
bertemu kembali...
Suasana yang mengharu kan ketika Lani sadar dari kondisi koma nya. Lana begitu senang melihat keajaiban yang Tuhan berikan kepada keluarga nya. Tiada henti nya kata terima kasih dari nya kepada tante Lidia. Rasa nya semakin kuat untuk membalas kebaikan itu, apa pun resiko nya ia harus maju.
"kak...!! " panggil Lani namun pelan.
"iya dek.. "jawab Lana
"jangan nangis, aku sayang kakak... "kata Lani dengan senyuman.
Hati Lana begitu bahagia, apalagi ibu nya. Doa nya terjawab oleh sang maha kuasa, anak nya selamat.Hanya suami nya yang masih dalam kondisi yang mengkwatir kan, namun ia percaya Tuhan akan memberikan jalan untuk kembali sembuh dan berkumpul kembali bersama keluarga besar nya.
Di balik rasa bahagia nya, ada rasa sakit yang tersimpan jauh di lubuj hati nya. Ketika anak pertama nya mengorban kan diri nya untuk keluarga besar nya. Sungguh anak malang! Namun semua nya sudah jadi keputusan nya, sebagai seorang ibu Fatimah hanya bisa berdoa untuk anak nya.
"Lana.. makasih ya sayang!! " kata bu Fatimah
"gak perlu terima kasih ma, ini semua udah kewajiban ku sebagai seorang anak.. " kata Lana sambil tersenyum.
"maaf kan mama yang gak bisa bertindak jauh.. " kata mama nya sambil menangis dan memeluk tubuh anak gadis nya itu.
"mama adalah anugerah yang paling indah yang pernah kami punya, jadi jangan pernah meminta maaf kepada anak-anak mu ini ma... "kata Lana
Kedua nya perlukan untuk menyata kan kegembiraan, kesedihan, dan rasa bersalah. Namun, di balik sebuah kejadian selalu ada hikmah nya.Yakin kan itu!
πππ
Tak terasa tiga hari telah berlalu, Lani pun sudah di perboleh kan pulang karena kondisi nya membaik. Namun, ia masih di rawat di rumah. Dan di saran kan untuk tidak berpikir terlalu keras.
"Lani, kita pulang ya nak!! " kata bu Fatimah
"iya ma, ma papa mana? kok gak kelihatan? " tanya Lani penasaran
"papa di rumah sayang!! " jawab bu Fatimah
"tapi kok papa gak pernah ke rumah sakit semenjak Lani sadar?? " tanya Lani lagi
"papa lagi kurang enak badan!! sekarang kita pulang buat ketemu papa!! " kata Lana yang menjawab.
"iya kak...!! " jawab Lani senang.
Di dalam perjalanan mereka asyik ngobrol dengan canda tawa. Tapi ada satu hal yang membuat Lani bingung, karena arah yang di tuju bukan arah rumah yang mereka tempati selama ini.
"kak.. kita kemana?? " tanya Lani
"pulang!! " jawab Lana
"tapi kok arah jalan nya beda.." kata Lani
"maafin mama ya, untuk sementara kita gak pulang ke rumah kita kemarin" kata mama nya
"terus kemana?? " tanya Lani
"ntar Lani tau sendiri.. tapi Lani jangan marah ya?!" kata mama nya
"iya, kemana sih Lani penasaran!! "kata Lani
__ADS_1
Dengan hati yang was-was, Lana dan ibu nya membawa Lani ke rumah itu karena mereka takut Lani akan marah. Selama hidup nya Lani hidup di lingkungan yang mewah, dan boleh di kata kan anak manja. Ketika hampir sampai Lana menarik nafas panjang. Melihat Lani yang tertidur pulas di pangkuan mama nya, Lana menghenti kan mobil nya dengan perlahan.
"Lani.. bangun nak!! kita udah nyampek " kata mama nya
"kita dimana?? hah?? yang benar ma kita pulang di sini?? " tanya Lani
"i.. iya.. nak.. tapi kamu jangan kwatir, kita gak lama kok di sini "kata mama nya terbata-bata.
"serius ma?? kita di sini sementara?? " tanya Lani lagi
"iya.. cuman sementara... "jawab Lana
"kenapa?? " tanya Lani lagi
"ntar kita cari rumah yang baru lagi " kata mama nya.
Tanpa menjawab, Lani langsung keluar dari dalam mobil. Dan ia melompat kegirangan. Lana dan mama nya sangat heran. Mereka kira Lani akan marah atau sebagai nya, tapi sebalik nya Lani malah sangat senang.
"yessss.. akhirnya aku kembali lagi ke sini. " kata Lani dengan senang nya.
Lana dan ibu nya saling berpandangan satu sama lain.
