Riad Melawan Jin

Riad Melawan Jin
KEMBALINYA TIM ANGIN


__ADS_3

Setelah semua yang terjadi dan maraknya gangguan Jin yang mulai menggangu kehidupan manusia.


Tim Angin dikumpulkan kembali untuk mengalahkan sekelompok orang yang bekerja sama dengan jin yang mulai meresahkan dunia.


Di sebuah negeri berpasir.


"Akhir nya kita menemukan peti Sang Emas makhluk pemberi kekayaan.. hahahaha.." tawa wanita pemimpin organisasi bernama Millia.


"Peti sudah bisa diangkat Nona Millia, persiapan bisa dilakukan" beritahu bawahan yang bertugas.


Di lokasi pembongkaran yang sedang berlangsung suara gemuruh pasir meniupkan badai pasir seiring datang nya Tim Angin berjubah putih.


"Siapa kalian..!?" todong pasukan bersenjata yang mengawal pembongkaran makam.


"Sebaiknya kalian hentikan sebelum menyesal" Riad memperingatkan.


Di dalam makam.


"Nona.. di luar terjadi keributan sepertinya ada yang ingin menghalangi kita..!" beritahukan bawahan yang mengawasi.


"Bukan nya di luar adalah pasukan elite yang terlatih dalam peperangan, ada berapa pasukan yang menyerang?" tanya Millia.


"Mereka cuma ada 6 orang saja Nona" beritahu pengawas.


"Kalian panik hanya karena 6 saja sedangkan di luar ada 100 orang lebih pengamanan yang berjaga..!" Millia marah.


Dari earphone ada yang menginfokan penjaga di luar telah dikalahkan.


"Astaga mampus.. gimana memberitahu kan nya ini" pengawas panik.


"Ada apa lagi.. jangan bikin lelucon kalau semua penjaga di luar kalah hanya karena 6 orang itu" Millia ingin marah tapi perhatiannya teralihkan.


"Nona.. apa anda ingin membuka petinya sekarang?" tanya petugas pengalian.


"Lempar anak-anak nakal yang kita culik sebelumnya ke dekat peti lalu buka peti itu.." perintah Millia.


Beberapa anak kecil dilempar dekat peti besar yang akan dibuka dengan alat berat, baru setengah peti bergeser alat berat itu mendadak tak beroperasi.


"Kenapa mesinnya rusak ya..?" tanya Madi yang ada di samping Millia.


Tanpa Millia sadari pengawal yang menjaga nya juga telah dilumpuhkan.


"Sejak kapan kalian ada di sini..!" Millia mulai panik.


"Sejak aku jatuh hati padamu.. au.." kepala Madi di jitak Khan.


"Jangan bercanda.." Khan memarahi Madi.


Khim dan Rianti membebaskan anak kecil yang di ikat dengan memar di badan, karena dilempar seperti sampah tanpa belas kasihan.


"Dasar biadab kamu pikir mereka ini apa..!" Khim marah.


Lalu Madi segera membuat Millia pingsan.


Sebagian anak tersedot ke tepi peti yang terbuka.


Rianti menahan anak yang ketarik kekuatan mistis dengan aura boneka kayu nya.

__ADS_1


Riad dan Jay menutup kembali peti itu.


"Hampir saja Jin Emas yang mengubah semua orang jadi emas bangkit, sungguh berbahaya" Jay sedikit lega.


"Entah apa yang ada dipikiran orang ini dia sudah kaya, kekayaan apa lagi yang ingin dia dapatkan" Riad bingung memikirkannya.


Setelah semua itu Tim angin yang beranggotakan.




Riad Kapten Tim




Khan Wakil kapten




Khim






Jay




dan yang telah kembali ke tim



Rianti.



Resmi berkumpul kembali.


Kembali ke Pusat Nafas Patikaman.


Melewati portal ruang dan waktu yang bisa dibuka 5 orang yang memiliki aura mereka memasuki ruang pemulihan aura, mereka berendam di bak mandi masing-masing, cuma Riad dan Rianti saja yang dalam satu bak rendaman.


"Mun, aku senang sekali bisa melakukan semua ini lagi bersamamu" dengan panggilan sayang Riad menyebut istrinya.


