
Ratu berlari mengejar ombak dengan kaki telanjang. Ia tampak bahagia seperti anak kecil yang dapat mainan baru.
Jika pergi dengan daddy dan bunda, Ratu tak akan bisa sebebas ini. Daddy dan bunda akan marah jika ia berlama di pantai. Sakitkan, kulit jadi gosonglah, dan banyak alasan bundanya.
Ratu memanggil Akhtar dengan melambaikan tangannya. Akhtar yang duduk di atas batu karang berlari mendekati gadis yang sangat ia cintai itu.
"Fotoin aku, kak."
Akhtar mengambil ponsel Ratu dan mempererat gadis itu dengan berbagai gaya dan tempat di sekitar pantai. Setelah puas dengan dirinya, Ratu mengajak Akhtar untuk berfoto berdua dengannya.
Akhtar berdiri di belakang Ratu, dan berfoto dengan berbagai mimik. Terakhir Akhtar memberanikan diri memeluk pinggang Ratu dan meletakkan kepalanya di bahu gadis itu.
Setelah mengambil foto beberapa kali, Ratu mengajak Akhtar beristirahat. Ia ingin minum air kelapa muda. Ratu menghabiskan air kelapa mudanya dengan segera.
"Kak, sabelum kembali ke Jakarta, kita ke Pekanbaru dulu, ya?"
"Mau apa ke sana?"
"Menemui ayahku Albirru."
"Ayahmu, Albirru?"
"Ayah kandungku dan Raja. Aku dan Raja bukan anak kandung Daddy,tapi ia menyayangi kami seperti anak kandungnya. Bahkan aku lebih di sayang dari Pangeran darah dagingnya."
"Dari kami lahir, daddy yang telah menemani. Daddy dan bunda bertemu sejak aku dan Raja dalam kandunganan."
"Aku kira Daddy Azril ayah kandung kamu dan Raja. Daddy sangat menyayangi kamu, sehingga dirinya menjadi posesif."
"Aku juga sangat menyayangi daddy. Apapun yang daddy katakan pasti akan aku turuti."
__ADS_1
"Seandainya daddy meminta kamu dan aku berpisah, apa kamu juga melakukan itu?"
"Tentu saja. Aku pernahkan bilang, kalau aku sanggup kehilangan cinta dari pria manapun asal jangan kehilangan cinta dari Daddy."
"Kita berangkat ke Pekanbaru sekarang."
"Boleh," ujar Ratu.
Akhtar menyewa mobil dan supirnya untuk mengantarkan kemanapun ia pergi. Setelah membereskan pakaiannya, Ratu dan Akhtar meminta supir langsung menuju Pekanbaru.
Perjalanan dari Padang ke Pekanbaru ditempuh dalam waktu lebih kurang delapan jam. Setelah makan malam perjalanan dilanjutkan, Akhtar meminta Ratu tidur jika mengantuk.
Gadis itu memejamkan matanya saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Akhtar meletakkan kepala Ratu ke bahunya. Udara yang dingin karena hujan, ditambah penyejuk udara di dalam mobil membuat Ratu menggigil kedinginan. Ratu menaikan kaki ke atas dan memeluknya.
Akhtar lalu meletakkan kaki Ratu diatas pangkuannya dan memeluk tubuh gadis itu. Ratu hanya diam dan menuruti semua yang dilakukan Akhtar karena ia memang tak tahan dengan udara dingin.
Setelah beberapa jam posisi seperti itu membuat punggung Ratu pegal. Akhtar meminta Ratu tidur di pahanya. Pria itu meletakkan kepala Ratu dipahanya dan membiarkan kaki Ratu selonjor diatas jok.
Ratu, aku sepertinya sangat menginginkan kamu. Aku juga pria normal. Jika saja kamu bukan adiknya Raja, aku rasa tak bisa menahan semuanya. Aku harus menikahi kamu secepatnya.
Ratu yang terlelap membalikkan kepala hingga wajahnya menghadap perut Akhtar dan kepalanya menyentuh adik kecil pria itu.
Oh Ratu ... aku benar-benar diuji selama denganmu. Jerry juga tak bisa dibawa kompromi, pakai bangun lagi. Hhhuuuufff.
Setelah dua jam tertidur, Ratu akhirnya bangun. Saat matanya terbuka, pemandangan pertama yang dilihat adalah perut Akhtar. Wangi tubuh pria itu masuk ke indra penciumannya.
Ratu menengadahkan kepala, melihat pria itu yang memejamkan mata dengan kepala bersandar di kursi mobil. Ratu yang menyadari ada yang bangun, langsung duduk. Akhtar memandangi Ratu yang duduk menghadapnya dengan wajah cengo.
Akhtar tak peduli dengan supir di depan, ia menarik pinggang Ratu hingga tubuh gadis itu rapat dengannya.
"Ratu, aku harus secepatnya menikahi kamu.Aku takut pertahanananku bobol."
__ADS_1
Ratu yang kesadarannya belum pulih karena bangun tidur, hanya memandangi Akhtar dengan wajah yang keheranan.
"Apa maksud Kakak? aku tak ngerti."
"Sesampainya di Jakarta aku akan menemui daddy dan melamar kamu. Aku mau menikahi kamu secepatnya. Pelaksanaan pesta akan aku percaya pada WO, semua aku yang mengurus. Nanti sampai di Pekanbaru aku juga akan meminta izin ayahmu."
"Kenapa terburu-buru."
"Aku takut jerry mengamuk. Udah tua, dia juga ingin merasakan kenikmatan."
"Jerry siapa?" tanya Ratu dengan wajah polosnya.
"Adik kecilku!"
"Kak Akhtar punya adik?"
"Ya, dan setiap dekat kamu selalu saja ingin terbangun. Untung aku bisa mengendalikan."
"Aku tak ngerti ucapan kak Akhtar," ujar Ratu.
"Nanti saat kita telah menikah, kamu akan paham dan mengerti."
"Kenapa harus tunggu menikah, jelaskan aja sekarang."
"Sini," ucap Akhtar meminta Ratu mendekat. Akhtar lalu membisikkan sesuatu.
"Dasar duda mesum," ucap Ratu setelah Akhtar berbisik mengatakan sesuatu. Ratu memukul lengan Akhtar bertubi-tubi.
Akhtar menangkap tangan Ratu dan mendekapnya. Lalu memeluk Ratu erat. Satu ciuman Akhtar daratkan di bibir Ratu. Hanya sekilas. Ia takut jika diteruskan, akan khilaf jadinya.
Bersambung
__ADS_1