
Setelah sarapan Akhtar dan Ratu memghabiskan waktu hanya tiduran di dalam kamar.
Akhtar yang baru merasakan enaknya pernikahan seolah tak ingin jauh dari Ratu. Ia memeluk Ratu terus.
Selama pacaran atau pendekatan dengan Ratu, gadis itu agak sulit didekati. Ketika Akhtar ingin memeluk gadis itu menolak. Akan tetapi sewaktu-waktu ia yang memeluk Akhtar saat sedih ketika ditinggal Felix.
Rasanya Akhtar tak ingin sedetikpun jauh dari istrinya itu. Ia begitu menikmati pacaran setelah menikah.
Sore hari setelah mandi, Ratu mengajak Akhtar keluar kamar. Tubuhnya juga sudah agak baikan,tak secapek pagi tadi.
"Kita duduk di luar aja, Kak. Bosan di kamar terus."
"Nggak bosan, aku malahan senang banget fi kamar terus. Memeluk kamu bisa sesuka hati. Walau sambil cium pipi ini tak ada yang protes."
"Kak Akhtar pikirannya meluk terus."
"Kamu nggak ngerasa sakit lagi saat berjalan. Kalau jalan kamu berbeda, nanti Daddy pasti bertanya. Maklum aja Daddy kalau ada hubungan denganmu sangat teliti dan nanti akan keluar singanya."
"Itu Daddy aku, kak Akhtar nggak boleh ngomong gitu.
"Maaf, aku lupa jika kamu anak kesayangannya Daddy."
"Ayo, Kak." Ratu menarik tangan Akhtar mengajak keluar dari kamar.
Saat Ratu dan Akhtar keluar ternyata semua anggota keluarga dan sahabat telah kembali dari jalan-jalannya.
__ADS_1
Ratu mendekati meja dimana Albirru, Azril, Zeya dan Zahra duduk. Tak jauh dibelakang mereka ada Felix dan Khaira.
"Selamat sore Daddy, Ayah,Bunda dan Ibu." Ratu tersenyum pada semuanya.
"Udah mau malam, Sayang. Sebentar lagi kapal akan kembali berlayar," ucap Azril. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah Enam.
"Belum, Dad. Masih sore," ujar Ratu.
Ia memgecup pipi ke empat orang tuanya. Ratu menarik kursi dan duduk di samping Azril.
"Apa yang kamu lakukan dengan Ratuku, kenapa se sore ini baru keluar dari kamar."
"Daddy, kayak nggak pernah muda aja," gumam Akhtar, tapi dapat di dengar yang lainnya termasuk Daddy.
"Aku tak seganas kamu. Dari sore masuk kamar baru keluar sore harinya. Kalau aku masih ular king cobra, apa kamu anaconda sehingga Ratuku ketiduran hingga sore," ucap Azril. Zeya yang mendengar ucapan Azril langsung mencubit lengan suaminya.
"Kenapa, Sayang," ucap Azril dengan memajukan wajahnya mendekati Zeya.
Raja dan Pangeran yang melihat tingkah Daddynya memandangi dengan tersenyum miring.
"Daddy tak sadar umur. Bentar lagi punya cucu, masih sok mesra," ucap Pangeran.
"Emang kenapa? justru semakin tua itu akan semakin hot."
"Sadar, Dad. Angkat beban sepuluh kilo aja pinggang encok, apanya yang hot," ujar Raja menimpali.
__ADS_1
"Siapa bilang encok? kamu jangan buat Daddy malu ya?"
"Alah kenapa malu? Emang Daddy kemarin encok, habis angkat beban."
Semua tertawa mendengar ucapan Pangeran yang membuat Azril menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Pangeran mendekati Ratu yang sedang asyik menyantap buah yang ada di meja.
"Kak Ratu, apa ini? Banyak banget tandanya." Pangeran menunjuk tanda kemerahan yang banyak terdapat di leher, bahu dan hingga ke dada.
"Oh, ini ... ini tadi." Ratu gugup, nggak tahu harus menjawab apa. Ratu tak menyadari jika Pangeran sengaja bertanya untuk membuat Daddy Azril dan Akhtar bertengkar.
"Itu digigit nyamuk. Banyak nyamuk di kamar. Benar'kan Sayang." Akhtar cepat menjawab melihat Ratu yang kebingungan.
"Nyamuk apa yang menggigit hingga seganas itu. Pasti nyamuknya besar banget," ujar Raja. Kekasih Raja yang duduk di sampingnya, memukul paha Raja saat ia berkata.
"Betul Ratuku. Banyak nyamuk di kamar."
"Iya, Dad."
"Kalau begitu, nyamuk yang menggigit kamu harus diberi racun agar cepat mati," ucap Azril.
Zeya kembali mencubit lengan suaminya itu. Semua yang ada langsung tertawa melihat wajah Akhtar yang tampak tegang.
Ratu yang tak mau ayahnya merasa tersisih, pindah duduk di samping Albirru dan memeluk lengan ayahnya. Albirru mengusap rambut putrinya itu. Semua bersenda gurau hingga magrib menjelang.
__ADS_1
Jam tujuh malam semua yang ada dikapal menyantap hidangan yang tersedia sebwlum kapal berlayar kembali menuju Jakarta.
Bersambung.