"Iya.. Pap aku juga senang selalu menghabiskan waktu bersamamu" Rianti bersandar di dada bidang Riad.

__ADS_1


Di sebuah hutan tepi sungai sebuah sekte yang memuja jin pemberi anak sedang melangsungkan ritual pembuahan di altar.


Desa yang hampir punah karena jumlah penduduk nya merosot karena minimnya jumlah kelahiran pada suatu hari datang seorang wanita cantik berwajah pucat yang mengajak para lelaki desa membuat sebuah bangunan yang sekarang dijadikan tempat pemujaan jin pemberi anak.



Wanita itu menghasut para lelaki untuk mengadakan ritual pembuahan pada wanita di atas altar, anehnya setiap kali proses pembuahan darah selalu keluar seperti pecah keperawanan, wanita berwajah pucat mengatakan itu pertanda rahim akan diperkuat dengan darah yang membasahi altar.


Benar saja setelah itu wanita desa banyak yang hamil bahkan melahirkan anak kembar, namun di usia anak itu menginjak 18 tahun mereka harus menikah dan melahirkan anak lagi karena di umur 37 nyawa mereka akan diambil kembali oleh jin, atau terkena kutukan gila bila melanggarnya.


Sehingga desa itu sekarang tak pernah terlihat ada kakek dan nenek yang tua renta.


Riad dan Rianti yang pergi ke desa itu dengan alasan keluarga baru yang belum punya anak disambut warga desa dengan suka cita.


"Semoga kalian betah dan jadi sebagian dari warga sini" ucap kepala desa.


"Terimakasih atas sambutan hangat nya, sebelumnya saya mau memperkenalkan ini kakak ipar saya, dan yang berdua di sana sepupu kami, apa boleh mereka berdiam sementara karena kami baru pindah jadi mungkin akan sedikit kesepian terpisah dari keluarga?" Rianti berbicara pada kepala desa.


"Boleh tapi ada aturan yang tidak berpasangan dilarang keluar rumah di malam hari, itu sudah peraturan desa jadi harap di lakukan karena bila melanggar akan ada hukum desa yang berlaku" Kepala desa menerangkan.


"Jaringan internet di sini bagus gak papa lah cuma di rumah, kita mabar aja tiap malam" sahut Jay.


"Iya kita nge game aja kan masih bisa terhubung dengan teman yang ada di luar" tambah Madi.


"Yasudah kalau kalian mengerti, selamat beristirahat" kepala desa dan beberapa warga beranjak pergi.


"AURA SUARA ANGIN.." Riad mengunakan auranya mencari informasi.


"AURA GETARAN BUMI.." Madi mendeteksi gerakan sekitar.


"Tak ada percakapan sedikit pun di jam ini padahal harus nya keluarga saling bicara di waktu segini" Riad heran.


"Sama ini juga mereka seperti diam di tempat seperti patung, padahal ini belum jam istirahat tidur" Madi bingung.


"Warga desa ini memang aneh, namun jin itu tidak terdeteksi sama sekali ada di mana, tak ada penumbalan atau sejenis nya" Khan berpikir.


"Kita istirahat saja dulu walau ini masih jam 19:30 masuk yuk nanti ada yang lihat kita masih di halaman rumah" Khim mengajak.


Wanita berwajah pucat berjalan mengelilingi desa mengawasi gerak gerik warga baru yang sebenarnya adalah Tim Angin.


Jejak kaki yang seakan melayang di udara tak bisa terdeteksi dan gerakan gemulai yang menyerupai tiupan angin seperti sebuah ketidakberadaan.


Jam 1 malam dini hari warga mengetok pintu rumah Riad.


Riad yang peka akan semua jenis suara terbangun dan membukakan pintu.


"Maaf mengganggu, kalian belum punya anak kan ikuti kami" ajak pasangan muda dengan rombongan lain yang jalan terlebih dahulu.


Riad dan Rianti mengikuti pasangan muda itu.


"Ini kita mau ke mana apa banyak orang juga di sana?" tanya Rianti.


Sampailah mereka pada sebuah bangunan seperti tempat perkumpulan warga desa di pinggiran hutan tepi sungai.


Bersambung...


"Sampai jumpa" 👋

__ADS_1


__ADS_2