke rumah sakit. Yang terakhir kali ia melihat ada orang yang mendobrak pintu gudang, ia seorang laki-laki namun ia tidak ingat wajah nya.
Sesudah sembuh, Lana di pindahkan oleh ayah nya di sekolah Lain karena di situ Lana sering sekali mendapatkan masalah, namun Lana pun enggan menceritakan yang sebenarnya.
flash back of...πππ
"Lana.. Lana...!! " panggil bu Fatimah
"iya ma... "panggil Lana tersentak kaget.
"Lana.. ini Idris.. salam dong.. "kata tante Lidia
"i.... i.. iya tante ..."jawab Lana berbata-bata.
"Lana... "kata Lana menjabat tangan Haris.
"Haris... "jawab nya dengan penuh wibawa.
Lana hanya mengangguk dan terdiam, di otak nya bukan ada rasa senang melain kan rasa malas untuk berurusan dengan orang yang bernama Riana.
Dengan kejadian 8 tahun yang lalu, itu lah pengalaman Lana. Apalagi dalam kata istilah nya merebut hak milik Riana. Tidak tau lagi apa yang akan terjadi. Tapi sial nya, Lana tidak punya pilihan lain karena dia sudah terlanjur menyanggupi persyaratan tante Lidia.
Terlalu bodoh sekali diri nya. Mengambil keputusan tanpa melihat memastikan dulu. Tapi ya apa boleh buat, terlanjur berjanji dan tidak mungkin untuk mengingkar semua nya.
Lana membuang jauh-jauh pemikiran itu, karena tante Lidia lah yang menolong nya, dan ia harus membalas kebaikan itu walau pun ia sangat menyadari akan hadir skenario terbaru dalam hidup nya. Tapi ya sudah lah, hanya bisa pasrah saja.
dret... dret... ponsel Lana berbunyi, ada Idris menelpon nya.
"maaf semua nya, aku permisi angkat telepon dulu ya.. "kata Lana pamit dan langsung keluar.
"hallo dris... "
(" hallo Lan... gimana kabar tante?? ")
"baik dris... ada apa?? "
("besok ketemu di cafe.. ada yang harus aku omong kan.. ")
"iya... jam 10..cafe biasa "
("oke.. titip salam ku sama tante dan om")
"iya.. siap.. "
tut.. tut.. telpon langsung terputus. Lana pun menghembus kan nafas dan langsung kembali ke dalam rumah.
bersambung..
__ADS_1
salam manis
author π°