
Selamat siang Ratu Ketiban Duren. Maaf ya ini bukan update Ratu, tapi mama ingin kenalkan Novel terbaru dari Susanti 31,anak online mama. Jangan lupa mampir ya sambil menunggu Ratu update.
Sinopsisnya
Tak ingin membuat dirinya sters dan terus memikirkan sesuatu yang tidak-tidak, Alana lebih milih menenangkan hatinya sebelum meminta penjelasan lebih lanjut dari Alvi. Untuk sekarang mungkin menghindar adalah pilihan terbaik hingga hatinya benar-benar siap mendengar semua penjelas Alvi.
Bukan untuk dirinya, tetapi untuk bayi dalam kandugannya, dokter pernah berpesan bahwa ia tidak boleh stres atau itu akan berbahaya bagi kandungannya. Dan itu tidak akan Alana biarkan, ia sudah mengingikan anak ini sejak lama.
Baru saja akan bergabung dengan orang tuanya di meja makan, suara seorang laki-laki yang tak asing di telinganya terdengar. Alana memejamkan matanya mencoba mengotrol emosi juga perasaannya agar tidak meledak di hadapan ayah Kevin juga bunda Anin.
Alana menunduk tak ingin menatap apa lagi menyapa Alvi.
"Kebetulan kamu datang Nak, ayo makan malam dulu," ujar Bunda Anin menyambut kedatangan menantunya.
"Sayang, suaminya datang kok nggak di sambut?"
"Mungkin Alana lelah bunda," jawab Alvi duduk di samping Alana yang masih menunduk.
Ayah Kevin memperhatikan Alana dan Alvi secara bergantian, tak biasanya putrinya murung seperti ini jika sedang makan atau ada Alvi. Pria paruh bayah itu meletakkan pisau juga garpunya di atas meja.
"Ada apa ini? kalian bertengkar?" Suara Ayah Kevin mengintrupsi membuat Alana mendonggak lalu menatap ayah Kevin.
Gadis itu mengeleng. "Aku lelah ayah makanya nggak ada semangat."
"Yakin?"
Alana menggangguk sembari tersenyum, lalu bangkit dari duduknya saat Alvi hendak mengenggam tangannya.
"Aku belum lapar, kalian makan aja," ujar Alana setelahnya berlalu, berjalan secara perlahan di anak tangga.
"Pegang kata-kata kamu Alvi," ujar Ayah Kevin dingin setelahnya ikut beranjak.
"Alana sudah tahu?" tanya bunda Anin.
"Alvi nggak tahu bunda," jawab Alvi, ia juga bingung akan sikap Alana. Ia tahu keberadaan istrinya dari bunda Anin.
"Kali ini bunda nggak bisa bantu kamu."
__ADS_1
Makan malam keluarga yang seharusnya hangat harus batal, dan makanan di atas meja makan terbengkalai tidak ada seorangpun yang menyentuhnya. Sepeninggalan orang tua Alana, Alvi juga beranjak menemui Alana di kamarnya.
"Kamu kenapa sayang? nggak enak badan?" tanya Alvi tiba-tiba membuat Alana yang fokus menatap layar lebar menoleh sebentar lalu kembali fokus kedepan.
"Ada dua tipe pria dalam kamus hidup aku. Tipe pria yang berubah romantis karena sangat mencintai istrinya, atau tipe pria yang berubah romantis agar kebusukannya tidak tercium oleh istrinya." Alana menjeda, pandangan masih fokus pada layar lebar di depannya. "Kamu tipe ya mana?"
"Ah ya, kenapa aku harus buang-buang waktu bertanya seperti itu. Padahal sudah jelas kamu tipe pria yang kedua," lanjut Alana kembali menyinggung Alvi.
Perkataan Alana barusan berhasil membuat seluruh tubuh Alvi bergetar, tulang-tulangnya seakan hilang tak mampu menopang tubuhnya. Laki-laki itu langsung terduduk didepan Alana yang masih duduk anteng tak mau menatapnya. Alvi meraih kedua tangan Alana.
"Maafin Aa Al, udah bohongin kamu," sesal Alvi
"Kenapa? kenapa kamu tega bohongin aku? berapa tahun?"
"Tiga tahun lebih," jawab Alvi. "Maafin Aa, Aa kesepian sayang."
"Jadi maksud kamu, aku yang salah?" lirih Alana. "Bukannya dari awal aku nggak pernah mau pisah dari kamu. Tapi kamu sendiri yang memaksa aku kuliah di Negara orang. Atau mungkin ini sudah di direncanakan dari awal? Agar kamu bisa bebas?"
