Ratu Ketiban Duren

Ratu Ketiban Duren
Bab 83. Masih Tasakuran


__ADS_3

Felix tersenyum pada Ratu dan Zahra. Ia menyalami Ratu dan Khaira. Duduk dihadapan mereka.


"Apa kabar, Khaira?" ucap Felix.


"Alhamdulillah baik, Mas. Mas sendiri apa kabarnya?"


"Seperti yang kamu lihat. Saat ini sudah agak baikan."


"Mas tampak lebih kurusan."


Felix hanya tersenyum mendengar ucapan Khaira. Mereka mengobrol bertiga hingga Akhtar datang bergabung. Akhtar berjalan berdua dengan Diego.


"Apa kabar Felix," ucap Akhtar menyalami.


"Alhamdulillah, udah mulai sehat."


"Kenalkan ini sahabatku dan dokternya Ratu."


Akhtar mengecup pipi Ratu dan duduk di samping istrinya itu. Khaira dan Felix menyalami dokter Diego.


Mereka mengobrol berempat hingga Felix dan Diego pamit pulang. Akhtar mengantar hingga sahabatnya itu masuk ke mobil.


"Khaira adiknya Ratu?" tanya Diego.


"Ya, satu ayah tapi beda ibu. Kenapa? Kamu suka?"


"Keliatan anaknya baik?"


"Baik ... mantan istrinya Felix."


"Felix yang tadi mengobrol bersama."


"Iya, kepo banget sih. Kamu suka?" Akhtar mengulang pertanyaannya.


"Cuma tanya. Anaknya manis seperti Ratu."

__ADS_1


"Mana bisa Ratuku disamakan. Lebih cantik dan manis Ratu."


"Karena istrimu, bagimu Ratu yang tercantik."


"Emang menurutmu Ratu tak cantik?" tanya Akhtar dengan suara sedikit tinggi.


"Cantik,cantik banget ... lebih baik mengalah, malu banyak tamu," gumam Diego pada diri sendiri. Namun masih dapat di dengar Akhtar.


"Mujinya nggak rela banget, sih?"


"Akhtar, jangan mengajak aku berdebat. Malu sama tamu," ucap Diego.


"Kenapa malu? Aku berpakaian? Kalau tanpa busana, baru malu."


"Yang waras ngalah aja," ucap Diego.


"Jadi kamu pikir aku tak waras?" tanya Akhtar.


"Akhtar, kamu dipanggil mertua," ucap Diego.


Acara masih terus berlangsung hingga sore hari.


..............


Albirru dan istrinya serta Khaira menginap di apartemen Ratu selama Seminggu. Albirru tampak bahagia karena sebentar lagi akan memiliki cucu, apa lagi Azril. Selama acara syukuran kemarin berlangsung, senyum pria itu tak pernah pudar dari raut wajahnya.


Albirru bersama anak dan istrinya akan kembali ke Pekanbaru. Akhtar dan Felix mengantar hingga ke bandara.


"Ayah berangkat. Jika kamu akan lahiran, cepat kabari Ayah dan ibu," ucap Albirru.


"Iya, Ayah. Ayah dan Ibu hati-hati," ujar Ratu. Zahra mengecup pipi Ratu dan mengelus perut anak tirinya itu.


Air mata Zahra menetes tanpa sadar. Ia teringat anaknya yang meninggal. Dua orang anak meninggal saat dilahirkan.


Setelah Khaira berusia dua tahun, Zahra sempat hamil tapi kembali anak yang dikandungnya meninggal saat dilahirkan.

__ADS_1


"Jaga kesehatan, ibu doakan kamu dan bayi sehat hingga hari kelahiran."


"Terima kasih,Bu."


"Ayah dan Ibu nanti kembali lagi saat kamu lahiran," ujar ibu lagi.


"Ya, bu. Ayah dan Ibu juga harus jaga kesehatan. Jika ada apa-apa segera hubungi aku atau kak Akhtar."


Akhtar dan Ratu menyalami kedua mertuanya itu. Tidak lupa Akhtar juga menyalami Khaira.


Ayah, Ibu ... hati-hati," ucap Akhtar. Ia menyelipkan amplop yang cukup tebal ke tangan Zahra.


"Apa ini Nak Akhtar?" ucap Ibu saat menerima amplop.


"Untuk Ibu, bisa digunakan untuk membeli barang yang ibu suka. Jika merasa kurang bisa hubungi aku," ujar Akhtar.


"Tapi ini banyak banget."


"Nggak Bu. Cuma sedikit," ucap Akhtar. Setelah itu ia mendekati Khaira.


"Oh ya Khaira, kamu ingat temanku yang dokter kandungannya Ratu."


"Masih ingat,Kak."


"Dia titip salam dan ini kartu namanya. Kamu bisa hubungi jika ingin berkenalan."


Sejak bertemu Khaira saat tasakuran, Diego emang sering menghubungi Akhtar. Pria itu tampaknya menyukai Khaira.


"Terima kasih, Kak."


Setelah merasa cukup mengobrolnya ... Ayah, Ibu dan Khaira masuk. Panggilan telah terdengar. Mereka masuk ke ruangan menuju pesawat.


Bersambung.


Selamat pagi semuanya, mama kembali memberikan rekomendasi bacaan bagimu.

__ADS_1



__ADS_2