
bertemu kembali...
Ketika Haris dan Riana masuk ke panti. Ada seorang laki-laki menghampiri mereka.
"sayang kenalin ini Ruben dia teman ku dari aku masih kuliah. Dan Ruben kenalin ini Haris kekasih ku" Haris dan Ruben bersalaman, tapi sepertinya wajah itu sangat familiar bagi Haris.
"Ruben.. "
"Haris.. " mereka saling bersalaman. Ruben memandang Haris dengan tatapan yang susah di tebak, seolah-olah ada sesuatu. Itu membuat Haris kurang menyukai pandangan itu. Terlebih lagi Riana yang menggandeng tangan Ruben menuju stand para panitia sesudah berpamitan kepada Haris.
"Haris kamu di sini?? Lana mana?? " suara itu berasal dari belakang Haris.
deg..!!suara itu?! Haris berbalik ke arah suara dan benar saja itu adalah ibh nya, dengan pakaian rapi dan elegan seperti biasa nya. Haris tersenyum kikuk kepada ibu nya dan beliau berjalan menuju Haris.
"sayang, ayo kita ke sana, di sana panas banget!! " Kata Riana menarik tangan Haris namun ia terhenti melihat bu Lidia berdiri tepat di samping Haris.
"tan..te..!! " sapa Riana terbata-bata.
Melihat akan hal itu, Haris hanya bisa terdiam seribu bahasa. Bungkam seakan ia memang di lahir bisu. Bu Lidia memandang ke arah Haris dan memandang ke arah Riana. Begitu mencolok kesamaan nya yaitu dengan warna baju yang sama.
"oh.. jadi begini kelakuan mu Haris? " bu Lidia menunjuk wajah Haris.
"Dan kau, perempuan murahan jangan dekatin anak saya lagi, dia itu udah jadi suami orang..apa orang tua mu yang mendidik mu menjadi perusak rumah tangga orang.. ha?? " bentak bu Lidia dan melihat mama nya membentak Riana Haris tak terima.
"mama cukup!! " ucap Haris sedikit membentak. Orang-orang pada melihat ke arah mereka, karena mendengar suara mereka yang sesikit nyaring. Wajah Riana pun berubah menjadi merah akibat menanggung malu dan tampak setitik air matab yang jatuh di pipi indah nya.
"jadi kamu bentak mama, cuman karena perempuan ini.. iya?? " kata bu Lidia dengan suara pelan namun mengandung kebencian.
"ma..mama tu udah keterlaluan sama Riana.. salah apa sih dia?? " tanya Haris sedikit membela Riana
"jadi.. kamu tetap membela dia.. kamu tu harus sadar Haris, dia udah membuat kamu durhaka sama mama.. " kata bu Lidia
" gak gitu ma... maksud ku.. " ucapan Haris terpotong "gak apa-apa ris.. aku pergi aja.. kamu pulang sama mama mu aja "Kata Riana dengan suara serak nya dan meninggalkan Haris.
__ADS_1
Haris hanya bisa menghembus kan nafas nya, jika ada masalah yang tersulit dalam hidup Haris, ialah ketika ia berdebat dengan ibu nya. Ibu nya bisa memutar kata, dan sehingga keadaan terbalik seolah-olah Haris yang salah.
"silah kan.. bagus lah kalo kamu sadar diri.. " kata bu Lidia dengan sinis melihat ke arah Riana.
"ma.. Haris mohon ma jangan seperti ini, kalo emang mama gak suka sama Riana... jangan malu kan dia di depan umum
!!" kata Haris namun mama nya tidak peduli.
πππ
Sementara di apartemen Lana hanya bisa menghabiskan waktu nya untuk mengemas rumah. Setelah selesai mengemas rumah Lana pun segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat perbelanjaan untuk belanja. Ia menelpon ke ponsel Andri namun tidak ada jawaban. Setelah beberapa kali ia menelpon namun tak kunjung ada jawaban, ia memutuskan untuk menghubungi ke nomor Bik Sopi ketua pelayan di rumah mertua nya.
"hallo bik.. "
"iya non.. ada yang bisa bibik bantu non??"
"bik, tolong bilang ke sopir untuk kemari, saya mau belanja bik.. " kata Lana
"baik non"
"pak Andoko.. Andri kemana pak?? tanya Lana
"dia sudah gak kerja lagi non.. "jawab pak Andoko
"kenapa pak?? " tanya Lana penasaran
"kurang tau non.." jawab pak Andoko
"sejak kapan pak?? " tanya Lana lagi
"udah lama non, semenjak ulang tahun nya tuan muda Raka non.. " jawab pak Andoko.
deg!! Lana mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Andri pasti di pecat karena kejadian itu, ya Tuhan kasian banget.. padahal dia gak punya orang tua, cuman punya nenek.. maafin saya Andri... " gumam Lana
Lana memang tidak pernah keluar rumah semenjak kejadian itu, selain tidak di izin kan oleh Haris ia juga masih takut jika teringat kejadian yang dulu menimpa nya.
Tak butuh waktu lama, hanya tiga puluh menit untuk Lana membeli semua bahan untuk masak.Toh!! yang makan cuman dia sendiri, dari pertama kali Haris menikah dengan nya kan tidak pernah mencicipi masakan Lana.
Setiba nya di rumah, Lana yang merasa kelelahan pun duduk di balkon apartemen menikmati udara segar. Tiba-tiba ada orang menyapa nya.
"hai Lana... "dan itu adalah Rama
"iya hai.. "jawab Lana
"udah berapa lama di sini?? " tanya Rama
"emm.. sekitar 7 bulanan lah.. "jawab Lana
"sendiri atau sama orang tua?? " tanya Rama.
"sama suami aku.. "jawab Lana
"oh.. jadi kamu udah nikah?? tanya Rama dengan ekspresi kecewa. Lana tersenyum melihat ekspresi Rama yang berubah. Rama orang yang menyenang kan, dan sangat ramah. Beberapa hari yang lalu pun ia menegur Lana, tapi Lana cuek karena takut akan Haris. Tapi sekarang Lana lega dengan ada nya perjanjian antara dia dan Haris. Jadi untuk berteman dengan siapa pun bebas. Dan tidak ada salah nya dia menjalin pertemanan dengan Rama, pikir nya.
"kamu masih sendiri ??" tanya Lana, dan Rama mengangguk dan tersenyum. Menurut Lana Dimas orang yang tampan, baik dan sangat menyenangkan.Sangat yakin bahwa di luar sana banyak sekali wanita yang menyukai nya.
"aku yakin kau akan dapat yang terbaik.. "kata Lana, Rama hanya menanggapi nya dengan senyuman manis yang begitu ramah.
"suami mu bekerja ?" tanya Rama dan Lana hanya mengangguk. Rama mengernyitkan dahi melihat ekspresi Lana yang tidak sumringah.
"padahal kita bersebelahan loh... tapi kok aku gak pernah liat dia yah??" tanya Rama
"dia biasa nya pergi pagi dan pulang nya larut malam" jawab Lana datar.
Bukan tanpa alasan, Haris memang seperti itu hanya menghindar untuk bertemu dengan Lana, itu pun jika ia pulang. Lebih sering nya ia tidak pulang, dan Lana tidak tau kemana pergi nya.
__ADS_1
"oh....sangat di sayang kan sekali ya.. istri secantik kamu kok di tinggal terus.. " Lana tertawa mendengar gombalan dari Rama. Dan baru itu lah Lana tertawa lepas, setelah dia menyandang status sebagai istri dari Haris.
bersambung...