
Penyelidik yang kebingungan menghubungi Tim Angin bagian divisi gaib, Wity polisi wanita yang selalu berkoordinasi dengan Pusat Nafas Patikaman selalu meminta bantuan, dikala kasus yang dia hadapi ada hal ganjil yang tak masuk akal.
"Sepertinya ini jejak Jin" Madi mengidentifikasi tempat kejadian dengan auranya.
Riad membuat rencana untuk menangkap jin itu menunggu dia beraksi lagi.
Entah kenapa Ema semakin lama kelakuan nya malah menjadi jahat, karena orang yang dulu membully nya sudah tak ada, dia kepikiran untuk melakukan hal itu ke orang lain, dan ingin tau bagaimana sensasinya.
Ema mulai ditakuti di sekolah karena ada rumor, siapa yang berurusan dengan nya akan bernasib naas.
Ema sudah jarang bercerita ke Emi membuat boneka itu menjadi kesal dan mulai berkelakuan aneh.
"Emi muka kamu kok cemberut begitu.." Ema membetulkan ekspresi wajah boneka nya tapi tak bisa dirubah seperti biasanya.
Ema menerima pesan dari teman laki-laki nya yang mengajak jalan, dia pun bersiap berangkat.
"Dadah.. Emi ku yang imut" Ema beranjak pergi.
"Ema kamu mau kemana sore begini" tanya Ayah.
"Mau mengerjakan tugas kelompok yah, Ema baru ingat jadi telat ini, aku buru-buru yah" Ema bergegas keluar.
Sore itu Ibu lagi arisan hanya Ayah yang ada di rumah.
Ayah kembali ke kamar nya untuk mengambil berkas laporan kerja di meja samping tempat tidurnya.
Awalnya ayah mengambil berkas di meja dan tak memperdulikan sekitar, hingga mulai ragu seperti ada seseorang di atas kasur nya.
Ayah kembali menoleh dan mendapati Emi di atas kasur dengan posisi nungging.
"Sejak kapan boneka ini ada di sini!?" walau rada bingung namun tetap ingin mengembalikan nya ke kamar Ema.
Tapi saat menyentuh boneka itu timbul pikiran aneh, entah kenapa kulit boneka terasa lembut sekali.
Ibu pulang mendapati rumah nya sepi kamar Ema tak ada anak gadis nya, ibu melangkah ke kamar nya dan mendengar suara rintihan seperti suara di video anime.
Betapa kaget nya saat melihat suaminya sedang asik dengan Emi sang boneka.
"Marcos..!" teriak Ibu memanggil nama suaminya.
Tapi suaminya seperti tak mendengarkan teriakan istrinya, dan melanjutkan kesenangan nya.
Ibu menatap wajah ayah yang pucat dengan raut yang aneh.
Kemudian ibu menarik boneka itu, tapi seperti berat tak bisa tergeser sedikit pun.
"Ini.. kenapa berat sekali.." Ibu mengeluarkan seluruh tenaga nya untuk menarik boneka tapi tatap tak bisa.
__ADS_1
Dan memilih menarik suaminya saja hingga terlepas dari boneka itu dan tersadar.
"Sayang ada apa kamu memeloroti celana ku?" tanya suami seakan lupa yang telah dia perbuat.
"Coba kamu lihat di atas kasur" suruh istri.
Suami kembali melakukan hal yang sebelumnya dia perbuat dengan boneka itu dan menikmatinya.
"Marcos.. kau..!" istri marah dan berlari keluar kamar dan menangis di meja makan.
Boneka bergerak memindah posisi menindih Marco yang telentang di bawah lalu melakukan hal seperti manusia yang hidup.
Setalah menangis Istri tersadar ada yang aneh dan dia kembali ke kamar, dan melihat boneka itu menservis suaminya seperti manusia yang hidup.
Bermodalkan pemukul bisbol dia memukul kepala boneka itu dengan amarah yang memuncak.
Boneka itu terlempar, suaminya kembali tersadar.
"Sayang kamu kenapa memegang tongkat bisbol itu" Marcos heran melihat tingkah istri nya.
Istri melayangkan tongkat bisbol itu ke wajah suaminya tanpa ampun hingga berdarah dan wajah nya tak berbentuk lagi.
