
Setelah dua hari di Pekanbaru, Ratu dan Akhtar kembali ke Jakarta. Dari bandara Azril minta dijemput supirnya dan langsung menuju ke rumah Ratu.
"Ratu, terima kasih sudah menemani aku selama sepuluh hari ini. Nanti setelah menikah aku ingin kita bulan madu selama satu bulan."
"Satu bulan? kemana?" tanya Ratu kaget.
"Keliling Indonesia atau luar negeri, itu terserah kamu. Tapi kita akan pergi bulan madu berdua tanpa ada orang."
"Ngapain aja selama satu bulan itu? kenapa harus berdua?"
"Karena jika seluruh keluarga ikut itu bukan bulan madu lagi namanya. Tapi piknik keluarga. Tak kan bisa nanti aku memuaskan jerry. Pasti akan ada gangguan."
"Memuaskan jerry, kasihan udah lama banget nganggur. Takut ia karatan."
"Kenapa jerry harus dipuaskan?"
"Karena emang tujuan bulan madu untuk jerry."
"Jerry siapa?"
"Kamu lupa lagi siapa Jerry? Udah pernah'kan aku katakan siapa jerry? Kalau mau kenalan kita harus segera menikah."
Ratu memandangi Akhtar dengan mata bertanya. Ia coba mengingat kapan Akhtar mengatakan tentang Jerry.
Ketika Ratu telah mengingatnya, ia langsung memukul lengan Akhtar bertubi-tubi. Akhtar tak bisa menahan tawanya melihat wajah kesal Ratu.
"Pikirannya mesum. Masa satu bulan kakak mau gituan aja," ucap Ratu.
"Kenapa tidak, Ratu? namanya pengantin baru. Umurku udah hampir 32 tahun. Aku rasa sudah terlalu lama jerry berdiam diri. Pasti ia sudah nggak sabar ingin tau dan masuk sarangnya."
"Dasar Duda Mesum! Pikirannya kesana terus."
"Ratu, umur kamu juga udah hampir 24 tahun. Itu bukan lagi usia muda. Jadi udah pantas berumah tangga. Pasti sarangnya juga ingin diisi!"
__ADS_1
"Kakak ...." teriak Ratu. "Sekali lagi ngomong mesum, aku adukan Daddy."
"Yeah, payah! Anak Daddy. Apa-apa diadukan Daddy. Jangan-jangan nanti kita malam pertama kamu adukan Daddy gimana cara aku dan kamu main kudaan."
"Main kudaan apa lagi, kak," ujar Ratu heran.
"Anu ...."
"Anu apa?"
"Sini aku bisikan. Nanti para readers dengar. Kita digosipkan lagi."
Akhtar membisikan sesuatu pada Ratu membuat gadis itu kembali marah dan mencubit lengan Akhtar bertubi-tubi. Ratu duduk sedikit menjauh dari Akhtar.
Sampai di halaman rumah, Ratu langsung berlari mencari bunda dan daddynya. Baru klik ini ia pisah cukup lama dengan kedua orang tuanya itu. Sepuluh hari ia pisah dengan keduanya.
Azril dan Zeya yang sedang menonton televisi sambil berpelukan kaget saat Ratu melompat kepangkuan daddy-nya.
Ratu mengecup pipi Azril secara bertubi-tubi. Walau sering diingatkan jika ia telah dewasa, seharusnya ia menjaga jarak dari daddy-nya, tapi Ratu tak peduli. Ia tak malu jika banyak yang mengatakan ia terlalu manja.
"Kangen jugalah Bunda."
Akhtar yang baru masuk melihat Ratu yang memeluk Daddy-nya erat, hanya tersenyum.
Bunda Zeya mempersilakan Akhtar duduk.
Azril tampak memandangi Akhtar dengan tatapan tajam.
"Sayang, Daddy mau ngobrol dengan pria itu," ucap Azril dengan ketus. Akhtar yang mendengar suara Azril sedikit ketus, menjadi gugup.
Apa salahku,ya? Apa Daddy tau semua yang terjadi di Padang? Apa ia tau juga tentang Aurell?
"Apa yang ingin Daddy katakan?" ujar Akhtar akhirnya. Ia sangat penasaran dan tak sabar ingin mendengar apa yang akan Daddy katakan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi selama Ratu berada di Bukittinggi?" tanya Azril. Akhtar yang mendengar pertanyaan Azril menjadi pucat.
Kenapa Daddy bertanya tentang kejadian Bukittinggi, apa ia tau dari Ratu? Tapi Ratu berjanji tidak akan mengatakan apa-apa dengan Daddy.
"Apa maksud Daddy?" ucap Akhtar. Ia berpura-pura tak mengerti dengan pertanyaan Azril.
"Kau jangan berpura-pura lagi, Sergio. Aku tau segala yang terjadi di sana. Kau tak bisa membohongi aku."
"Aku tak ada berbohong, Rudolfo," ucap Akhtar.
"Apa kau pikir aku ini bodoh, Sergio. Aku tau semuanya. Termasuk dirimu yang suka curi-curi kesempatan pada putriku."
"Maafkan aku, Rudolfo. Aku tak mengerti apa yang kamu katakan."
Ratu menjadi kesal melihat tingkah konyol kedua pria itu, memukul lengan Daddy-nya.
"Daddy dan kak Akhtar ngomong apa?"
"Esmeralda, katakan dengan jujur apa yang telah Sergio lakukan padamu?"
"Kak Akhtar tak melakukan apa-apa?"
"Esmeralda, jangan berbohong! Demi Sergio yang baru kamu kenal, kamu tega membohongiku."
"Daddy ...." teriak Ratu makin kesal. Bunda Zeya tak bisa menahan tawanya lagi melihat wajah kesal Ratu.
"Daddy ... jangan becanda aja. Ngomong yang benar aja."
Daddy Azril akhirnya ikutan terbahak melihat Bunda Zeya yang memegang perutnya karena menahan tawa. Ratu yang kesal, memukul lengan Daddy-nya.
Setelah bisa menahan gelak tawanya, barulah Azril kembali bicara. Ia menanyakan apa yang dilakukan Ratu selama liburan di Padang.
Azril hanya ingin menguji Akhtar, apakah ia akan berkata jujur atau menutupi dengan semua yang terjadi dengan kebohongannya.
__ADS_1
Bersambung