
Quin memandangi Akhtar dengan cemberut. Es krim-nya habis di lahap Akhtar. Bukannya membujuk, Akhtar malah menambah es krim untuk ia makan.
"Papa, jangan dihabisin, aku masih mau," ucap Quin.
"Kak Akhtar, senang banget buat orang kesel," ujar Ratu.
"Mami mana, Pa?"
"Udah pulang. Masih ada kerjaan. Nanti papa dan tante yang antar kamu pulang."
"Oh, oke ...."
"Papa mau bicara."
"Ya ngomong aja. Dari tadi juga udah bicara'kan?"
"Kita bicaranya di ruang keluarga aja. Biar lebih santai."
Akhtar mengecup pipi Quin dan membantunya turun dari kursi. Ia menggenggam tangan Quin menuju ruang keluarga diikuti Ratu.
Akhtar meminta Quin duduk dan menghadap dirinya.
"Quin, papa rasa udah saatnya kamu tau kebenaran ini. Saat ini kamu udah duduk di sekolah dasar. Papa rasa kamu udah cukup mengerti."
Ratu memandangi Akhtar dan Quin bergantian. Ia teringat Daddy Azrilnya. Ayah sambung yang sangat ia cintai. Cinta pertamanya.
Hingga usianya saat ini memasuki dua puluh empat tahun, tak pernah sekalipun Daddy-nya itu berkata kasar, apa lagi melakukan kekerasan.
Daddy Azril sangat menyayangi dirinya, bahkan lebih dari Bunda Zeya. Jika ia ada masalah, orang pertama yang dicarinya Azril.
__ADS_1
"Quin, Papa sebenarnya bukanlah papa kandungmu," ujar Akhtar dengan hati-hati.
Ratu kaget mendengar ucapan Akhtar. Tak pernah ia duga suaminya itu akan mengatakan kebenaran siapa dirinya secepat ini.
Quin juga tampak sangat kaget mendengar pengakuan Akhtar. Di usianya yang memasuki tujuh tahun, ia telah mulai mengerti dengan ucapan Akhtar.
"Maksudnya Papa adalah ayah tiriku sama seperti papi Tommy."
"Iya, Papa kandungmu ada, tapi bukan papa Akhtar. "
"Papa bohong?"
"Papa nggak bohong, Sayang. Namun, walau papa bukanlah yang kandung tetap sayang denganmu."
"Mami tak pernah mengatakan kalau Papa bukan ayah kandungku."
"Karena bagi Papa kamu tetaplah putriku, walau bukan darah dagingku."
"Ada, tanyakan dengan mami."
"Aku mau Papa yang menjadi ayah kandungku," ucap Ratu dengan air mata mulai menetes membasahi pipi tembamnya.
"Jangan menangis Quin, aku tetap papa kamu."
"Apa Papa tidak akan melupakan aku?"
"Tentu saja tidak."
Akhtar membawa Quin ke dalam pelukannya. Ia menyayangi Quin, tapi gadis cilik itu harus tau kebenaran tentang dirinya.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Quin akan dipanggil mbak," ucap Akhtar.
"Kenapa, Pa?"
"Dalam perut Tante Ratu saat ini ada adik bayi."
"Benar, Pa? Nggak bohong'kan?"
Quin dengan semangatnya berdiri mendekati Ratu dan mengecup perutnya. Setelah puas mengecup, Quin mengelus perut Ratu.
"Kenapa perutnya Tante masih kecil. Mama teman aku perutnya besar, setelah itu baru ada adik yang keluar dari perutnya."
Quin tampak senang mengetahui dirinya akan memiliki adik. Dari dulu ia sering meminta pada maminya untuk memberikan adik.
Aurell tidak pernah ingin hamil lagi. Ia takut kehamilan akan membuat kariernya akan hancur.
Saat ini aja ia harus bekerja keras untuk dapat job, saingannya banyak anak muda. Aurell masih ingin menjadi model terkenal di Indonesia hingga internasional.
Jam lima sore, Akhtar dan Ratu mengantar Quin pulang. Ratu tadi sempat marah dengan Akhtar karena terlalu cepat mengatakan kebenaran siapa dirinya pada Quin.
Ratu dapat merasakan perasaan Quin. Beruntung Quin dapat menerima semuanya dengan lapang dada. Mungkin karena ia tidak tinggal serumah dengan Akhtar. Jadi perasaannya tidak sekuat Ratu dengan Azril.
Berbeda dengan dirinya dulu, Ratu sampai menangis lama sekali saat tau kenyataan kalau Azril bukan ayah kandungnya. Ia takut kehilangan cinta Daddy-nya itu.
Bersambung.
Berikut ini ada Rekomendasi karya teman mama dengan judul: TRULY MADLY LOVE.
Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya. Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun ke-lima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack. Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun Zack telah memiliki keluarga kecil. Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?
__ADS_1