
Pernah pada suatu hari Khan dan Khim yang sudah menginjak usia remaja menerima tugas pertamanya.
Pada saat itu Riad kecil yang baru berusia 4 tahun mau ikut, tentunya bersama tiga sepupunya Madi, Jay, bahkan Rianti yang lebih kecil lagi usia 3 tahun juga diajak nya.
Seorang dari Tim Bayangan yang jadi guru pembimbing misi itu pun meminta izin pada Guru Element masing-masing, dengan senang hati Para Guru yang mengajar seperti lega, melepas murid kecil yang bandel itu.
Mereka pun sampai di sebuah pemukiman penduduk atas gunung, di sana warga menyambut mereka dengan antusias mereka menari-nari menyuguhkan makan khasnya. Setelah semua itu warga menceritakan makhluk legenda menyeramkan penghuni hutan di seberang sungai kecil yang membelah membatasi desa mereka dan desa seberang.
Mereka pun berangkat menuju lokasi yang ditunjukkan warga di mana makhluk itu sering muncul dengan tanda kehadiran, suara anak ayam, untuk menjebak orang yang tak tau bahwa suara itu sebenarnya bukan anak ayam.
Sore itu Khim dan Rianti mandi di sungai yang tidak dalam bisa dibilang dangkal, berbatu dengan air sangat jernih bahkan bisa langsung diminum, sungguh sejuk dan menyegarkan.
"Kak Khim cantik sekali, apa aku nanti bisa secantik kakak ya?" tanya Rianti yang selalu memakai topeng kayu.
Mata Khim berbinar lalu memeluk adik sepupu kecilnya itu, kemudian mereka main ciprat-cipratan air dengan gembira.
Di aliran sungai yang sama tapi lokasinya berbeda dari dua gadis yang sedang mandi.
"Ayo kita lomba menangkap ikan siapa yang paling banyak akan jadi Kapten Tim" tantang Khan pada adik dan sepupunya itu.
"Aku gak ikutan ah kalian aja.., aku gak mau ikutan gila" jawab Jay dan memilih jadi juri penilai.
Dengan semangat mereka bertiga bersiap.
"1.. 2.. 3 mulai..!" Jay memberi aba-aba.
Khan dengan AURA LISTRIK menyetrum ikan hingga bermunculan mengambang di air.
Madi yang sebelumnya mengumpulkan batu kerikil mengisinya dengan AURA BUMI membuat lemparan batunya memercikan air hingga ikan yang terkena luka dan mati.
Riad yang membawa keranjang ikan yang terbuat dari anyaman bambu hanya mencelupkannya ke air, memeganginya, kemudian ikan berenang masuk ke keranjang itu. Riad diam-diam memakai aura yang mengubah arus bawah air menuju keranjangnya.
Setelah Jay menilai, ikan hasil tangkapan Kak Khan kesetrum dan tidak segar lagi, sedangkan hasil tangkapan Kak Madi cacat dan mati.
"Pemenangnya.. adalah Riad..yey.. katakan hore..!" seru Jay.
"Hore..!" dengan senang Riad berteriak.
"Hore.." dengan lemas Khan dan Madi meneriakkan kekalahan mereka.
"Apa sih kalian berisik sekali..?" tanya Khim yang habis selesai mandi pada saudara-saudara koplak nya itu.
"Yah..Tadi kami taruhan siapa yang menang jadi Kapten, pemenangnya Riad" Khan menjelaskan.
__ADS_1
"Kalian seenaknya bertaruh, dan mengambil keputusan tanpa persetujuanku..!!" Khim marah.
"Aku cuma ikutan kak, itupun dipaksa oleh kak Khan..he" Madi membela diri.
"Dasar bocah.. bukannya kamu paling semangat tadi.." Khan mengancam akan memukul Madi.
"Kak ini ikan, semua untuk kakak.." dengan senyum manis Riad menyerahkan keranjang yang penuh ikan itu.
"Wah banyak sekali.." Kata Rianti senang melihat ikan-ikan segar yang masih bergerak itu.
"Ya sudah..gak papa, Riad adik manis ku ini jadi Kapten, tapi kalian berdua dihukum gak boleh ikutan makan ikan ini" tegas Khim mengancam Khan dan Madi.
"Yuk kak kita bakar ikan ini sepertinya enak sekali" ajak Jay meninggalkan dua koplak yang mau berantem.
"Aduh gemes banget sih adik-adik kecil ku ini, ayuk.. Kakak akan bikin dengan bumbu spesial ala Khim" Khim mengajak pergi dari tepian sungai itu.
"Gara-gara kak Khan..Hiaat.. Terima serangan ku ini.." Madi menerjang Khan dan mereka berdua baku hantam.
