
Siang ini di rumah tantenya Akhtar tampak keramaian. Ratu yang belum terbiasa melihat kesibukan orang-orang kampung saat akan diadakan pesta menjadi penasaran.
Selama ini Ratu hanya tahu, jika akan mengadakan acara tinggal menggunakan jasa EO jadi penasaran. Ia mendekati keramaian ibu-ibu yang sedang memasak rendang.
Ratu berdiri untuk melihat dari dekat apa yang mereka kerjakan. Salah seorang ibu yang melihat Ratu langsung heboh.
"Rancak bana, anak gadih sia ko.(cantik banget, anak gadis siapa ini)." Ibu itu berkata dengan bahasa Padang.
Ratu yang tidak mengerti dengan ucapan ibu itu hanya tersenyum. Seorang ibu yang lain berdiri dari duduknya, dan dengan gemasnya mencubit kedua pipi Ratu.
"Ngidam a amaknyo ko, sarancak iko anaknyo (ngidam apa ibunya, cantik benar anaknya)."
"Etek (tante), kenapa main cubit anak orang aja? Sakit pasti pipinya." Akhtar mendekati Ratu dan meminta gadis itu duduk di kursi plastik yang dibawanya.
"Urang rumah (istri), Akhtar."
"Calon ...." ujar Akhtar membuat dahi Ratu berkerut minta penjelasan.
Setelah berbasa-basi dan bertanya, ibu-ibu itu kembali memasak. Masih terdengar suara ibu-ibu itu memuji kecantikan Ratu. Tanpa Akhtar dan Ratu sadari ada Aureel berdiri di dekat pintu.
Aurell memang sangat akrab dengan semua orang di kampung karena ia juga berasal dari sini. Ketika kuliah ia ke Jakarta. Saat itulah ia mulai merambah dunia model dan membuat ke pergaulan bebas.
Pernikahan Akhtar dan Aurell juga dilaksanakan di Kampung ini. Saat mereka menikah banyak yang memuji kecantikan dan kecantikan wajah mereka. Pasangan yang sangat serasi.
Saat Akhtar memutuskan berpisah, orang kampung berpikir kesalahan ada pada diri Akhtar karena yang mereka ketahui Aurell anak yang baik.
Aurell memang sangat ramah dengan orang-orang di kampung karena ia menjaga nama baik kedua orang tuanya.
Setelah mereka tahu penyebab perpisahan Akhtar dan Aurell barulah paham. Awal berpisah dan berita tentang dirinya yang telah hamil saat menikah membuat orang tua Aurell malu dan mereka memutuskan pindah dari kota Bukittinggi ini ke kota Pariaman. Yang masih berada di Propinsi Sumatera Barat.
Tiga tahun Aurell tak pulang ke Bukittinggi ataupun Pariaman tempat tinggal ibunya karena merasa malu. Setelah tiga tahun berlalu barulah Aurell berani datang. Akan tetapi orang tuanya tetap di kota Pariaman.
__ADS_1
"Kamu ngerti apa yang ibu-ibu itu katakan tadi?" tanya Akhtar berbisik. Ratu menggelengkan kepalanya.
"Ibu itu ngomong, kalau aku ganteng dan kamu beruntung jika memiliki suami kayak aku."
"Tadi Om belum datang saat ibu itu berkata."
"Aku ada dibelakang kamu."
Aurell berjalan mendekati ibu-ibu yang sedang memasak dan berbincang. Aurell dan Akhtar sebenarnya masih ada hubungan kerabat, itulah mengapa Aurell ada diantara keluarga besar Akhtar.
Dengan sok akrab dia bicara dengan semu ibu-ibu yang memasak. Ratu melihatnya dengan tersenyum miring. Akhtar yang tau jika Ratu mulai tak nyaman karena kehadiran Aurell, mengajaknya keliling kampung melihat sawah.
Akhtar mengambil motor dan meminta Ratu naik, mata Aurell memandang tajam saat melihat pasangan itu berlalu.
"Pegang pinggang aku, Ratu. Jalanan di sini jelek, banyak lubang. Aku takut kamu jatuh lagi. Bisa jadi perkedel aku dibuat Daddy."
"Modus, Om," ujar Ratu. Ia tak mau memeluk pinggang pria itu.
Akhtar dengan sengaja melewati jalanan berlubang dan sedikit ngebut, membuat dia itu takut, dan akhirnya memeluk pinggang Akhtar. Pria itu tampak tersenyum tanda kemenangan.
Ia merentangkan tangannya merasakan angin yang berembus menyapa seluruh badannya. Tampak Ratu sangat menyukainya.
"Kamu suka udara dan pemandangan di sini?"
"Banget ...."
"Kita tambah liburannya?" tanya Akhtar.
"Daddy akan mengorok leher, Om!" ujar Ratu.
"Kamu yang minta dengan Daddy, akan aku bawa besok ke puncak lawang. Udara segar dan pemandangan bagus."
__ADS_1
"Aku tak berani. Nanti Daddy marah," cicit Ratu.
"Apa selama ini Daddy pernah marah denganmu."
"Mana pernah, aku putri kesayangan Daddy."
"Kenapa kamu takut? Daddy pasti mengizinkan jika kamu yang minta. Setelah itu aku juga akan minta izin."
Ratu membalikkan badan menghadap Akhtar. Ia tersenyum.
"Om takut ya sama, Daddy? Kenapa aku yang diminta hubungi Daddy? Seharusnya Om dong!"
"Oke aku akan hubungi Daddy. Sekarang kita pulang."
"Terserah!"
"Kita beli pensi dulu ya."
"Apa itu pensi?"
"Kerang kecil. Enak banget.Nanti kamu bisa coba."
Akhtar dan Ratu kembali menyusuri jalan di kampung. Akhtar membawa Ratu ke pasar terdekat mencari makanan khas kota Meninjau yang letaknya tak jauh dari kota Bukittinggi itu.
Pensi merupakan kuliner wisata khas Sumatera Barat, terutama daerah di sekitar Danau Maninjau. Cemilan ini menjadi salah satu penarik pengunjung untuk datang ke lokasi wisata Danau.Bentuknya pipih dengan kerang berwarna kehitaman atau kuning kehitaman. Rasanya kurang lebih sama, hanya berbeda gurih saja.
Kerang endemik yang hidup di dasar Danau Maninjau ini, biasanya dijaring di pagi hari, dan siap lah untuk menu sarapan atau menjadi camilan. Kini, untuk menikmatinya tak perlu melalui Kelok 44 dan duduk manis di tepi Danau Maninjau. Karena di berbagai objek wisata di Sumatera Barat, sudah banyak yang menjajakannya. (sumber : google) :
Bersambung
__ADS_1
Hai Ratu Ketiban Duren lovers, kali ini mama mau merekomendasikan novel karya teman mama yang satu ini. Bisa mampir sambil menunggu novel ini update.