
Akhtar membawa Ratu ke kafe es krim. Ia tahu saat ini mood Ratu sedang tak baik. Walau Ratu hanya diam atas tuduhan Aurell tapi pasti istrinya itu sakit hati.
Akhtar memesan banyak menu es krim, membuat mata Ratu melotot melihat semua itu. Namun ia hanya diam tanpa melahapnya.
"Makan dong, Sayang. Kalau hanya dilihat nanti mencair."
"Aku nggak minta'kan, Kak?"
"Emang kamu tak minta,tapi Kakak yang ingin belikan."
"Kalau gitu, Kakak aja yang makan."
Akhtar memeluk bahu Ratu dan merapatkan tubuhnya. Ia mengecup pipi Ratu.
"Maafkan Aurell karena menuduh kamu tadi. Kakak udah tegur tadi'kan?"
"Aku nggak apa-apa."
"Kamu emang berhak marah. Aurell keterlaluan. Yakinlah, Aurell tak akan pernah lagi menginjak rumah kita."
"Kenapa Aurell selalu menuduh aku? Padahal aku tak pernah sedikitpun menyinggungnya. Apakah tante Aurell masih sangat mencintai kakak dan marah karena aku merebut cintanya?"
"Itu bukan urusannya. Kemana cintaku harus bertambat dan berlabuh. Aku mencintai siapa, hatiku yang memilih."
"Kakak ngga ada perasaan apa-apa lagi'kan?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Dari dulu pun, aku tak pernah mencintainya."
"Bagaimana Quin? Apakah kakak sangat mencintainya?"
"Kamu cemburu dengan Quin?" ledek Akhtar.
"Siapa yang cemburu? Aku cuma tanya," ucap Ratu cemberut.
"Aku menyayangi Quin. Sama seperti Daddy menyayangi kamu. Walau mungkin porsi sayangku tak sebesar sayang Daddy denganmu. Karena Quin tidak besar dan tinggal bersamaku.Jadi ya sayang, gitulah ...."
"Kalau Daddy lebih sayang denganku dari Pangeran putra kandungnya."
"Jangan takut, aku pasti lebih menyayangi anak kandungku. Karena ia darah dagingku, dan tinggal bersamaku."
"Jika Quin meminta tinggal bersama Kakak suatu hari nanti."
"Aku takut ...."
"Takut apa, Sayang?"
"Takut jika Kakak sering bertemu Aurell, rasa suka itu timbul. Apa lagi jika ia manfaatkan Quin untuk terus bertemu Kakak."
"Aku sudah katakan jika tak mengizinkan ia datang bersama Quin. Jika gadis cilik itu ingin bertemu dengan Kakak, biar dijemput asisten Kakak aja."
"Sebenarnya aku tak keberatan jika Quin tinggal bersama kita. Asal Aurell berjanji memberikan hak asuh Quin. Aku takutnya saat telah terlanjur menyayanginya, Aurell manfaatkan itu semua untuk dapat dekat dengan Kak Akhtar lagi.Aku melihat masih ada cinta dan obsesi Aurell untuk kakak."
__ADS_1
"Tapi perlu kamu ingat, jika aku tak ada rasa sedikitpun dengannya. Jadi tak perlu takut."
Ratu baru mulai tampak tersenyum setelah mendengar jawaban Akhtar.
"Satu lagi, Quin tak akan pernah tinggal bersama kita, karena Kakak nggak izinkan."
"Kakak nggak mau itu akan menjadi boomerang buat diri sendiri."
Setelah dapat meyakinkan Ratu jika Aurell tidak akan pernah mengganggu dirinya lagi, barulah Ratu tampak tersenyum.
....................
Tiga bulan kemudian
Tak terasa kandungan Ratu telah memasuki bulan keempat. Rasa ngidam yang biasnya Akhtar rasakan telah perlahan hilang. Cuma napsu makannya lenih besar dari biasa.
Akhtar dan Ratu sama-sama jadi doyan makan. Beruntung badan Ratu tidak mudah melar walau dalam keadaan hamil.
"Sayang, hari ini Papi dan Mami akan melihatmu kembali.Semoga udah kelihatan jenis kelamin kalian."
Akhtar mengecup perut buncit istrinya. Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan. Seperti janjinya dulu. Akhtar selalu menemani kemanapun Ratu pergi. Ia tak mengizinkan istrinya itu pergi sendirian, walau dengan supir.
Bersambung
Selamat siang RATU KETIBAN DUREN LOVERS, mama bawa rekomendasi karya dari teman mama. Jangan lupa mampir ya
__ADS_1