
Semua persiapan pernikahan Ratu dan Akhtar telah mencapai 90 persen. Azril dan Bunda Zeya bahagia melihat antusias putrinya yang akan menikah.
Hari ini ayah Albirru dan Zahra datang dari kota Pekanbaru. Akhtar dan Ratu yang akan menjemput ke bandara.
Akhtar menjemput Ratu di butik miliknya. Setiap Akhtar datang, karyawan banyak yang berbisik. Mereka kagum melihat ketampanan Akhtar, dan juga keramahannya pada karyawan.
Jika Felix, hanya sekadar tersenyum pada karyawan tak akan mau ia lakukan apalagi menyapa mereka. Ia akan langsung menuju ruang pribadi Ratu tanpa bertanya atau permisi dulu dengan karyawan. Seolah semua itu tak penting, karena butik milik kekasihnya.
Akhtar menarik tangan Ratu pelan dan menggenggamnya sepanjang perjalanan menuju bandara. Sesekali ia mengecup tangan Ratu, membuat gadis itu memandangi Akhtar dengan heran.
"Kenapa memandangi Kakak seperti itu?" tanya Akhtar ketika menyadari Ratu yang melihatnya dengan dahi berkerut.
"Konsentrasi,Kak. Lagi nyetir ... kenapa tanganku masih di genggam terus? Kayak aku mau kabur aja."
"Aku emang takut kamu kabur. Malu dong, masa aku kawin sendiri."
"Nikah ... bukan kawin."
"Tapi yang paling Kakak nantikan kawinnya," ujar Akhtar.
"Dasar duda mesum kurang belaian."
"Yang paling ingin dibelai itu si Jerry, karena udah tiga puluh dua tahun umurnya belum pernah dapat belaian dan sentuhan."
__ADS_1
Ratu melepaskan tangannya yang segenggam Akhtar dan memukul lengan pria itu bertubi-tubi.
"Napa mesum banget?" ucap Ratu.
Akhtar tertawa melihat Ratu yang marah, bukannya merasa sakit karena dipukul Ratu. Pria itu menangkap tangan Ratu dan mengecupnya.
"Aku ini pria normal, Sayang. Umur udah 32 tahun. Kalau mesum itu biasa."
"Emang Kakak nggak pernah sekalipun lakukan itu dengan tante Aurell?"
"Kamu masih belum percaya dengan omonganku."
"Katanya Kak Akhtar normal, tapi kenapa tak tertarik dengan Tante Aurell yang cantik dan seksi gitu?"
"Kenapa Kak Akhtar mau dijodohkan? Apa sebelumnya Kakak udah mengenal Tante Aurell?"
Akhtar menceritakan awal ia kenalan dengan Aurell saat sekolah menengah pertama. Waktu itu orang tuanya Akhtar harus tinggal di Singapura karena membuka usaha, tak ingin ikut, Akhtar lebih memilih menetap di Bukittinggi kampung kelahiran neneknya.
Saat di Bukittinggi Akhtar satu kelas dengan Aurell. Wanita itu telah menampakan rasa sukanya. Tapi Akhtar lebih memilih pacaran dengan gadis lain.
Setelah lulus sekolah menengah Akhtar memilih Sekolah Menengah Atas di Jakarta. Ia tak pernah ketemu Aurell lagi.
Orang tua Akhtar yang melihat anaknya sudah cukup umur untuk berkeluarga akhirnya menjodohkan Akhtar dengan Aurell yang ternyata anak sahabat dan juga saudara jauh ibunya. Akhtar tak mungkin menolak perjodohan karena ibunya yang meminta. Ia sangat menyayangi ibunya.
__ADS_1
"Jadi Kakak ketemu lagi dengan tante Aurell saat dijodohkan."
"Iya. Kakak nggak suka dengan Aurell dari dari dulu karena sebagai seorang gadis ia terlalu agresif."
"Bukankah seharusnya kak Akhtar bangga di kejar dan dicintai wanita secantik tante Aurell."
"Pria lebih tertarik dengan perempuan yang sulit didapat dan bersikap tidak tertarik dengannya dibanding yang ngebet dan mengejarnya."
"Kenapa, Kak?"
"Pria sangat penasaran ketika seorang wanita sulit ditaklukkan, bukan dalam arti jual mahal, tetapi bahwa wanita ini misterius atau tidak dapat ditebak. Hal ini membuat pria ingin tahu apa yang dapat dilakukannya untuk membuat sang wanita bertekuk lutut. Pria juga berpikir, "Ia akan menjadi milik saya suatu saat, entah bagaimana caranya!"
"Jadi kak Akhtar mendekati aku hanya karena dulu sering menolak."
"Bukan karena kamu yang sering menolak, tapi yang utama karena Kakak emang udah jatuh cinta padamu saat pertama melihat. Udah jodoh kali?"
"Sebenarnya semua emang karena udah jodoh."
"Kamu tau, Sayang. Kebanyakan pria itu senang berburu. Dengan berburu, pria memenuhi hasratnya untuk mendapatkan sesuatu, meskipun akhirnya mereka tidak menjadi pemenang."
"Perburuan itu lebih menyenangkan buatnya, karena terasa begitu alami. Sebaliknya, pria tidak merespons ketika dikejar-kejar, karena mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Sikapmu yang jinak-jinak merpati itu emang tepat sebagai seorang gadis," ucap Akhtar melanjutkan.
Ratu mendengar semua ucapan Akhtar dengan manggut-manggut. Padahal ia dulu sedikit menjauh dari Akhtar hanya karena tak ingin terluka untuk kedua kalinya. Lagi pula Ratu emang tak pernah pacaran dan dekat dengan pria selain Felix.
__ADS_1
Bersambung.