
Ratu membuka matanya, merasakan hangatnya mentari masuk ke dalam kamar dan menyinarinya.
Ia melihat ke samping, tak di lihat suaminya Akhtar. Biasanya pria itu masih di balut selimut jika ia belum bangun.
Ratu bangun dan berjalan masuk ke kamar mandi. Tampak Akhtar yang sedang muntah-muntah. Ratu menjadi kuatir. Ia mendekati Akhtar dan mengusap tengkuk suaminya memberikan sedikit kelegaan.
"Kak Akhtar kenapa? Masuk angin, ya?"
"Nggak tau, kepala terasa pusing. Perut mual, pengin muntah tapi nggak ada yang dikeluarkan lagi."
"Apa benar yang Bunda katakan, jika Kak Akhtar ngidam karena aku yang sedang hamil."
"Nggak tau, Sayang. Badan kakak lemas banget."
Ratu menggandeng tangan Akhtar menuju tempat tidur. Tampak Ratu sangat mencemaskan keadaan suaminya itu.
"Kenapa Kakak yang jadinya ikutan ngidam."
"Nggak apa, Sayang. Kakak jadi ngerasakan bagaimana wanita ngidam itu. Ternyata sangat berat."
"Aku minta bibi buatkan teh hangat dulu ya buat kak Akhtar."
Ratu menemui bibi minta dibuatkan teh hangat dan bubur buat Akhtar. Ratu datang dengan membawa segelas susu dan teh hangat.
Ratu meminta Akhtar menghabiskan segelas susu dan kemudian membantu Akhtar berbaring. Badan suaminya di balur dengan minyak kayu putih agar hangat.
Akhtar menghubungi asistennya. Meminta mengurus semua pekerjaan di kantor karena hari ini tak mungkin bisa masuk kantor. Badannya terasa sangat lemah dan tak ada tenaga.
__ADS_1
Setelah itu Akhtar meminta Ratu menemaninya berbaring. Hingga akhirnya Akhtar kembali memejamkan matanya.
Ratu masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Sehabis berpakaian pintu kamarnya diketok, ternyata bibi mengantarkan bubur buat Akhtar.
Ratu membangunkan suaminya dan menyuapi sarapan bubur buat Akhtar. Akhtar mencubit pipi Ratu gemas.
"Seharusnya Kakak yang melayani kamu karena saat ini sedang hamil muda."
"Nggak apa, Kak. Aku masih kuat."
"Kamu nggak merasakan mual seperti yang Diego katakan."
"Ada, tapi dikit. Masih bisa aku atasi."
"Semoga kamu nggak merasakan mual, biar bayi dalam kandungan kamu ini tumbuh sehat hingga lahir." Akhtar mengusap perut istrinya yang masih datar.
Akhtar dan Ratu makan di dekat taman. Ketika mereka sedang asyik menyantap makanan, bibi datang mengabarkan jika ada Aurell dan Quin menunggu Akhtar di ruang keluarga.
"Aurell, Quin ....?"
"Iya, Tuan."
"Baiklah,.aku akan datang menemui mereka," ucap Akhtar.
Akhtar mengajak Ratu untuk menemui Aurell dan Quin. Dengan bergandengan tangan Akhtar menemui Aurell.
Tampak wajah Akhtar yang kurang bersahabat. Ia menemui Aurell dan Quin yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
Aurell melihat kedatangan Akhtar dan Ratu yang saling bergandengan tangan.
Akhtar memilih duduk di seberang Aurell. Wajah Aurell tampak cemberut memandangi Ratu yang menyandarkan kepalanya di lengan Akhtar.
"Ada perlu apa? Apa kurang jelas yang pernah aku katakan dulu."
"Quin kangen. Sejak menikah dengan Ratu kamu baru sekali bertemu dengannya."
Akhtar tampak kurang senang dengan perkataan Aurell. Akan tetapi Akhtar tak mungkin marah dihadapan Quin.
"Sayang kamu bisa bawa Quin, ajak makan kalau ia lapar."
"Quin, apa kabarnya?"
"Aku sehat, Pa."
"Syukurlah, udah kangen banget ya sama Papa."
"Iya, Pa."
"Sini peluk dulu!"
Quin berdiri dari duduknya dan memeluk Akhtar. Pria itu membalas pelukan gadis cilik itu.
Bersambung
Mama ada rekomendasi novel nih buat bacaan kamu sambil menunggu novel ini update.
__ADS_1