Ratu Ketiban Duren

Ratu Ketiban Duren
Bab 28. Jangan Ganggu Ratu.


__ADS_3

Aurell menatap dengan mata tajam ke arah Ratu. Bukannya takut, Ratu malah menantang dengan menatap balik Aurell dengan mata melotot. Akhtar yang melihat itu tak bisa menahan senyumnya.


"Kenapa? Matanya bisa dikondisikan!" ucap Ratu dengan menantang.


"Kamu tuh, apa bisa menjaga sopan santun. Ini masih termasuk desa. Warga sini masih menjunjung adat ketimuran. Apa kamu nggak malu berpelukan di tempat umum," ucap Aurell.


"Tante Aurell yang merasa dirinya sopan dan terhormat, apakah di kamar Tante tidak ada kaca?"


"Apa maksudmu?"


"Yang tidak bisa menjaga dan menjunjung adat ketimuran itu siapa? Aku atau Tante? Apa Tante lupa ingatan? Tante lupa apa yang Tante lakukan sebelum menikah dengan Kak Akhtar."


"Dasar bocah tak memiliki tata krama dan sopan santun."


"Siapa yang bocah!" ucap Ratu dengan suara sedikit keras karena terbawa emosi.


Akhtar menggenggam tangan Ratu dan memandangi Ratu dan mengedipkan matanya. Ia memberi kode Ratu untuk diam karena saat ini mereka jadi pusat perhatian.


"Maaf Aurell, ini di tempat umum. Aku tak ingin kita menjadi pusat perhatian. Kamu tak perlu mengajari aku dan Ratu tentang adat ketimuran, aku lebih tau semua itu dari kamu," ujar Akhtar.


Ia menarik tangan Ratu untuk meninggalkan Aurell dan berpindah duduk, sebelum berjalan lebih jauh Akhtar membalikkan badannya.


"Jika kamu tak suka, bisa pulang duluan," ucap Akhtar lagi.


Akhtar mengajak Ratu duduk di dekat ibu-ibu yang berjualan kerupuk mie kuah sate, ciri khas Jam Gadang.

__ADS_1



"Mau coba makan kerupuk mie itu," tunjuk Akhtar pada pedagang yang berada tak jauh dari mereka duduk.


"Itu kerupuk apa?"


"Kerupuk yang terbuat dari singkong diberi kuah seperti kuah sate Padang dan atasnya di beri lagi mie bihun."


"Enak?"


"Coba dulu, kalau tak dicoba kamu tak akan tau itu enak atau nggak."


Ratu memutuskan mencobanya. Ternyata rasanya cocok di lidah Ratu sehingga dalam sekejap kerupuk telah berpindah ke dalam perut.


Setelah jam menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka kembali ke kediamannya tante Akhtar.


Dalam perjalanan Ratu ketiduran di mobil. Saat sampai di rumah sebelum Aurell berlalu pulang ke rumah tantenya yang berjarak sekitar lima rumah dari rumah tante Akhtar, pria itu memanggilnya.


"Jangan pulang dulu, aku mau bicara. Aku letakkan Ratu ke kamar dulu."


"Maksudnya kamu mau menggendong gadis itu. Kamu udah nggak malu di lihat orang kampung."


"Ratu itu calon istriku, kenapa aku harus malu." Akhtar membuka pintu mobil dan menggendong Ratu masuk ke kamar. Ia menyelimuti tubuh Ratu sebelum meninggalkan kamar.


Banyak mata keluarga melihat Akhtar yang menggendong Ratu. Kebetulan keluarga sibuk buat persiapan untuk pesta lusa.

__ADS_1


Akhtar menemui Aurell yang duduk di teras rumah. Ia duduk di samping wanita itu.


"Apa kamu lupa jika kita tak ada hubungan lagi!" ujar Akhtar dengan wajah datar.


"Aku tau, Akhtar," ucap Aurell pelan.


"Apa kamu lupa jika aku pernah mengatakan, jangan campuri pribadiku. Jika aku masih bertemu kamu, itu hanya karena Quin. Kamu mengatakan jika aku ayahnya. Tapi aku harap setelah ia mulai besar, kamu harus mengatakan kebenarannya agar nanti saat ia menikah tak kaget."


"Apa ini karena kamu akan menikah? Ratu tak mengizinkan kamu bertemu Quin lagi?"


"Ini tak ada hubungan dengan Ratu. Pikiran Ratu tidak sekotor kamu!"


"Kenapa kamu berkata begitu kasar?" tanya Aurell.


"Karena kamu yang selalu aja mengganggu Ratu. Aku ingatkan, jangan pernah lagi dekati Ratu apa lagi menyakitinya. Baik perkataan apa lagi fisik. Kamu tau gimana aku jika marah'kan? Aku bisa saja menghancurkan kamu!"


"Baru aja kamu akan menikah, Ratu udah mengubah semuanya. Ternyata gadis itu tak selugu wajahnya. Ia bisa mengatur dan membuat kamu hingga langsung berubah begini!"


"Ini semua tak ada hubungan dengan Ratu. Sekali lagi aku katakan, jangan berpikiran kotor. Aku yang tak mau jika orang yang aku cintai tersakiti. Jauhi Ratu, jika tak ingin aku menyakiti kamu."


Aurell berdiri dari duduknya dan berdiri dihadapan Akhtar dengan mata tajam.


"Aku akui jika gadis itu hebat, ia bisa merubah kamu secepat ini. Aku hanya berharap kamu tak akan menyesal memilih gadis ambisius seperti Ratu. Yang hanya ingin menguasai kamu."


Aurell berjalan meninggalkan Akhtar dengan langkah tergesa. Ia tak mengira jika pria itu akan mengancam dirinya. Dalam pikiran Aurell, sejak mengenal Ratu pria yang masih ia cintai hingga hari ini telah berubah. Bagaimana jika nanti mereka telah berumah tangga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2