
Akhtar melepaskan pelukannya di tubuh gadis cilik yang menganggap ia ayah kandungnya.
"Quin, mau es krim. Tante Ratu banyak beli es krim kemarin. Pergilah ke belakang, makan es krim ditemani Tante."
"Baik, Pa. Aku suka banget es krim."
"Sayang, temani Quin. Ada yang perlu aku omongin dengan Aurell. Aku tak mau Quin mendengar," bisik Akhtar.
"Iya, Kak."
"Ayo, Quin. Tante temani." Ratu mengajak Quin menuju ke dapur.
Akhtar melihat kepergian Ratu, dan Quin hingga hilang masuk ke dapur. Ia lalu memandangi Aurell dengan sorot mata tajam.
"Apa kamu nggak ngerti dengan apa yang aku katakan saat terakhir kita bertemu," ucap Akhtar dengan suara datar.
"Perkataan yang mana?"
Akhtar mengeram, menahan amarah mendengar ucapan Aurell.
"Ini terakhir kalinya kau menginjak rumahku. Jika memang Quin yang ingin bertemu, kamu bisa hubungi asistenku. Biar dia yang jemput Quin. Mengerti!" ucap Akhtar dengan suara tinggi.
Quin yang sedang asyik menyantap es krim jadi kaget. Ia memandangi Ratu minta penjelasan.
__ADS_1
"Kenapa memandangi Tante seperti itu?" ucap Ratu pura-pura tak mengerti dengan arti tatapan Quin.
"Papa marah dengan mami?" tanya Quin.
"Nggak, siapa yang bilang Papa marah?"
"Tadi, suara papa keras banget."
"Suara papa itu emang keras. Bukan berarti papa lagi marah. Kamu teruskan aja makan es krim sebelum mencair."
"Ya, Tante."
"Enak'kan es krim-nya. Tante aja doyan banget." Ratu sengaja mengajak gadis cilik itu mengobrol untuk mengalihkan perhatiannya dari suara Akhtar yang gede.
"Aku udah berapa kali mengatakan jika aku tak ingin kamu ganggu. Aku saat ini telah berkeluarga. Akan aneh kelihatannya jika aku masih bertemu kamu."
"Jangan jadikan Quin alasan. Apa kamu tak malu bertemu denganku? Apa kata suamimu nantinya?"
"Suamiku mengerti saja, entah kalau Ratu yang tak boleh kamu bertemu denganku."
"Bukannya Ratu yang tak boleh, tapi aku yang tak mau. Aku menjaga perasaan istriku dan juga nama baiknya dan keluarga. Pasti akan banyak omongan tak enak jika ada sepasang mantan suami istri masih bertemu sedangkan mereka sudah memiliki pasangan."
"Emang salah jika sepasang mantan suami istri bertemu. Bukankah itu hanya untuk menyambung siraturahmi."
__ADS_1
"Kita berbeda, Aurell. Kita berpisah bukan secara baik-baik."
"Sekarang kamu bisa kembali pulang. Quin aku dan Ratu yang antar nanti. Kamu tau jalan keluarnya, bukan?"
"Bagaimana kalau Quin menanyakan aku?"
"Quin udah sering pisah denganmu. Jadi aku rasa tak akan mencarimu. Silakan ....!"
Akhtar menunjuk pintu utama, meminta Aurell meninggalkan rumah. Aurell berjalan dengan kaki dihentakkan ke lantai karena kesal.
Ia meninggalkan rumah yang sempat ia tempati satu minggu itu dengan seksama.
Setelah Aurell pergi, Akhtar menuju dapur. Tampak Quin dan Ratu yang sedang bercanda.
Akhtar merasa bersyukur banget memiliki Istri seperti Ratu. Walaupun istrinya itu manja tapi ia penuh pengertian.
Ratu pernah mengatakan tak keberatan jika Quin masih tetap memanggilnya Papa. Seperti dirinya yang tetap memanggil Daddy pada Azril ayah sambungnya. Bahkan cintanya pada Azril lebih gede dibandingkan ayah kandungnya.
Akhtar duduk dekat Quin dan ikut nimbrung dalam obrolan anaknya dan Ratu. Ia mengambil es krim Quin untuk dimakan.
Bersambung
Mama ada rekomendasi novel buat di baca sambil menunggu novel ini update.
__ADS_1