"mama.. aku senang banget bisa ke sini lagi... " kata Lani
"kamu gak marah kita pindah ke sini?? "tanya mama nya
"gak.. sejujur nya waktu kita pindah dulu, aku sedih banget... " kata Lani
Bu Fatimah sangat bersyukur karena anak-anak nya bisa menerima keadaan saat ini. Kini mereka kembali ke rumah lama mereka, rumah dimana mereka mengawali kehidupan nya dulu. Rumah yang sederhana, rumah dimana anak-anak nya di lahir kan. Begitu banyak kenangan yang tersimpan di sana.
"ayo nak kita masuk...!! " ajak bu Fatimah
"a... a... a.. " jawab seorang laki-laki di kursi roda.
"papa!!!" Lani lari langsung memeluk tubuh pak Darma yang duduk di kursi roda, ayah mereka tidak seperti dulu, sekarang ia stroke.
"papa.. papa kenapa?? "Lani dengan isak tangis nya.
"papa stroke dek... "jawab Lana
"gak mungkin!!!! papa!! " kata Lani yang tidak percaya dengan kondisi ayah nya sekarang, setau dia ayah nya adalah laki-laki yang tegar. Tidak pernah mengeluh dan selalu bersabar. Nampak sudah, keadaan sekarang begitu jauh berbeda. Sampai membuat ayah nya begitu terpuruk.
"ma.. papa masih bisa sembuh kan?? " tanya Lani
"masih nak.. asal saja kita merawat nya dengan sabar dan tulus.. papa mu masih bisa kembali seperti papa yang dulu.." kata mama nya
"papa.. yang kuat ya.. kami selalu ada buat papa.. " kata Lani.
"dan jangan lupa berdoa, karena semua nya atas kehendak yang di atas "kata mama nya
Di situ mereka hidup dengan cara yang sederhana, kembali lagi seperti yang dulu.
Lana yang melihat keadaan ayah nya seperti itu, ia tidak mampu untuk menatap nya tanpa berbuat apa-apa.
"huh... " Lana menghembus kan nafas panjang dan keluar menuju belakang rumah yang dimana di belakang rumah itu terdapat lembah dan danau. Tempat nya begitu indah, nyaman untuk melepas kan lelah.
__ADS_1
"non Lana.. " panggil bik Asih.
"iya bik... " jawab Lana
" ini non minuman dingin nya.. " kata bik Asih meletakan nampak berisi es buah di meja tempat santai.
"makasih bik... "kata Lana.
"sama-sama non... " jawab bik Asih
Bik Asih adalah asisten rumah tangga keluarga Latief yang paling lama bekerja. Ia juga asisten yang paling setia. Ketika keluarga Latief mengalami musibah, asisten rumah tangga yang lain memilih untuk mengundur kan diri. Namun, bik Asih memilih untuk mengikuti mereka pindah dan ingin membantu mengurus Pak Darma.
Sewaktu bu Fatimah mengalami depresi berat, hanya bik Asih lah yang mengurus rumah dan beserta anak-anak keluarga Latief. Bisa di kata kan Lani besar nya lebih banyak di urus sama bik Asih ketimbang ibu mereka.
πππ
Dret... dret... ponsel Lana berbunyi, membuyar kan lamunan nya. Ada nama tante Lidia yang menghubungi nya. Lana pun langsung segera mengangkat panggilan tersebut.
"hallo tante.... "
("hallo Lana.... kalian udah nyampek di rumah?? ")
"udah tante... "
("besok tante ke sana, kabari sama mama mu ya...!! ")
"iya tante, pasti...
("oke lah kalo gitu.. udah dulu ya... ")
" iya tan... "
("da sayang.... ")
"da tante.... "
tut.. tut... panggilan berakhir. Lana pun segera bangkit dari duduk nya dan langsung melangkah menuju rumah nya.
"mama.. besok tante Lidia ke sini... " kata Lana
"oh ya??!! " jawab mama nya. Lana hanya mengangguk kan kepala nya.
"sini nak!! " panggil bu Fatimah sambil menepuk bangku di samping nya mengisyarat kan supaya Lana duduk.
"nak.. sekali lagi mama tanya.. apa kamu udah yakin dengan keputusan mu?? " tanya mama nya
"iya mama... 100% yakin" jawab Lana
"mama gak memaksa kamu dan juga gak melarang, semua keputusan ada di tangan mu... " kata mama nya.
"iya ma... Lana paham... " kata Lana
"mama bangga sama kamu nak... "kata mama nya langsung memeluk erat tubuh anak sulung nya itu. Tanpa di sadari air mata nya pun terjatuh membasahi pipi nya yang mulai menua. Di dalam hati nya rasa sedih, kecewa, kesal dan senang bercampur aduk. Tapi ia harus kuat, supaya anak-anak nya tetap kuat.
bersambung...
__ADS_1
salam manis
author π°