
Ratu mendekati ranjang Khaira. Zahra sang ibu tak berhenti menangis di samping ranjang Khaira.
Ratu memeluk bahu ibu tirinya itu. Khaira sejak kemarin hanya diam saja, tak mau bicara. Tampak ia sangat syok.
Setiap Felix datang Khaira menutup matanya seakan tak sudi melihat pria itu. Walau keadaan fisik Khaira sudah makin membaik tapi tidak dengan jiwanya.
Akhtar, Albirru dan Felix pergi keluar untuk menunaikan solat jumat. Zeya dan Azril juga baru pulang setelah tadi pagi datang membawa sarapan buat Albirru dan Zahra yang menunggu di rumah sakit.
Sudah seminggu Khaira di rawat, hari ini ia telah diizinkan pulang. Khaira ingin ke kuburan putranya terlebih dahulu.
Pria-pria yang pergi solat jumat telah kembali. Akhtar membelikan makan siang buat Ratu istrinya. Ia meminta Ratu segera makan. Tak lupa Akhtar juga membelikan buat ibu tiri Ratu, dan adiknya.
Zahra mencoba menyuap Khaira. Awalnya wanita itu menolak,tapi Zahra memaksa dengan menyuapi beberapa sendok.
Setelah makan siang Zahra membereskan semua barang-barang milik Khaira. Walaupun Khaira bukan anak kandungnya, tapi Zahra sangat menyayangi wanita itu. Albirru dan Ratu ikut membantu.
Khaira telah siap untuk pulang. Albirru menggendong putrinya dan didudukkan di kursi roda.
"Ayah, aku mau ke kuburan anakku."
"Apa tidak sebaiknya besok saja. Lebih baik hari ini kamu tidur aja dulu."
"Aku ingin berdoa buat putraku, Ayah."
__ADS_1
"Baiklah, Nak."
Albirru dan Akhtar keluar dari kamar rawat itu terlebih dahulu untuk memasukan barang milik Zahra dan Khaira.
"Ibu, apakah aku masih bisa memiliki anak lagi. Aku takut ...." ucap Khaira menangis.
Dari awal Khaira memasuki sekolah menengah pertama ia telah diberitahukan kebenaran siapa ibu kandungnya. Awalnya Khaira merasa sedih.
Cinta Zahra yang begitu besar membuat Khaira lupa jika Zahra hanyalah ibu tirinya. Ia juga telah mengetahui kenapa ibunya itu hingga hari ini tak memiliki anak.
Zahra tidak ada menyembunyikan apa-apa. Termasuk bercerita tentang Zeya.
Ratu mendekati adiknya itu dan berjongkok dihadapan Khaira sambil menggenggam tangannya.
"Tapi aku takut, Kak."
"Berdoa dan berusaha. Pasti nanti kamu bisa memiliki anak lagi. Usia kamu dan Felix masih muda. Kalian pasti akan dikaruniai anak lagi," ucap Zahra.
"Bagaimana aku bisa berusaha, jika sejak menikah aku dan Felix tak pernah tidur seranjang. Aku lebih baik pisah saja, Bu."
Ratu terkejut mendengar ucapan Khaira. Ia langsung berdiri dari jongkoknya.
"Jadi selama kamu dan Felix berumah tangga, kalian tidur terpisah?" tanya Ratu untuk memastikan.
__ADS_1
"Iya, Kak," ucap Khaira sambil menunduk.
Ratu mendekati Felix yang berdiri tak jauh dari dirinya. Ratu langsung melayangkan tamparan ke wajah Felix.
"Dasar pecundang. Apa kamu tidak tau kewajiban sebagai seorang suami? Bukan saja menafkahi lahir tapi juga batin. Apa kamu tidak pernah belajar itu?"
"Maaf, Ratu. Kamu tak bisa hanya menyalahkan aku saja. Kamu pasti tak akan lupa jika kita telah merencanakan pernikahan, tapi ternyata aku harus menikah dengan adikmu. Apa salah jika aku belum bisa menerima pernikahan kami yang mendadak ini?"
"Siap tak siap kamu harus bisa menerima semuanya. Kamu telah berjanji saat akad nikah bukan?" ucap Ratu sedikit keras.
Wajah Ratu memerah menahan amarah. Akhtar yang datang menjemput istrinya kaget melihat Ratu yang marah.
Bersambung
Selamat sore. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan. MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.
Mama kembali membawa satu rekomendasi novel buat menemani puasa.
Judul novel : RUMAH TANGGA by MinNami
Cinta saja tak pernah cukup, begitulah kata para pepatah. Binar dan Albiru tidak pernah menyangka ujian cinta mereka justru hadir setelah mereka menikah. Masalah bertubi-tubi menghampiri rumah tangga mereka.
Ada mertua dan ipar Binar yang terus mengganggu kenyamanan Binar. Belum lagi masalah orang ketiga yang selalu mencari celah untuk masuk di kehidupan mereka. Saat batas kesabaran Binar sudah diambang batas namun tidak ada satupun yang memihaknya. Lantas salahkan Binar bila ingin menyerah?
__ADS_1