Emi tersenyum puas melihat hal itu.
Sang istri melepas tongkat pemukul yang di genggam nya terkaget dengan apa yang telah dia lakukan.
Ambulance datang.
"Ibu Melani kami juga sudah menghubungi pihak berwajib, Pak Marcos biar kami yang urus, ibu biar menjelaskan dengan pihak kepolisan tantang apa yang terjadi, setelah itu ibu bisa langsung ke rumah sakit" ucap petugas yang segera mengevakuasi korban.
Wity polisi cantik mulai melakukan investigasi di tempat kejadian perkara.
Melani mengakui tindakan nya dan dari sidik jari yang terdapat pada gagang tongkat pemukul bisbol cocok dengan sidik jari nya.
Melani sebelum dibawa ke kantor polisi, terlebih dahulu didampingi pihak yang bertugas mengawal nya ke rumah sakit untuk menengok suaminya.
Sesampai nya di rumah sakit Melani menangis sejadi-jadinya, dari keterangan pelaku, melakukan hal itu tanpa kesadaran seperti tiba-tiba mengamuk.
Riad dan tim nya memburu boneka jin yang telah kabur dari rumah.
"Ke mana jin itu kabur..!?" Riad melacak dengan tim nya.
"Kapten sepertinya dia masuk ke rumah itu" Jay mendeteksi roh api pada benda.
"AURA UDARA PEMBEKU PIKIRAN.." Riad menahan pikiran orang rumah agar tidak terperdaya jin dalam wujud boneka.
Emi tak bisa kabur lagi dia terjebak, Jay langsung menyerang nya.
__ADS_1
"AURA API MEMBAKAR JIWA.." Jay menggunakan aura penghancur jin level rendah yang berbahaya.
Boneka itu meleleh dan menjadi makhluk lain berbentuk slime.
"Orang-orang sudah dipindahkan" lapor Khan.
Wujud sebenarnya jin muncul mencoba menyerang Tim Angin.
"Buka portal.." Riad dan tim nya membuka portal dan berpindah ketempat lain membawa jin slime.
"AURA GELOMBANG KEJUT.." Khim menyerang jin slime.
"AURA DEBU TEBAL.." Madi memadatkan jin slime dengan auranya.
Rianti menyerang jin slime.
"AURA TANAMAN PEMANGSA.." aura Rianti berbentuk tanaman kantong semar menelan jin slime.
Jin slime berontak dan membentuk dirinya menjadi roda tajam membelah aura Rianti dan bisa keluar dari kantong semar.
Riad menyerang jin slime.
"AURA NAFAS BEKU.." dengan tiupan dingin nya Riad membekukan jin slime.
"Senjata pusaka TOMBAK ES ABADI.." Riad menusuk jin yang beku dengan tombak es nya yang memanjang, hingga semakin beku dan pecah manjadi kepingan salju.
"Jin tingkat rendah yang sangat berbahaya, karena menyamar dalam bentuk benda" ucap Khan melihat salju yang berhamburan.
Tim Angin kembali ke tempat Wity untuk menjelaskan, bahwa ibu itu hanya terperdaya oleh jin yang mengusik kehidupan keluarga kecil itu.
Anggota Tim Angin juga ke rumah sakit, untuk membantu mempercepat penyembuhan seorang ayah yang jadi korban jin boneka.
Ema yang mendapati kabar ayah nya masuk rumah sakit terkejut, melihat wajah orang yang disayangi nya itu dibalut perban.
Jay mencoba menenangkan sang ibu, sebelum terkena efek depresi parah karena melakukan hal jahat pada suaminya.
Ema masih kebingungan dengan semua yang terjadi pada keluarganya.
Hari berganti Ayah sudah sembuh, Ibu juga mulai tenang, betapa senang nya keluarga itu saat mengetahui akan ada anggota baru yang akan hadir di keluarga kecil mereka, karena Ibu tengah mengandung anak kedua.
Ema awal nya masih tak terbiasa karena boneka yang selama ini menemaninya sudah tak ada, perilaku nya di sekolah kembali membaik, Ema meminta maaf pada teman-teman yang sempat diperlakukan buruk oleh nya.
Semua berlanjut kehidupan masih berputar.
Bersambung...
"Sampai jumpa" 👋
__ADS_1