Alvi mengeleng masih memegang erat tangan mungil Alana.
"Maafin Aa Al."
"Jika Alasan kamu membagi kasih sayangmu karena kesepian. Maka Alasan aku meninggalkanmu, karena bosan terus melihatmu," ujar Alana tepat menusuk hati Alvi.
Alana melepaskan genggaman Alvi di tangannya, mengangkat tangan kanan di mana cincin pernikahan melingkar di jari manisnya.
"Ternyata cincin ini nggak ada artinya ya," Alana senyum kecut. Melepas cincin itu di tangan mungilnya, lalu meraih tangan Alvi dan meletakkan cinci itu di telapak tangan Alvi. "Aku nggak butuh cincin itu lagi. Beri aku kebebasan seperti aku beri kamu kebebasan."
Alvi mengeleng, tak sanggup jika harus berpisah dengan Alana, ia tidak menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Alvi memperlihatkan tangan kanannya di mana cincin pernikahan juga melingkar di jari manisnya.
"Lihat Al, Aa nggak pernah lepas cincin ini. Kamu lupa kita pernah berjanji nggak akan melepas cincin ini sampai maut memisahkan kita? pliss Aa nggak bisa tanpa kamu Al. Maafin Aa. Aa bisa menerima hukuman apapun, asal jangan kamu yang pergi." Air mata Alvi luruh membasahi dress yang di kenakan Alana.
"Aku tau, aku nggak bisa hamil, aku bukan perempuan sempurna, tapi bukan berarti kamu bisa bebas nyakitin aku. Aku juga punya hati, dulu saat aku memilih pergi, mati-matian kamu cegah aku, dan sekarang saat aku mulai terbiasa kenapa malah seperti ini?"
Hanya kata maaf yang selalu keluar dari mulut Alvi, hanya itu yang bisa ia lakukan, ia sadar dirinya salah.
"Jangan tinggalin Aa sayang. Aa mohon," pinta Alvi.
__ADS_1
"Tinggalkan dia atau ceraikan aku!" ujar Alana penuh ketegasan.
Alvi mengeleng, manatap mata Alana yang kini juga berlinangan air mata.
"Jangan beri Aa pilihan yang sulit Al. Kalian sangat berarti buat Aa," jawab Alvi.
"Tau alasan aku nggak mau punya anak dulu? karena aku nggak mau cinta dan kasih sayang kamu terbagi walau itu sama darah daging aku sendiri. Lalu sekarang kamu minta aku menerima dia? jangan harap, aku lebih baik kehilangan kamu daripada harus berbagi."
Alana menarik kerah kemeja Alvi. "Alvino, ceraikan aku! talak aku sekarang juga!" menguncang tubuh kekar yang masih bersujud di hadapannya.
"Nggak akan Alana, sampai kapanpun keinginan kamu nggak akan terkabul. Selamanya kamu hanya milik Aa!" ujar Alvi tak kalah tegasnya.
Alana terus memukul Alvi sembari menangis, kini air mata juga emosi tak dapat di bendung lagi. "Ceraikan aku! aku mohon beri aku kebebasan untuk mencari kebahagian aku sendiri," pinta Alana
"Nggak akan!"
"Baiklah, jika kamu nggak mau ceraikan aku, maka aku yang akan menggugat kamu."
"Alana, dengerin Aa sayang, Aa mohon." Memeluk tubuh mungil itu.
"Tidak ada yang perlu di jelasin lagi, pergi dari rumah aku sekarang juga, ayah nggak pernah suka jika ada yang menyakiti putrinya. Sekarang kamu nggak di perbolehkan masuk di rumah ini, karena kamu bukan lagi bagian dari keluargaku. Mantan suami." ujar Alana menekan kata 'Mantan suami'.
"Alana!"
"Pergi Alvi! Atau kamu mau lihat aku menyakiti diri sendiri, hah?"
Prank
Suara gelas pecah terdengar, Alana sengaja memecahkannya, mengambil salah satu pecahan walau Alvi berusaha mencegahnya.
Untung saja kamar Alana kedap suara hingga apapun yang terjadi tidak akan ada yang mendengarnya.
"Baiklah Aa bakal pergi, tapi Aa mohon jangan sakiti diri kamu!" pinta Alvi.
"Tunggu apa lagi, ayo pergi! aku nggak butuh kamu lagi."
Sepeninggalan Alvi, tubuh Alana luruh ke lantai, semua yang ia impikan hancur dalam sekejap. Keluarga kecil yang bahagia yang ia idam-idamkan kini hanya angan semata.
__ADS_1