Saat mereka berantem terdengar suara ngiak anak ayam.
"Ngiak..ngiak.. ngiak..".
Suara berasal dari seberang sungai.
"Wih dari aromanya enak nih.." ucap Jay sembari meniup ikan yang masih panas itu.
Di pojok lain, Khan dan Madi mengolah ikan mereka.
"Nah ini membakar ala menggoreng, jadi walaupun ikan nya hancur tidak jadi masalah" kata Madi dengan yakin makanannya enak dengan cara memanaskan batu besar pipih dengan api di bawahnya kemudian dikasih minyak dan menaruh ikan di atasnya.
"Pintar juga ya kamu, kukira bodoh.." olok Khan.
Bayangan berjubah hitam, guru pembimbing mereka menaruh tangannya di pundak Khan dan Madi.
"Masih.. mau.. berantem.." Suara pelan itu terdengar menyeramkan bagi Khan dan Madi.
Setelah mereka semua kenyang.
Madi dan Rianti membuat pondok sementara dengan Aura Bumi menyatukan tanah dan batu membuat pondasi, Aura Kayu menyatukan batang pohon dan jerami yang sudah dikumpulkan anggota lain.
Guru pembimbing sengaja tidak membawa perlengkapan dari Padepokan, agar muridnya bisa bertahan hidup di alam bebas, seraya melatih kekompakan dan aura mereka yang tergabung dalam Tim yang baru terbentuk, bernama Tim Angin.
"Besok kita akan berangkat menuju area basecamp penambangan batubara malam ini kalian istirahat, medan menurun nanti akan sangat sulit jadi simpan tenaga buat besok".
__ADS_1
Lalu guru pembimbing membuka AURA PERISAI yang sebelumnya mereka pasang hingga tiada lagi pelindung pertahanan, kemudian meninggalkan pondok itu.
"Ngiak.. ngiak.. ngiak" terdengar suara anak ayam yang semakin mendekati pondok mereka.
"Sepertinya makhluk itu sudah keluar, Madi dan Jay kalian keluar dengan bergandengan tangan (membuat sinergi AURA PENGHILANG WUJUD Jay juga menghilangkan wujud Madi) lihat makhluk seperti apa dia, Kakak dan Rianti tetap di pondok kita aktifkan AURA JIRAH MALAIKAT" Perintah Riad yang kini jadi Kapten Tim mereka.
Terlihat makhluk kecil berbentuk bola hitam dengan suara ngiak anak ayam mendekati pondok mereka.
"Itu makhluk seram nya..!! warga desa terlalu melebih-lebihkan.." dengan ceroboh Madi melepas gandengan tangan Jay.
"Kakak..Jangan..!!" Jay memperingatkan.
Makhluk kecil itu pun membesar semakin membesar sebesar truk, berkaki 3 dengan mulut yang lebar seperti membelah setengah badannya yang bulat itu bersiap memakan Madi.
"AURA AKAR BERDURI.." Rianti mengikat makhluk itu dengan akar yang keluar dari tanah melilit dan menjeratnya.
"Kiaaaaaaaaaaaak....!!".
Suara memekik jin itu manyakitkan telinga.
Jin berbadan besar itu meronta mencoba melepaskan diri.
"AURA RANJAU BUMI.." Madi menjepit kaki makhluk itu hingga tak berdaya.
"AURA LINGKARAN BOLA API.."serangan bola-bola api Jay hampir memusnahkan jin itu.
"AURA PUKULAN 30.." serangan Riad membuat serangan sebelumnya menjadi lengkap.
Terjerat, terjepit, terbakar, dan dipukul bertubi-tubi, membuat jin berbadan besar itu tak kuasa menahannya sampai remuk, hancur hingga musnah tak berbekas.
Khan dan Khim hanya bisa melongo melihat empat bocil memusnahkan jin berukuran besar itu tanpa sempat berbuat apa-apa.
Guru pembimbing yang memantau dari jauh memberi predikat Bocah Sakti, tanda pengakuan kemampuan mereka mengalahkan Jin tingkat siluman diusia yang sangat muda sekali.
Namun tujuan mereka adalah basecamp penambangan batubara dan di sana Raja jin Klan Harimau berkuasa.
"Tolong bunuh saja aku...!!"
"Bunuh saja aku..!!" teriak beberapa dukun yang di dadanya ada berbekas tapak harimau, mengeliat-geliat kesakitan.
Bukannya para dukun itu suka bekerja sama dengan jin tapi kenapa mereka malah diserang oleh jin itu sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
Bagaimanakah kelanjutannya petualangan Tim Angin, dan kenapa nantinya Rianti keluar dari tim? "Dukung agar imajinasi ku semakin liar!!" 👋