
Akhtar menghampiri Ratu dan Raja. Ia duduk di kursi yang disediakan karyawan Raja. Mereka memandangi Aurell dengan tatapan tajam.
Aurell merasa sedang disidangkan. Ia tampak gugup dan sedikit gelisah. Apalagi saat Raja meminta seluruh karyawannya keluar dari ruangan itu dan ia diminta tinggal.
Raja memerintahkan Aurell untuk duduk di kursi yang tepat berada dihadapannya. Dengan terpaksa Aurell turuti. Ia duduk di tempat yang Raja perintahkan.
"Kenapa aku tak diizinkan pergi, Pak Raja?" tanya Aurell memulai percakapan.
"Kamu pasti tau apa alasannya!" ujar Akhtar.
"Aku nggak tau!"
"Jangan berpura-pura Aurell!" ucap Akhtar dengan suara keras.
"Kalian mau apa? Kenapa aku dibuat seperti terdakwa? Jangan bisanya keroyokan."
"Apa kamu perlu ditemani? Suamimu?" tanya Raja.
"Nggak perlu, aku nggak takut Pak Raja. Katakan saja maunya Bapak."
"Aku mau kamu minta maaf dengan Ratu!" ucap Raja.
"Kenapa aku harus minta maaf?"
"Kamu tak merasa ada salah?"
"Aku sibuk, jadi sering lupa apa yang pernah aku lakukan"
"Tapi kamu tak pernah melupakan Akhtar," ucap Raja.
__ADS_1
Ratu yang sudah tak tahan melihat sikap angkuh Aurell, mendekati Raja. Ia pindah duduk di samping saudara kembarnya itu.
Aurell masih saja bertahan dengan kepura-puraannya. Walau wajahnya tampak sedikit pucat, tapi ia berusaha tetap tenang dan angkuh.
Raja salut dengan keberanian wanita itu. Ia tak takut mesti diintimidasi. Meski masih tampak sedikit kegugupan.
"Raja, udahlah! Aku tak apa-apa. Tante Aurell mungkin memang tak salah. Bosan di sini," ucap Ratu.
"Kalau memang kamu merasa tak pernah ada salah, baiklah. Aku minta kamu temui bagian administrasi, minta uang bayaranmu. Mulai hari ini kamu tak perlu bekerja di sini lagi."
"Kamu tak bisa memecatku tanpa alasan. Aku tak pernah telat dan bekerja dengan baik."
"Kenapa tak bisa? Agensi ini milikku, jadi aku berhak memecat siapapun yang aku mau. Lagi pula aku tak butuh lagi model yang udah tua. Aku mau model usia remaja."
"Oke, kalau hanya karena tak mau meminta maaf di pecat, aku akan melakukan apa yang kamu mau."
Aurell tampak menarik nafasnya. Sebenarnya wanita itu takut, tapi ia berusaha kuat. Ia tak mau malu dan dikatakan lemah oleh Akhtar.
"Maafkan aku jika pernah melakukan kesalahan." Aurell mengulurkan tangannya dengan Ratu.
"Ya, aku maafkan," ujar Ratu pelan.
Melihat cara Aurell yang meminta maaf dengan wajah datar seakan terpaksa, Raja berdiri dari duduknya dan menendang meja yang ada didepannya.
Bukan hanya Aurell yang kaget, tapi juga Ratu dan Akhtar. Ratu langsung memeluk lengan Akhtar yang berdiri di sebelahnya.
Raja memandangi Aurell dengan sorot mata tajam. Tangannya terkepal menahan amarah.
"Apakah begitu saja caramu meminta maaf!" teriak Raja.
__ADS_1
"Terus ... aku harus bagaimana Pak Raja?"
"Kalau aja kamu seorang pria, aku pastikan saat ini wajahmu sudah aku buat babak belur. Apa maksud kamu mengatakan Ratu itu liar?"
"Aku tak ingat kapan mengatakan itu?" ucap Aurell yang mulai tampak ketakutan. Kekuatan yang ia coba bangun dan pertahankan akhirnya goyah melihat kemarahan Raja.
Mendengar jawaban Aurell tangan Raja terangkat ke atas ingin menampar wajah Aurell. Untung Ratu cepat menahannya.
"Raja, jangan kasar. Nanti kamu bisa diadukan pasal penganiayaan."
"Dengar Aurell, walau usia Ratu bukan kecil lagi, tapi tak pernah ia pergi kemanapun tanpa orang tua kami, kecuali saat bersama Akhtar kemarin. Itu juga diizinkan karena aku yang memohon pada Daddy." Raja menghentikan ucapannya dan menarik napasnya.
"Dari mana kamu bisa menyimpulkan dan mengatakan Ratu itu liar. Atas dasar apa!" teriak Raja.
"Raja, udah. Nanti kamu sakit. Kamu nggak boleh marah-marah." Ratu memeluk saudara kembarnya itu.
Ratu takut darah tinggi Raja kambuh. Walau usianya masih muda, Raja memiliki tekanan darah tinggi. Ia pernah di rawat saat darah tingginya kambuh.
Gadis itu tak mau Raja di rawat lagi. Saat saudaranya di rawat, Ratu sebagai saudara kembarnya ikut juga merasakan sakit. Badannya lemas, walau tekanan darahnya normal. Mungkin itu semua karena ikatan batin mereka sebagai saudara kembar.
"Sudah, aku nggak apa-apa. Pasti tante Aurell mengatakan itu tak sengaja. Kamu duduk lagi. Minum dulu," ucap Ratu kuatir.
Raja menuruti maunya Ratu. Ia duduk untuk menetralkan amarahnya. Ratu memberikan segelas air buat pria itu.
Setelah Raja merasa nyaman, ia kembali menatap Aurell.
"Jika aku tak menghargai suamimu, akan aku buat kariermu mati. Aku bisa membuat tak ada satupun agensi yang mau menerima kamu sebagai modelnya. Apa lagi saat ini wajahmu sudah tak menjual. Banyak model yang lebih cantik darimu."
Aurell duduk dengan menunduk sambil memainkan jarinya. Ia tak mengira Raja akan emosi seperti itu. Selama ini Raja dikenal ramah dan baik.
__ADS_1
Bersambung