Ratu Ketiban Duren

Ratu Ketiban Duren
Bab 84. Meminta Maaf


__ADS_3

Lima bulan kemudian


Tak terasa kehamilan Ratu semakin besar. Saat ini telah memasuki usia sembilan bulan. Ratu akan melahirkan satu minggu lagi.


Malam hari tidurnya Ratu udah nggak nyaman lagi karena perutnya udah makin membesar. Akhtar terkadang terbangun di tengah malam hanya untuk memastikan Ratu udah terlelap atau masih terjaga.


Jika ia melihat Ratu masih terjaga, Akhtar akan mengusap punggung atau perut istrinya itu hingga Ratu terlelap.


Seperti malam ini ia melihat Ratu yang belum terlelap. Istrinya itu masih tampak gelisah. Akhtar bangun dari tidurnya dan mengecup pucuk kepala Ratu.


"Apa yang bisa kakak lakukan agar kamu bisa terlelap, Sayang?" bisik Akhtar. Badan Ratu yang kecil dengan perut yang makin membesar membuat Akhtar sangat mengkuatirkan istrinya itu.


"Nggak ada, Kak."


"Tapi kamu nggak bisa tidur'kan?"


"Nggak apa. Ini karena perutku makin membesar, sulit mencari posisi tidur yang nyaman. Nanti kalau udah ngantuk banget, pasti terlelap."


"Maafkan Kakak,ya?"

__ADS_1


"Maaf buat apa?"


"Maaf, karena tidak bisa membantu." Akhtar mengusap perut Ratu perlahan. Lalu dikecupnya.


Akhtar duduk bersandarkan kepala ranjang. Diletakkan kepala Ratu ke pahanya. Rambut Ratu diusap terus, untuk memberikan kenyamanan padanya. Akhtar juga meletakkan bantal di kaki Ratu.


Setelah istrinya terlelap perlahan Akhtar memindahkan kepalanya ke bantal.


Sayang, rasa cintaku padamu makin lama semakin besar. Walaupun kamu manja, tapi tak pernah mengeluh di saat kehamilan ini. Kamu selalu saja menjalani kehamilan dengan ikhlas. Baik saat ngidam dan sekarang saat perutmu makin membesar.


Setiap aku tanya, pasti kamu akan menjawab, demi bayi yang ada di dalam kandunganmu sehat, apapun akan kamu jalani. Tak ada yang memberatkan jika mengingat di dalam rahimmu sedang tumbuh dua calon bayi kita..


Albirru, Zahra dan Khaira telah datang dari Pekanbaru. Mereka ingin mendampingi Ratu melahirkan.


Hari ini ditetapkan sebagai hari kelahiran si kembar. Semua keluarga telah siap-siap berikan dukungan buat Ratu.


Tampak Ratu yang duduk di tepi ranjang dengan wajah yang sedikit cemas. Menyadari itu Akhtar berjongkok dihadapan istrinya itu sambil menggenggam tangannya.


"Kenapa? Kamu cemas? Atau takut?" ucap Akhtar pelan. Ratu hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kamu adalah perempuan hebat dan tangguh yang mampu menakhlukkan segala rintangan di masa kehamilan. Jadi Kakak yakin kamu akan bisa menjalani operasi caesar ini dengan biak dan lancar."


"Wanita terhebat yang pernah Kakak kenal itu kamu, tak pernah sedikitpun mengeluh saat hamil walau kadang Kakak lihat kamu mengalami kesulitan. Suatu saat akan Kakak katakan pada anak-anak kita, betapa hebatnya mommy-nya."


Ratu meneteskan air matanya mendengar ucapan Akhtar. Ratu tau, sebenarnya Akhtar juga cemas. Itu tampak dari tingkahnya. Dari tadi Akhtar berjalan mondar mandir dalam kamar tanpa melakukan apa-apa.


Terdengar suara ketukan pintu, membuat Akhtar dan Ratu tersadar dari lamunan mereka. Akhtar membukakan pintu dan terlihat mertuanya. Ia mempersilakan Bunda dan Daddy masuk.


Bunda dan Daddy memberikan senyumannya pada Ratu. Wanita itu langsung memeluk Bunda. Menangis dalam pelukan ibunya.


"Maafkan Ratu, Bunda."


"Bunda udah maafkan semuanya. Bunda rasa kamu tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada Bunda, Nak!"


"Maafkan Ratu, Daddy." Ratu memeluk pinggang Azril yang berdiri dihadapkannya. Ayah sambung yang sangat ia sayangi itu.


Ratu menangis terisak. Ia meminta maaf pada kedua orang tuanya. Meminta doa mereka untuk keselamatan dirinya saat melahirkan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2